Redenominasi Rupiah dan Perilaku Konsumen

Oleh: Harryadin Mahardika

Wacana redenominasi rupiah oleh Bank Indonesia  menjadi bahasan yang menarik di kalangan pemasar. Adalah penting bagi para pemasar untuk memprediksi dampak redenominasi Rupiah terhadap perilaku konsumen. Akankah redenominasi membuat persepsi konsumen terhadap yang “mahal” dan yang “murah” berubah? Akankah redenominasi membuat masyarakat lebih konsumtif, atau malah sebaliknya? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini membantu pemasar untuk menyiapkan strategi yang tepat dalam menyongsong rencana pemerintah melakukan redenominasi Rupiah beberapa tahun mendatang.

Berapa jumlah ‘nol’ yang ideal untuk dihilangkan?

Pejabat Bank Indonesia beberapa waktu yang lalu mengindikasikan bahwa redenominasi rupiah akan dilakukan dengan menghilangkan beberapa nol. Namun, belum ada keterangan resmi dari Bank Indonesia mengenai jumlah nol yang akan dihilangkan. Opsi yang paling banyak dibahas di masyarakat adalah penghilangan tiga angka nol. Opsi ini dianggap ideal karena memudahkan adaptasi dari Rupiah lama ke Rupiah baru pasca redenominasi. Sebagai ilustrasi, harga bensin pertamax yang berkisar Rp 8.000,- per-liter akan menjadi Rp 8,- per-liter setelah redenominasi.

Namun, benarkah menghilangkan tiga nol adalah opsi yang paling ideal? Mengapa Bank Indonesia tidak mempertimbangkan opsi menghilangkan satu nol atau dua nol? Dalam riset yang dipublikasikan di Journal of Consumer Research tahun 2002, Raghubir dan Srivastava menemukan bahwa konsumen dari negara yang mata uangnya memiliki denominasi kecil (misal: Australia) cenderung akan mengurangi pengeluarannya ketika berkunjung ke negara yang mata uangnya memiliki denominasi besar (misal: Indonesia). Wisatawan Australia yang terbiasa menggunakan denominasi Australian Dollar yang kecil, mendadak merasa bimbang dengan besarnya nominal yang harus mereka bayarkan untuk membeli barang di Indonesia menggunakan Rupiah. Kebimbangan ini mengurangi keinginan mereka untuk membeli barang di Indonesia.  Hal sebaliknya berlaku pada konsumen dari negara dengan denominasi mata uang besar yang berkunjung ke negara dengan denominasi mata uang kecil. Wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Australia, karena terbiasa dengan denominasi Rupiah yang besar, mendadak mempersepsikan harga-harga barang di Australia relatif murah karena denominasinya lebih kecil. Hal ini meningkatkan keinginan wisatawan Indonesia untuk membelanjakan uang dollarnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keinginan untuk membeli barang cenderung naik apabila konsumen beralih dari mata uang dengan denominasi besar (misal: IDR) ke mata uang dengan denominasi kecil (misal: AUD).

Berdasarkan temuan tersebut, dapat diduga bahwa semakin banyak nol yang dihilangkan dalam redenominasi rupiah, semakin besar dampaknya terhadap naiknya keinginan konsumen untuk membeli barang dan jasa. Dengan kata lain, opsi menghilangkan tiga nol akan menghasilkan peningkatan konsumsi masyarakat yang paling maksimal dibanding dua opsi lainnya (satu nol atau dua nol).

Persepsi terhadap ‘murah’ dan ‘mahal’

Setelah dilakukan redenominasi, persepsi konsumen terhadap nilai uang dan nilai barang bisa jadi akan berubah. Dalam periode transisi antara rupiah lama dan rupiah baru hasil redenominasi, konsumen masih akan menggunakan denominasi Rupiah lama sebagai nilai acuan dalam memperkirakan nilai suatu barang. Sebagai ilustrasi, harga sebuah smartphone setelah redenominasi penghilangan tiga nol akan berkisar Rp5.000,- per-unit. Harga ini akan dipersepsikan ‘murah’ oleh konsumen yang secara tidak sadar masih menggunakan denominasi Rupiah lama sebagai nilai acuan untuk menghitung pendapatan mereka. Pengalaman penerapan mata uang tunggal Euro memberikan pelajaran kepada kita mengenai fenomena ini. Pada masa transisi penerapan Euro di beberapa Negara Eropa yang tergabung di dalam Uni Eropa, para peneliti menemukan suatu fenomena yang dinamakan Euro Illusion. Di Negara seperti Italia, di mana mata uang Lira mereka memiliki denominasi yang lebih besar dibanding Euro (1 Euro = 2.000 Lira), konsumen memiliki keinginan untuk membeli barang lebih besar ketika diminta menggunakan Euro dibanding ketika menggunakan Lira. Dengan kata lain, konsumen Italia melebihkirakan (overestimate) nilai Euro dan mengurangkirakan (underestimate) nilai Lira ketika berhadapan dengan situasi pembelian yang sama. Hal sebaliknya ditemukan di Irlandia, di mana mata uang Punt memiliki denominasi yang lebih kecil dibanding Euro (1 Euro = 0.79 Punt). Konsumen Irlandia memiliki keinginan membeli yang lebih rendah ketika diminta menggunakan Euro dibanding ketika menggunakan mata uang mereka sendiri, Punt.

Efek Euro illusion juga terasa dalam aspek lainnya. Segera setelah Euro digunakan sebagai mata uang tunggal, terjadi kenaikan donasi kepada gereja-gereja di Italia sebesar 11 persen.  Padahal pada periode yang sama kenaikan pendapatan masyarakat Italia hanya sekitar tiga persen. Penjelasannya tidak lain adalah bergesernya persepsi masyarakat  Italia terhadap “besar kecilnya” nilai sumbangan kepada gereja. Jika sebelumnya sumbangan sebesar 20.000 Lira sudah dianggap besar, tidak begitu halnya dengan sumbangan sebesar 10 Euro yang dianggap terlalu kecil meskipun nilainya sama dengan 20.000 Lira. Hal yang sama juga bisa terjadi pasca redenominasi Rupiah, di mana nilai acuan konsumen terhadap “murah” dan “mahal” menjadi bergeser.

 Redenominasi dan Konsumsi

Alasan sebagian besar negara-negara yang melakukan redenominasi adalah alasan psikologis. Mata uang dengan nominal yang terlalu besar mempengaruhi citra negara yang menggunakannya, termasuk di mata para pelaku ekonomi antarbangsa. Secara psikologis, negara yang memiliki mata uang bernominal besar dianggap sebagai negara yang perekonomiannya tidak stabil dan berisiko tinggi. Karena itu, pengambil kebijakan di negara seperti misalnya Turki yang mengalami hiperinflasi di era tahun 1990-an, memutuskan untuk melakukan redenominasi untuk memulihkan kepercayaan pelaku ekonomi antarbangsa terhadap perekonomiannya. Setelah redenominasi dilakukan, ternyata dampak yang ditimbulkan tidak hanya berkisar pada citra negara yang menjadi lebih baik saja. Pengalaman di Rumania dan Turki menunjukkan bahwa  redenominasi juga berperan mendorong naiknya tingkat konsumsi masyarakat. Jika kita merefleksikan hal ini pada situasi Indonesia, maka redenominasi menjadi suatu kebijakan yang sangat relevan. Seperti kita ketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama satu dasawarsa terakhir ditopang sebagian besar oleh konsumsi masyarakat. Pakar ekonomi, seperti Sri Mulyani Indrawaty, juga menyarankan agar Indonesia memilih strategi pertumbuhan yang lebih tahan terhadap krisis global, yaitu dengan memperbesar proporsi konsumsi domestik sebagai motor penggerak pertumbuhan. Berdasarkan saran ini, maka redenominasi rupiah merupakan kebijakan yang bisa memastikan tumbuhnya tingkat konsumsi masyarakat sesuai dengan besaran yang diharapkan.

Bagi pemasar sendiri, redenominasi Rupiah menghadirkan peluang dan tantangan. Peluang yang ditawarkan sudah jelas, bahwa redenominasi akan meningkatkan keinginan konsumen untuk membeli barang dan jasa. Pemasar tinggal mencari cara untuk memastikan ‘keinginan membeli’ tersebut menjadi “pembelian” yang sebenarnya. Sementara, tantangan yang dihadapi adalah memutakhirkan strategi pricing yang digunakan. Strategi pricing yang sebelumnya digunakan mungkin menjadi tidak relevan lag

Indonesia’s internet users deserve more commitment

By Harryadin Mahardika

It is not surprising for Indonesian living abroad to witness their country being misunderstood by foreigners. A friend of mine, a postgrad student from Australia, genuinely believes that in Indonesia every muslim who switch religion will be rocked or mutilated by mass. She was confused when I told her that it is not difficult to find a mix religion family in Indonesia. A professor from a respected US institution whose research is about Islamic finance was surprised to find out that Islamic financial system is not the mainstream system in Indonesia. Knowing it forced him to change the draft of his working paper, which contain incorrect assumption about Indonesia. These are some cases that I personally observed. Their misperception toward Indonesia probably did not resemble the majority, but to know it came from highly educated foreigners is definitely a shocker.

