Kemarin sewaktu saya dan teman saya hendak mengambil uang dari ATM, saya melihat teman saya celingak-celinguk lalu meraba-raba permukaan ATM. Terus, dia lalu memeriksa mulut tempat masukan ATM. Saya heran orang ini sedang apa. Lalu seorang bapak di belakang yang mengantri lalu berbicara dengan temannya mengantri, “Wah, benar dia, kita harus hati-hati, takut kena scam.” (Kira-kira dialognya seperti itu)

Kebetulan saya manusia Internet dan jarang nonton TV. Tapi, saya tidak tahu kalau masyarakat sudah sedemikian paranoia. Sudah sejak lama kita punya teknologi kuno dan terbelakang dan saya pun tahu bahwa sudah sejak lama teknologi ini sebenarnya harus diganti. Bank Indonesia dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 51. Tahun 2005 tentang Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK), mewajibkan setiap Bank/Institusi penerbit kartu kredit/debit untuk mengaplikasikan teknologi smart card/chip card untuk setiap penerbitan/penggantian kartu per tanggal 1 September 2006. [KMP]

Waktu itu, saya bertanya sama teman saya yang lain, hendak seperti apakah teknologi yang hendak dikembangkan? Lalu dia bilang hendak mencontoh teknologi Octopus, seperti yang dipakai di Hongkong. Teknologi ini berbeda dengan teknologi yang dikembangkan oleh Universitas Indonesia dan BCA Flazz. Wow, kami menyamakan dengan teknologi BCA Flazz?

Yup, kartu pintar UI dah BCA Flazz sama-sama menggunakan teknologi Javacard 2 dengan teknologi GlobalPlatform. Hanya saja, kartu UI spesifikasinya jauh di atas BCA Flazz. Kartu UI dilengkapi teknologi MiFare Basic dan ISO 14443…

Ah, bukan itu yang saya mau bahas. Maksud saya, sudah sejak lama para ahli tahu bahwa kartu ATM itu tidak aman. Tapi, dengan berbagai alasan, kita memilih bungkam sampai terjadi kasus ini. Hal ini sama seperti para psikolog hanya diam melihat praktek yang tidak benar, yakni ketika TK mengajar anak-anak balita membaca (padahal usia tersebut tidak seharusnya diajarkan membaca). Yang dilakukan mereka adalah menyekolahkan sendiri anak-anaknya (home schooling).

Jadi, kalau sebenarnya terjadi sesuatu di negeri ini. Beberapa golongan telah dapat mengantisipasinya. Pertanyaan saya, mengapa golongan-golongan tersebut tidak mau berbagi? Kalau dulu kita takut terkena subversif, tapi sekarang, apakah yang menyebabkan ogah untuk berbicara?

REFERENSI:

[KMP] http://m.kompas.com/xl/read/data/2008.02.13.2115449