hotlinked from XKCD

Dalam sebuah rapat seorang ahli teknologi diberikan sebuah pertanyaan, “bisakah kita membendung Internet?”

Jawabannya: TIDAK. Tetapi, kita bisa melawan setiap informasi salah dengan informasi benar.

Internet adalah sebuah tempat liar yang tidak bisa dikuasai oleh siapa pun, bahkan negara seadidaya Amerika sekalipun. Hukum yang ada saat ini dibatasi oleh batas negara. Hal ini menjadi kelemahan untuk menindak tegas hukum. Sebagai contoh, para penyampah (spammer dan scammer) menaruh servernya di dunia ketiga yang tidak mengenal ekstradisi dan hukumnya lemah. Sebuah situs forum Indonesia pun dahulu menaruh strategi yang sama.

Akan ada selalu celah untuk sebuah budaya negatif masuk dan membunuh norma. Kecuali Anda mau tinggal seperti masyarakat Badui Banten atau pun orang Amish Amerika, pengaruh global takkan pernah bisa disaring. Apalagi berdasarkan sifat manusia yang selalu penasaran, anak akan selalu mencoba melihat apa yang sedang populer di masyarakat.

Lalu bagaimana cara menangkalnya?

Sering kali orang Indonesia memakai cara yang cepat dengan menghukum pelaku dan pengedar dengan harapan menimbulkan jera. Tetapi, menurut saya, hal tersebut adalah sebuah solusi delusional yang hanya sekedar memuaskan sementara tanpa memberi jawaban yang nyata. Yang terjadi adalah seperti api dalam sekam, masalah tersebut dibiarkan meletup tanpa ada evaluasi yang jelas.

Bukti?

Ketika dulu terjadi heboh video 3GP siswa dalam sekolah, pelaku diusut dan kemudian dikeluarkan dari sekolah. Mereka dihukum oleh masyarakat dan dipinggirkan. Tetapi, apakah masalah teratasi? Justru, karena pemberitaan media, yang lain terinspirasi dan melakukan hal yang sama. Ketika dulu saya sewaktu mencari “nenek seksi berusia 50 tahun”, saya malah menemukan tautan ke situs-situs blog yang berisi video 3GP siswa-siswi SLTA. Padahal, saya sedang mencari seorang artis Amerika Latin yang menjadi pemberitaan waktu itu.

Dari [1] ditemukan bahwa 10 kata kunci teratas pencarian gambar dari Indonesia dengan menggunakan Google menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat kita menggunakan Internet untuk mencari materi pornografi. Saya tidak bisa menunjukkan data demografi pengguna Internet Indonesia. Akan tetapi, dari hasil pengamatan secara amatir, saya menyimpulkan bahwa generasi mudalah (umur < 25 tahun) yang paling sering mengakses Internet.

Hal yang menguatirkan, saya malah melihat ada alergi penggunaan teknologi oleh generasi tua. Kecenderungan masyarakat kita yang gagap teknologi (gaptek) dan lebih menyukai verbal dan nyata menyebabkan mereka tidak nyaman untuk menggunakan media Internet. Hal ini membuat banyak orang tua yang tidak mengerti sifat Internet dan membuat mereka tidak bisa mengerti perilaku anak-anak muda.

Hal ini bukanlah masalah masyarakat urban semata. Menurut [2], Indonesia akan memberikan cakupan Internet untuk seluruh masyarakatnya sampai tahun 2015. Hal ini tentunya menimbulkan potensi ekonomi yang cukup signifikan.

Bayangkan, komunitas-komunitas pedesaan dapat bertukar informasi mengenai harga barang sehingga bisa melawan praktek ijon. Biaya penyuluhan akan menurun karena bisa melakukan telekonferensi langsung. Koordinasi antar wilayah akan semakin efektif sehingga kebijakan sektoral akan lebih efisien. Terlebih, fungsi pengawasan akan lebih berjalan karena sistem dapat berjalan daring.

Tetapi, di tengah gegap gempita berita baik tersebut, Internet menyimpan pedang bermata dua. Keterbukaan informasi juga menyebabkan banyak pengetahuan yang bukan untuk konsumsi anak kecil malah terbuka untuk semua. Informasi tanpa batas ini juga akan menyeruak masuk ke masyarakat pedesaan. Dengan keterbatasan pengetahuan, sudah pasti masyarakat tersebut akan kesulitan dalam mengatasi masalah tersebut.

Ahem, solusi?

Jika Anda adalah seorang generasi tua, saya sarankan Anda untuk memaksakan diri membuka mata tentang Internet. Silakan kunjungi warnet-warnet terdekat dan mencoba sendiri merasakan bagaimana menjadi generasi saat ini. Dari pengalaman Anda berkenalan dengan Internet, Anda bisa mendapatkan sebuah cara yang bisa diterapkan kepada keluarga Anda. Saya sarankan Anda untuk tidak menjadi hakim ketika mencoba sehingga Anda dapat secara obyektif dapat menilai.

Adalah sebuah kesalahan ketika menganggap bahwa hukuman menyelesaikan masalah. Mohon maaf, dengan kondisi global saat ini, dunia sedang bergerak kepada pemikiran liberal seperti zaman Renaissance dahulu di Eropa. Anak-anak sudah tidak mempan lagi dengan pelarangan tanpa alasan. Sebuah kesimpulan dari abad ke-7, abad ke-1, atau zaman sebelum Masehi takkan menjawab persoalan bila tak diberikan dasar pemikiran atas pemikiran tersebut. Rezim dunia dan terorisme juga memberikan andil pelemahan solusi agama.

