Oleh: Harryadin Mahardika

Wacana redenominasi rupiah oleh Bank Indonesia  menjadi bahasan yang menarik di kalangan pemasar. Adalah penting bagi para pemasar untuk memprediksi dampak redenominasi Rupiah terhadap perilaku konsumen. Akankah redenominasi membuat persepsi konsumen terhadap yang “mahal” dan yang “murah” berubah? Akankah redenominasi membuat masyarakat lebih konsumtif, atau malah sebaliknya? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini membantu pemasar untuk menyiapkan strategi yang tepat dalam menyongsong rencana pemerintah melakukan redenominasi Rupiah beberapa tahun mendatang.

Berapa jumlah ‘nol’ yang ideal untuk dihilangkan?

Pejabat Bank Indonesia beberapa waktu yang lalu mengindikasikan bahwa redenominasi rupiah akan dilakukan dengan menghilangkan beberapa nol. Namun, belum ada keterangan resmi dari Bank Indonesia mengenai jumlah nol yang akan dihilangkan. Opsi yang paling banyak dibahas di masyarakat adalah penghilangan tiga angka nol. Opsi ini dianggap ideal karena memudahkan adaptasi dari Rupiah lama ke Rupiah baru pasca redenominasi. Sebagai ilustrasi, harga bensin pertamax yang berkisar Rp 8.000,- per-liter akan menjadi Rp 8,- per-liter setelah redenominasi.

Namun, benarkah menghilangkan tiga nol adalah opsi yang paling ideal? Mengapa Bank Indonesia tidak mempertimbangkan opsi menghilangkan satu nol atau dua nol? Dalam riset yang dipublikasikan di Journal of Consumer Research tahun 2002, Raghubir dan Srivastava menemukan bahwa konsumen dari negara yang mata uangnya memiliki denominasi kecil (misal: Australia) cenderung akan mengurangi pengeluarannya ketika berkunjung ke negara yang mata uangnya memiliki denominasi besar (misal: Indonesia). Wisatawan Australia yang terbiasa menggunakan denominasi Australian Dollar yang kecil, mendadak merasa bimbang dengan besarnya nominal yang harus mereka bayarkan untuk membeli barang di Indonesia menggunakan Rupiah. Kebimbangan ini mengurangi keinginan mereka untuk membeli barang di Indonesia.  Hal sebaliknya berlaku pada konsumen dari negara dengan denominasi mata uang besar yang berkunjung ke negara dengan denominasi mata uang kecil. Wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Australia, karena terbiasa dengan denominasi Rupiah yang besar, mendadak mempersepsikan harga-harga barang di Australia relatif murah karena denominasinya lebih kecil. Hal ini meningkatkan keinginan wisatawan Indonesia untuk membelanjakan uang dollarnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keinginan untuk membeli barang cenderung naik apabila konsumen beralih dari mata uang dengan denominasi besar (misal: IDR) ke mata uang dengan denominasi kecil (misal: AUD).

Berdasarkan temuan tersebut, dapat diduga bahwa semakin banyak nol yang dihilangkan dalam redenominasi rupiah, semakin besar dampaknya terhadap naiknya keinginan konsumen untuk membeli barang dan jasa. Dengan kata lain, opsi menghilangkan tiga nol akan menghasilkan peningkatan konsumsi masyarakat yang paling maksimal dibanding dua opsi lainnya (satu nol atau dua nol).

Persepsi terhadap ‘murah’ dan ‘mahal’

