September 5, 2010

[Artikel] Pemasaran Halal: Definisi, Konsep dan Implikasi

Filed under: Artikel,Marketing — Tags: — imams @ 10:24 pm

Please Cite: Salehudin, I. and Mukhlish, B.M. (2010) Pemasaran Halal: Definisi, Konsep dan Implikasi.

PEMASARAN HALAL

Imam Salehudin, SE, MSi [1]

Basuki Muhammad Mukhlish, SE [2]

Definisi

Islam sebagai agama, juga menjadi jalan hidup yang mengatur segala sendi kehidupan pemeluknya. Syariat islam tidak hanya mengatur aspek ibadah (hubungan antara manusia dengan Alloh) tetapi juga mengatur aspek muamalah (hubungan antara manusia dengan sesamanya). Meskipun saat ini isu syariah lebih banyak diperhatikan dalam konteks ilmu keuangan, pemahaman atas syariat Islam tidak hanya penting bagi bidang ilmu keuangan saja tetapi juga bagi bidang ilmu pemasaran.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:  “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”(QS. Al-Baqarah: 168-169). Sementara Rasululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Perkara yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, sedangkan diantara keduanya terdapat perkara-perkara yang tersamar (meragukan) dan banyak orang tidak mengetahuinya. Maka siapa yang menghindari perkara-perkara yang meragukan, iapun telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara-perkara yang meragukan, iapun bisa terjerumus dalam perkara yang haram. Seperti penggembala yang menggembala di sekitar tempat terlarang dan nyaris terjerumus di dalamnya” (HR Bukhari dan Muslim, Hadist ke 6 pada Arba’in Imam Nawawi).

Kedua dalil diatas merupakan dasar hukum perintah bagi setiap muslim untuk hanya mengkonsumsi barang dan jasa yang halal saja dan menghindari semua barang dan jasa yang haram dan meragukan. Sebagai aplikasi dari perintah tersebut, Pemasaran Halal atau Halal marketing merupakan pengembangan dari konsep marketing konvensional dengan menambahkan aspek kepatuhan terhadap syariat Islam (Syariah Compliance) dalam proses pembentukan nilai bagi konsumen.

Jika Philip Kotler mendefinisikan Pemasaran sebagai proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran barang dan jasa yang memiliki nilai tertentu dengan individu atau kelompok lain dengan bebas; maka dengan demikian Pemasaran Halal dapat didefinisikan sebagai proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran barang dan jasa yang memiliki nilai tertentu dengan individu atau kelompok lain sesuai kaidah dan tuntunan yang ditetapkan oleh Syari’at Islam.

Konsep

Syari’at Islam mengarahkan para pemasar untuk melakukan usaha-usaha pemasaran yang mengedepankan nilai-nilai akhlak yang mulia. Dengan demikian, cakupan dari Pemasaran Halal tidak hanya pada aspek product (misalnya: tidak mengandung unsur atau bahan baku yang diharamkan) tetapi juga pricing (misalnya: penetapan harga yang tidak mengandung judi, gharar dan riba), promotion (misalnya: tidak menggunakan penipuan atau sumpah palsu, tidak menggunakan sex appeal dalam tayangan iklan), dan juga place (misalnya: tidak berjualan di tempat yang dilarang seperti masjid atau pada waktu yang dilarang seperti waktu sholat berjamaah).

Sebagian orang menyangka bahwa syari’at Islam mengekang kreativitas karena banyak hal-hal yang dilarang. Sebenarnya apa yang dihalalkan oleh Allah jauh lebih banyak daripada apa yang dilarang. Berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, para ‘ulama telah merumuskan kaidah bahwa hukum asal dari mu’amalah adalah boleh kecuali bila ada dalil yang melarangnya (Imam As-Suyuthi, Al-Asybah wa An-Nadzha`ir, I/60). Para ‘ulama menyatakan bahwa tidaklah Allah melarang sesuatu melainkan karena hal tersebut mengandung mudharat atau sesuatu yang merugikan dan membahayakan. Oleh karena itu, aturan syari’at seharusnya dapat menjadi sumber inspirasi bagi para pemasar untuk lebih mengasah kreativitasnya sehingga menghasilkan usaha-usaha marketing yang kreatif dan tidak melanggar syari’at.

Implikasi

Islam merupakan agama yang dianut lebih dari 20% penduduk dunia, dan pasar konsumen Muslim dunia mencapai nilai 2.7 Trilliun USD (JWT, 2007). Sementara itu, Indonesia dengan populasi penduduk Muslim terbesar di dunia merupakan pasar potensial yang besar bagi berbagai produsen barang dan jasa. Meskipun masing-masing konsumen Muslim memiliki kadar kepatuhan terhadap syariah yang berbeda-beda tergantung tingkat religiusitas mereka, secara umum konsumen Muslim akan memiliki sikap yang positif terhadap produk-produk yang menggunakan pendekatan Halal dalam proses pemasaran mereka (Aliman dan Othman, 2007). Produk-produk semacam ini, menggunakan Halal appeal sebagai salah satu daya tarik dan identitas pembeda dari produk-produk sejenis yang menjadi pesaingnya.

