Sebuah entri oleh [WILM] memberikan sebuah informasi tentang permasalahan mengenai tim Ubuntu Artwork yang merasa tersisihkan karena tidak lagi diikutkan pada Maverick dan Lucid. Kalau saya boleh rangkum, Canonical merasa bahwa milis Ubuntu Artwork tidak lagi memberikan diskusi yang baik dalam memberi masukan. Sehingga, mereka mulai mengambil sebuah jalan cepat, menyewa profesional untuk membuat huruf dan disain.

Menurut saya, Hardy Heron adalah sebuah gambar latar yang paling hebat yang pernah diciptakan untuk komunitas perangkat lunak bebas. Gambar burung heron itu tersedia dalam bentuk SVG, sebuah kode sumber yang bisa diubah. Proses pemasukan gambar itu melibatkan komunitas dan membuat Ubuntu, sebagai distro yang memiliki komitmen kepada perangkat lunak bebas, masukan yang sangat berharga.

Hal tersebut memang di masa lalu. Tindakan Canonical akhir-akhir ini cukup meresahkan banyak orang. Setelah keputusan tertutup untuk membuat ikon jendela di sebelah kiri, banyak orang mulai meragukan niat baik Canonical sebagai pemegang lisensi Ubuntu. Saya pikir ini wajar.

Buat Anda yang masih buta, dan saya akan coba angkat ini menjadi sebuah topik sendiri, GNU/Linux adalah sebuah sistem operasi yang sarat dengan utopia. Di dalamnya, berbagai sudut pandang berkembang dan salah satunya adalah paham mengenai kebebasan. Alam kebebasan mengenal yang namanya demokrasi. Oleh sebab itu, sebuah keputusan tertutup merupakan awal dari kehancuran demokrasi tersebut.

Memang, demokrasi adalah sebuah kemewahan dan terkadang bisa menjadi bias dan anarki. Selain karena kebebasan berpendapat versus kemampuan orang dalam menjadi asertif, demokrasi melibatkan banyak kepala yang harus mencapai konsensus. Ubuntu yang telah berkembang menjadi sebuah entitas dan tengah gencar menerobos komputer kerja korporasi, bukan sekedar server saja, berusaha melakukan perubahan radikal. Perubahan tersebut takkan secepat ini apabila ada diskusi yang terlibat.

Internet adalah sebuah rimba liar yang sering kali memuat hal-hal kasar. Sering kali sebuah diskusi berubah menjadi debat kusir dan kata-mengatai. Sering kali sebuah status quo melawan revolusioner mencapai titik mati sehingga tidak ada penyelesaian. Kebebasan berekspresi sering kali dibablaskan dengan menabrak berbagai etika. Hal-hal tersebut merusak banyak hasil kerja dan membuat orang bertalenta mundur.

Akan tetapi, bukankah Ubuntu telah memberikan Code of Conduct, sebuah produk konsensus bagi komunitas Ubuntu untuk saling menghormati satu sama lain? Dengan demikian, seharusnya komunitas Ubuntu bisa berperan lebih baik lagi dalam diskusi yang baik.

Sebelum Anda berpikir bahwa Canonical menjadi the next Microsoft, Anda perlu ketahui bahwa apa yang dilakukan Canonical menurut saya adalah langkah yang benar menurut cara-cara modern. Dengan iterasi setiap 6 bulan, inovasi Ubuntu harus ada dalam setiap rilisnya. Dengan menggunakan profesional, inovasi tersebut dapat terjadi. Mulai dari penggantian warna coklat menjadi ungu (aubergine). Penggantian gambar latar dan ikon, tema Ubuntu, penggunaan plymouth, pembuatan huruf, dan berbagai keputusan-keputusan lainnya membuat Ubuntu semakin menarik dari hari ke hari.

Tapi, inovasi-inovasi inilah yang membahayakan Ubuntu.

Ubuntu bukanlah sebuah perangkat lunak dari modernisme. Ia adalah sebuah perangkat lunak sosio-humanis. Ia lahir dari gerakan melawan modernisme dan kapitalisme. Ia merupakan hasil dari gerakan gotong royong dari desa Smurf. Ya, utopia yang diciptakan oleh desa Smurf terjadi di sini. Smurf developer tidak akan marah bila Smurf-Smurf gembul memetik perangkat lunaknya dari kebun. Mereka tetap senang dan bahagia karena telah membantu orang lain. Mereka bahagia karena telah berkontribusi.

Tetapi, apa yang terjadi apabila Smurf-Smurf tersebut tidak lagi diikutkan dalam menanam ladangnya?

Banyak orang mengira bahwa ketika seseorang berhenti bekerja dan menikmati dunia akan membuat bahagia. Sayangnya, proses kreatif manusia dan kenikmatan mengetahui bahwa mereka dibutuhkan (atau kebutuhan tingkat keempat Maslow) membuat mereka yang berhenti bekerja seperti kehilangan diri mereka sendiri. Ujung-ujungnya, mereka menjadi kecewa.

Apa yang terjadi? Ada dua kemungkinan besar yang mungkin terjadi:

  1. Smurf-Smurf tersebut meninggalkan desa Smurf dan papa Smurf sendirian.
  2. Smurf-Smurf tersebut melakukan kudeta dan membuat desa Smurf versi baru.

Mandriva yang dicabangkan Mageia [PHO] adalah keputusan nomor 2. Ketika perusahaan induk Mandriva mengalami krisis sehingga menimbulkan ketidakpastian bagi Mandriva, komunitas Mandriva memutuskan untuk berjalan sendiri. Mereka tidak sudi hasil kerja bertahun-tahun mereka terhilang hanya karena korporasi. Perusahaan boleh bangkrut, tetapi komunitas tetap jalan.

Sumber daya komunitas dapat dibilang tak terbatas. Dengan kemampuan Internet, setiap komunitas dapat menjadi kekuatan  yang dapat mengubah. Namun, untuk Ubuntu mengalami hal tersebut adalah sebuah kemunduran bagi pergerakan perangkat lunak bebas/terbuka. Saat ini pergerakan perangkat lunak bebas/terbuka tengah mengalami momentum akibat Ubuntu yang melibatkan banyak komunitas.

Komunitas sebagai publisitas merupakan sebuah taktik yang jamak bagi perkembangan perangkat lunak bebas/terbuka. Tanpa ada komunitas, kebebasan takkan pernah bisa dijalankan dan dibuktikan. Oleh sebab itu, sebuah komunitas merupakan harga mati yang harus dijaga.

Saat ini, tim Ubuntu Artwork sedang berbenah. Saya sebagai pengamat hanya menyarankan, sebaiknya Mark dan Canonical segera merangkul mereka. Jangan sampai komunitas ini mati. Komunitas ini telah berbuat banyak bagi Ubuntu di masa lalu dan berpotensi dapat menjadi lebih baik di masa mendatang. Bila komunitas ini tidak segera dirangkul, kehancuran komunitas ini akan menjadi portfolio yang buruk bagi Ubuntu dan dapat menyebabkan efek berantai.

Referensi:

[WILM] http://thorwil.wordpress.com/2010/09/19/ubuntu-artwork-crisis/

[PHO] Phoronix. http://www.phoronix.com/scan.php?page=news_item&px=ODYxNg