[Disclaimer: Ini tulisan pribadi saya dan tidak mewakili kebijakan apa pun di UI dan sebagian berdasarkan ingatan, bisa jadi tidak akurat. CMMIW]

Masalah Jaringan Dunia

Hari ini saya menemukan sebuah istilah baru dalam jaringan: Bufferbloat. Bufferbloat adalah sebuah penembolokan secara eksesif (excessive buffering) dalam sebuah jalur jaringan. [1] Penembolokan yang berlebihan menyebabkan paket-paket yang dikirimkan berlama-lama di tembolok. Padahal, paket tersebut memiliki waktu kadaluarsa. Akibatnya, banyak paket yang telah kadaluarsa dan dibuang.

Dalam tulisan lain, Getty menyebutkan bahwa bisa jadi penyebab penurunan kualitas Torrent bukan karena kebijakan Comcast, melainkan juga karena bufferbloat ini. [2] Paket-paket yang dikirimkan menyebabkan  saturasi. Menyebabkan keterlambatan paket dan menurunkan performa jaringan.

Masalah Teknologi Web di UI

Perkembangan infrastruktur tidak secepat perkembangan teknologi. Dahulu, dengan mudah orang bisa terhubung dengan Internet di UI. UI merupakan salah satu pionir Internet di dunia — itu sebabnya kita mendapatkan blok IP kelas B, bukan C dan kita mendapatkan ui.edu dan punya tokoh yang pernah mengurus .id — Dengan komunikasi telepon, kita sudah bangga bisa terhubung dengan universitas-universitas di Amerika. Kemudian, dengan lebar pita meningkat menjadi beberapa Mbps dan mulai banyak fakultas yang terhubung ke JUITA (Jaringan UI Terpadu).

Agar lebih efisien, dibuatlah Proxy sebagai tembolok Internet dan semua orang terhubung ke Internet. Proxy waktu itu masih berdasarkan HTTP Basic: Anda ditanyakan nama pengguna dan sandi Anda, maka Anda terhubung ke Internet. Masalahnya, HTTP Basic tidak terenkripsi. Hal ini menyebabkan data yang dikirimkan rentan penyadapan.

Atas dasar inovasi kerja praktik seseorang, dikembangkanlah teknologi Single Sign-On (SSO). SSO adalah sebuah teknologi yang telah banyak dipakai oleh banyak perusahaan dan universitas untuk menyatukan sistem-sistem mereka. Teknologi SSO dikembangkan berdasarkan teknologi sekuriti Web: HTTPS. Dengan menggunakan sebuah laman Web yang terenkripsi, seorang pengguna dapat terhubung ke fasilitas-fasilitas yang terhubung dengan SSO.

SSO UI menggunakan sertifikat yang ditandatangani sendiri. Teknis dari HTTPS adalah adanya pihak ketiga yang menandatangani sertifikat keamanan. Pihak ketiga yang menyediakan penandatanganan ini misalnya Verisign, Thawte, dan lain-lain. Perusahaan-perusahaan ini mem-bundle root certificate mereka ke dalam peramban-peramban yang terkenal di dunia. Itu sebabnya, setiap kali peramban favorit Anda (Firefox, Opera, dan lain-lain) mengakses situs-situs komersial yang ditandatangani mereka sudah terkoneksi. Sedangkan untuk sistem UI, yang menggunakan penandatanganan sendiri, akses HTTPS tidak terjamin oleh siapa pun. Itu sebabnya, setiap orang diperingati setiap kali memasuki halaman aman UI.

Proxy dan Perangkat Baru

Masalah baru bagi perangkat-perangkat mobile baru juga  bermunculan saat ini. Ada perangkat mobile yang tidak mendukung sertifikat yang ditandatangani sendiri. Hal ini setidaknya menyebabkan Nokia seri E sekian tidak bisa mengakses IMAP UI untuk mendapatkan surel-surel langsung dari server UI.

Selain itu, perangkat-perangkat tersebut tidak mendukung proxy. Mereka harus melalui mode proxy transparan. Masalahnya, proxy transparan tidak dapat mengakses HTTPS. Akibatnya, perangkat-perangkat ini tidak dapat mengakses situs-situs yang memerlukan koneksi HTTPS.

Masalah utama yang dialami oleh para Admin adalah kami tidak punya alat-alat tersebut untuk dicoba. Saya sendiri baru tahu masalah tersebut setelah mendapatkan mainan iRobot (Apad), sebuah pad dengan sistem operasi Android 1.6. Masalah seperti Nokia E sekian itu pun diketahui setelah ada pengguna yang melapor. Itu pun diketahui permasalahannya setelah dicari pada mesin pencari.

