Sebenarnya saya telah menulis tulisan yang cukup panjang untuk entri ini, tetapi untuk cakupan bahasan ini saya ingin lebih ringan. Jadi, inilah versi ringannya yang dilengkapi dengan definisi seperlunya, sejarah seperlunya, atau apa pun yang membuat sebuah entri menjadi berat seperlunya. Entri ini dibuat (mudah-mudahan) seringan mungkin.

Bahasa Indonesia, sebuah bahasa yang menjadi dasar negara. Ia bukan hanya menjadi alat pernyataan maksud atau pengaburan maksud seperti layaknya bahasa yang lain. Ia menjadi penghubung persaudaraan antara sub ras Proto Melayu, Melayu Muda,  Melanesia, dan sub ras lainnya. Ia menjadi salah satu pilar mengapa orang-orang dari Hunan menjadi bagian tak terpisahkan dengan orang-orang dari Polinesia.

Jika ia sebuah identitas sebuah bangsa, mengapa ia menjadi kabur? Saya adalah seorang lulusan Ilmu Komputer, maka saya akan coba jawab dari ranah keilmuan saya yang paling bisa menjelaskan fenomena tersebut, yakni manajemen pengetahuan (Knowledge Management).

[Buat orang Ilmu Komputer dan orang-orang yang sudah punya dasar ilmu Manajemen Pengetahuan, lewati saja]

Dalam ilmu Manajemen Pengetahuan terdapat dua jenis pengetahuan, yakni 1) Tacit Knowledge (pengetahuan tacit) dan 2) External Knowledge (pengetahuan eksternal). Menurut [DoC], pengetahuan eksternal adalah sebuah pengetahuan yang dapat diekspresikan oleh bahasa formal seperti spesifikasi dan notasi ilmiah. Sedangkan pengetahuan tacit adalah sebuah pengetahuan yang terekam oleh individu.

Pengetahuan eksternal merupakan pengetahuan yang telah terformulasi dengan baik sehingga ia terdokumentasi. Ia sebuah pengetahuan yang terstandarisasi sehingga mudah untuk diformulasikan. Sebaliknya, pengetahuan tacit lahir dari pengalaman pengguna. Ia merupakan produk dari persepsi pengguna akan sebuah masalah. Ia merupakan kesimpulan pribadi berdasarkan informasi-informasi yang diterima oleh individu tersebut.

[Akhir dari lewati saja]

Bahasa Indonesia sebagaimana sumber budaya lainnya adalah sebuah bentuk pengetahuan. Pengetahuan ini jelas melekat pada individu-individu penggunanya. Ia digunakan dan dimengerti dengan baik oleh para penggunanya. Bahkan, ia berusaha didokumentasikan oleh banyak pihak agar mudah dipahami. Bahasa Indonesia lahir dari pengetahuan tacit dan berkembang menjadi sebuah pengetahuan yang tak terpisahkan dengan proses bisnis yang terjadi di organisasi Indonesia. Ia menjadi modal dasar bagi organisasi Indonesia.

Indonesia itu sendiri adalah sebuah organisasi korporat yang memiliki basis bisnis (core business) penyejahteraan anggotanya. Sebagaimana layaknya organisasi korporat, ia memiliki jumlah anggota yang luar biasa banyak dan siklus keluar masuk anggota. Hal ini dapat mengakibatkan hilangnya pengetahuan-pengetahuan yang sudah ada tersebut. Untuk mencegah hal demikian, sebagai sebuah organisasi korporat Indonesia  harus mereservasi pengetahuan-pengetahuan yang dimilikinya agar operasi standar dalam organisasi tersebut terjaga.

Maka, Bahasa Indonesia sebagai salah satu modal fundamental dari organisasi Indonesia harus dijaga keutuhannya. Untuk itulah proses penangkapan pengetahuan tacit menjadi pengetahuan eksternal (external knowledge) diperlukan. Proses ini merupakan bagian dari apa yang disebut sebagai manajemen pengetahuan (Knowledge Management). Proses ini penting dilakukan agar pengetahuan yang sudah didapatkan oleh operator pada masa itu dapat diteruskan oleh penggantinya.

