Kontan, Selasa 6 Januari 2009

Tahun 2008 ditutup dengan sebuah pencapaian milestones oleh pelaku industri telekomunikasi di Indonesia, yaitu tercapainya tingkat penetrasi telepon seluler (ponsel) sebesar 50 persen. Dengan kata lain, kini setengah penduduk Indonesia (115 juta orang) telah menggunakan layanan ponsel. Pencapaian ini berhasil diraih setelah kurang lebih 15 tahun layanan ponsel diperkenalkan di Indonesia. Mengingat besarnya tantangan yang dihadapi, termasuk tantangan geografis dan permodalan, pencapaian ini tentu saja layak sekali untuk diapresiasi. Namun tidak cukup hanya itu, pencapaian tersebut sekaligus juga perlu dijadikan sebagai titik evaluasi terhadap perkembangan bisnis telekomunikasi seluler di tanah air pada masa yang akan datang.

Menjanjikan tapi Ruwet

Para analis telekomunikasi dari luar negeri sejak beberapa tahun yang lalu selalu menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar telekomunikasi seluler yang paling menjanjikan di dunia. Hal ini berdasarkan fakta bahwa Indonesia memiliki jumlah pelanggan potensial yang besar dengan tingkat pertumbuhan pelanggan yang sangat tinggi,  dan yang terpenting operator seluler di Indonesia mencatat laba yang relatif lebih tinggi dibanding operator seluler di negara lain.

Selama lima tahun terakhir, net addition rata-rata pelanggan ponsel selalu mencapai diatas 25 persen per-tahun. Pencapaian ini tidak terlepas dari agresifitas operator seluler dalam meluaskan jaringan mereka. Sampai dengan tahun 2008, lingkup jaringan yang dibangun operator seluler telah mampu mengcover wilayah yang dihuni sekitar 150 juta penduduk Indonesia. Sisa 80 juta penduduk diperkirakan akan dapat dicover secara keseluruhan pada tahun 2015.  Potensi jumlah pelanggan yang mencapai 230 juta juga menjadi nilai tambah tersendiri. Meskipun tidak sebesar China maupun India, namun konsumen Indonesia memiliki kelebihan dalam hal tingkat adopsi terhadap teknologi baru yang lebih cepat dibanding kedua negara tersebut.

Sementara itu, sampai dengan akhir tahun 2008, tercatat telah ada 12 operator seluler yang beroperasi. Bandingkan dengan lima tahun yang lalu, dimana hanya ada enam operator seluler saja. Faktor utama besarnya ketertarikan untuk berinvestasi di bisnis ini adalah tingginya profitabilitas. Operator seluler di Indonesia menikmati profitabilitas yang termasuk paling tinggi di dunia. Laba bersih rata-rata operator seluler di Indonesia selama lima tahun terakhir mencapai diatas 30 persen dari pendapatan bersih operasional per-tahun. Sementara tingkat pengembalian modal (ROE) rata-rata mencapai lebih dari 40 persen per-tahun.

Namun, banyaknya jumlah pemain ini menyimpan permasalahan tersendiri. Masalah yang segera timbul adalah  meningkatnya intensitas persaingan antar operator. Operator-operator baru yang ingin segera mendapatkan pangsa pasar, menawarkan tarif yang sangat kompetitif kepada pelanggan. Hal ini direspon oleh operator-operator lama dengan strategi yang kurang lebih sama. Hasilnya, perang tarif tidak bisa dihindarkan. Perang tarif dalam jangka panjang dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap profitabilitas operator.

Keruwetan lain adalah mengenai teknologi dan regulasi. Penggunaan dua teknologi, yaitu GSM dan CDMA, yang pada awalnya memiliki porsi masing-masing sesuai dengan regulasi dari pemerintah. Namun, batasan antar kedua teknologi sekarang semakin mengabur karena para operator berusaha meningkatkan pangsa pasar dengan berbagai cara, termasuk mengakali regulasi yang ada. Konsekuensinya, persaingan yang mulanya diharapkan bisa terlokalisir antar operator dengan teknologi yang sama, kini menjadi liar karena operator dengan teknologi yang berbeda pun sudah saling head to head. Ketidakpastian hukum dan regulasi yang kerap berganti juga menjadi salah satu titik keruwetan. Para investor, terutama investor asing, mengeluhkan hal ini dan merasa dalam posisi insecure akibat perubahan kebijakan dan regulasi yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Disamping itu, peran regulator juga dirasakan masih kurang optimal.

Akan Berebut Kelas Bawah

Dalam tiga tahun ke depan, intensitas persaingan di industri ini akan semakin meninggi. Hal tersebut berdasarkan asumsi bahwa sampai dengan saat ini regulator belum membatasi jumlah pemain baru yang boleh masuk. Diperkirakan masih akan ada dua sampai tiga pemain baru dalam tiga tahun ke depan. Dengan demikian akan ada sekitar 15 pemain yang memperebutkan sisa 115 juta penduduk Indonesia yang masih belum menggunakan layanan ponsel. Fakta yang menarik, sebagian besar dari calon pelanggan tersebut berasal dari masyarakat dari golongan ekonomi kelas menengah ke bawah dan kelas bawah.

Berdasarkan riset terakhir tahun 2007, berturut-turut penetrasi ponsel di Indonesia untuk tiap golongan ekonomi masyarakat adalah sebagai berikut: 99 persen untuk golongan menengah atas (upper middle class), 87 persen untuk kelas menengah (middle class), 67 persen untuk kelas menengah ke bawah (lower middle class), dan 45 persen untuk kelas bawah (working class). Data ini menunjukkan bahwa ruang untuk mendapatkan pelanggan baru di kelas menengah ke atas dan kelas menengah sudah sangat sempit. Kesempatan lebih besar hanya terbuka di kelas menengah ke bawah dan kelas bawah. Ini berarti strategi tarif murah akan terus menjadi pilihan operator, terutama operator baru yang ingin segera mendapatkan pangsa pasar yang memadai. Dampaknya, perang tarif masih akan terus berkepanjangan dan pada gilirannya akan meningkatkan probabilitas terjadinya konsolidasi pemain di industri ini.

Operator perlu menyikapi perubahan lanskap persaingan ini secara bijak. Mereka harus bisa keluar dari jebakan perang tarif berkepanjangan, dan memikirkan strategi yang lebih sustainable. Ruang untuk melakukan hal itu masih terbuka luas, terutama untuk layanan non-voice. Regulator juga tidak boleh lengah, karena Indonesia akan tetap menjadi pasar telekomunikasi yang menarik bagi investor dalam dua sampai tiga tahun ke depan.

Harryadin Mahardika

Departemen Manajemen FEUI