Dalam menjadikan komputer Ubuntu saya sebagai sebuah komputasi menyenangkan (fun computing), saya memasang banyak aplikasi. Semuanya menarik paradigmanya dan seru. Secara pribadi, saya boleh bilang KDE 4 adalah ujung dari penantian. Tetapi, akhir-akhir ini saya menyalakan kembali partisi Ubuntu saya (yang secara baku menggunakan GNOME). Saya jera melihat aplikasi di KDE 4 (Kopete) tidak mendukung proksi. Sambil menunggu proyek KDE Empathy menghasilkan sesuatu, saya pindah.

Berhubung saya pemain veteran, maka saya kurang familiar dengan aplikasi-aplikasi yang baru di GNOME. Tetapi, beberapa hal yang saya mau bagikan dalam memenuhi kebutuhan saya.

Musik

Untuk mendengarkan musik, saya menggunakan Audacious, salah satu pewaris takhta XMMS.

$ sudo apt-get install audacious

Saya tidak suka Rhythmbox dan sejenisnya. Aplikasi musik seharusnya tidak didisain untuk berat. Kita menggunakan musik di latar dan bekerja yang lain. Tidak perlu ada basisdata yang berjalan. Cukup konsentrasikan kepada tujuan aplikasi tersebut: mendengarkan musik!

Berhubung musik saya berasal dari CD, kualitas musik saya sudah cukup. Tetapi, terkadang dengan menggunakan berbagai keluaran suara, maka ada baiknya melakukan penyesuaian. Misalnya, untuk earphone PX-100, Bass (frekuensi 60Hz dan 125Hzjustru perlu dikurangi. Lalu, saya menggunakan plugin Crystality. Untuk HD-280Pro, justru semuanya dibuat level normal saja. Untuk mendapat efek Bass yang kaya, cukup naikkan frekuensi 60Hz dan 125hz. Saya juga biasanya mengurangi frekuensi tengah, 4kHz dan sekitarnya. Lalu, untuk sistem suara di rumah, cukup kecilkan suaranya agar tidak mengganggu tetangga dan penghuni rumah lainnya, he… he… he….

Oh, ya, bagi Anda yang ingin kualitas akustik dan Anda seorang audiophile akut, silakan ikuti tautan ini untuk memasang FreeVerb3. Yang pasti, saya belum mau memasang itu kembali.

Untuk mengambil dari CD, saya menggunakan sound-juicer.

$ sudo apt-get install sound-juicer

Sound-juicer ini mengambil lagu dengan cepat serta terhubung MusicBrainz dan CDDB. Format yang saya biasa gunakan adalah Ogg dan FLAC. Untuk CD dari penyanyi yang sedang saya teliti, saya pakai Ogg. Untuk penyanyi favorit, saya menggunakan FLAC. Ini memang karena alasan idealisme pendukung Perangkat Lunak Bebas dan didukung juga dengan telepon genggam yang ternyata bisa memainkan kedua format tersebut.

Akhir-akhir ini saya sentimen kepada hukum hak salin (copyright) terutama DMCA di Amerika. Undang-undang ini makin lama digunakan oleh patent troll dan status quo untuk justru membatasi kreasi baru. Maka, saya mencoba memberontak terhadap paten-paten tersebut dengan menggunakan paten tersebut. Hei, kita bukan di Amerika. Kita seperti Eropa, algoritma tidak dipatenkan!

Satu album coba saya ambil dan menyimpan dengan format AAC. Menurut saya, AAC format yang paling baik daripada MP3: berkas berukuran kecil dan frekuensi dinamisnya membuat kapasitas bit kecil memiliki kualitas mirip suara CD.

Namun, ternyata Audacious tidak bisa membaca penanda (tag) penyanyi di lagu tersebut. Selidik punya selidik, ternyata memang sound-juicer sepertinya tidak menyimpan penanda tersebut. Entah mengapa, Audacious tidak bisa menyunting berkas dengan format AAC. Maka, saya memasang sebuah perkakas penanda: easyTAG.

$ sudo apt-get install easytag-aac

Lihat ada sufiks “-aac”.

Dan Lain-lain (mood menulis menurun)

Untuk yang lainnya:

  • Window manager: gnome-shell
  • Surel: Evolution
  • Percakapan: Pidgin
  • Menonton: mplayer dan VLC.
  • Peramban: Firefox 3.6
  • Perambah direktori: Nautilus Elementary.