Setelah dilakukan redenominasi, persepsi konsumen terhadap nilai uang dan nilai barang bisa jadi akan berubah. Dalam periode transisi antara rupiah lama dan rupiah baru hasil redenominasi, konsumen masih akan menggunakan denominasi Rupiah lama sebagai nilai acuan dalam memperkirakan nilai suatu barang. Sebagai ilustrasi, harga sebuah smartphone setelah redenominasi penghilangan tiga nol akan berkisar Rp5.000,- per-unit. Harga ini akan dipersepsikan ‘murah’ oleh konsumen yang secara tidak sadar masih menggunakan denominasi Rupiah lama sebagai nilai acuan untuk menghitung pendapatan mereka. Pengalaman penerapan mata uang tunggal Euro memberikan pelajaran kepada kita mengenai fenomena ini. Pada masa transisi penerapan Euro di beberapa Negara Eropa yang tergabung di dalam Uni Eropa, para peneliti menemukan suatu fenomena yang dinamakan Euro Illusion. Di Negara seperti Italia, di mana mata uang Lira mereka memiliki denominasi yang lebih besar dibanding Euro (1 Euro = 2.000 Lira), konsumen memiliki keinginan untuk membeli barang lebih besar ketika diminta menggunakan Euro dibanding ketika menggunakan Lira. Dengan kata lain, konsumen Italia melebihkirakan (overestimate) nilai Euro dan mengurangkirakan (underestimate) nilai Lira ketika berhadapan dengan situasi pembelian yang sama. Hal sebaliknya ditemukan di Irlandia, di mana mata uang Punt memiliki denominasi yang lebih kecil dibanding Euro (1 Euro = 0.79 Punt). Konsumen Irlandia memiliki keinginan membeli yang lebih rendah ketika diminta menggunakan Euro dibanding ketika menggunakan mata uang mereka sendiri, Punt.

Efek Euro illusion juga terasa dalam aspek lainnya. Segera setelah Euro digunakan sebagai mata uang tunggal, terjadi kenaikan donasi kepada gereja-gereja di Italia sebesar 11 persen.  Padahal pada periode yang sama kenaikan pendapatan masyarakat Italia hanya sekitar tiga persen. Penjelasannya tidak lain adalah bergesernya persepsi masyarakat  Italia terhadap “besar kecilnya” nilai sumbangan kepada gereja. Jika sebelumnya sumbangan sebesar 20.000 Lira sudah dianggap besar, tidak begitu halnya dengan sumbangan sebesar 10 Euro yang dianggap terlalu kecil meskipun nilainya sama dengan 20.000 Lira. Hal yang sama juga bisa terjadi pasca redenominasi Rupiah, di mana nilai acuan konsumen terhadap “murah” dan “mahal” menjadi bergeser.

 Redenominasi dan Konsumsi

Alasan sebagian besar negara-negara yang melakukan redenominasi adalah alasan psikologis. Mata uang dengan nominal yang terlalu besar mempengaruhi citra negara yang menggunakannya, termasuk di mata para pelaku ekonomi antarbangsa. Secara psikologis, negara yang memiliki mata uang bernominal besar dianggap sebagai negara yang perekonomiannya tidak stabil dan berisiko tinggi. Karena itu, pengambil kebijakan di negara seperti misalnya Turki yang mengalami hiperinflasi di era tahun 1990-an, memutuskan untuk melakukan redenominasi untuk memulihkan kepercayaan pelaku ekonomi antarbangsa terhadap perekonomiannya. Setelah redenominasi dilakukan, ternyata dampak yang ditimbulkan tidak hanya berkisar pada citra negara yang menjadi lebih baik saja. Pengalaman di Rumania dan Turki menunjukkan bahwa  redenominasi juga berperan mendorong naiknya tingkat konsumsi masyarakat. Jika kita merefleksikan hal ini pada situasi Indonesia, maka redenominasi menjadi suatu kebijakan yang sangat relevan. Seperti kita ketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama satu dasawarsa terakhir ditopang sebagian besar oleh konsumsi masyarakat. Pakar ekonomi, seperti Sri Mulyani Indrawaty, juga menyarankan agar Indonesia memilih strategi pertumbuhan yang lebih tahan terhadap krisis global, yaitu dengan memperbesar proporsi konsumsi domestik sebagai motor penggerak pertumbuhan. Berdasarkan saran ini, maka redenominasi rupiah merupakan kebijakan yang bisa memastikan tumbuhnya tingkat konsumsi masyarakat sesuai dengan besaran yang diharapkan.

Bagi pemasar sendiri, redenominasi Rupiah menghadirkan peluang dan tantangan. Peluang yang ditawarkan sudah jelas, bahwa redenominasi akan meningkatkan keinginan konsumen untuk membeli barang dan jasa. Pemasar tinggal mencari cara untuk memastikan ‘keinginan membeli’ tersebut menjadi “pembelian” yang sebenarnya. Sementara, tantangan yang dihadapi adalah memutakhirkan strategi pricing yang digunakan. Strategi pricing yang sebelumnya digunakan mungkin menjadi tidak relevan lag