Given this nature, it is not a revelation when most internet giants overlook the Indonesia’s internet market potential. Seemingly, one factor hampers their confidence toward this market: These giants are wary about Indonesian consumers. This is a market that suddenly comes up from nowhere. Information about it is very limited, even if there is any it is mostly mislead. So, these giants prefer to wait and see until someone cracks this market. Until then, they would not be bothered to commit to it. Surely, this view takes toll on Indonesia’s internet users who suffered from limited appreciation when they should deserve more.

There is an impression among Indonesian internet users that they need to prove that they are worthy as a market. This is easily indicated by looking into the numbers, where Indonesian always strives to be on the top ranks.  In many popular websites, mostly online games and social networking sites, the number of users from Indonesia grows significantly in recent years. They are very lively and seek to grab some attention. Latest report showed Indonesia ranks second on Twitter and third on Facebook just a month away after Stephen Colbert threw a joke about Indonesian banging tree to communicate each other. Interestingly, the joke was seen funny (or perhaps, relevant) for many. Again, it reinforces the impression that Indonesia’s internet market is still not worthy despite its dramatic growth.  Take eBay as an example, the online auction empire announced it partnership with plasa.com in late 2010 to capture share in the growing Indonesia’s e-commerce market. However, this move was seen as not compelling enough. Potential consumers and sellers were disappointed as they long for the full present of eBay site in Indonesia. Ebay and Plasa.com trivial partnership undermined people expectation.

Clearly, internet giants are still reluctant to put a full commitment to this market. Their commitment is impeded by suspicion and to some extent, stigma, toward Indonesian consumers.  One analyst contends that despite Indonesia has a large internet market, it is still difficult for companies to make money out of it. Lack of secure online payment is to be blamed, he added. However, if we observe deeper, this happens entirely because credit card companies are too suspicious on Indonesia’s internet users. We agree that Indonesian carder is notorious around the world, but their presences are nothing compared to more than 15 million well behave Indonesian credit card holders. Not to mention, most of e-commerce transaction in Indonesia have been done through bank transfer, which requires a high level of trust between seller and buyer. So, what is keeping the credit card companies from giving their service to leading local e-commerce websites at an affordable cost?

Stigma also plays role in holding back the commitment toward this market. News and coverage on Indonesia by international media often only focused on the negative events. Unfortunately, it affects international perception toward Indonesian consumers, which stigmatize as poor and technology illiterate. This stigma is against the reality that internet is a part of lifestyle in Indonesia. Moreover, Indonesian loves riding trends and they also have a unique ability to sort out which the best trend to follow in the internet. It is a quality that Indonesian inherited from their ancestors. The history of nusantara shows us how this people are open to new trend and idea. Let’s go back to centuries ago, when people in nusantara left paganism for more sophisticated Hinduism. I can easily imagine how at that time, the trendy and state of the art Indian culture charmed the people of nusantara. It was like an Americanization today, only with more emphasize on philosophy and values. Hinduism became a new lifestyle, a trend that being celebrated all over nusantara. Then, the same thing happened when Buddhism was happening in nusantara. It is almost effortless to relate Buddha, a charming and charismatic leader, with any today’s great world leader who is a trendsetter such as Obama. Moving on, Islam also came to nusantara as a trend in 12th century. Science, Islam greatest achievement, fascinates the people of nusantara from scholars to sailors. A technology race was a trend at that time and Islam offers transfer of technology for many kingdoms in nusantara.  The fascination continues as Islam also offers more logical approach, which many nusantaranese craved for at the time when superstition kills creativity.

For a nation to embrace so many religions in relatively short period of time there should be some explanation. One best explanation and often quoted is based on geographical factor. Indonesia nicely located in a busy intersection of international trading route. Thousands of years of interaction with various cultures make this people are more acceptable to new ideas and new trends. This applies to the internet, a concept alien to most Indonesian a decade ago. Now, it becomes a central of Indonesian way of life. It is a celebrated lifestyle by Indonesian, going online anytime and anywhere using their ubiquitous smartphones. This market is truly a diamond in rough, there is so many reasons to commit to it, while only few reasons not to. Local companies are running fast and boldly pouring all resources they have to win this market.  And they did a good job so far. I personally prefer local companies rule Indonesia’s internet market. However still, I also contend that big international players should appreciate this market by increasing their commitment and presence. Indonesia’s consumers deserve it!

Mengoptimalkan Mobile Advertising

Kontan, Senin 27 April 2009

Seiring perkembangan layanan telekomunikasi seluler di Indonesia, bisnis iklan via ponsel (mobile advertising) turut mengalami perkembangan yang signifikan. Animo yang besar untuk menggarap bisnis ini ditunjukkan oleh para pemain di industri telekomunikasi, seperti perusahaan penyedia konten dan operator seluler. Sebagai rintisan awal, mereka memulai dengan memperkenalkan beberapa bentuk dasar mobile advertising, seperti mobile coupon dan sms iklan. Hasilnya cukup lumayan, dalam artian layanan iklan via ponsel kini mulai menarik perhatian para calon pengiklan yang sebelumnya hanya menggunakan media iklan konvensional seperti televisi, radio, dan media cetak.

Namun, ketertarikan para calon pengiklan tersebut ternyata masih belum berlanjut pada keputusan untuk menggunakan ponsel sebagai media beriklan. Hal ini terlihat dari jumlah total pengeluaran iklan via ponsel secara nasional yang masih kurang dari 1 persen dari total pengeluaran iklan nasional pada tahun 2008. Padahal dengan potensi besar yang dimilikinya, para pemain di bisnis ini seharusnya bisa melakukan pencapaian lebih baik dari itu. Bayangkan saja, dengan jumlah pelanggan ponsel di Indonesia yang mencapai  sekitar 120 juta orang, coverage yang disediakan jauh lebih baik dari media konvensional seperti radio dan media cetak, dan bahkan hampir menyamai coverage dari televisi. Lalu apa sebenarnya yang menyebabkan calon pengiklan masih enggan menggunakan ponsel sebagai media beriklan?

Narrowcasting, bukan Broadcasting

Pencapaian yang masih minim tersebut bisa dipandang sebagai hal yang wajar mengingat bisnis iklan via ponsel baru berkembang di Indonesia sekitar lima tahun yang lalu. Para pemain bisnis ini masih terus mencari bentuk layanan dan model bisnis yang paling tepat untuk mengoptimalkan value dari ponsel sebagai media beriklan. Meski demikian, kritik tetap harus diberikan kepada mereka karena tidak kunjung menemukan nilai jual utama dari iklan via ponsel yang mampu mendukung keberlanjutan (sustainability) bisnis ini di Indonesia.

Jika diamati lebih dalam, kesulitan yang dihadapi para penyedia layanan mobile advertising di Indonesia adalah ketidakmampuan mereka menunjukkan kelebihan media ini kepada para calon pengiklan. Konsep iklan via ponsel yang selama ini mereka tawarkan, seperti mobile coupon dan sms iklan, hanya merupakan bentuk paling dasar dari mobile advertising yang tidak memiliki nilai tambah yang unik jika dibandingkan iklan dengan media konvensional. Padahal, keunikan utama dari ponsel adalah karakternya yang bergerak (mobile), yang tidak dimiliki sepenuhnya oleh media iklan konvensional. Selain itu, ponsel juga mampu menyediakan informasi mengenai profil penggunanya, dimana informasi tersebut sangat dibutuhkan pemasar dan pengiklan untuk melakukan segmentasi konsumen. Dua keunikan inilah yang seharusnya dieksploitasi demi menunjukkan value yang lebih tinggi dibanding media iklan konvensional.

Salah satu konsep mobile advertising yang unik misalnya adalah layanan monitoring “perilaku spasial konsumen” yang dikombinasikan dengan sms iklan. Perilaku spasial konsumen adalah kebiasaan pergerakan (mobilitas) dari satu lokasi ke lokasi lainnya yang dilakukan oleh konsumen sehari-hari, yang membentuk sebuah pola lintasan yang bisa digunakan untuk membuat model prediksi perilaku spasial mereka. Hal ini sangat memungkinkan karena manusia modern memiliki attachment yang sangat tinggi terhadap ponsel.  Sehingga, perilaku spasial konsumen bisa dipelajari dengan cara memonitor dan merekam pergerakan konsumen melalui ponsel milik mereka masing-masing yang telah tertanami teknologi global positioning system (GPS). Data perilaku spasial konsumen inilah yang sangat berguna bagi para pemasar dan calon pengiklan. Bagi pemilik jaringan restoran cepat saji misalnya, mereka bisa mengidentifikasi konsumen mana saja yang memiliki kebiasaan berada di lokasi dekat jaringan restoran mereka pada saat jam makan siang. Berdasarkan informasi tersebut, mereka dapat mengirimkan sms iklan berisi promosi diskon harga untuk paket makan siang di jaringan restoran tersebut kepada konsumen terpilih.

Pendekatan ini disebut narrowcasting, yang merupakan salah satu bentuk pengoptimalan karakteristik unik yang dimiliki ponsel. Narrowcasting mengusahakan agar target audiens yang dipilih memiliki profil yang paling sesuai dengan keinginan pemasar dan pengiklan. Hal ini berbeda dengan pendekatan broadcasting sms iklan yang dikirimkan kepada sebanyak mungkin konsumen tanpa adanya pemilihan audiens, seperti yang ditawarkan kepada calon pengiklan selama ini. Bagi pengiklan, pendekatan narrowcasting membantu mereka untuk mengurangi biaya iklan karena hanya dikirimkan pada audiens terpilih (efisiensi). Selain itu, pendekatan ini juga memperbesar probabilitas keberhasilan dalam mengkonversi aktivitas promosi menjadi keputusan konsumen untuk membeli (efektivitas). Para pemain di bisnis ini harus mulai mengubah pendekatan broadcasting menjadi narrowcasting jika mereka ingin mendapatkan kue iklan yang lebih besar.

