Ketika memeriksa komunitas, saya menemukan tautan lagu pembuka Ksatria Baja Hitam RX. Lalu saya pun segera mencari-cari lagu lainnya. Ah, sungguh mengingatkan saya akan masa kecil sewaktu masih mengejar layang-layang dan Bondan Prakoso masih menyanyi Si Lumba-Lumba. Sungguh, masa itu sungguh masa yang baik untuk berkembang.

Saya ingat, dulu ada film McGyver yang membuat kami sewaktu kecil senang mengoprek-oprek. Yang saya ingat dari si bule ini adalah pisau Tentara Swiss-nya yang terkenal. Dia juga suka membuat sesuatu dari hal-hal kecil di sekitar kita. Sewaktu dia disekap di gudang anggur dan sewaktu dia sedang di sarang gerilyawan. Di episode satu, di mana dia membuat bom dari kalkulator. Saya langsung menyukai kalkulator dan ingin mengoprek-opreknya. Hmm.. setelah diingat-ingat, saya sering merusak barang-barang di rumah. Ha… ha… ha….

Sinetron yang paling keren pada masa itu adalah Harta dan Tahta, Naga Bonar (yang versi Sandy Nayoan), serta keluarga Cemara. Oh, ada juga Si Doel Anak Sekolahan. Setiap sinetron itu mengajarkan banyak hal. Harta dan Tahta penuh dengan intrik dalam sebuah keluarga, Naga Bonar memberikan kelucuan seorang jenderal sebelum menjadi “orang”, dan Keluarga Cemara bercerita tentang Abah dan keluarganya yang baru saja menjadi miskin. Sungguh, masa-masa di mana film itu bukan sekedar jual tampang.

Setelah saya ingat-ingat semua itu, terutama film kartun masa lalu, saya berkesimpulan bahwa telah terjadi degradasi konten yang akut. Pantas saja semenjak tahun 2000an, para otaku non-Jepang selalu mengeluk-elukan bahasa Jepang asli. Kalau saya baca di forum para penggemar anime (Film Kartun Jepang), selalu ada saja yang menyela lagu-lagu sulih dan film yang telah disulih. Memang, hal ini terjadi karena kualitas penyulihan saat ini tidak sebagus di masa lalu.

Coba Anda dengar lagu Sailormoon, Ksatria Baja Hitam, Mojacko, dan film-film kartun lainnya pada tahun sebelum 2000an. Coba Anda baca komik-komik sebelum tahun itu. Lalu bandingkan dengan komik terjemahan zaman sekarang. Pasti perbedaannya antara bumi dan langit. Saya ingat, dahulu saya mengikuti komik Kenji dan saya akhir-akhir ini membaca versi fansub di Internet. Saya secara pribadi lebih menyenangi versi Indonesia, komik yang dulu saya baca. [Ugh saya benci banjir]

Komik Kenji menggunakan “Kungfu Delapan Mata Angin” untuk Bajiquan dan “Taichi” untuk “Tajiquan”. Terjemahan itu terasa alami dan terkesan bahwa penyulih sudah melakukan riset sebelum menerjemahkan. Mungkin, mereka sudah bertanya kepada ahli kungfu di Indonesia mengenai aliran-aliran tersebut. Beberapa nama pun mengalami adaptasi bentuk. Benar-benar komik dihargai sebagai salah satu karya sastra. Sedikit ingatan dari masa SMA (atau SMP?), bentuk penyulihan karya sastra itu ada dua: bentuk yang mempertahankan istilah dan bentuk yang mengadaptasi budaya lokal.

Dua film yang masih terbersit diingatan saya adalah Ksatria Baja Hitam dan Saint Seiya. Saya sangat suka Kotaro Minami. Tatapan tajam seperti seorang samurianya itu sungguh menggetarkan hati. Ketika dia berubah, itu membuat kita kesenangan dan tekad kuat di hatinya itu tergambarkan lewat ekspresinya. Kendati demikian, saya lebih suka abangnya. Gaya keren Shadow Moon itu, sepatu koboinya dan baju zirah peraknya sungguh mengesankan.

Ah, betapa beruntungnya saya mendapatkan film-film yang membentuk kepribadian saya. Untung saya bukan generasi yang lahir pada tayangan gosip dan sinetron dungu seperti sekarang.