Teknologi seperti telepon pintar, iPad, smart space, dan berbagai gadget yang saat ini berkembang merupakan hasil dari sebuah bidang ilmu: komputasi pervasif (Pervasive Computing). Pertama kali dicetuskan oleh mendiang Mark Weiser dalam visinya di [1] dengan istilah ubiquitous computing. Ide dari visinya adalah membuat komputer “menghilang”, bukan sekedar mengecil dan bisa dibawa-bawa. Komputer melebur dengan lingkungan sekitar; memperkaya perilaku lingkungan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan manusia yang ada. Komputer sebisa mungkin tidak mengganggu/menginvasi manusia dengan keberadaannya (unobtrusive), tetapi di latar bekerja membantu manusia. Sehingga, manusia bisa berkonsentrasi terhadap aktivitasnya.

Kalau kita lihat di [2], tidak ada sama sekali disebutkan Indonesia. Hal ini berbanding terbalik dengan justru maraknya penggunaan teknologi ini terutama di kota-kota besar. Akibat dari sekedar mengimpor, budaya Indonesia juga mengalami degradasi dan kehancuran. Perilaku budaya urban buka terasimilasi tetapi terinvasi. Budaya-budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya lokal mendominasi budaya lokal. Maka, jangan heran budaya nasional yang berdasarkan budaya daerah hanya akan menjadi legenda di buku-buku teks PPKn.

Mengapa demikian?

Jika dilihat dari ide awal dari Komputasi Pervasif, sebenarnya ia tidak melulu berbicara tentang teknologi elektronik. Justru, yang menjadi titik pembelajaran dari Komputasi Pervasif adalah tingkah laku manusia. Perilaku manusia berbicara mengenai komponen-komponen yang menarik seperti:

  1. Apa saja masalah yang dihadapi/tujuan dari manusia?
  2. Bagaimana cara manusia mencapai tujuannya?
  3. Perkakas apa yang dipakai manusia untuk mencapai tujuannya?
  4. Aturan/norma/kebiasaan apa yang dibuat manusia untuk beradaptasi?
  5. Dan berbagai hal dalam psikoanalisis atau pun antropologi.

Abstraksi-abstraksi sederhana yang menjelaskan tingkah laku manusia ini jelas sekali dibatasi oleh lingkup spasial. Suatu masalah umum yang dihadapi oleh manusia diatasi dengan cara berbeda tergantung pada lokasi tempat masalah itu dihadapi. Hal ini dikarenakan setiap lingkup spasial memiliki karakteristik (misalnya: kontur tanah, sumber daya alam yang tersedia, kondisi air tanah) berbeda.

Contoh sederhananya adalah makan. Ada masyarakat yang menyediakan wadah untuk setiap orang. Ada juga yang menaruh dalam sebuah wadah besar dan kemudian sekeluarga secara bersama-sama makan dari wadah tersebut. Ada yang memilih untuk memakan langsung makanannya dari tempat pemasakan. Ketiga contoh tersebut unik dan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Apa yang terjadi ketika budaya nasional terinvasi oleh budaya asing?

Ketika era industrialisasi menyerbu Indonesia, masyarakat Indonesia diperkenalkan dengan wadah plastik dan styrofoam. Harga pembungkus yang mudah terbakar ini sangat rendah jika dibandingkan dengan bahan lainnya. Keuntungan ini membuat masyarakat memilih untuk menggunakan wadah ini untuk makanannya.

Sayangnya, masuknya teknologi ini tidak disertai dengan perubahan perilaku masyarakat Indonesia.

Kecenderungan untuk membuang sampah ke alam secara sembarang merupakan perilaku yang dianut semenjak nenek moyang. Manusia Indonesia terbiasa dengan menggunakan dedaunan sebagai wadah. Dari generasi ke generasi dibangun sebuah pengetahuan mengenai sampah yang menjadi humus. Sampah yang dibuang sembarang itu diubah oleh alam menjadi pupuk kompos. Justru, sampah itu kembali ke alam sebagai nutrien yang menyuburkan.

Plastik bukanlah dedaunan! Perilaku tradisional demikian justru membuat tanah mengalami degradasi. Sisa plastik yang dibuang justru menjadi racun dan merusak aliran air. Banyak tanah yang tak laik lagi untuk ditumbuhi dan aliran air yang tersumbat sehingga menimbulkan banjir. Dari kedua hal tersebut, timbul efek domino seperti kelaparan, penyakit, kekeringan, dan bahkan problema sosial seperti hilangnya jaminan keamanan di lingkungan tersebut akibat banjir.

Teknologi adalah alat

Teknologi adalah alat merupakan prinsip dasar dari komputasi pervasif.

Jika digambarkan seperti SDLC, sebuah pemenuhan kebutuhan manusia (pemecahan masalah) merupakan sebuah proses iterasi dengan mempertimbangkan iterasi sebelumnya. Proses pemecahan masalah adalah sebuah pengembangan dari solusi yang telah ada untuk masalah tersebut. Ia bukanlah sebuah proses baru yang terlepas, berdiri sendiri, atau pun dibangun dari nol. Ia sebisa mungkin merupakan peningkatan dari solusi sebelumnya. Itu sebabnya ia tidak mengganggu (obtrusive) dan penambahannya bersifat transparan.

Itu sebabnya, pembelajaran mengenai perilaku masyarakat di sekitar untuk memenuhi kebutuhannya menginspirasi penemuan-penemuan di bidang komputasi pervasif. Hal ini justru berbanding terbalik dengan stigma yang berkembang di dalam masyarakat yang menyatakan bahwa budaya tradisional merupakan sebuah budaya yang usang. Budaya tradisional tidak menjawab tantangan zaman dan mengungkung manusia dalam kekurangan.