Tentunya, reservasi pengetahuan dalam manajemen pengetahuan bukan hanya proses transfer pengetahuan tacit menjadi pengetahuan eksternal. Ia juga memerlukan proses sebaliknya. Sebuah pengetahuan yang terekam (pengetahuan eksternal) tak dapat digunakan apa bila ia tidak dijadikan sebuah pengetahuan tacit untuk operator/pengguna. Ia akan menjadi sebuah informasi yang tak berguna yang dimiliki oleh organisasi. Ia hanya akan dilanggar atau ditemukan kembali oleh penggunanya yang tidak memiliki akses terhadap pengetahuan tersebut.

Itu sebabnya, sebuah organisasi yang baik harus dapat menjamin proses eksternalisasi pengetahuan dan ekstraksi secara berimbang. Kegagalan dalam salah satu proses tersebut dapat menghilangkan pengetahuan yang sudah ada. Hal ini berakibat kepada tercideranya citra organisasi, bahkan dapat mengancam keberadaan organisasi itu sendiri.

Rumah Sakit Omni International Tangerang adalah contoh nyata dari kegagalan tersebut. [JAK] menyebutkan bahwa seandainya rumah sakit itu belajar dari kasus Dell Hell, ia tentu takkan melakukan blunder demikian. Lebih lanjut [JAK] menyebutkan bahwa seharusnya untuk sebuah rumah sakit berwawasan internasional, rumah sakit tersebut seharusnya memiliki sumber daya yang mengerti permasalahan tersebut. Ada banyak dokumentasi [baca: pengetahuan eksternal] tentang relasi pelanggan yang membahas mengenai protes pengguna.

Itulah harga sebuah pengetahuan dan resiko hilangnya sebuah pengetahuan.

Tentunya, implikasi dari hilangnya Bahasa Indonesia bukan hanya itu saja. Sebagai salah satu syarat perlu adanya organisasi Indonesia, Bahasa Indonesia menjadi salah satu identitas yang harus dijaga keutuhannya. Apabila sebuah syarat perlu hilang, sebuah organisasi tersebut telah kehilangan pilarnya. Hal ini dapat berakibat runtuhnya seluruh fundamen organisasi itu sendiri.

Untungnya, ada sebuah proyek reservasi pengetahuan tersebut yang bernama Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). KBBI adalah sebuah usaha pendokumentasian (eksternalisasi) Bahasa Indonesia. Yang membedakan antara KBBI dengan kamus lainnya adalah pengesahan oleh badan eksekutif organisasi Indonesia. Ia menjadi sebuah buku pedoman/acuan standar jika berbicara tentang Bahasa Indonesia. Sebuah kata menjadi baku apa bila tercantum di dalam buku tersebut.

Lalu, apa akibatnya apa bila ada kata yang tidak tercantum dalam buku tersebut?

Sesuai dengan ilmu manajemen pengetahuan, ada dua implikasi yang terjadi terhadap kata tersebut sebagai sebuah pengetahuan: 1) kata tersebut tidak resmi/diakui dan 2) kata tersebut hilang. Hal ini akan wajar terjadi apa bila kata yang terbenam tersebut memiliki padanan yang lebih baik atau acuan yang lainnya.

Akan tetapi, apa bila kata tersebut menyatakan sebuah definisi yang tidak terdefinisikan oleh kata mana pun, ia akan menjadi soal. Bahasa Indonesia akan kehilangan integritasnya sebagai sebuah penghubung. Ia tidak mampu menyatakan sebuah definisi sehingga mengakibatkan penggunanya kesulitan dalam menggunakannya. Satu kata yang menggambarkannya adalah cacat!

Sebuah proses bisnis yang tidak terdefinisikan dengan baik akan memunculkan interpretasi yang berbeda. Ambil contoh definisi surat yang dikirimkan secara elektronik. Bahasa Inggris berhasil mengoinisasikan menjadi kata email. Apa yang terjadi dengan bahasa Indonesia? Setidaknya ada dua kata terkoinisasi untuk definisi tersebut: surel dan ratron.

Yang manakah yang dipakai? Keduanya sama-sama kuat. Dalam [GOG1], kata surel digunakan oleh Wikipedia, berbagai blog yang membahas surat elektronik Prita, dan artikel media. Dalam [GOG2], kata ratron digunakan oleh PT Pos Indonesia, blog yang membahas surat elektronik Prita, dan artikel media. Keduanya dipakai secara aktif walau pun ada kecenderungan menggunakan kata surel sebagai koinisasi definisi tersebut yang ditandai dengan tanggal penulisan oleh pengguna kata surel lebih baru dibandingkan kata ratron.