The Halal Journal” pada tahun 2008 mengestimasi total nilai industri barang dan jasa yang menggunakan halal appeal ini melebihi 1 Trilliun USD di seluruh dunia. Beberapa contoh produk-produk yang menggunakan Halal appeal ini, seperti: Turisme dan Hospitality (Hotel Syar’i dan Restoran Halal), Jasa Keuangan (Perbankan Syariah), Kesehatan (Thibbun Nabawi), Kecantikan (Kosmetik dan Salon Muslimah), Pendidikan Umum (Sekolah Islam Terpadu), Real Estate (Perumahan Islami), dan Toiletries (Shampo Muslimah). Tentunya produk-produk yang menggunakan Halal appeal tersebut harus mempertahankan konsistensi mereka dalam menggunakan pendekatan Halal untuk menghindari disonansi dan kehilangan kepercayaan konsumen mereka (Salehudin dan Luthfi, 2010).

Terlebih lagi, segmen konsumen Muslim di Indonesia yang memiliki kepedulian tinggi terhadap terhadap kehalalan barang dan jasa yang mereka konsumsi saat ini berkembang dengan pesat (Sucipto, 2009). Tidak berbeda dengan segmen konsumen umum, segmen konsumen ini sama-sama menginginkan produk yang berkualitas, namun mereka juga menuntut produk yang mereka konsumsi untuk mematuhi aturan-aturan yang ditetapkan oleh syariat Islam. Segmen ini menjadi peluang pasar yang menarik karena memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk merekomendasikan produk yang mereka persepsikan halal dan bahkan membayar dengan harga yang lebih mahal jika tidak terdapat alternatif produk sejenis yang mereka persepsikan halal.

Selain itu, meskipun memiliki proporsi yang lebih kecil daripada mayoritas konsumen muslim, segmen konsumen yang memiliki kesadaran dan keterlibatan yang tinggi terhadap kehalalan produk yang mereka konsumsi secara umum lebih vokal dalam menghadapi produk yang mereka persepsikan tidak halal dan pada taraf tertentu mampu mempengaruhi segmen konsumen muslim yang lebih besar terutama jika mereka mempersepsikan produk tertentu secara nyata melanggar syariat Islam dalam salah satu aspek pemasarannya (Soesilowati, 2010). Terlebih lagi dengan semakin mudahnya media komunikasi massa seperti sms dan situs sosial untuk menyebarkan pesan-pesan tertentu terhadap jangkauan konsumen yang luas, maka anjuran untuk melakukan boikot terhadap produk tertentu yang dinilai melanggar hak konsumen muslim untuk mengkonsumsi produk halal akan semakin mudah pula tersebar.

Secara umum, pendekatan halal dalam proses pemasaran suatu produk juga dapat menetralisir image negatif yang diasosiasikan konsumen muslim terhadap suatu produk. Sebagai contoh, sebuah penelitian pada tahun 2006 menemukan bahwa McDonald di Singapura mengalami peningkatan jumlah kunjungan sebesar 8 juta kunjungan setelah memperoleh sertifikasi halal. Sementara KFC, Burger King dan Taco Bell juga mengalami peningkatan penjualan sebesar 20% setelah mereka memperoleh sertifikasi halal (Lada, Tanakinjal dan Amin, 2009).

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Pemasaran Halal menjadi penting bagi pemasar yang ingin berbisnis di negara dengan mayoritas penduduk Muslim seperti Indonesia. Sementara resiko bagi pemasar yang gagal untuk menghormati hak dan kebutuhan konsumen Muslim untuk memperoleh barang dan jasa sesuai dengan apa yang diatur oleh Syariat Islam, adalah hilangnya penjualan, pangsa pasar, brand equity dan loyalitas konsumen.

Wallohu’alam bisshowaab.

Referensi

Al-Qur’anul Karim.

Imam An-Nawawi, Al-Arba’in An-Nawawiyah.

Imam As-Suyuthi, Al-Asybah wa An-Nadzha`ir, I/60.

Aliman, N.K. dan Othman, M.N. (2007) Purchasing Local and Foreign Brands: What Product Attributes Matter? Proceedings of the 13th Asia Pacific Management Conference, Melbourne, Australia, pp 400-411

Halal Journal (2008) Eyes on trillion dollars Halal market.

JWT (2007) The Life and Times of the Modern Muslims: Understanding the Islamic Consumer.

Kotler, P. (2008) Marketing Management 13th Edition. Prentice Hall.

Lada, S., Tanakinjal, G.H., dan Amin, H. (2009) Predicting intention to choose halal products using theory of reasoned action. International Journal of Islamic and Middle Eastern Finance and Management. 2(1) pp. 66-76. www.emeraldinsight.com/1753-8394.htm

Salehudin, I. and Luthfi, B.A. (2010) Marketing Impact of Halal Labeling toward Indonesian Muslim Consumer’s Behavioral Intention Based on Ajzen’s Planned Behavior Theory: A Policy Capturing Study in Five Different Product Categories. Proceedings of 5th International Conference on Business and Management Research (ICBMR), Depok, Indonesia.

Soesilowati, E.S. (2010) Behavior of Muslims in Consuming Halal Foods: Case of Bantenese Muslim. Materi Presentasi “Sharia Economics Research Day” Seminar, Widya Graha LIPI, 6 Juli 2010

Sucipto (2009) Label Halal Dan Daya Saing Waralaba. Harian Pikiran Rakyat, Jumat 3 April 2009.


[1] Staf Pengajar pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Peneliti independen pada bidang Pemasaran Halal. Email: imams@ui.ac.id atau gsimam@gmail.com

[2] Staf Pengajar pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image

Powered by PPSI UI