Kontan, Jum’at 5 Desember 2008

Lebih dari dua tahun teknologi 3G hadir di Indonesia sejak diluncurkan oleh operator telepon seluler pada tahun 2006. Apa yang telah terjadi selama dua tahun tersebut tentunya menarik untuk dievaluasi, baik dari perspektif manajerial maupun dari perspektif konsumen, termasuk melihat dampaknya terhadap kinerja operator dan nilai tambahnya bagi pelanggan.

Banyak pihak yang berharap penerapan teknologi 3G akan berdampak positif terhadap operator seluler di Indonesia, termasuk meningkatkan pendapatan rata-rata per-pelanggan (ARPU). Sebagaimana diketahui, sejak tahun 2003 kecenderungan penurunan ARPU dialami semua operator seluler di Indonesia. Meskipun ada pengaruh pertumbuhan jumlah pelanggan yang yang terlalu pesat dalam penurunan ARPU tersebut, namun fenomena ini tetap menimbulkan kekhawatiran para pihak yang terkait. Pembukaan tender 3G oleh pemerintah pada tahun 2003 merupakan antisipasi atas permasalahan tersebut. Teknologi 3G dengan segala kemutakhirannya memberi peluang kepada operator seluler untuk berkreasi dan berinovasi menciptakan aplikasi dan layanan baru yang bisa meningkatkan pendapatan mereka, terutama pendapatan yang berasal dari layanan non-voice yang selama ini kontribusinya terhadap total pendapatan relatif masih kecil.

Operator seluler sangat optimis dengan teknologi 3G, hal tersebut tergambar dengan keberanian mereka menanamkan investasi dalam jumlah yang sangat besar pada teknologi ini, diantaranya investasi untuk memperoleh lisensi dari pemerintah, investasi pada jaringan, dan penyediaan konten. Semua itu dilakukan dengan perhitungan yang cermat serta persiapan yang matang. Hasilnya, selama dua tahun terakhir pelanggan seluler di Indonesia telah bisa menikmati berbagai aplikasi dan layanan berbasis teknologi 3G. Diantaranya internet berkecepatan tinggi, video call, mobile TV, dan lain-lain. Jangkauan layanan 3G pun juga semakin luas dari waktu ke waktu.

Dari sisi pasar, peluncuran layanan 3G berdampak tidak langsung terhadap kenaikan jumlah pelanggan. Pada tahun 2006 jumlah penambahan pelanggan baru (net addition) operator 3G rata-rata mencapai diatas 25 persen per-tahun. Bahkan salah satu operator dominan  berhasil mencapai peningkatan sekitar 40 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun jika dianalisis lebih jauh, kenaikan tersebut lebih disebabkan oleh perang tarif yang sedikit sekali kaitannya dengan layanan 3G. Hal ini karena layanan 3G lebih ditujukan pada pelanggan existing yang diharapkan menambah pengeluaran seluler mereka dengan mengakses berbagai aplikasi dan layanan baru yang berbasis teknologi 3G. Selain itu tingginya churn rate turut membuat angka tingkat pertumbuhan tersebut menjadi bias.

Masih bergantung pada Voice dan SMS

Hal yang menarik adalah, kehadiran layanan 3G ternyata masih belum mengubah peta pendapatan operator seluler secara signifikan. Meskipun demikian, arah menuju perbaikan telah ditunjukkan. Pada tahun 2003 sampai 2005, kontribusi pendapatan operator 3G dari voice rata-rata berkisar antara 86 – 78 persen.  Setelah layanan 3G diluncurkan, kontribusi tersebut turun untuk tahun 2006 sampai semester I 2008 berkisar antara 77 – 72 persen. Hal ini cukup menggembirakan karena menunjukkan semakin berkurangnya ketergantungan operator terhadap layanan voice. Sementara untuk kontribusi layanan non-voice rata-rata terjadi peningkatan dua kali lipat selama lima tahun terakhir, yaitu dari 14 persen pada tahun 2003 menjadi 29 persen pada semester I 2008. Namun yang harus dicatat, sebagian besar (lebih dari 70 persen) pendapatan non-voice ini masih disumbang oleh layanan SMS yang notabene tidak membutuhkan teknologi secanggih 3G. Hal ini tentunya tidak sejalan dengan harapan bahwa teknologi 3G dapat membantu operator seluler meningkatkan kontribusi layanan non-voice (diluar SMS) untuk mendongkrak ARPU.

