Ars memberitakan tentang Media Lab, sebuah lab riset pengembangan terpadu milik MIT. Dari sana muncul LEGO, Guitar Hero, OLPC dan lain sebagainya. Hal yang menarik dari lab riset ini adalah bagaimana lab ini bekerja. Saya hanya berusaha merangkum apa yang ada di artikel ke dalam Bahasa Indonesia. Semoga bisa menginspirasi.

#1 Posisi Lab dalam Universitas

Media Lab berada dalam sebuah departemen [baca: fakultas] tersendiri terpisah dari departemen mana pun. Hal ini menyebabkan pengambilan keputusan dapat dilakukan independen dari yang lain. Independensi ini menyebabkan ia dapat menciptakan proses bisnis yang kreatif, berbeda dengan yang lainnya.

#2 Perekrutan

Berbeda dengan departemen yang lain, perekrutan dilakukan dengan sang profesor* yang memilih mahasiswanya sendiri. Setiap mahasiswa direkrut untuk membantu proyek-proyek riset yang sedang berjalan. Independensi perekrutan mahasiswa ini cukup unik karena bisa jadi ada seorang dengan gelar MD masuk ke bidang arsitektur.

#3 Disiplin Ilmu

Cabang ilmu lab riset ini termasuk antar-disiplin. Akan tetapi, hal yang menarik adalah studi-studi riset sebuah cabang ilmu yang diambil ditilik juga dari cabang ilmu yang lain. Mereka membuat batasan antar cabang ilmu menjadi kabur, seperti seni dan arsitektur atau biologi dan arsitektur.

Sedikit catatan, hal ini berbeda dengan persepsi di Indonesia (terutama di penerimaan PNS). Seorang Doktoral harus mengikuti cabang ilmu yang linear untuk bisa diakui gelarnya. Padahal, ilmu yang berkembang saat ini tidak melulu murni. Bisa jadi seorang Doktoral Humanologi ternyata dari cabang Fisika. Ia mengalami perjalanan yang mengakibatkan ia mulai mempertimbangkan studi dari aspek sosial. Hei, ilmu adalah lautan luas dan manusia hanyalah saujana yang berusaha mengarunginya.

#4 Cara Riset

Masing-masing mereka mengembangkan secara terbuka (high profile). Mereka diarahkan kepada pengembangan produk jadi, bukan prototipe. Karena pengembangan mereka terkadang bukan di waktu mereka (ahead of their time) sehingga tidak jelas juntrungannya. Pengembangan produk yang tidak jelas juntrungannya tetap dapat dilakukan apabila tetap mendapatkan sponsor. Hal ini dikarenakan bisa jadi ketika dipresentasikan, produk-produk riset tersebut ternyata menjadi jawaban atas masalah yang dialami perusahaan-perusahaan sponsor.

#5 Pembiayaan

Pembiayaan dilakukan dengan komersialisasi hasil riset. Apabila sebuah perusahaan telah memberi dana melebihi jumlah tertentu, maka perusahaan tersebut diberi hak untuk mengakses beberapa karya intelektual hasil lab riset ini. Dengan adanya sponsor, mereka harus secara berkala membuat laporan (presentasi) kepada perusahaan-perusahaan pembiaya untuk meyakinkan mereka.

#6 Pencapaian

Perusahaan-perusahaan jebolan Media Lab: http://www.media.mit.edu/sponsorship/spin-offs

Riset-riset berjalan: http://www.media.mit.edu/research/highlights

# Penutup

Ini masalah terbuka dari artikel tersebut:

  1. Pengaburan batasan ranah ilmu yang memungkinkan ranah ilmu berbeda membedah permasalahan suatu ranah ilmu.
  2. Kultur terbuka merupakan sebuah masalah sosial tersendiri. Bagaimana caranya mengembangkan pemikiran untuk berbagi dengan orang lain tanpa curiga berlebih takut dijiplak adalah salah satu tantangan.
  3. Penghapusan birokasi dengan menyerahkan pembiayaan sponsor sebagai proses seleksi.

Mari berdiskusi.

* Apa Bahasa Indonesia untuk tenure? Saya coba ganti dengan profesor.