Judul tersebut merupakan plesetan dari salah satu ayat dalam teori Evolusi, “Survival’s The Fittest”. Saya bukan hendak berbicara tentang teori ini karena saya seorang Kreasonis dan walau pun saya percaya akan evolusi, tetapi saya bukanlah seorang yang kompeten mengenai subyek tersebut. Saya hendak mendongengkan industri sepatu.

Dahulu kala, kita punya yang namanya industri sepatu. Saat itu, produsen sepatu dunia seperti Nike, Neckermann, dan Adidas membuka pabriknya di Indonesia. Rekanan dari dalam negeri digandeng dan produksi berjalan demikian rupa. Lebih dari itu, bahkan kita punya yang namanya industri sepatu dalam negeri yang bernama Cibaduyut. Sepatu Cibaduyut terkenal baik dan ada kebanggaan dalam menggunakannya.

Sayangnya rasa kebanggaan itu tidak dipelihara dengan baik.  Waktu itu, bermunculan sepatu-sepatu Cibaduyut palsu. Daerah-daerah sekitar Cibaduyut berduyun-duyun ingin membuat sepatu. Selain itu, daerah yang tadinya tertata rapi mulai berantakan. [1] Tidak ada sama sekali investasi serius. Ah, apakah gunanya investasi di daerah ini? Toh, kita punya pabrik-pabrik luar biasa.

Rekanan-rekanan yang luar biasa setia ini tidak pernah melakukan penyerapan teknologi. Mereka hanya membuat sepatu dengan spesifikasi yang diberikan oleh perusahaan asing. Jangankan penyerapan teknologi, membuat produk sendiri saja tidak. Mereka terbentur dengan perjanjian dagang. Lagi pula, bukankah cukup dengan menjadi perusahaan rekanan saja sudah memberikan untung?

Cibaduyut yang sudah hancur seakan tidak cukup bagi industri sepatu. Vietnam, sebuah negara yang baru saja membangun menyediakan tenaga buruh yang murah, gak pake demo. Maka, pergilah perusahaan-perusahaan asing ini satu per satu ke sana untuk pindah. Tinggallah rekanan-rekanan ini terdiam dan termangu. Terakhir, perusahaan Nike yang keluar. [2]

Rekanan-rekanan itu tidak pernah tahu apa yang menimpa mereka. Kini industri sepatu kita tidak lagi semanis dahulu. Ah, andai mereka tahu yang namanya riset…

Ah, masak karena riset?

Bukan! Tetapi karena mental, demikian alasan dari pengrajin kasut dari Cibaduyut. [3] Kebanyakan dari rakyat Indonesia malu berkasutkan merek lokal, demikian kata sang pengrajin. Teringat aku akan sebuah pemeo, “ah, produk Indonesia itu kalau laku produksinya ditingkatkan dan mutunya dikurangin biar untung”.

Padahal, aku yang menggunakan sepatu dari Senen produksi pamanku yang punya toko di sana. Sudah 3 tahun masih awet. Sering kena hujan dan hampir tidak pernah disemir. Pernah jamuran, tapi disikat langsung hilang.

Ah, walau pun Bu Titiek Puspa dan Pak Alim Markus beriklan, tetap saja merek Indonesia tidak sedemikian kuat dibandingkan dengan produk asing. Jangankan produk, bahkan bahasanya pun menjadi warga kelas tiga di sini. Kalau ada TOEFL, tetapi untuk Bahasa Indonesia, siapakah yang dapat menjadi native speaker?

Untungnya ada saudara-saudara serumpun kita dari negeri Jiran yang berbaik hati mau menjadi musuh bersama. Mereka membangunkan ideologi tentang Indonesia. Mulailah sebuah pergerakan nasionalisme bangkit di negeri ini.

Maka, terdiamlah aku di sini. Apa yang bisa dilakukan saat ini?

TAMAT?

(Mudah-mudahan tidak. Dongeng ini bisa menjadi pengantar saat membaca artikel ini)

Referensi:

[1] http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/02/23/22291050/Pendapatan.Perajin.Cibaduyut.Belum.Memadai..

[2] http://musim-online.blogspot.com/2008/05/nike-hengkang-buruh-kalang-kabut.html

[3] http://www.sunangunungdjati.com/blog/?p=823

ERRATA:

Sambungan artikel diubah dari “root of stupidity” ke “answering josef”.