Esau hanya bisa meraung. Ishak ayahnya telah memberikan seluruh berkatnya kepada Yakub, adiknya. Ayahnya telah tertipu dan mengira bahwa Yakub adalah Esau. Ibu Yakub menyuruh Yakub untuk menempeli badannya dengan bulu agar seperti Esau. Akibatnya, keturunan Yakub mendapat berkat dan keturunan Esau harus berjuang untuk dapat selamat.

Menurut penuturan, hal ini terjadi karena Esau telah menjual hak kesulungannya pada waktu yang lampau. Suatu hari ia merasa lapar ketika ia pulang berburu. Ia melihat adiknya Yakub sedang memasak sup kacang merah. Ia meminta sepiring sup kacang merah dari Yakub. Yakub kemudian memberikan sebuah TOS (Term Of Service) yang menyatakan bahwa ketika Esau setuju menggunakan layanannya, hak kesulungan menjadi milik Yakub. Tanpa pikir panjang, Esau menyetujui perjanjian itu.

Sering kali dengan mudah orang bertanya, “mengapa Anda begitu idealis memperjuangkan perangkat lunak bebas dan terbuka?” Salah satu kisah kuno tentang penukaran haknya demi kenyamanan (convenience) ini menjadi referensi yang pas. Begitu banyak hal yang telah didapatkan dengan gratis (taken for granted) dan orang sering mempertanyakan mengapa masih saja ada pihak yang tidak berkompromi.

Keputusan Google yang memilih membuang dukungan H.264 membuat kontroversi. Bagi orang yang tidak paham, mereka mempertanyakan komitmen Google terhadap open web. Keputusan ini mengikuti keputusan Mozilla Foundation (Firefox) dan Opera yang tidak mendukung H.264. Padahal, saat ini perangkat-perangkat keras yang beredar banyak yang mendukung H.264. Dengan keputusan ini, mereka bertiga telah mendiskreditkan banyak perangkat. Harga yang mahal untuk sebuah kebebasan.

Tahukah Anda, bahwa MPEG LA (konsorsium pemegang paten H.264) ditengah kegentarannya  memperpanjang keputusan untuk tidak memungut royalti hingga 31 Desember 2015? Tahukah Anda sebelum Microsoft merilis WebMatrix, ia menganggap sepi perangkat lunak bebas dan terbuka? Tahukah Anda bahwa karena Sir Tim Berners-Lee menon-royaltikan implementasi HTTP-nya maka kita memiliki Internet? Tahukah Anda bahwa GCC buatan Stallman dan kawan-kawan menolong Apple? Tahukah Anda bahwa Android menggunakan kernel Linux? Tahukah Anda bahwa penelitian di banyak universitas[1] menggunakan perangkat lunak bebas dan terbuka? Ia juga mendukung aktivis kebebasan?

Ideologi

Mendukung perangkat lunak bebas dan terbuka bukanlah soal uang. Sebagian besar dari pendukung ideologi ini bukanlah orang-orang tak mampu. Royalti dan teman-temannya telah menghancurkan banyak inovasi. Mereka juga membuat jarak (gap) digital. Ada perasaan bersalah ketika membeli barang-barang yang seharusnya dapat mengubah hidup banyak orang. Mendukung perangkat lunak bebas dan terbuka menjadi sebuah gerakan moral.

Gerakan perangkat lunak bebas dan terbuka adalah sebuah gerakan sosialis. Banyak orang dari zaman modernisme menganggap bahwa sosialisme adalah fasis dan komunis. Padahal, agama Yudaisme dan agama-agama lainnya yang populer sudah lebih dahulu mengusung idealisme ini. Pengaturan kesejahteraan bersama merupakan bagian yang tak tergantikan. Sebagai sebuah negara beragama Indonesia seharusnya sudah paham tentang idealisme ini. Apalagi, konsep gotong royong merupakan bagian tak terpisahkan dari filosofi perangkat lunak bebas dan terbuka ini.