Perlu Kecerdikan dan Keberanian

Dengan kata lain, mobile advertising di Indonesia perlu dibawa ke tingkatan yang lebih tinggi. Mobile advertising memiliki keunikan (value) tersendiri yang baru akan bisa dimunculkan dengan cara yang tepat. Ini sangat tergantung pada kecerdikan dan keberanian para pemain yang berkecimpung didalamnya. Pemain yang cerdik tahu benar bagaimana menawarkan mobile advertising sebagai solusi terbaik bagi para pemasar dan pengiklan, yang membutuhkan alternative media promosi yang inovatif dengan value yang unik. Di sisi lain, kecerdikan tersebut perlu diiringi dengan keberanian. Keberanian yang dimaksud adalah keberanian menanamkan modal dan komitmen pada bisnis ini. Hal ini mutlak diperlukan, mengingat untuk menghadirkan layanan location-based mobile advertising misalnya, dibutuhkan investasi yang jumlahnya tidak sedikit. Hanya pemain yang serius dan berani mengambil risiko sajalah yang kemungkinan besar akan mendapatkan berkah dari bisnis ini di masa depan.

 

Harryadin Mahardika

Departemen Manajemen – FEUI

Preemptive Strikes

Jawa Pos News Network (JPNN) saat ini merupakan salah satu kelompok media yang terbesar dan memiliki jaringan terluas di Indonesia. JPNN mempunyai 80 surat kabar dan majalah, serta 40 percetakan di seluruh Indonesia. Pada tahun 2002 mereka juga mulai memasuki bisnis penyiaran televisi melalui JTV di Surabaya, Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.

Jawa Pos sekarang ini menjelma dari perusahaan yang hampir mati dengan oplah tinggal 6000 eksemplar menjadi perusahaan besar yang agresif dan ekspansif. Ekspansi Jawa Pos yang agresif tentu membuat pesaingnya tidak tinggal diam. Pesaing utama Jawa Pos adalah Kompas, grup media terbesar di tanah air. Kompas mulai merasakan ancaman yang nyata dari Jawa Pos, ketika gerak ekspansi mereka telah sampai ke Ibu Kota. Sebagai reaksi atas hal tersebut, Kompas menerapkan beberapa strategi untuk membendung laju Jawa Pos.

Salah satunya yang cukup menarik untuk dikaji adalah strategi preemptive strikes, langsung menyerang Jawa Pos di basis utamanya, Jawa Timur. Jawa Timur dengan jumlah penduduk 34 juta jiwa merupakan pasar yang sangat besar. Kondisi ini dimanfaatkan benar oleh Jawa Pos yang memang lahir dan besar di Surabaya. Di propinsi ini, Jawa Pos berhasil membangun basis pasar yang sangat kuat. Jawa Pos bagi masyarakat Jawa Timur tidak lagi hanya sekedar surat kabar harian, namun telah menjadi salah satu ikon daerah. Meskipun berat, Kompas berusaha keras menyerang basis utama kekuatan Jawa Pos ini sebagai upaya untuk mencegah serangan lebih lanjut dari Jawa Pos terhadap pasarnya.

Serangan Kompas dilakukan lewat penguatan saluran distribusi, akuisisi beberapa media lokal dan menerbitkan Kompas “edisi khusus Jawa Timur” yang berisi tambahan halaman tentang berbagai berita dan peristiwa yang terjadi di daerah tersebut. Strategi preemptive strikes yang dilakukan Kompas mengutamakan pada kecepatan dan kejutan. Dengan menyerang basis utama Jawa Pos, Kompas berharap dapat menghentikan sementara gerak maju Jawa Pos di Jabotabek yang cukup merepotkan. Memang pasar inti milik Kompas relatif belum terusik karena Jawa Pos masih menyasar pasar kelas bawah. Namun, Kompas harus segera bertindak sebelum Jawa Pos menyerang segmen pasar menengah yang kini masih dikuasai Kompas. Dengan bertindak terlebih dulu Kompas ingin mendapatkan posisi yang lebih menguntungkan dibanding lawan.

Dalam strategi ini, siapa yang menyerang terlebih dahulu bisa mendapatkan cost advantage, differentiation advantage atau resource advantage. Pertanyaannya kemudian, seberapa lama suatu serangan preemptive dapat bertahan dalam memberikan competitive advantage? Kunci dari kesuksesan di serangan kita adalah efektivitas serangan. Perusahaan yang mengambil posisi menyerang harus mampu memperoleh sebanyak mungkin competitive advantage dalam waktu sesingkat mungkin. Waktu yang diperlukan bisa dipersingkat apabila seluruh sumber daya yang dibutuhkan untuk berperang dapat secepatnya dihadirkan ke medan pertempuran, atau apabila serangan tersebut memperoleh respon yang cepat dari konsumen (misalnya dengan potongan harga, promosi besar-besaran, atau peluncuran produk baru).

Idealnya, gerakan ofensif harus bisa menghasilkan competitive advantage dengan cepat. Semakin lama waktu yang dibutuhkan, akan semakin berisiko karena lawan akan menyadarinya dan kemudian segera menyusun pertahanan atau serangan balasan. Tahap selanjutnya setelah sukses melewati buildup period adalah “benefit period.” Tahap ini adalah periode waktu dimana perusahaan bisa menikmati dan mengekspoitasi competitive advantage yang diperolehnya. Lama waktu dari tahap ini tergantung pada seberapa cepat lawan merespon gerakan tersebut. Semakin lama waktu yang dibutuhkan lawan untuk menyusun serangan balasan, semakin lama pula perusahaan dapat menikmati above-average profits dan mendapatkan kembali investasi yang telah dikeluarkan untuk melakukan preemptive strikes tersebut.

Begitu lawan melakukan respon dengan serangan balasan untuk menutup competitive gap yang ada, mulailah tahap yang dinamakan “erosion period.” Pada tahap ini lawan menggunakan berbagai strategi untuk “menggerus” competitive advantage yang kita miliki, misalnya dengan strategi imitasi, duplikasi, perang harga atau peluncuran produk baru. Lawan yang kuat dengan back up sumber daya yang cukup akan mengambil inisiatif penyerangan secara all out karena mereka tidak mau basis pasar mereka diganggu. Sehingga dapat dikatakan bahwa kesuksesan strategi preemptive strikes ini utamanya ditentukan oleh seberapa lama perusahaan dapat melokalisir area pertempuran di wilayah lawan. Semakin lama hal tersebut terjadi, semakin lama pula pasar yang dimiliki perusahaan aman dari serangan lawan yang tengah sibuk mempertahankan wilayahnya

 

Harryadin Mahardika
Departemen Manajemen FEUI

Branding: Kemunafikan Sektor Non-Profit?

Samakah persepsi yang muncul dikepala anda begitu seseorang mengucapkan “Amerika Serikat” dan “McDonalds”? Atau pernahkah anda menyadari bahwa tingkat awareness anda terhadap “Harvard” sekuat awareness anda terhadap “Coca-Cola”? Ya, kita sadari atau tidak, fenomena merasuknya konsumerisme melalui proses branding pada dunia non-profit seperti kebudayaan, pendidikan, dan bahkan keyakinan (agama) tengah terjadi dengan deras.

Lewat bukunya yang berjudul Branded Nation, James B. Twitchell mengulas fenomena ini secara obyektif, meskipun sebagai profesor ia bisa saja ikut membela dunia pendidikan tinggi di Amerika yang dituduh sebagian orang terlalu “komersil”. Twitchell memilih gereja, pendidikan tinggi dan museum sebagai wakil—higher culture—bagian dunia yang selama ini menafikan komersialisasi secara vulgar seperti yang terjadi di dunia bisnis (diistilahkan lower culture).

Menurut Twitchell, menarik sekali mengamati bagaimana sebuah gereja di Amerika mencoba mengkombinasikan kehidupan sekuler dengan aktivitas spiritual yang agung. Mereka mengembangkan konsep one-stop praying, dimana jemaat bisa melakukan kegiatan belanja, makan, sekolah, transfer uang, berolahraga, panjat dinding dan beribadah secara berkesinambungan tanpa harus meninggalkan lokasi peribadatan. Lain lagi dengan kisah sukses Stanford Research Park milik Stanford University. Awalnya research park ini adalah sekedar proyek inkubator bagi riset-riset di universitas tersebut. Namun, kini ia telah menjelma menjadi apa yang sekarang dinamakan dengan Silicon Valley—evolusi dari Stanford Research Park yang saat ini berisi 40 perusahaan dan mempekerjakan hampir 35.000 orang, serta memiliki peran yang besar terhadap perkembangan teknologi di dunia. Terakhir, Twitchell mengamati pergeseran cara pandang para pengelola museum seni di Amerika terhadap apresiasi para pengunjungnya. Beberapa dekade yang lalu, pengelola museum hanya berpikir bagaimana mengisi ruang yang kosong dengan artefak dan beda seni bernilai tinggi lainnya, sehingga minat masyarakat akan karya seni yang sophisticated bisa terpuaskan. Kini, disaat lebih banyak kaum muda yang mengenal Linkin Park dibanding Van Gogh, para kurator tentu harus berpikir keras tentang bagaimana strategi mengisi ruang museum yang kosong dengan para pengunjung—jika perlu mereka akan mengadakan pameran memorabilia band rock ‘n roll untuk untuk menggaet lebih banyak orang.

