Setelah berhasil memasang Debian 64 bit pada laptop dengan konfigurasi sebagai berikut:

  • partisi utama dan data semua pada LVM2 dengan format ReiserFS,
  • kernel Liquorix seri 2.6.36, dan
  • KDE 4.4.5 dari Debian SID,

saya memutuskan untuk kembali ke jalan yang benar, yakni dengan memasang Ubuntu 10.10 32 bit. Kejadian ini terjadi karena beberapa hal yang sungguh menyesakkan:

  1. UrU 4500 menggunakan driver tertutup (OneTouchID) yang tergantung pada libc++5 yang notabene merupakan peninggalan prasejarah. Sayangnya, FPRINT hanya mendukung UrU 4000/B yang sudah tidak dilanjutkan lagi.
  2. Pengembangan applet untuk Javacard menggunakan Java 1.3 SDK, yang merupakan barang dari zaman jahiliyah.
  3. SDK Android membutuhkan ia32-emul-java-libs yang artinya menggunakan SDK i386.
  4. Flash versi 64 bit rusak.

Seperti biasa, cara yang dilakukan adalah membuat sebuah Ubuntu 32 bit ke stik USB dengan debootstrap. Dari 64 ke 32 berjalan biasa saja. Lalu, dari 32 bit itu, saya debootrap partisi saya. Ternyata, Ubuntu tidak bisa boot langsung ke LVM. Terpaksa harus ditambah hal-hal berikut:

  1. Memasang LVM2 pada Ubuntu.
  2. Menambah “dm-mod” pada berkas /etc/initramfs-tools/modules. Kemudian, initramfs diperbaharui kembali.
  3. Menambah repo Ubuntu Partner karena SUN JDK ada di sana.

Ugh, sungguh paradoks, ketika hendak terdepan di dalam teknologi, kita harus mundur ke belakang.

REFERENSI:

http://blog.terryburton.co.uk/2007/04/ubuntu-feisty-fawn-with-root-on-lvm_18.html