Hal yang paling menakutkan dari berbagi adalah ketakutan orang akan memanfaatkan ide yang kita buat menjadi idenya. Ketakutan ini yang membuat banyak perpustakaan institusi pendidikan di Indonesia menyimpan rapat-rapat hasil riset sivitasnya. Fakta yang menarik adalah sejauh mana pun ide itu tersimpan, tetap saja jasa pembuatan skripsi laris. Plagiarisme tetap ada dan malah membuat orang tidak bisa memeriksa keaslian karya ilmiah tersebut. Bahkan, tidak seorang pun dapat memverifikasi kebenaran hasil karya ilmiah tersebut. Tidak heran, ada orang yang mengeluhkan mengenai “kebohongan” karya-karya ilmiah yang dia baca ketika dipraktikkan. Bisa jadi, ada kesalahan dalam penghitungan sehingga tanpa maksud untuk manipulatif, sang peneliti menghasilkan kesimpulan yang salah.

Satu hal lagi yang paling menakutkan dari ketakutan ini adalah hilangnya potensi pemikiran bertahun-tahun. Bayangkan, berapa banyak lulusan yang telah diterbitkan setiap tahun tetapi penelitian di Indonesia menjadi mandeg. Perpustakaan menjadi sebuah lubang hitam di mana ide-ide yang kreatif hilang dan menjadi arsip yang ada selama bertahun-tahun. Padahal, ada tangisan dan air mata dalam mengerjakannya [penulis pun sempat masuk rumah sakit karena pleumotoraks akibat begadang mengerjakan student project]. Investor yang tertarik tidak akan pernah tahu bahwa ada solusi yang telah dibuat oleh akademisi untuk masalahnya. Seiring dengan waktu, ide yang tak pernah dibagikan menjadi  basi (obsolete).

Universitas-universitas di dunia pun menyadari ini. Itu sebabnya, banyak yang mulai mempublikasikan karya-karyanya. Hal ini akan sangat berat dilakukan apa bila pemikiran masih tidak dapat menerima konsep keterbukaan ini. Perangkat lunak bebas dan terbuka memberikan filosofi  yang sama dengan semangat berbagi. Bahkan, perangkat lunak bebas dan terbuka tumbuh dari lingkungan akademisi yang memiliki semangat berbagi dan penghargaan (kredit) atas karya orang.

Politically and Morally Correct

Mana lebih dahulu: ayam atau telur? Menaikkan gaji pegawai atau meningkatkan devisa? Ketakutan sebagian besar orang tentang sistem yang akuntabel adalah hilangnya “pendapatan sampingan” yang mereka punya. Padahal, ketika administrasi menggunakan perangkat lunak bebas dan terbuka, ada peluang lain yang terbuka dengan cara legal.

Gerakan perangkat lunak bebas dan terbuka juga menghadirkan peluang proyek-proyek sosial yang mendekatkan banyak orang kepada Internet. Onno W. Purbo dan rekan-rekan banyak melakukan penetrasi ke desa-desa. Bahkan POSS UI pun banyak melakukan penetrasi ke sekolah-sekolah. Di manakah perangkat lunak tertutup (proprietary)? Adakah mereka melakukan hal-hal sosial? Yang saya ingat hanyalah sebuah kalimat menyesakkan dari seorang VP perusahaan perangkat lunak.

Ide tentang sebuah komunitas yang maju bukanlah milik perangkat lunak bebas dan terbuka. Akan tetapi, saat ini yang paling konsisten memperjuangkannya tanpa senjata adalah perangkat lunak. Untuk dapat mengerti semangat berbagi ada banyak cara seperti memberikan sedekah. Akan tetapi, yang paling bisa membuat perubahan terhadap banyak orang adalah ketika kita menggunakan dan mendukung perangkat lunak bebas dan terbuka.

Kata Akhir

Semua hasil perjuangan ada harga mahal yang harus dibayar. Untuk tak bergeming dari prinsip membutuhkan pengorbanan yang sepadan. Hasilnya pun sepadan. Kompromi terhadap kebebasan demi kenyamanan sama saja seperti Esau menjual hak kesulungannya kepada Yakub. Pragmatis boleh, tetapi idealisme harus terus diperjuangkan.


  1. Untuk ini, Anda harus membaca banyak jurnal ilmiah, terutama jurnal-jurnal teknologi. ^