“Inilah Branded Nation!”, ujar Twitchell. Tak bisa dipungkiri bahwa kekuatan commercial branding telah mentransformasi banyak bidang di dunia ini. Twitchell melihat bagaimana para “supplier” dari keyakinan (agama), seni dan pendidikan terpengaruh untuk mengkomersialisasi delivery system mereka. Dunia mereka seharusnya adalah dunia non-profit; artinya usaha-usaha untuk tetap bertahan dan berkembang harusnya tidak boleh menciderai keagungan dan idealisme dunia non-profit tersebut. Akan tetapi, gelombang ini terlalu kuat untuk dilawan, konsumerisme telah merasuk pada semua aspek kehidupan dengan tidak terkecuali—dari pojok-pojok mall yang hingar bingar sampai sudut-sudut tempat peribadatan yang hening dan syahdu.

Pertanyaannya kemudian, apakah para pemimpin agama, rektor universitas, atau kepala museum tersebut melakukan komersialisasi terhadap lembaganya secara sadar? Pemakaian kata branding untuk merujuk aktivitas “komersial” yang dilakukan di dunia non-profit dihindari betul oleh mereka. Institusi non-profit menolak disamakan dengan korporasi. Gereja dengan tradisi proselytizing—konsep kristiani/kapitalis yang unik—secara historis merupakan penggagas konsep pemasaran modern yang pertama. Namun mereka akan sangat terganggu jika aktivitas itu disebut dengan branding. Begitu pula dengan pendidikan tinggi dan museum. Mereka mengklaim melakukan aktivitas yang jauh lebih “mulia” dibanding hanya berkompetisi untuk berebut pangsa pasar, meski mereka selalu mengatakan disetiap kesempatan bahwa kurikulum mereka atau koleksi benda seni mereka lebih berkualitas dibanding yang lain.

Seorang pejabat salah satu top-tier university di Amerika mengatakan pada suatu kesempatan; “Kami tidak menjual produk. Kami bukan suatu industri. Kami tidak peduli dengan image, positioning, awareness, atau market share. Tidak ada pedagang di “tempat-tempat suci” kami.” Sejauh ini, begitulah para pemimpin di dunia non-profit melihat fenomena ini, tulis Twitchell. Mereka melakukan, tetapi mereka tidak mengakui. Branding didunia non-profit adalah aktivitas yang bisa menodai romantisme atas keagungan dan cara hidup yang “mulia”.

Didalam buku setebal 327 halaman ini, Twitchell menunjukkan kekuatannya pada detail, seperti pada buku-bukunya terdahulu. Ia membahas satu persatu “industri” non-profit yang ditelitinya dengan sangat cermat. Salah satu detail yang menarik adalah tatkala Twitchell menggambarkan hasil pengamatannya tentang kaitan agama dengan konsumerisme. Ia mengutip sebuah debat di Brandchannel.com Forum, September 2001. Dalam diskusi tersebut, keyakinan (agama) dicoba untuk dilihat dari sudut pandang pemasaran. Tuhan disebut sebagai suatu “konsep”, konsep ini sangat nyata bagi para pemeluk agama dan bahkan bagi orang atheis sekalipun. Sehingga jika konsep Tuhan telah diterima secara luas dan struktur keagamaan yang ada dianggap sebagai “official marketing body”, maka keyakinan (agama) telah memiliki infrastruktur yang cukup untuk memulai proses branding. Twitchell menambahkan bahwa pada tingkat makro, semua keyakinan (agama) menawarkan sesuatu yang sama—agama menukarkan “the meaning of life” dengan sejumlah investasi tertentu yang diberikan oleh para penganutnya. Meski kadang pertukaran ini hanya berbentuk “ketaatan”, namun pada tingkat tertentu pertukaran tersebut juga bisa berbentuk uang dan tenaga. Disinilah letak terjadinya simbiosis, dimana institusi keagamaan bisa terus hidup dan para pemeluk semakin dekat untuk menemukan jawaban atas makna hidup yang sesungguhnya. Twitchell menyebutnya “One Market Under God”.

Dengan bahasa yang sinikal namun menghibur, Twitchell menggoda pembaca dengan pertanyaan-pertanyaan kontradiktif. Pembaca yang kritis akan menemukan istilah-istilah baru yang memerlukan usaha ekstra untuk memahami artinya. Twitchell juga banyak memakai berbagai iklan media cetak dari dunia non-profit untuk membuktikan kepada pembaca bahwa proses branding memang terjadi disana. Bagi anda yang menjadi bagian dari dunia non-profit ini adalah buku yang wajib dibaca.

 

Harryadin Mahardika
Departemen Manajemen FEUI

Ketika Konfrontasi Harus Menjadi Pilihan

Crucial confrontations, “never walk away from another conflict again!” Judul buku ini bisa membuat kita mengernyitkan dahi, saat mencoba memahami apa yang dimaksud pengarang dengan “konfrontasi yang krusial”, dan memikirkan alasan mengapa kita dilarang menghindari konflik. Dalam buku setebal 273 halaman ini, empat sekawan Kerry Patterson, Joseph Greeny, Ron Macmillan dan Al Switzler menyajikan hasil riset mereka mengenai crucial confrontation, rahasia dibalik masalah-masalah yang biasa menimpa keluarga, tim atau organisasi.

Kerry Patterson, Joseph Greeny, Ron Macmillan dan Al Switzler adalah peneliti dari Stanford University. Mereka melakukan riset selama 10.000 jam kepada beberapa karyawan terpilih dari berbagai macam institusi mengenai perilaku mereka dalam menghadapi konflik. Patterson dkk. mengamati perilaku karyawan tersebut untuk menemukan pola penyelesaian yang dipakai karyawan tersebut ketika berada dalam situasi yang konfrontatif.

Mereka menyimpulkan bahwa karyawan yang sukses dan berpengaruh biasanya memiliki kemampuan crucial confrontations yang tinggi. Mereka bisa menangani suatu masalah tanpa perlu melakukan kekerasan (violence) namun juga tidak hanya berdiam diri (silence), pura-pura tidak tahu masalah tersebut pernah terjadi. Mereka berada diantara keduanya, mampu mengkombinasikan berbagai faktor untuk memenangkan situasi. Baik itu tindakan violence atau silence punya tingkat konsekuensi yang sama. Seorang karyawan yang bersikap agresif dengan melakukan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, maupun seorang karyawan yang cenderung menghindari konflik dengan berdiam diri terhadap masalah, dapat menimbulkan masalah yang sama bagi perusahaan.

Patterson dkk. mengambil contoh kasus NASA untuk menjelaskan perlunya kemampuan crucial confrontations dimiliki oleh karyawan, sebagai berikut: Selasa, 28 Januari 1986, dunia menyaksikan pesawat ulang-alik Challenger meledak dan hancur berkeping-keping beberapa saat setelah lepas landas. Kita masih bisa mengingat kengerian peristiwa tersebut, namun pernahkah kita mencoba mencari tahu mengapa kecelakaan fatal seperti itu dapat menimpa NASA, sebuah organisasi yang mempekerjakan sebagian ilmuwan paling cerdas dari seluruh dunia? Penyidikan yang dilakukan ternyata mengungkapkan fakta bahwa penyebab kecelakaan tersebut adalah adanya masalah pada komponen O-rings di pesawat ulang-alik tersebut, dimana komponen tersebut tidak berfungsi apabila suhu turun secara drastis. Yang sangat menyedihkan, masalah tersebut sebenarnya sudah diketahui oleh para teknisi beberapa bulan sebelumnya. Namun tak seorangpun dari mereka yang punya cukup keberanian untuk menyampaikan hal tersebut kepada atasan.

Tujuh belas tahun kemudian peristiwa kecelakaaan kembali menimpa pesawat ulang-alik NASA lainnya, Columbia. Penyebabnya memang bukan masalah pada O-rings seperti yang menimpa Challenger, namun kedua kejadian tersebut memiliki akar permasalahan yang sama, yaitu tidak adanya teknisi yang cukup punya keberanian untuk menyampaikan adanya masalah pada pesawat-pesawat ulang-alik yang akan diluncurkan tersebut kepada atasan. Mereka takut mengungkapkan kekhawatiran mereka secara terbuka. Mengapa mereka takut untuk berbicara? Penyidik pada kasus ini mengemukakan temuan bahwa lingkungan dan birokrasi di NASA sangat “represif” terhadap orang-orang yang mempertanyakan masalah keselamatan. Orang yang mengungkapkan adanya masalah teknis kepada publik maupun kepada intern NASA biasanya langsung dipindah ke bagian lain, dijauhi, tidak didengarkan, dan dicap tidak efektif. Inilah yang menyebabkan sebagian besar pegawai NASA memilih untuk diam meski melihat adanya masalah daripada harus mempertaruhkan kariernya. Lingkungan kerja di NASA telah gagal membentuk sebuah lingkungan yang terbuka bagi konflik dan konfrontasi sehingga menyebabkan kerugian yang amat besar bagi organisasi itu sendiri.

