Ternyata topik ini masih panas, ya? Saya jadi tertarik setelah melihat tulisan rekan saya di sini. Saya pikir ada baiknya kita melihat sejarah perjuangan Amerika di sini. Lalu, mari kita bertanya ke mana saja sineas kita selama belasan tahun belajar? Mengapa pocong masih bermain film? Memangnya ketika pajak royalti diterapkan, maka film Hollywood tidak jadi masuk? Benarkah industri film tersebut akan memblokade pasar ratusan juta dengan omset miliaran?

Hal yang menarik dari semua ini adalah mengapa baru sekarang pemerintah menaikkan pajak? Sebuah keputusan yang tidak populer menjelang Pemilu 2014. Setelah saya berkonsultasi dengan Mbah Google, diketemukan sebuah alasan dari seorang sutradara yang termuat dalam koran Jawa Pos. Walau pun demikian, Beliau segera membetulkan dengan tweet-tweet-nya.

Pernahkah kita bertanya, apakah selama ini 21 Cineplex  menjalankan CSR? Benarkah mereka mendukung film nasional? Ataukah argumen “agar film-film Indonesia ada yang memutar” baru muncul setelah bioskopnya terancam mengalami kerugian?

Kalau memang 21 Cineplex mendukung film nasional, seharusnya mereka menyediakan satu atau dua slot untuk memutar film-film independen Indonesia. Tetapi, coba kita bertanya; berapa, sih, film-film yang telah diangkat oleh 21 Cineplex? Yang tidak menggunakan uang milyaran agar dapat bisa diputar di sana? Pernahkah kita bertanya, mengapa film-film festival tidak dipasang oleh 21 Cineplex?

slurp [ngopi dulu biar gak tegang….]

Saat ini bioskop-bioskop minta dibela karena pasokan keuntungannya hendak dipajak tinggi. Maka, saya pun balik bertanya; apabila mereka sudah dibela, apa yang mereka yang akan mereka lakukan sebagai wujud terima kasih? Apakah mereka akan mengenalkan film-film berkualitas Indonesia? Apakah mereka akan mulai membantu industri film nasional untuk bergeliat?

Memangnya apa salahnya dengan orang-orang yang sudah mulai menonton lewat DVD? Saya sendiri pun demikian. Keberisikan ABG-ABG dan telepon genggam yang masih menyala saat menonton film bioskop sering membuat saya kehilangan momen dalam film. Dengan menonton DVD, bisnis penyewaan DVD akan meningkat dan banyak terbuka lapangan pekerjaan. Toh, film di bioskop sekarang ini juga sama saja. Bayangkan, Heart Locker (2008) baru diputar sekitar tahun 2009 setelah mendapatkan piala Oscar.

Efek lain dari kebangkrutan bioskop adalah juga melindungi ABG-ABG malang yang sering cabut sekolah.  Dengan tidak masuknya film-film Hollywood, kita sedang melindungi remaja-remaja malang tersebut dari konsumerisme yang menjadi tema film-film Hollywood. Saya tahu, ini argumen gila tanpa mempertimbangkan faktor yang lain. Tapi, argumen ini sama saja, bahkan lebih baik, dengan argumen yang mengaitkan pajak royalti film asing dengan industri film nasional.

Kalau pun bioskop yang telah ada sekarang mati, maka akan ada bioskop-bioskop alternatif atau pun distribusi-distribusid dengan media lain. Orang bilang bahwa pembajakan membuat industri musik mati. Toh, kita lihat industri musik kita berevolusi dengan menciptakan ringback tone. Proses bisnis ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya dan terbukti lebih menguntungkan. Penyedia layanan telekomunikasi bahu membahu dengan industri musik dalam mendistribusikan lagu. Walau pun terkadang kurang ajar, suka memasang ringback tone tanpa diminta, teknik pendistribusian konten ini menuai keuntungan.

Bisnis seperti biasa.

Jangan mengaitkan insentif pemerintah yang kurang terhadap perfilman Indonesia dengan keterancaman bisnis. Jangan mengaitkan ekosistem yang tidak sehat saat ini yang mengakibatkan industri sinema Indonesia kesulitan mengembangkan filmnya dengan isu pajak royalti. Jangan merasa bahwa ketika film-film Hollywood diboikot, maka kita tidak punya jalan keluar.

Bagaimana jika justru dengan momen ini pihak industri film Indonesia melakukan konsolidasi?

Oh, iya, ini kopinya berapa, mbak?