Saya sungguh berdukacita dan berbela sungkawa terhadap pemboman kemarin. Apalagi lokasi pemboman adalah lokasi yang mudah dijangkau.

Entah siapa yang melakukannya, apa motifnya, dan untuk apa mereka melakukannya bukanlah yang menjadi pembicaraan saya kali ini. Mereka hanya sekian dari orang yang telah jatuh ke dalam dosa besar dengan membunuh orang-orang tak berdaya — bukan hanya individu-individu yang tewas di sana, melainkan juga orang-orang yang bergantung kepada orang-orang yang wafat itu,  dan sebuah bangsa yang tengah berusaha bangkit dari keterpurukannya.

Ledakan itu dapat menyebabkan banyak orang yang akan kehilangan pekerjaannya dan banyak orang yang seharusnya dapat bekerja menjadi tertunda bekerja.

Tapi, yang hendak saya bicarakan kali ini adalah media di Indonesia. Semakin sedih saya melihat kelakuan mereka. Demi peringkat, mereka melupakan yang namanya etika. Sungguh memalukan! Buat pembaca blog ini yang dari media, ya, Anda! Saya SANGAT MALU terhadap kalian!

Mengapa ledakan itu dipertontonkan berulang-ulang pada jam tayang ketika ANAK-ANAK masih menonton? Mengapa adegan itu harus diulang-ulang? Apa kalian senang mempertontonkan kemalangan bangsa ini?

Hal yang bikin saya menangis di dalam hati, karena saya tahu bagaimana rasanya, adalah ketika reporter-reporter itu membuka kantong mayat (dan saya yakin itu pasti tanpa seizin keluarga korban) dan mempertontonkan mayat orang-orang malang tersebut. Bagaimana kalian sedemikian tak beretikanya mempertontonkan sebuah kemalangan dan tanpa sensor mempertontonkannya di televisi? Apakah kalian tidak memperhitungkan perasaan keluarga terdekat mereka?

Saya termasuk orang yang suka dengan kebebasan berpendapat dan kebebasan jurnalistik. Tapi, saya makin berpikir, apakah ini kebebasan jurnalistik? Apakah ini yang diperjuangkan oleh gerakan reformasi ’98?

Kalau mau berbicara blak-blakan, silahkan contoh Tempo yang secara membanggakan tanpa malu-malu membuat judul “Ramai-ramai Menggembosi KPK”, yang secara membanggakan dan menaikkan nilai nasionalisme setidaknya saya dengan membuat laporan akhir tahun dengan 10 Pemimpin Daerah yang berhasil. Mereka berani dekat dengan pemberangusan tapi mau melakukannya.

Kalau bebas yang seperti itu, kalau muka tembok yang seperti itu, kalau vulgar yang seperti itu, saya pun bersedia membela kebebasan jurnalistik.