Teknologi Baru dan Infrastruktur

Web 2.0 menggunakan teknologi AJAX. Dengan AJAX, sebuah laman web bisa diperbaharui terus-menerus tanpa me-load ulang laman tersebut. Artinya, secara konstan sebuah situs diakses terus menerus oleh jutaan pengguna. Inilah yang membuat seringkali sebuah situs mengalami penurunan mutu layanan. Efek Digg (Digg effect) adalah sebutan untuk situs yang mengalami lonjakan pengunjung secara drastis. Teknik optimasi oleh situs-situs terkenal untuk mengatasinya adalah dengan misalnya membuat tembolok statis dan mempartisi situs mereka ke server-server berbeda geografis (CDN/Colocation). Itu sebabnya, ketika kita mengakses Google misalnya, kita diarahkan ke google.co.id. Server yang secara geografis lebih dekat ke Indonesia.

Selain itu, ada banyak teknologi server yang baru seperti Comet yang khusus melayani AJAX. Sayangnya, menginstal server baru berarti beradaptasi dengan teknologi baru yang belum tentu bisa beradaptasi dengan sistem yang lama. Apache HTTPd 2 sendiri sudah memiliki aplikasi server dengan menggunakan thread bukan process, tapi sayang aplikasi ini tidak kompatibel dengan PHP 5. Singkat kata, teknologi-teknologi yang baru bermunculan ini baru bisa diatasi setelah 5 tahun mendatang setelah cukup banyak orang yang berani mengadopsi dan teknologi tersebut stabil.

Virus dan Jaringan

Virus pada sistem operasi yang tidak aman juga seringkali membuat berat jaringan. Mereka memadati jaringan dengan paket-paket broadcast. Infrastruktur tidak dapat dengan cepat ditatar menjadi baru karena secara letak mereka berjauhan. Beberapa orang yang tidak sopan dan tidak mengerti konsensus sering memanfaatkan celah untuk memasang keylogger dan bot pada komputer-komputer orang. Hal ini mengakibatkan dari tahun ke tahun UI terpaksa menerapkan kebijakan yang semakin ketat terhadap jaringan.

Jujur, secara pribadi saya tidak menyukai restriksi terhadap jaringan universitas. Menurut saya, sebagai sebuah institusi pendidikan, universitas harusnya memiliki jaringan yang terbuka untuk setiap orang boleh melakukan apa pun demi tujuan pembelajaran. Saya juga secara pribadi tidak menyukai pemblokiran terhadap situs apa pun. Web adalah dunia yang buas dan luas. Perlindungan tanpa pembelajaran menurut saya adalah tidak masuk akal dan hanya akan membuat orang tidak mengerti. Sehingga, ketika orang tersebut keluar dari cangkang, mereka tidak siap.

Kembali ke masalah, orang-orang yang meng-abuse kenyamanan ini membuat jaringan menjadi berat. Sehingga, banyak orang dirugikan. Terpaksa, restriksi-restriksi yang tak mengenakkan bermunculan. Beberapa situs yang memberatkan pun terpaksa diputus. Hal ini tidak saja terjadi di UI. Beberapa ISP di Amerika pun menggunakan limitasi untuk beberapa protokol seperti Torrent dan pernah berusaha untuk mengecilkan pita akses ke situs Internet TV.

Hal ini memberikan masalah baru yang disebut sebagai net neutrality. Net neutrality (netralitas jaringan) adalah sebuah ideologi yang diusung bahwa jaringan Internet seharusnya terbuka bagi siapa pun tanpa restriksi apa pun. Dengan adanya netralitas ini, setiap layanan yang terhubung ke Internet secara adil dapat diakses oleh siapa pun dan kapan pun dari mana pun selama orang tersebut terhubung ke Internet.

Akhir Kata

Saya tidak ingin menuduh siapa pun dan tidak ada niat untuk membuat alasan apa pun. Namun, secara teknis ada beberapa hal yang membuat jaringan dalam Web 2.0 dewasa ini mengalami masalah:

  1. Protokol jaringan dengan asumsi masa lalu menjadi bumerang saat ini.
  2. Aplikasi server HTTP belum bisa mengatasi AJAX secara efisien.
  3. Peningkatan jumlah pengguna dan teknologi melebihi kemampuan peningkatan infrastruktur.

Tentu saja, hal ini menjadi topik menarik penelitian dan bisa menjawab permasalahan masa kini.


  1. Jim Getty. The criminal mastermind: bufferbloat!<http://gettys.wordpress.com/2010/12/03/introducing-the-criminal-mastermind-bufferbloat/> ^
  2. Jim Getty. Bufferbloat and network neutrality – back to the past… <http://gettys.wordpress.com/2010/12/07/bufferbloat-and-network-neutrality-back-to-the-past/> ^