Situasi yang mirip dengan kasus NASA tersebut bisa pula terjadi di perusahaan tempat kita bekerja, di masyarakat tempat kita bersosialisasi atau di dalam keluarga kita sendiri. Apa yang akan kita lakukan jika bawahan kita di kantor membangkang terhadap perintah kita? Apa yang akan kita lakukan jika atasan menetapkan deadline tanpa memikirkan bahwa dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikannya dibandingkan waktu yang ada? Apa yang kita lakukan jika melihat tato permanen bergambar naga menghiasi lengan putra kita? Serta beragam situasi lain yang menempatkan kita pada posisi harus melakukan konfrontasi.

Menurut Patterson dkk., “to confront” berarti kita melakukan pembicaraan secara langsung kepada seseorang untuk menjaga agar seseorang mampu bertanggungjawab (accountable) terhadap pekerjaan yang sedang dilakukannya. Meskipun “konfrontasi” nampak sangat radikal dan abrasive, namun sebenarnya ada tujuan mahapenting dibalik semua itu. Konfrontasi yang sehat membuat kedua belah pihak dapat berbicara secara terbuka dan jujur. Masing-masing saling percaya dan saling menghargai. Apabila hal itu bisa dilakukan—terutama di NASA—niscaya kita tidak perlu melihat dua kejadian kecelakaan pesawat luar angkasa milik NASA tersebut.

Buku ini mengemukakan langkah-langkah praktis tentang bagaimana mewujudkannya situasi konfrontasi yang sehat dan membangun. Patterson dkk. secara cerdas dan gamblang menuntun pembaca ke dalam tahapan-tahapan pengembangan crucial confrontation skill. Sehingga yang ditawarkan buku ini tidak hanya solusi konseptual, namun juga teknik dan pendekatan sederhana yang dapat di gunakan oleh semua orang. Buku ini bahkan menyertakan pula lembar self-assessment untuk mengukur kemampuan kita menghadapi crucial confrontation. Pertanyaan-pertanyaan di lembar tersebut di desain untuk membuat pembaca mengenali kemampuan dirinya dan mengidentifikasi kekurangan yang ada sehingga di kemudian hari bisa lebih ditingkatkan lagi.

Bacaan ini layak dijadikan referensi bagi mereka yang menganggap ide ini bisa memberi perubahan yang positif pada perusahaan tempat mereka bekerja, pada masyarakat atau pada keluarga. Orang yang ingin menjadi “socially efective” akan menemukan sumber inspirasi yang melimpah dari buku ini. Sementara, orang yang ingin melihat adanya peningkatan produktivitas pada dirinya dapat memperoleh sumber motivasi yang luar biasa dari buku ini. Seperti kata pengarangnya “We dedicate this book to the world’s best leaders, those courageous and skillful managers, supervisors, associates, team members, parents, colleagues, and technicians who stepped up to tough, even hostile, and crucial problems and dealt with them superbly. Thank you for your examples. Thank you for helping us learn.”

 

Harryadin Mahardika

Departemen Manajemen FEUI

Belajar dari Sejarah

Tidak banyak akademisi dan pakar strategi bisnis yang menempatkan sejarah sebagai bagian paling penting dalam perkembangan bidang ini. Sebagai legitimasi akademik, pengalaman sejarah dan materi kualitatif lainnya seringkali dikalahkan oleh metode scientific seperti permodelan dan analisis statistik dengan bantuan perangkat lunak dan perangkat keras yang canggih. Hasil analisis berupa angka, data dan model kini lebih dihargai dan dianggap kredibel sebagai dasar untuk menentukan pilihan strategi bisnis, baik oleh para akademisi maupun oleh para pengambil keputuan di perusahaan.

Richard A. D’Aveni adalah satu dari sedikit pakar strategi bisnis yang mendukung perlunya keseimbangan antara art and science dalam manajemen stratejik. Lewat karyanya yang berjudul Strategic Supremacy, D’Aveni mencoba mengangkat kembali legitimasi penggunaan pendekatan yang lebih manusiawi dalam perumusan strategi. Salah satu sumber inspirasi yang sangat lengkap dan kaya menurut D’Aveni adalah sejarah manusia itu sendiri.

Pada dasarnya, strategi adalah bagian dari upaya manusia mengelola situasi chaos, suatu kondisi ketidakberaturan yang cenderung merugikan. Baik seorang panglima perang maupun CEO perusahaan multinasional, akan selalu menghadapi kondisi lapangan yang dinamis dan kadang lepas dari kendali mereka (chaos). Strategi-lah yang bisa meningkatkan kemampuan manusia mengendalikan situasi semacam ini sampai batas tertentu. Keberhasilan mengendalikan chaos dan mempengaruhi lingkungan oleh D’Aveni disebut dengan sebagai supremasi strategis (strategic supremacy).

Bisa tidaknya suatu perusahaan mencapai supremasi strategis menurut D’Aveni ditentukan oleh tiga prinsip: pertama adalah kekuatan persepsi yang dibangun; kedua adalah bagaimana memenangkan hati dan pikiran konsumen; dan ketiga adalah kekuatan menciptakan situasi yang lebih menguntungkan dengan menggunakan kombinasi dan pola persaingan—kerjasama yang ada. Ketiga prinsip tersebut apabila mampu dijalankan perusahaan, akan bisa digunakan untuk mengembangkan strategi bisnis tanpa perlu menguras uang perusahaan atau melakukan cara-cara persaingan yang tidak sehat.

Sebagai kelanjutan dari uraian tersebut, D’Aveni mengatakan bahwa sebuah perusahaan bisa memperoleh kekuatan, kekuasaan dan pengaruh yang lebih besar dari apa yang mereka miliki selama ini, jika mereka bisa mengembangkan dan menerapkan apa yang ia sebut dengan “sphere of influence”. Menurutnya, catatan sejarah politik dan perang di masa lalu menunjukkan bahwa untuk meraih supremasi, perlu lebih dari sekedar penguasaan terhadap core interests dan vital interests saja, melainkan juga terhadap buffer zones, pivotal zones dan forward positions. Lalu, apa yang dimaksud D’Aveni dengan hal-hal tersebut? Untuk lebih memahami konsep ini, D’Aveni memberikan ilustrasi konsep ini dengan menggunakan contoh apa yang dilakukan Kekaisaran Romawi di masa jayanya.

Core interests Romawi adalah Roma dan Negara-negara kota di Italia lainnya. Vital interests-nya adalah Mesir, Spanyol dan Sisilia (demi supplai makanan dan tenaga manusia). Kemudian, buffer zones-nya adalah Perancis dan Afrika Utara (pertahanan dari serangan bangsa afrika sub-sahara dan Eropa Utara). Sementara, pivotal zones mereka adalah pegunungan Alpen (kehilangan daerah ini akan menguntungkan posisi suku bangsa Jerman). Terakhir, forward positions yang mereka gunakan adalah Turki Barat dan Perancis Utara (sebagai markas untuk menyerang musuh di timur dan utara). Masing-masing bagian tersebut merupakan kombinasi strategi yang menjadikan Romawi sebagai salah satu imperium terluas dan terlama di dunia.

Memang, konsep yang ditawarkan D’Aveni ini banyak dikritik karena dianggap terlalu abstrak dan tidak aplikatif. Namun, konsep penyebaran pengaruh (spheres of influence) yang diajukan D’Aveni pada kenyataannya bisa menjadi alternatif bagi model portfolio bisnis dan teori persaingan yang selama ini berkembang. Meskipun sebagai konsep yang baru, D’Aveni kesulitan memberikan contoh perusahaan atau institusi yang telah menerapkan konsep ini (sebagian besar bab yang ada memakai Microsoft dan beberapa perusahaan raksasa lainnya sebagai contoh).

Buku ini perlu dibaca oleh para pengambil keputusan di perusahaan untuk memahami situasi serta kondisi persaingan dewasa ini. Strategic Supremacy menawarkan pendekatan yang berbeda dalam perancangan strategi perusahaan. Kekuatan D’Aveni adalah kemampuannya melihat permasalahan secara menyeluruh (big picture), sementara secara bersamaan ia bisa memberikan contoh kasus dan tren bisnis yang menjelaskan pemikirannya. Selain it, dalam buku ini ia juga memberikan panduan dalam mengembangkan strategi bisnis, strategi pemasaran, strategi merger, strategi aliansi, alokasi sumberdaya perusahaan, dan analisis strategi pesaing.

Richard A. D’aveni adalah profesor manajemen stratejik di Amos Tuck School, Dartmouth College, selain “Strategic Supremacy” beberapa karyanya yang lain adalah hypercompetition (1994) dan hypercompetitive rivalry (1999).

Harryadin Mahardika

Departemen Manajemen FEUI

Evolusi Merek, Sebuah Proses Tiada Akhir

Apa jadinya bila merek-merek berevolusi? Jawabannya bisa Anda temukan dalam buku terbaru Al Ries dan putrinya, Laura Ries, yang berjudul “The Origin of Brands.” Setelah sukses dengan buku sebelumnya “The Fall of Advertising & The Rise of PR” yang juga hasil kolaborasi keduanya, karya terbaru mereka ini memperlihatkan ambisi yang kuat untuk mendapatkan pencapaian yang sama atau bahkan lebih dari karya-karya mereka terdahulu.

