Apa yang Saya Pelajari dari Stan Wawrinka?

per·sist·ence
pərˈsistəns/
noun
  1. firm or obstinate continuance in a course of action in spite of difficulty or opposition.

Satu dekade belakangan, dunia tennis pria senantiasa identik dengan Big Four: Federer, Nadal, Djokovic, Murray. Tak banyak yang menduga bahwa Stanislas Wawrinka akan merebut titel 3 Grand Slams dalam waktu yang sangat berdekatan, yakni Australia Open (2014), French Open (2015), dan US Open (2016). Tak pelak, sebagian kalangan pun menyebut kini ada yang namanya Big Five, bukan Big Four lagi, karena baru kali ini sejak 2005 ada petenis yang menggoyahkan dominasi Big Four dalam melahap titel Grand Slams.

Sebelumnya, Juan Martin del Potro memang sempat mencuri perhatian dengan menyabet titel US Open (2009). Orang sempat menyangka bahwa de Potro akan masuk ke jajaran Big Five. Namun sayangnya, kiprah del Potro hanya gemilang secara maksimal sekali itu saja. Baru Stan yang merebut titel Grand Slam tidak hanya sekali. Dan, yang mengagumkan, ia menggapainya cukup telat, yakni pada usia 28 hampir 29! Bandingkan dengan usia penghuni Big Four ketika menyabet titel Grand Slam yang semuanya ketika berusia 20-an awal.

Tak pelak, The Economist mengkategorikannya sebagai Tennis’s Great Latecomer.

Sebenarnya, saya baru ngeh dan menaruh perhatian pada Stan pada sejumlah ATP Tours pada penghujung 2012 hingga Australia Open 2013. Yang saya ingat saat itu hanyalah: Stan adalah seorang petenis dengan one-handed backhand yang bertenaga. Tidak lebih. Saya justru menduga bahwa Dimitrov Si Bayi Federer yang akan bersinar. (Ya, saya memang pengagum backhand dengan satu tangan)

Ternyata, Stan the Man baru bersinar terang di usia yang tidak terlalu muda bagi seorang atlet. Jika anda terus menerus menyaksikan Stan bermain sejak akhir tahun 2012-an, anda akan menyaksikan persistensi yang luar biasa terpancar dari dirinya. Meskipun sama-sama orang Swiss, Stan agak beda nasib dengan Federer yang memak sejak zaman baheula sudah jadi raja (atau salah satu raja) tennis dunia. Bahkan di usia senjanya, 36 tahun, kini Federer malah kembali meraih peringkat 1 dunia.

Terkadang, karir Federer agak kurang manusiawi karena terlalu sempurna. Stan adalah contoh yang manusiawi. Ia tidak sempurna — kadang kurang tenang atau presisi seperti Federer — tetapi terus melaju dan persistent dalam ketidaksempurnaannya. Mengingatkan saya akan kalimat bijak dari Tiongkok kuno yang kurang lebih begini: nggak masalah jalannya lambat, yang penting nggak pernah berhenti.

Di lengan kirinya, Stan ternyata pun memajang tattoo yang merupakan kutipan dari Worstward Ho, prosa yang ditulis oleh dramawan Irlandia Samuel Beckett:

Ever tried. Ever failed. No matter. Try again. Fail again. Fail Better.