Jika kita mau jujur menilai, saat ini terjadi penurunan kualitas manusia. Tingkat stres justru lebih tinggi di perkotaan. Secara bertahun-tahun, masyarakat Dayak memenuhi kebutuhannya dari hutan secara tidak berlebihan. Namun, saat ini kondisi hutan hujan Indonesia dan kebakaran hutan turut menyumbang konsumsi karbon ke atmosfer yang berakibat terjadinya perubahan iklim. Sungai di kota besar seperti Jakarta jangankan bisa diminum, untuk dapat dilewati saja pun sudah tak layak. Bisa jadi, tinggal tunggu waktunya menunggu degradasi sampai pada titik yang menyebabkan kegemparan.

Budaya tradisional secara ketat telah menjaga kelangsungan hidup selama beratus tahun. Walau pun ada kekurangannya, setiap budaya lokal menjawab permasalahan dalam lingkup lokal. Dibangun dengan pemahaman lingkungan sekitar, pengetahuan ini disempurnakan dari generasi ke generasi menjadi sebuah hukum adat. Penyesuaian sesuai dengan lingkup lokal inilah yang menjadi tempat Komputasi Pervasif bermain.

Kustomisasi = Personalisasi= Lokalisasi Pemecahan Masalah

Hmm… tulisan ini sebenarnya hendak menjelaskan dengan bahasa ringan. Kok, jadi berat, ya?

Sebenarnya maksud dari tulisan ini adalah untuk memperkenalkan filosofi Komputasi Pervasif kepada khalayak ramai. Penelitian mengenai bidang ini tidak ada di Indonesia. Padahal, produk-produknya sudah ada di pasaran. Masalah-masalah sosial di Indonesia saat ini, penentuan kebijakan yang benar dapat dipecahkan dengan memiliki asumsi dasar yang dimiliki oleh dunia Komputasi Pervasif.

Kayanya budaya Indonesia justru menjadi kekuatan dalam membangun aplikasi dan peralatan canggih. Bisa jadi, ada di antara beribu-ribu budaya yang bhinneka ini, sebuah solusi untuk masyarakat modern dapat dikembangkan. Solusi yang selama ini mungkin terpatri oleh budaya Barat, ternyata secara bijak dapat dijawab lebih baik oleh kebudayaan lokal Indonesia.

Mengembangkan Komputasi Pervasif di Indonesia

Hal pertama yang perlu dilakukan dalam mengembangkan Komputasi Pervasif di Indonesia adalah  membuang jauh arogansi keilmuan. Seperti kedokteran Barat yang menerima dengan malu-malu ilmu akupunktur, saat ini penelitian di Indonesia yang melibatkan multidisiplin  ilmu masih kurang (kalau tak bisa dikatakan tidak ada). Padahal, lab Komputasi Pervasif adalah sebuah lab yang menggabungkan ilmu eksakta (komputer, teknik)  dengan ilmu sosial. Sebagai contoh, MIT dengan [3] memberikan slogan pada labnya sebagai “Pervasive, Human-centered Computing”. Hal ini berimplikasi kepada keluaran teknologinya yang justru untuk memperkaya kehidupan manusia.

Nokia baru mengganti slogannya pada tahun 2007 menjadi “connecting people” [4], tetapi teknologinya sudah ada semenjak puluhan tahun yang lalu. Kesadaran akan perlunya pemahaman tentang manusia baru terjadi akhir-akhir ini. Ada dua hal yang dapat diimplikasikan:

  1. Teknologi Saat Ini Cacat
  2. Kita belum ketinggalan.

Menurut Anda, apakah teknologi saat ini membuat cara kerja manusia menjadi lebih baik? Sebagai contoh, fenomena yang terjadi saat ini adalah banyak orang yang meng-SMS temannya ketika sedang berdiskusi kelompok. Sudah terbiasa di kalangan muda untuk memainkan HP-nya sambil mendengarkan temannya berbicara. Ada juga kasus lain ketika ada orang secara fisik bertemu satu sama lain, tetapi alih-alih menyapa keduanya malah asyik ber-SMS. Kasus lainnya adalah semakin banyak orang tenggelam dengan dunianya sendiri tanpa memperhatikan lingkungannya. Dengan bermodalkan ear phone dan HP zaman sekarang, hal tersebut bisa dilakukan.

Saya tidak ingin menyimpulkan benar atau salah. Seperti falsafah yang dianut oleh Komputasi Pervasif, setiap kesimpulan/jawaban atas masalah merupakan unik untuk solusi untuk lokal tertentu. Perilaku demikian benar atau salah adalah sebuah kesimpulan subyektif. Norma berlaku pada lingkungan yang berbeda juga berbeda satu sama lain. Tetapi dalam khasanah budaya nasional, apakah perkembangan demikian dapat diterima?

Budaya dan teknologi bukanlah bagian terpisah. Sudah saatnya dipelajari secara bersama dengan manusia sebagai subyeknya, bukan obyek.

Tulisan ini merupakan bagian awal dan saya berencana untuk menulis lebih lanjut mengenai topik apa saja yang sedang berkembang atau pun bisa dikembangkan di dalam Komputasi Pervasif. (dengan bahasa yang lebih manusiawi tentunya)

Referensi:

[1] Mark Weiser, The Computer for the 21st Century, SciAm <http://www.ubiq.com/hypertext/weiser/SciAmDraft3.html>

[2] Wikipedia, List of ubiquitous computing research centers, Wikipedia <http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_ubiquitous_computing_research_centers>

[3] MIT Project Oxygen. MIT <http://oxygen.csail.mit.edu/>

[4] Versa Creation. Versa <http://www.versacreations.net/advertising/166/business-slogan-35-connecting-people/>