Terinspirasi oleh “The Origin of Species” karya Charles Darwin, Ries mencoba menerapkan ide revolusioner Darwin mengenai evolusi makhluk hidup ke dalam proses branding. Menurut mereka, tidak ada lagi ilmu yang paling tepat dan bisa secara jelas digunakan untuk menganalogikan proses branding selain biologi, karena menurutnya proses-proses yang terjadi di alam juga terjadi di dunia produk dan jasa. Buku setebal 308 halaman ini berisi berbagai studi Ries tentang ‘brands’ yang dilakukannya berdasarkan asumsi Darwin yang mengatakan bahwa spesies baru berasal dari spesies yang telah ada sebelumnya. Studi Ries ini merupakan terobosan besar bagi dunia pemasaran.

Ries mengemukakan berbagai temuan yang berguna untuk untuk menyusun strategi baru dan efektif dalam inovasi produk, membangun merek, mencapai kesuksesan bisnis, dan lebih jauh lagi, mengajak pembaca untuk mengubah cara pandang terhadap proses branding dengan mengacu pada perubahan lingkungan yang terjadi saat ini. Menurut Ries, perubahan kondisi pasar menciptakan peluang secara terus-menerus bagi pengembangan merek-merek baru sampai pasar itu sendiri berhenti berubah. Pasar dianalogikan seperti alam yang memberi ruang kepada makhluk yang hidup di dalamnya untuk berkembang dan pada tingkatan tertentu, berevolusi. Begitu juga dengan pasar, di mana perusahaan dapat menemukan ruang dan kesempatan untuk mengembangkan mereknya sehingga tetap bisa bertahan dalam persaingan dengan merek lain.

Terdapat dua hal yang mereka pelajari dari Darwin mengenai proses evolusi, yaitu proses convergence dan divergence. Kedua proses ini bertolak belakang satu sama lain. Proses convergence adalah proses menyatunya dua spesies atau lebih sehingga memunculkan satu spesies baru. Sementara proses divergence adalah proses berkembangnya satu spesies menjadi beberapa spesies baru yang masing-masing memiliki kekhasan. Kesimpulan yang ditarik oleh Ries mengatakan bahwa proses evolusi yang terjadi di dunia ini adalah proses divergence, bukan convergence. Sebab apabila yang terjadi adalah proses convergence, maka satu-satunya spesies yang tersisa di dunia ini adalah jutaan prokariot bersel-tunggal seukuran dinosaurus hasil penggabungan semua spesies yang pernah ada. Kenyataannya sungguh bertolak belakang dari itu, yang terjadi di dunia ini adalah proses divergence. Phantera—kucing purba, dari waktu ke waktu kemudian berkembang menjadi singa, harimau, leopard dan jaguar. Hal yang sama juga terjadi pada semua spesies.

Ries sangat percaya bahwa masa depan merek—seperti halnya spesies, berada pada jalur divergence. Mereka bahkan mendedikasikan buku ini kepada proses divergence dengan ungkapan sebagai berikut: ”Divergence, The Least Understood, Most Powerful Force In The Universe.”Jadi jelas, menurut mereka divergence memang nampak kurang menarik namun sudah terbukti kekuatannya yang sangat besar dalam mengubah alam semesta. Merek-merek convergence seperti O2 (PDA-phone), Vicks Action (obat batuk-obat flu), Rejoice (shampoo-conditioner), Polytron (kulkas hot & cool) dan sebagainya nampak sangat inovatif dan menarik. Akan tetapi peluang sebenarnya ada di posisi sebaliknya—divergence. Divergence memicu munculnya kategori produk baru dan pada gilirannya—merek baru, sementara convergence malah bisa mengurangi kategori produk dan merek.

Ries dengan lugas memaparkan studinya atas produk-produk convergence yang gagal di pasar dan cerita tentang berbagai produk yang sukses di seluruh dunia berkat divergence untuk membuat pembaca mengerti dan setuju pada idenya. Seperti halnya karya mereka terdahulu, kekuatan Ries ada pada gaya penulisan mereka yang provokatif namun tetap sederhana dan mudah dicerna. Buku ini juga kaya dengan contoh kasus yang sangat berguna untuk membayangkan aplikasi sesungguhnya dari ide-ide mereka. Al Ries dan Laura Ries dikenal sebagai orang-orang yang suka melawan arus. Di kala para pemasar mendewakan efektivitas advertising, mereka malah mengatakan bahwa era advertising telah berakhir dan telah digantikan oleh era Public Relation—sesuai dengan judul bukunya terdahulu, The Fall of Advertising & The Rise of PR. Saat inipun mereka kembali menentang arus. Di kala sebagian besar orang berbicara products convergence, mereka malah mendukung products divergence sebagai yang terbaik. Lewat ”The Origin of Brands” ini Ries ingin mengatakan kepada para pemasar di seluruh dunia bahwa alam telah menunjukkan divergence mampu menciptakan suatu proses yang tidak pernah berakhir.

Dari sebuah tunas muncul batang pohon. Kemudian dari batang muncul cabang, dari cabang muncul dahan, dari dahan muncul ranting dan seterusnya sebagai sebuah proses yang tidak akan berakhir. Yang kita lihat sekarang hanyalah contoh kecil dari begitu banyak produk dan merek baru yang akan muncul di masa depan. ”From so simple a beginning, endless brands most beautiful and most wonderful have been, and are being evolved.”

Harryadin Mahardika

Departemen Manajemen FEUI

Setelah Setengah Penduduk Berponsel

 Kontan, Selasa 6 Januari 2009

Tahun 2008 ditutup dengan sebuah pencapaian milestones oleh pelaku industri telekomunikasi di Indonesia, yaitu tercapainya tingkat penetrasi telepon seluler (ponsel) sebesar 50 persen. Dengan kata lain, kini setengah penduduk Indonesia (115 juta orang) telah menggunakan layanan ponsel. Pencapaian ini berhasil diraih setelah kurang lebih 15 tahun layanan ponsel diperkenalkan di Indonesia. Mengingat besarnya tantangan yang dihadapi, termasuk tantangan geografis dan permodalan, pencapaian ini tentu saja layak sekali untuk diapresiasi. Namun tidak cukup hanya itu, pencapaian tersebut sekaligus juga perlu dijadikan sebagai titik evaluasi terhadap perkembangan bisnis telekomunikasi seluler di tanah air pada masa yang akan datang.

Menjanjikan tapi Ruwet

Para analis telekomunikasi dari luar negeri sejak beberapa tahun yang lalu selalu menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar telekomunikasi seluler yang paling menjanjikan di dunia. Hal ini berdasarkan fakta bahwa Indonesia memiliki jumlah pelanggan potensial yang besar dengan tingkat pertumbuhan pelanggan yang sangat tinggi,  dan yang terpenting operator seluler di Indonesia mencatat laba yang relatif lebih tinggi dibanding operator seluler di negara lain.

Selama lima tahun terakhir, net addition rata-rata pelanggan ponsel selalu mencapai diatas 25 persen per-tahun. Pencapaian ini tidak terlepas dari agresifitas operator seluler dalam meluaskan jaringan mereka. Sampai dengan tahun 2008, lingkup jaringan yang dibangun operator seluler telah mampu mengcover wilayah yang dihuni sekitar 150 juta penduduk Indonesia. Sisa 80 juta penduduk diperkirakan akan dapat dicover secara keseluruhan pada tahun 2015.  Potensi jumlah pelanggan yang mencapai 230 juta juga menjadi nilai tambah tersendiri. Meskipun tidak sebesar China maupun India, namun konsumen Indonesia memiliki kelebihan dalam hal tingkat adopsi terhadap teknologi baru yang lebih cepat dibanding kedua negara tersebut.

Sementara itu, sampai dengan akhir tahun 2008, tercatat telah ada 12 operator seluler yang beroperasi. Bandingkan dengan lima tahun yang lalu, dimana hanya ada enam operator seluler saja. Faktor utama besarnya ketertarikan untuk berinvestasi di bisnis ini adalah tingginya profitabilitas. Operator seluler di Indonesia menikmati profitabilitas yang termasuk paling tinggi di dunia. Laba bersih rata-rata operator seluler di Indonesia selama lima tahun terakhir mencapai diatas 30 persen dari pendapatan bersih operasional per-tahun. Sementara tingkat pengembalian modal (ROE) rata-rata mencapai lebih dari 40 persen per-tahun.

Namun, banyaknya jumlah pemain ini menyimpan permasalahan tersendiri. Masalah yang segera timbul adalah  meningkatnya intensitas persaingan antar operator. Operator-operator baru yang ingin segera mendapatkan pangsa pasar, menawarkan tarif yang sangat kompetitif kepada pelanggan. Hal ini direspon oleh operator-operator lama dengan strategi yang kurang lebih sama. Hasilnya, perang tarif tidak bisa dihindarkan. Perang tarif dalam jangka panjang dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap profitabilitas operator.

Keruwetan lain adalah mengenai teknologi dan regulasi. Penggunaan dua teknologi, yaitu GSM dan CDMA, yang pada awalnya memiliki porsi masing-masing sesuai dengan regulasi dari pemerintah. Namun, batasan antar kedua teknologi sekarang semakin mengabur karena para operator berusaha meningkatkan pangsa pasar dengan berbagai cara, termasuk mengakali regulasi yang ada. Konsekuensinya, persaingan yang mulanya diharapkan bisa terlokalisir antar operator dengan teknologi yang sama, kini menjadi liar karena operator dengan teknologi yang berbeda pun sudah saling head to head. Ketidakpastian hukum dan regulasi yang kerap berganti juga menjadi salah satu titik keruwetan. Para investor, terutama investor asing, mengeluhkan hal ini dan merasa dalam posisi insecure akibat perubahan kebijakan dan regulasi yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Disamping itu, peran regulator juga dirasakan masih kurang optimal.

