Dalam [1], ditemukan bahwa selama ini fundamental Ilmu Komputer sering kali mengajarkan asumsi yang salah, contohnya algoritma Heap. Menarik sekali bagaimana dibahas bahwa apa yang dibahas puluhan tahun di Ilmu Komputer, sudah tidak relevan lagi.

Ada yang bilang bahwa pendidikan di Indonesia untuk menyiapkan mahasiswanya untuk siap kerja, bukan siap untuk bersaing. Bersaing itu artinya mau berinvestasi. Bersaing itu berarti memikirkan efek jangka panjang. Bersaing itu artinya bisa bertahan, bukan cuma diam di kantor dan terima gaji tapi riset.

Ada yang bilang bahwa pendidikan sekarang membunuh karakter. Seorang pemadam kebakaran dicerca guru SMA-nya karena ia ingin jadi pemadam kebakaran. Bertahun kemudian, sang guru diselamatkan oleh orang tersebut. Satu dari kasus sukses pembangkangan terhadap pendidikan formal yang memberi nilai tinggi kepada para ekonom dan ilmuwan, tetapi tidak untuk musisi dan pelayan masyarakat.

Bagaimana menurut saya?

Pendidikan formal saat ini adalah sarana yang baik untuk membangun cara berpikir empiris. Seseorang akan dibangun untuk berpikir dengan logika formal, yakni menggunakan alasan yang benar dan mempertanyakan asumsi. Hal ini sesuai dengan sebuah ucapan yang menjadi dasar untuk filsafat: “Semakin aku tahu, semakin aku tahu bahwa aku tidak tahu”

Kendati sebuah ilmu dibangun secara empiris, dibuktikan error confidential level 0,001, masih ada 0,001% yang bisa menjadi corner case yang membuat sebuah argumentasi valid menjadi tidak valid. Dalam hal ini, sekali pun seseorang ilmuwan adalah puritan logika, ateis, dsb., namun dalam implementasinya ia akan tetap pada suatu titik mengandalkan iman/insting. Selayaknya ilmu manajemen yang bilang bahwa tidak ada yang pasti selain ketidakpastian itu sendiri, maka akan selalu ada yang namanya iman.

Mengapa demikian?

Ilmu fisika sederhana mengajarkan mengenai dasar dari iman tersebut. Bagaimanakah cara kita melihat seseorang yang mendorong pintu? Menurut ilmu Fisika, gaya dihitung dari jumlah gaya yang terlibat di dalamnya atau yang disebut dengan gaya resultan. Gaya resultan dihitung dengan misalnya dengan gaya dorong, friksi pintu dengan lantai, friksi pintu dengan dinding, tekanan udara. Tapi, sebenarnya ada gaya lain yang turut bekerja yang karena dianggap tidak signifikan, tidak diikutkan dalam perhitungan.

Sebuah anomali dapat terjadi apabila gaya yang tak terhitung itu ternyata berpengaruh. Seandainya tekanan angin memberikan 0,001% revisi gerak, maka pada suatu titik hal tersebut menyebabkan perubahan gerak yang mungkin kurang signifikan. Tetapi, pada satu waktu hal tersebut menyebabkan kegagalan, terutama untuk operasi-operasi yang membutuhkan presisi tinggi. Bukan itu saja, terkadang perubahan yang tidak signifikan itu menyebabkan efek longsor salju (avalanche effect) yang menyebabkan perubahan kecil tersebut teramplifikasi beribu-ribu kali.

Aduh, ini sebenarnya mau bikin entri yang ringan sebelum entri yang agak berat. Kok, jadi terasa berat, yah?

Ilmu adalah sebuah dasar untuk berpikir logis. Ilmu adalah sebuah kajian yang  mengisolasi masalah sehingga dapat dipecahkan. Dunia nyata adalah sebuah fungsi komposit dari berbagai masalah. Terkadang sebuah masalah hanya sebuah komponen konstanta, tetapi sering kali juga ternyata merupakan sebuah fungsi yang perlu diperhitungkan. Itulah sebabnya, sebagai orang yang semakin tahu, kita justru semakin tahu bahwa kita tidak tahu apa-apa. Seperti ilmu padi.

[1] Poul-Henning Kamp. http://queue.acm.org/detail.cfm?id=1814327