Beberapa orang sudah berpindah dari beberapa versi distro sebelumnya ke K/Ubuntu karmic. Saya bisa bilang, saya juga termasuk di dalamnya. Selain tergoda dengan inovasi XSplashnya, saya juga ingin mengetahui apa yang menjadi perbedaan distro ini dengan yang lainnya. Lagipula, hitung-hitung menunggu Debian Experimental kembali stabil. Ah, cukuplah basa-basi!

Ada 2 komputer saya yang saya ubah:

  • Laptop di rumah dengan menggunakan Ubuntu Karmic

  • Komputer kantor dengan menggunakan Kubuntu Karmic

1 Penambahan modem manager

Ini menjelaskan mengapa saya tidak bisa terhubung ke Internet dengan menggunakan /etc/network/interfaces saya, baik di Debian mau pun Ubuntu. Setidaknya sudah sebulan saya mengonfigurasi Debian saya dengan menggunakan ifconfig dan route.(Wew, perjalanan ke masa dahulu kala!)

Setidaknya Karmic benar-benar menempatkan dirinya untuk pengguna GUI. Totally for n00b!  😀

Konfigurasi IM2 dengan menggunakan laptop di rumah berlangsung dengan mudah. Kini saya sudah tidak perlu menggunakan program wvdial untuk terhubung ke Internet. Tapi, koneksi di kantor cukup merepotkan, saya harus login dulu agar Network Manager bisa mengaktifkan IP saya. Ya, ber…

2 Boot-related

Ya, berhubung saya juga tidak mau dibilang makhluk dari jaman pre-historik (yang demen maenan konsol sampe bunyi). Saya mengikuti saja perkembangan zaman evolusi antarmuka.

XSplash benar-benar membuat tampilan Ubuntu tambah cantik, walau pun masih kalah dengan rhgb dan plymouth milik distro-distro lain. Karena masih dalam proses pencarian jati diri, saya maklum saja. Apalagi, XSplash ini didaulat akan stabil pada Lucid Lynx.

Kalahnya dalam hal apa?

Proses Ubuntu di laptop saya menjadi lebih lama. Proses masuk dari GDM ke desktop lebih lama. Tentu saja, beda lamanya hanya hitungan detik. Tapi, saya yang telah termanjakan dengan waktu booting yang cepat di 8.10, sudah tidak terbiasa menunggu beberapa detik lagi….  😎

Tampilan antara dari proses pemilihan sistem operasi di GRUB ke XSplash masih menyempatkan tampilan teks-teks prehistorik yang (katanya) dapat menakutkan n00b, ahem, pengguna baru dan (katanya lagi, lho) terlihat kurang profesional. Yah, namanya masih baru.

Kubuntu saya lebih parah, XSplash tidak ada, yang ada hanya usplash dengan tampilan kuno ala < 7.04 yang segera saya buang. Menurut [KKX], Kubuntu mau menggunakan Ksplashx, komponen asli dari KDE untuk splash screen (ini bahasa Indonesianya apa, yah?), yang dimulai sebelum masuk ke dalam KDM. Tapi sebelum itu terjadi, kita harus menikmati tampilan teks prehistorik dan proses booting yang di bawah 10 detik (setidaknya di komputer saya).

3 Distro-specific support

Walau pun Debian adalah ompung dari Ubuntu, saya kecewa melihat dukungan terhadap Debian masih kalah dibandingkan dengan Ubuntu. Sungguh, adanya repositori PPA adalah ide brilian yang lebih dibandingkan cabang experimental pada Debian. Setiap pengembang Ubuntu dapat menyertakan paket-paket individual lebih cepat. Saya dapat tersuguhi dengan Chromium versi SVN. Bisa menatarnya setiap hari ke versi terbaru tanpa mengompailnya lebih dahulu. Sayangnya Project Neon hanya menyediakan versi Ubuntu stabil.

Saya belum menemukan E17 di Ubuntu karena masih puas dengan kinerja Kubuntu yang stabil. Netbeans ada di repositori Ubuntu dan lumayan tertatar.

Tapi, ompung Debian masih menang di manajemen proses. Ketika saya hendak menyalaulangkan KDM, skrip upstart gagal melakukannya sehingga saya harus menggunakan cara prehistorik (“

sudo kill -9 Xorg

“). Aplikasi Apport (application report) juga menyebalkan, saya masuk ke Kubuntu dan diberikan beberapa peringatan tentang rusaknya aplikasi. Untuk mematikan Apport, silahkan ubah berkas

/etc/default/apport

dan ubah

enabled=1

menjadi

enabled=0

Maaf, saya tidak tahu cara selain cara prehistorik…

4 Kubuntu-specific

Anggapan Kubuntu anak haram adalah tidak benar, setidaknya ia adalah anak yang kurang diperhatikan. Mungkin memang dukungan upstream sendiri yang kurang terhadap fitur penting seperti Proxy dan tampilan Multihead. Teman saya yang menggunakan Ubuntu dapat langsung saja mengaktifkan kedua monitornya yang terhubung ke ATi X550 (satu ke VGA, satu ke DVI) dan mendapatkan Multihead. Sedangkan saya harus menggunakan zaman prehistorik dengan membuat xorg.conf dan memodifikasinya untuk Multihead.

Tapi, saya senang dengan Project Ayatana yang menyediakan sebuah applet kecil mengikuti tema KDE sehingga notifikasi lebih terintegrasi dibandingkan Ubuntu.

Hmm… sudah jam 8 kurang. Saatnya kembali ke pekerjaan. Maaf tidak ada skrinsut, laptop di rumah dan komputer kantor saya dua monitor. Percuma diskrinsut kalau tidak memakai kamera. Selain bot dan spam, silahkan berkomentar.

Referensi:

[KKX]  https://wiki.kubuntu.org/KubuntuKarmicXsplash