Selamat kepada A. Marbun!

Saya baru saja mendapat berita bahwa artikel A. Marbun yang ditulis bersama Bang Andri published di Asian Journal of Law & Economics. Barangkali, tulisan semacam ini akan menjadi amat sangat norak dalam lensa pandang akademisi dari sebuah tempat yang sudah mapan tradisi publikasi ilmiahnya. Namun mengingat saya adalah seorang akademisi hukum dari negara bernama Indonesia — sebuah negara yang ketika registrasi/perpanjangan jadi  anggota di asosiasi ilmuwan dunia kerap ditempatkan dalam kategori menengah ke bawah — tentu tulisan semacam ini sah-sah saja. (Saya tidak meratapi kondisi Indonesia yang ditempatkan sebagai negara menengah ke bawah. Justru saya diuntungkan karena bisa mendapatkan waiver hingga puluhan euro. Hehe)

Saya perlu jelaskan tentang siapa A. Marbun ini. Ia adalah seorang yang bertubuh besar semestinya mendapat tempat dalam dunia akademik (universitas), seperti halnya kawan saya R. Ansari atau S. Purba. Saya katakan semestinya karena memang faktanya mereka layak berada di sana tetapi kini tidak ada di sana. Walaupun saya selalu berdoa semoga mereka akan berkarya kampus suatu saat nanti.

Pemahaman saya tentang apa dan siapa yang semestinya ada di Universitas tidak njelimet. Kita tarik saja asal katanya dari istilah latin: universitas magistrorum et scholarium atau keseluruhan pengajar (teachers) dan sarjana (bukan jenjang pendidikan woi!) atau orang yang terpelajar atau cendekiawan (scholars).

Istilah latin itu membedakan antara magistrorum dan scholarium. Jika ada keduanya baru sebuah tempat berhak menyandang nama universitas atau keseluruhan (a whole).

Yang saya pahami dari itu adalah bahwa kampus berwujud universitas bukan hanya tempat mengajarkan ‘sesuatu’ kepada peserta didiknya (mahasiswa), tetapi juga menjadi kawah candradimuka pengembangan ‘sesuatu’. Inilah yang membedakan antara wahana pendidikan vokasional dan sekolah menengah dengan universitas: adanya scholarium.

Tidak usaha panjang lebar, saya memaknai kegiatan pokok para scholarium di Abad 21 ini hanya 1: menghasilkan penelitian berkualitas lantas dipublikasikan ke forum akademik, yang umumnya melalui jurnal atau konferensi internasional yang diindeks oleh indexers bonafide.

Nah, terkait itulah saya mengucapkan kepada A. Marbun karena telah melaksanakan kegiatan sebagai scholarium. A. Marbun telah melakukan apa yang semestinya saya lakukan. Secara formal, ia bukan bagian dari tempat yang merupakan universitas magistrorum et scholarium. Ia adalah seorang anggota dari sebuah lembaga swadaya masyarakat bidang hukum; ya, walaupun memang tradisi ilmiah-nya kadang lebih baik dari sejumlah klaster keilmuan hukum di perguruan tinggi.

Saya pantas tertampar oleh keberhasilan A. Marbun. Betapa tidak, sejak hampir 7 tahun lalu saya berkegiatan sebagai asisten tenaga pendidik hingga menjadi tenaga pendidik di Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, belum sekalipun ada tulisan saya yang published di jurnal internasional yang diindeks oleh indexers bondafide, wa bil khusus Scopus.

Bayangkan: TOEDJOE TAHOEN! 

Jika dunia akademik adalah lembaga keagamaan, barangkali kesalahan saya ini masuk ke dalam kategori perbuatan dosa berulang, yang karenanya saya berpotensi masuk neraka.

Tapi begini ya, walaupun sepenuhnya saya akui bahwa dahulu saya tidak fokus dan merupakan procrastinator kelas berat, izinkan saya membuat apologi.

Selama hampir tujuh tahun belakangan, tubuh dan jiwa saya tidak sepenuhnya ada di akademia dengan situasi seperti saya akan uraikan berikut ini.

Pertama, saya bukan Bang Hotman yang rukonya sampai 200-an atau Bu Dendi yang bisa memandikan jenazah orang dengan duit. Gampangnya ngomong, saya kalau tidak bekerja saat ini, bulan depan tidak bisa makan. Saya harus bekerja untuk bertahan hidup.

Loh, memangnya menjadi asisten tenaga pendidik atau menjadi tenaga pendidik di UI bukan bekerja? Definisi bekerja adalah hubungan kausal antara pekerja dan pemberi kerja. Pekerja tugasnya bekerja, pemberi kerja tugasnya membayar atas hasil kerjanya si pekerja.

Soal ini, tak perlu diuraikan dengan detail. Hanya saja, barangkali jika kisah para asisten tenaga pendidik atau tenaga pendidik di UI (terutama yang tidak jelas statusnya) dijadikan acara TV, maka acara Jalinan Kasih dapat dibuat berseri-seri dan mengundang derai air mata. Lebay sih ini.

Karena secara finansial tidak bisa mengandalkan belas kasih kampus, maka saya, dan kebanyakan akademisi junior lainnya, mencari sampingan atau malah menjadikan kampus sebagai sampingan.

Boro-boro membuat riset berkualitas apalagi mempublikasikannya di jurnal yang diindeks Scopus, yang ada kami perlu mempertahankan hidup dengan mroyek, ngamen, atau istilah lain yang intinya bekerja atau ngalap rezeki di tempat lain.

Kalau dihitung-hitung, baru tahun ini saya cenderung full time; sebelumnya tidak, bahkan sepertinya waktu saya lebih banyak bekerja di luar kampus ketimbang ngendon di kampus.

Manajemen Fakultasku yang sekarang sepertinya cukup memahami kondisi semacam ini. Alhasil, kini sudah mulai bermunculan program-program yang dapat membantu dan memudahkan early-career-academic. Semoga saja terus begitu.

Kedua, saya tidak merasakan daya paksa institusional dalam lingkungan kompetitif yang melecut anak muda seperti saya untuk berjaya di dunia akademik sesuai accepted standard. Saya baru menyadari bahwa daya paksa institutional ini adalah hal mahapenting ketika sempat mengungsi ke Singapura. Kita semua paham, lingkungan institusional bernuansa kiasu yang mengakar di sana warbiyasa!

Sebagai orang yang menekuni kajian institusional, saya sedikit banyak meyakini bahwa institutions matter. Mohon maaf, peribahasa don’t blame darkness, light a candle instead, kurang dapat diterapkan di sini. Etos dari masing-masing akademisi penting, tetapi lingkungan institusional lebih penting lagi peranannya (baca Lertputtarak, 2008 dan Brew, et.al., 2015).

Jujur saja, bahkan saya tidak sebegitunya ngarep soal kompensasi finansial dari kampus dalam hal mengajar di kelas. Lingkungan institusional yang mendukung saya menjadi akademisi yang lebih baik amat sangat saya butuhkan: lingkungan akademik yang kompetitif-ilmiah, orientasi kolektif yang sesuai standar (relatif) akademik di dunia, pendanaan dan insentif yang memadai untuk penelitian, menyusun artikel jurnal & mengikuti konferensi, dan seterusnya.

P.S.: Sebenarnya ucapan selamat kepada A. Marbun ini hanya kedok untuk curhat. Hehehe.