Yang mana yang harus dipilih? Tentunya berpulang kembali kepada selera [baca: subyektivitas] masing-masing. Dalam hal ini, PT Pos Indonesia sebagai sebuah korporasi di bidang korporasi menjadi sebuah acuan yang kuat untuk menggunakan kata ratron dan Wikipedia sebagai penyedia layanan informasi umum sebagai referensi untuk kata surel.

Kedua kata ini memang memperkaya khasanah Bahasa Indonesia. Sayangnya, kedua kata ini tidak menjadi acuan resmi dalam berbahasa. Akibatnya, akan muncul kata-kata baru yang lain seperti ratel dan lain sebagainya. Hal ini dapat saja menghambat pendidikan, atau pun sebaliknya tidak sama sekali menghambat pendidikan. Akan tetapi, hal ini menimbulkan masalah baru: segregasi.

Apa bila sebuah bahasa tersegregasi, maka ia menjadi dua entitas berbeda. Ambil contoh  Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu Malaysia. Keduanya berasal dari bahasa Melayau yang tersegregasi. Hal ini tidak masalah karena kedua bahasa ini digunakan oleh dua organisasi [baca: negara] yang berbeda.Tetapi, apa bila Bahasa Indonesia tersegregasi, maka layakkah ia disebut sebagai bahasa pemersatu?

Dengan tidak tersedianya kata untuk sebuah koinisasi definisi, maka sang pengguna akan menggunakan pengetahuan lainnya. Dalam hal ini, sang pengguna akan menggunakan istilah bahasa asing secara mentah. Dengan meningkatnya penggunaan kata-kata dalam bahasa asing ini, maka meningkatlah kredibilitas bahasa tersebut. Sebaliknya, dengan kegagalan sebuah bahasa dalam koinisasi menyebabkan penurunan kredibilitas. Akhirnya, bahasa tersebut menjadi kurang diminati dan hilang.

Untuk menyingkat entri ini sehingga masih enak untuk dibaca, saya dapat katakan bahwa ada masalah sosial yang timbul akibat segregasi ini. Bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan yang tersegregasi secara geografis juga mengalami segregasi nasional. Perbedaan yang timbul mengurangi rasa persaudaraan dalam organisasi ini.

Apa lagi yang menjadi pemersatu bangsa ini? Kesejahteraan yang berbeda antara pulau Jawa dan pulau-pulau lainnyakah? Etnis yang berbeda-beda? Isu imperialisme yang didominasi oleh salah satu etnis? Tentunya bahasa menjadi opsi yang tak terelakkan.

Seandainya tidak perlu sebuah kata dalam Bahasa Indonesia tidak tercatat dalam KBBI, maka dengan acuan apakah sebuah kata dapat dikatakan sebagai bahasa Indonesia?

intinya @MoMo: Tidak! Harus semua kata yang diakui sebagai kata dalam Bahasa Indonesia tercatat dalam tersebut.

Mohon maaf kalau informasinya sepotong-sepotong dan terbaca diskrit. Entri ini sudah terkompresi sedemikian sehingga cukup pendek dari aslinya. Lagi pula, saya bukan hendak menulis buku tapi sebuah apologi entri blog.

Referensi:

[DoC] Clark, Donald. 2004. Knowledge. http://www.nwlink.com/~Donclark/knowledge/knowledge.html (diambil tanggal 8 Juni 2009)

[JAK] Jakarta Post, The. 2009. Omni case: A PR suicide. http://www.thejakartapost.com/news/2009/06/05/omni-case-a-pr-suicide.html (diambil tanggal 7 Juni 2009)

[GOG1] Mesin Pencari Google. Pencarian Google dengan subyek “surel surat elektronik”. http://www.google.com/search?hl=en&client=iceweasel-a&rls=org.debian%3Aen-US%3Aunofficial&q=surel+surat+elektronik&btnG=Search&aq=f&oq=&aqi= (diambil tanggal 8 Juni 2009)

[GOG2] Mesin Pencari Google. Pencarian Google dengan subyek “ratron surat elektronik”. http://www.google.com/search?hl=en&client=iceweasel-a&rls=org.debian%3Aen-US%3Aunofficial&q=ratron+surat+elektronik&btnG=Search&aq=f&oq=&aqi=&tbo=1 (diambil tanggal 8 Juni 2009)