Hal lain yang perlu digarisbawahi, meskipun secara nominal pendapatan operator mengalami peningkatan setelah layanan 3G diluncurkan, namun peningkatan tersebut masih belum memadai bila dibandingkan dengan nilai imbal balik investasi yang diharapkan. Sebagai gambaran, untuk membayar lisensi kepada pemerintah selama 10 tahun, operator 3G mengeluarkan dana antara Rp200 – 500 miliar. Sedangkan untuk membangun jaringan 3G dan infrastrukturnya, sekitar Rp 1 triliun telah dikeluarkan tiap operator 3G. Belum lagi biaya penyediaan konten dan setup berbagai aplikasi baru. Hal ini harus dipikirkan mengingat meskipun lisensi teknologi 3G ini berlangsung 10 tahun, namun tidak menutup kemungkinan akan muncul teknologi baru (4G) yang harus diadopsi sebelum lisensi tersebut berakhir. Ini berarti investasi baru harus dikeluarkan dan investasi lama tutup buku.

Penerimaan Konsumen terhadap Layanan 3G

Penjelasan atas faktor yang mempengaruhi kurang cepatnya tingkat pertumbuhan pendapatan dari layanan non-voice berbasis teknologi 3G bisa bermacam-macam, namun satu hal yang patut dilihat lebih mendalam adalah mengenai penerimaan konsumen terhadap teknologi baru ini. Dalam hal ini pengambil keputusan, baik dari pemerintah maupun dari industri telekomunikasi, melupakan sebuah pertanyaan paling mendasar: Apakah teknologi 3G relevan dengan kebutuhan konsumen Indonesia? Jawaban atas pertanyaan ini seharusnya diselidiki terlebih dahulu, mengingat penerimaan pelanggan (konsumen) sangat penting dalam rantai bisnis di industri yang sarat teknologi seperti ini.

Usaha untuk menyelidiki penerimaan konsumen memang sudah dilakukan, namun lingkupnya sangat kecil dan hasilnya bahkan diabaikan oleh pengambil keputusan. Penyebabnya mungkin adalah optimisme yang berlebihan terhadap teknologi 3G ini. Indikasinya, para pengambil keputusan begitu yakin bahwa kebutuhan konsumen akan muncul secara otomatis setelah infrastruktur siap dan layanan 3G diluncurkan. Pada kenyataannya hal tersebut tidak terjadi dan proses penerimaan konsumen terhadap sebuah teknologi baru perlu dimengerti karena faktor yang mempengaruhinya unik untuk tiap teknologi.

Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan untuk memahami penerimaan konsumen terhadap teknologi baru. Dalam kasus teknologi 3G di Indonesia, hal-hal berikut inilah yang menjadi penyebab rendahnya penerimaan konsumen. Pertama, konsumen mempersepsikan 3G sebagai layanan yang mahal (pada kenyataannya tarif layanan berbasis 3G di Indonesia relatif mahal dibandingkan layanan non-3G), karena itu persepsi mereka terhadap kemanfaatan (perceived usefulness) dari teknologi 3G menjadi negatif. Kedua, sebagian besar pengguna ponsel di Indonesia terbiasa hanya menggunakan fitur dan layanan dasar. Sehingga, kehadiran layanan 3G yang digembar-gemborkan canggih dan sophisticated memberikan kesan yang menjerumuskan karena pengguna ponsel mempersepsikan 3G sebagai teknologi tingkat tinggi yang sulit untuk dikuasai. Dengan kata lain mereka meyakini bahwa 3G itu “ribet”, sehingga persepsi terhadap kemudahan penggunaan (perceived ease of use) atas layanan 3G menjadi negatif. Faktor kemanfaatan dan kemudahan penggunaan merupakan dua kunci utama yang menciptakan keyakinan (belief) seseorang untuk menerima dan menggunakan sebuah teknologi baru. Jika kedua faktor tersebut tidak terpenuhi, niscaya akan sulit bagi operator 3G untuk mengharap kesuksesan layanan 3G.

Waktu dua tahun memang masih terlalu singkat untuk melakukan sebuah evaluasi, namun tidak ada salahnya hal ini dilakukan untuk merekam gejala-gejala yang bisa mempengaruhi hasil akhir penerapan teknologi 3G di Indonesia. Terutama untuk memastikan investasi triliunan rupiah yang telah dikeluarkan dapat segera kembali secepatnya, sebelum teknologi yang lebih baru datang.

Harryadin Mahardika

Departemen Manajemen FEUI