Divide et Impera, suatu jargon yang kerap kali diperdengarkan pada saat belajar sejarah di bangku sekolah. Inti dari prinsip ini adalah memecahkan masalah dengan membaginya menjadi beberapa masalah yang lebih kecil yang bisa dipecahkan secara bersama-sama. Prinsip pemrograman yang memakai pendekatan ini adalah Functional Programming dengan lambda calculus-nya. Tetapi, saya mau berbicara tentang teknologi yang memiliki paralelisme. Tulisan ini tidak untuk menjelaskan, tetapi bagi orang yang punya kemauan dapat dipakai untuk maju. (HINT: Google for it!)

Paralelisme I/O

RAID dan sejenisnya berusaha membagi beban baca/tulis ke beberapa tugas. Di sistem GNU/Linux dapat menggunakan Software RAID seperti MDADM. RAID 1 untuk data yang sering ditulis, RAID 5 untuk data yang jarang tertatar tetapi punya konten berukuran besar. Itu sebabnya, RAID 5 lebih cocok untuk server Kambing.

Paralelisme Bandwith

Membagi tugas antar beberapa server untuk mengurangi beban jaringan.

  • DNS Round Robin (entri DNS untuk satu domain mengarah ke lebih dari satu IP).
  • Load-balancer ipvsadm.
  • Ethernet Bonding. Dua atau lebih perangkat Ethernet dijadikan satu.

Paralisme Komputasi

Membagi pekerjaan ke beberapa mesin komputasi agar lebih cepat.

  •  Grid/Cloud Computing. MPICH, MPI, dkk.
  • Cluster. Beowulf dkk.
  • Cyber Foraging. Bagian dari Pervasive Computing.

Anti-Paralelisme

Virtualization (Sabame, satu barang rame-rame): Xen, VMWare, dkk.

Bukan Untuk Paralelisme Tapi Paralel

DRP (Disaster Recovery Plan)

  • DRDB. Network block device synced each other.
  • Master-Slave.