Sudah saatnya orang tua dan komunitas bergerak untuk memberikan komunikasi kepada anak. Dari pada anak mengenal dari orang lain, lebih baik orang tua dan masyarakat mengenalkan dan menjelaskan lebih dahulu. Fungsi pengawasan yang saat ini tidak berjalan sudah saatnya digerakkan. Bukan hukum yang menyelesaikan masalah. Tetapi, media, pemilik warnet, pihak sekolah, masyarakat, dan orang tua membuat deklarasi untuk melindungi anak-anak.

# Media?

Ya, media saat ini yang demi mengejar rating dan uang mengumbar isi-isi yang tidak selayaknya ditampilkan untuk konsumsi segala umur. Demi popularitas, sinetron-sinetron dengan tema populer tanpa mempertimbangkan aspek psikologis ditampilkan pada jam-jam yang ditonton oleh anak. Berita-berita yang selayaknya diberitakan tanpa gamblang, disajikan sebesar-besarnya tanpa mempertimbangkan bahwa ada anak-anak yang menonton.

Wahai media, apakah demi uang Anda rela mengorbankan generasi ini?

# Pemilik Warnet?

Saya tahu, membuat kebijakan non-populer membuat sebuah warnet menjadi sepi. Apalagi, warnet-warnet buka berdekatan. Tetapi, Anda bisa menyiasatinya dengan membuat program-program kreatif. Program seperti pengenalan Free/Open Source Software, klub pemrograman, dan Internet menyenangkan bisa meningkatkan pendapatan sekaligus membekali anak-anak itu. Pembatasan penggunaan Internet juga penting agar anak tersebut tidak lupa pulang.

# Pihak Sekolah

Sekolah adalah rumah bagi siswa. Bahkan, siswa menghabiskan waktu lebih banyak di sekolah dari pada di rumah orang tuanya. Sudah saatnya pola pemikiran bahwa sekolah hanya tempat belajar semata dibuang jauh-jauh. Sekolah adalah komunitas, maka perlengkapi komunitas tersebut untuk memiliki kegiatan-kegiatan yang positif. Anda juga bertanggung jawab dalam menyediakan penyuluhan-penyuluhan yang menarik.

Satu hal yang perlu disadari sekolah, sudah saatnya mempekerjakan guru BP lebih dari satu! Saat ini kurikulum kita menggunakan metode Amerika, tetapi nyatanya dalam pengajaran masih menggunakan metode Jepang. Sehingga, baik guru, staf sekolah, mau pun siswa itu sendiri malah tidak optimal dalam berkomunikasi di dalam komunitas tersebut.

# Masyarakat

Gerakan “2 juta facebooker mendukung Bibit-Chandra” memberikan sebuah hal yang menarik: masyarakat mampu mengubah kebijakan populer. Saat ini, demi kelangsungan generasi muda, sudah saatnya muncul gerakan untuk menolak isi-isi yang tidak sesuai. Masyarakat yang terdiam adalah sebuah masyarakat yang menyetujui. Padahal, diperlukan keteladanan dari masyarakat untuk menolak isi yang menyimpang.

Jika Anda adalah seorang individu, baik di kantor, di warnet, mau pun di mana pun, saat ini ketika Anda membuka situs-situs menyimpang, Anda menyumbang klaim tren dan menciptakan pasar untuk itu. Demi generasi bangsa ini, seberapa pun tertariknya Anda, sebagai tanggung jawab moral, janganlah sekiranya Anda mengakses isi tersebut. Bukan untuk menjadi munafik tetapi belajar untuk lebih baik.

Saat ini, isi yang berbau kontroversial seperti gosip, seks, dan terorisme merupakan isi populer sehingga membuat ekspos yang berlebihan. Hal ini karena permintaan yang populer saat ini demikian. Tetapi, kita sebagai individu dengan menyadari tanggung jawab moral bisa membatasi isi-isi tersebut dengan memilih untuk tidak membahasnya. Setidaknya tidak membahas secara berlebihan.

# Orang Tua

Lebih baik anak Anda tahu dari Anda dari pada orang lain. Idealnya, pembimbingan dilakukan terus menerus. Sayangnya, keadaan sering kali membuat orang tua meninggalkan anak. Tetapi, kondisi ini bisa diatasi dengan membuat waktu-waktu berharga dengan anak. Sempatkanlah untuk bercengkerama dengan anak.

# Terakhir

Bila masyarakat diam, dengan hanya menghukum tanpa pembenahan, maka janganlah mempermasalahkan perilaku “menyimpang” tersebut. Jangan lupa bahwa kita hidup di dalam masyarakat majemuk. Ada banyak ideologi yang berkembang saat ini. Tanpa dasar pemikiran yang kuat (apologetika yang tepat), ideologi yang kita anut hanyalah sebuah pemikiran usang dari masa lalu. Pemikiran global saat ini sedang membentuk masyarakat menjadi masyarakat yang kritis. Tanpa memberikan apologetika yang tepat, hanya akan menjadi bulan-bulanan.

Bila tidak ada rasa tanggung jawab untuk mengekang rasa ingin tahu dan berbuat yang benar, maka terimalah budaya seks bebas dan gosip sebagai bagian dari budaya Indonesia. Apa yang kita perbuat menjustifikasi siapa kita, bukan agama yang kita anut.

End of Rant

Referensi:

[1] Google Insights, Google Wawasan untuk Pencarian – Minat Penelusuran Gambar – Indonesia, Jan 2008 – Jun 2010, Google. <http://www.google.com/insights/search/#geo=ID&gprop=images&cmpt=q>

[2] Sardjoeni Moedjiono. 2009. Strategy and Policy toward the Indonesian Information Society, UNESCAP <http://www.unescap.org/idd/events/2009_egm-wsis/presentation%20materials/egm%20indonesia_country_report%202009.ppt>

Gambar diambil dari http://xkcd.com/751/