Akan Berebut Kelas Bawah

Dalam tiga tahun ke depan, intensitas persaingan di industri ini akan semakin meninggi. Hal tersebut berdasarkan asumsi bahwa sampai dengan saat ini regulator belum membatasi jumlah pemain baru yang boleh masuk. Diperkirakan masih akan ada dua sampai tiga pemain baru dalam tiga tahun ke depan. Dengan demikian akan ada sekitar 15 pemain yang memperebutkan sisa 115 juta penduduk Indonesia yang masih belum menggunakan layanan ponsel. Fakta yang menarik, sebagian besar dari calon pelanggan tersebut berasal dari masyarakat dari golongan ekonomi kelas menengah ke bawah dan kelas bawah.

Berdasarkan riset terakhir tahun 2007, berturut-turut penetrasi ponsel di Indonesia untuk tiap golongan ekonomi masyarakat adalah sebagai berikut: 99 persen untuk golongan menengah atas (upper middle class), 87 persen untuk kelas menengah (middle class), 67 persen untuk kelas menengah ke bawah (lower middle class), dan 45 persen untuk kelas bawah (working class). Data ini menunjukkan bahwa ruang untuk mendapatkan pelanggan baru di kelas menengah ke atas dan kelas menengah sudah sangat sempit. Kesempatan lebih besar hanya terbuka di kelas menengah ke bawah dan kelas bawah. Ini berarti strategi tarif murah akan terus menjadi pilihan operator, terutama operator baru yang ingin segera mendapatkan pangsa pasar yang memadai. Dampaknya, perang tarif masih akan terus berkepanjangan dan pada gilirannya akan meningkatkan probabilitas terjadinya konsolidasi pemain di industri ini.

Operator perlu menyikapi perubahan lanskap persaingan ini secara bijak. Mereka harus bisa keluar dari jebakan perang tarif berkepanjangan, dan memikirkan strategi yang lebih sustainable. Ruang untuk melakukan hal itu masih terbuka luas, terutama untuk layanan non-voice. Regulator juga tidak boleh lengah, karena Indonesia akan tetap menjadi pasar telekomunikasi yang menarik bagi investor dalam dua sampai tiga tahun ke depan.

Harryadin Mahardika

Departemen Manajemen FEUI

Apa Kabar 3G di Indonesia?

 Kontan, Jum’at 5 Desember 2008

Lebih dari dua tahun teknologi 3G hadir di Indonesia sejak diluncurkan oleh operator telepon seluler pada tahun 2006. Apa yang telah terjadi selama dua tahun tersebut tentunya menarik untuk dievaluasi, baik dari perspektif manajerial maupun dari perspektif konsumen, termasuk melihat dampaknya terhadap kinerja operator dan nilai tambahnya bagi pelanggan.

Banyak pihak yang berharap penerapan teknologi 3G akan berdampak positif terhadap operator seluler di Indonesia, termasuk meningkatkan pendapatan rata-rata per-pelanggan (ARPU). Sebagaimana diketahui, sejak tahun 2003 kecenderungan penurunan ARPU dialami semua operator seluler di Indonesia. Meskipun ada pengaruh pertumbuhan jumlah pelanggan yang yang terlalu pesat dalam penurunan ARPU tersebut, namun fenomena ini tetap menimbulkan kekhawatiran para pihak yang terkait. Pembukaan tender 3G oleh pemerintah pada tahun 2003 merupakan antisipasi atas permasalahan tersebut. Teknologi 3G dengan segala kemutakhirannya memberi peluang kepada operator seluler untuk berkreasi dan berinovasi menciptakan aplikasi dan layanan baru yang bisa meningkatkan pendapatan mereka, terutama pendapatan yang berasal dari layanan non-voice yang selama ini kontribusinya terhadap total pendapatan relatif masih kecil.

Operator seluler sangat optimis dengan teknologi 3G, hal tersebut tergambar dengan keberanian mereka menanamkan investasi dalam jumlah yang sangat besar pada teknologi ini, diantaranya investasi untuk memperoleh lisensi dari pemerintah, investasi pada jaringan, dan penyediaan konten. Semua itu dilakukan dengan perhitungan yang cermat serta persiapan yang matang. Hasilnya, selama dua tahun terakhir pelanggan seluler di Indonesia telah bisa menikmati berbagai aplikasi dan layanan berbasis teknologi 3G. Diantaranya internet berkecepatan tinggi, video call, mobile TV, dan lain-lain. Jangkauan layanan 3G pun juga semakin luas dari waktu ke waktu.

Dari sisi pasar, peluncuran layanan 3G berdampak tidak langsung terhadap kenaikan jumlah pelanggan. Pada tahun 2006 jumlah penambahan pelanggan baru (net addition) operator 3G rata-rata mencapai diatas 25 persen per-tahun. Bahkan salah satu operator dominan  berhasil mencapai peningkatan sekitar 40 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun jika dianalisis lebih jauh, kenaikan tersebut lebih disebabkan oleh perang tarif yang sedikit sekali kaitannya dengan layanan 3G. Hal ini karena layanan 3G lebih ditujukan pada pelanggan existing yang diharapkan menambah pengeluaran seluler mereka dengan mengakses berbagai aplikasi dan layanan baru yang berbasis teknologi 3G. Selain itu tingginya churn rate turut membuat angka tingkat pertumbuhan tersebut menjadi bias.

Masih bergantung pada Voice dan SMS

Hal yang menarik adalah, kehadiran layanan 3G ternyata masih belum mengubah peta pendapatan operator seluler secara signifikan. Meskipun demikian, arah menuju perbaikan telah ditunjukkan. Pada tahun 2003 sampai 2005, kontribusi pendapatan operator 3G dari voice rata-rata berkisar antara 86 – 78 persen.  Setelah layanan 3G diluncurkan, kontribusi tersebut turun untuk tahun 2006 sampai semester I 2008 berkisar antara 77 – 72 persen. Hal ini cukup menggembirakan karena menunjukkan semakin berkurangnya ketergantungan operator terhadap layanan voice. Sementara untuk kontribusi layanan non-voice rata-rata terjadi peningkatan dua kali lipat selama lima tahun terakhir, yaitu dari 14 persen pada tahun 2003 menjadi 29 persen pada semester I 2008. Namun yang harus dicatat, sebagian besar (lebih dari 70 persen) pendapatan non-voice ini masih disumbang oleh layanan SMS yang notabene tidak membutuhkan teknologi secanggih 3G. Hal ini tentunya tidak sejalan dengan harapan bahwa teknologi 3G dapat membantu operator seluler meningkatkan kontribusi layanan non-voice (diluar SMS) untuk mendongkrak ARPU.

Hal lain yang perlu digarisbawahi, meskipun secara nominal pendapatan operator mengalami peningkatan setelah layanan 3G diluncurkan, namun peningkatan tersebut masih belum memadai bila dibandingkan dengan nilai imbal balik investasi yang diharapkan. Sebagai gambaran, untuk membayar lisensi kepada pemerintah selama 10 tahun, operator 3G mengeluarkan dana antara Rp200 – 500 miliar. Sedangkan untuk membangun jaringan 3G dan infrastrukturnya, sekitar Rp 1 triliun telah dikeluarkan tiap operator 3G. Belum lagi biaya penyediaan konten dan setup berbagai aplikasi baru. Hal ini harus dipikirkan mengingat meskipun lisensi teknologi 3G ini berlangsung 10 tahun, namun tidak menutup kemungkinan akan muncul teknologi baru (4G) yang harus diadopsi sebelum lisensi tersebut berakhir. Ini berarti investasi baru harus dikeluarkan dan investasi lama tutup buku.

Penerimaan Konsumen terhadap Layanan 3G

Penjelasan atas faktor yang mempengaruhi kurang cepatnya tingkat pertumbuhan pendapatan dari layanan non-voice berbasis teknologi 3G bisa bermacam-macam, namun satu hal yang patut dilihat lebih mendalam adalah mengenai penerimaan konsumen terhadap teknologi baru ini. Dalam hal ini pengambil keputusan, baik dari pemerintah maupun dari industri telekomunikasi, melupakan sebuah pertanyaan paling mendasar: Apakah teknologi 3G relevan dengan kebutuhan konsumen Indonesia? Jawaban atas pertanyaan ini seharusnya diselidiki terlebih dahulu, mengingat penerimaan pelanggan (konsumen) sangat penting dalam rantai bisnis di industri yang sarat teknologi seperti ini.

Usaha untuk menyelidiki penerimaan konsumen memang sudah dilakukan, namun lingkupnya sangat kecil dan hasilnya bahkan diabaikan oleh pengambil keputusan. Penyebabnya mungkin adalah optimisme yang berlebihan terhadap teknologi 3G ini. Indikasinya, para pengambil keputusan begitu yakin bahwa kebutuhan konsumen akan muncul secara otomatis setelah infrastruktur siap dan layanan 3G diluncurkan. Pada kenyataannya hal tersebut tidak terjadi dan proses penerimaan konsumen terhadap sebuah teknologi baru perlu dimengerti karena faktor yang mempengaruhinya unik untuk tiap teknologi.

Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan untuk memahami penerimaan konsumen terhadap teknologi baru. Dalam kasus teknologi 3G di Indonesia, hal-hal berikut inilah yang menjadi penyebab rendahnya penerimaan konsumen. Pertama, konsumen mempersepsikan 3G sebagai layanan yang mahal (pada kenyataannya tarif layanan berbasis 3G di Indonesia relatif mahal dibandingkan layanan non-3G), karena itu persepsi mereka terhadap kemanfaatan (perceived usefulness) dari teknologi 3G menjadi negatif. Kedua, sebagian besar pengguna ponsel di Indonesia terbiasa hanya menggunakan fitur dan layanan dasar. Sehingga, kehadiran layanan 3G yang digembar-gemborkan canggih dan sophisticated memberikan kesan yang menjerumuskan karena pengguna ponsel mempersepsikan 3G sebagai teknologi tingkat tinggi yang sulit untuk dikuasai. Dengan kata lain mereka meyakini bahwa 3G itu “ribet”, sehingga persepsi terhadap kemudahan penggunaan (perceived ease of use) atas layanan 3G menjadi negatif. Faktor kemanfaatan dan kemudahan penggunaan merupakan dua kunci utama yang menciptakan keyakinan (belief) seseorang untuk menerima dan menggunakan sebuah teknologi baru. Jika kedua faktor tersebut tidak terpenuhi, niscaya akan sulit bagi operator 3G untuk mengharap kesuksesan layanan 3G.

Waktu dua tahun memang masih terlalu singkat untuk melakukan sebuah evaluasi, namun tidak ada salahnya hal ini dilakukan untuk merekam gejala-gejala yang bisa mempengaruhi hasil akhir penerapan teknologi 3G di Indonesia. Terutama untuk memastikan investasi triliunan rupiah yang telah dikeluarkan dapat segera kembali secepatnya, sebelum teknologi yang lebih baru datang.

Harryadin Mahardika

Departemen Manajemen FEUI

Beriklanlah via Ponsel

Kontan, Jumat 17 Oktober 2008

Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki tingkat pertumbuhan pelanggan ponsel (telepon seluler) cukup tinggi. Sampai dengan tahun 2007, jumlah pelanggan ponsel di Indonesia telah mencapai sekitar 100 juta orang, atau tumbuh lebih dari 25 persen dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan yang pesat dan jumlah pelanggan yang sedemikian besar ini tentunya merupakan berkah bagi pelaku bisnis telekomunikasi di tanah air. Apalagi, masih banyak teknologi yang dimiliki ponsel belum termanfaatkan secara maksimal. Padahal potensi penciptaan nilai tambahnya bagi perekonomian sangat besar. Sangat disayangkan jika investasi triliunan rupiah pada teknologi seperti 3G menjadi sia-sia karena pelaku bisnis telekomunikasi tidak mampu mengoptimalkannya untuk memaksimalkan laba.

Salah satu upaya optimalisasi ponsel yang sedang menjadi tren adalah pemanfaatannya sebagai media penyampaian iklan, atau biasa dikenal dengan istilah mobile advertising. Terdapat dua faktor yang membuat ponsel dilirik sebagai media beriklan. Pertama, tingginya attachment manusia modern terhadap ponsel membuat alat ini memiliki pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan manusia sehari-hari. Pengiklan menyadari bahwa jumlah waktu rata-rata yang dihabiskan manusia berinteraksi dengan ponsel saat ini telah menyamai  jumlah rata-rata waktu per-hari yang dihabiskan manusia untuk menonton televisi. Waktu interaksi tersebut diramalkan akan terus meningkat seiring konvergensi berbagai macam teknologi ke dalam ponsel.

Faktor kedua yang membuat ponsel menarik bagi pengiklan adalah karakter wireless dan mobile-nya  yang tidak dimiliki oleh media tradisional. Mobilitas ponsel ini bila digabungkan dengan teknologi user tracking dan GPS dapat menghasilkan suatu bentuk pemasaran baru yang dulu hanya menjadi angan-angan para pengiklan. Ya, teknologi user tracking dan GPS memungkinkan ponsel  menjadi media beriklan yang bersifat kontekstual (berbasis lokasi dan waktu). Lokasi dan waktu selalu menjadi constraint dalam mencapai kepuasan ekonomi yang optimal, termasuk dalam urusan beriklan. Media tradisional sampai dengan saat ini hanya mampu memberikan solusi untuk constraint waktu, tapi belum optimal untuk constraint lokasi. Padahal, konteks lokasi punya peran yang lebih besar dalam mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli dibandingkan waktu. Disini ponsel memberikan solusi sekaligus terhadap kedua constraint tersebut.

Sebagai gambaran, bayangkan anda sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan pada saat jam makan siang. Sistem user tracking  dan GPS memberikan posisi anda ke pusat pengolahan data, yang kemudian mengolah informasi tersebut untuk dicocokkan dengan daftar promosi yang ditawarkan oleh pengiklan yang memiliki outlet di sekitar lokasi anda. Setelah dicocokkan dengan data profil diri anda, sistem memilih satu program promosi yang paling relevan, dan kemudian dikirimkan via SMS ke ponsel anda. Anda menerima SMS tersebut yang berisi penawaran diskon yang cukup menggiurkan di sebuah outlet pakaian favorit anda, yang berlokasi di pusat perbelanjaan tersebut. Tertarik dengan penawaran tersebut serta kenyataan bahwa outlet tersebut tidak seberapa jauh dari posisi anda, segera anda menuju ke outlet tersebut, memilih produk yang anda inginkan, menunjukkan SMS tersebut untuk mengklaim diskon, membayar sisanya dan kemudian melanjutkan kembali perjalanan anda ke tempat makan siang.

Kejadian tersebut hanyalah salah satu contoh penerapan mobile advertising. Masih banyak bentuk lainnya yang bisa diimplementasikan, baik yang bertipe push-type advertising maupun pull-type advertising. Bahkan aplikasi games yang ada di ponsel pun bisa menjadi sarana iklan, seperti yang dilakukan para pengiklan di Jepang. Singkatnya, inovasi dan kreatifitas menjadi kunci dalam kesuksesan implementasi mobile advertising.

Perkembangan di Indonesia

Penggunaan ponsel sebagai media beriklan sebenarnya sudah cukup lama diterapkan di Indonesia. Namun, pendekatan yang dilakukan oleh para pengiklan masih membawa paradigma media tradisional yaitu broadcasting. Padahal, kecanggihan teknologi ponsel memungkinkan pengiklan melakukan narrow casting, yaitu memilih profil audiens yang tingkat kesesuaiannya paling mendekati kriteria dan konteks yang diinginkan. Pendekatan narrow casting membuat pengeluaran iklan makin efisien dengan akuntabilitas dan ukuran efektivitas yang lebih jelas.

Hal lain yang bisa diamati dari pemanfaatan ponsel sebagai media beriklan di Indonesia adalah mengenai masalah etika. Mobile advertising di Indonesia masih dilakukan secara sembarangan. Ini sangat mengkhawatirkan karena dapat berpengaruh negative bagi prospek komersialisasi mobile advertising di masa depan. Pemilik ponsel di Indonesia saat ini mulai terganggu dengan SMS iklan berisi promosi ini-itu yang tak jarang menjerumuskan. Ini tak ubahnya seperti spam dan “e-mail sampah” yang mengakibatkan turunnya kepercayaan pengguna internet terhadap kredibilitas pengirim maupun isi iklan di internet. Operator layanan seluler maupun pengiklan perlu berpikir lebih jauh agar situasi tersebut tidak dialami oleh mobile advertising. Penegakan aturan main merupakan kunci untuk meminimalkan hal tersebut. Pengiklan seharusnya terlebih dulu menanyakan kesediaan pemilik ponsel untuk menerima materi iklan di ponsel mereka. Sebagai pembanding, Jepang dan beberapa negara di Eropa telah memiliki aturan khusus mengenai masalah ini. Aturan tersebut dibuat berdasarkan pemikiran bahwa ponsel merupakan barang personal, sehingga menjadikannya sebagai media untuk beriklan perlu menggunakan pendekatan yang menghargai privasi pemiliknya.

Tantangan lain dalam penerapan mobile advertising di Indonesia adalah belum adanya model bisnis yang benar-benar mapan. Selama ini pembagian peran dalam value chain mobile advertising antara operator seluler, pengiklan, dan agensi masih saling tumpang-tindih. Idealnya, operator seluler hanya fokus menyediakan jaringan, kapasitas, dan aplikasi. Sedangkan agensi menangani konten, strategi penyampaian, alokasi kapasitas, dan mencomblangi operator dengan pengiklan. Sementara pengiklan fokus dalam mengatur strategi komunikasi dan menghitung imbal balik serta efektivitas pengeluaran iklan mereka. Bisnis periklanan televisi yang sudah lebih mapan agaknya dapat dijadikan benchmark dalam perumusan model bisnis mobile advertising ini.

Terakhir, keberhasilan komersialisasi mobile advertising secara berkelanjutan dalam jangka panjang di Indonesia tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi dan infrastruktur saja. Namun lebih jauh dari itu, ia juga tergantung pada  kemauan pihak-pihak yang berkepentingan seperti operator seluler dan agensi periklanan untuk menggarap ladang bisnis baru ini secara lebih cerdas, tidak sembarangan seperti yang sedang terjadi saat ini. Mobile advertising akan menjadi lanskap baru dunia periklanan di masa depan, terlalu strategis untuk sekedar dijadikan bisnis main-main.

Harryadin Mahardika

Departemen Manajemen FEUI

 

 

Calendar

August 2017
M T W T F S S
« Jan    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031