Jadilah Betere Juristen!

Prof. Soerjono Soekanto, salah satu pengembang Sosiologi Hukum di Indonesia pada umumnya, dan FHUI pada khususnya, pernah menulis dalam sebuah buku tipisnya yang kurang lebih begini:

Belajar sosiologi hukum bukan untuk menjadi setengah sosiolog (halve sociologen)  melainkan menjadi sarana untuk menjadi yuris yang baik (betere juristen)

Saya memaknai pernyataan Prof. Soer itu sebagai berikut. Pertama, Belajar sosiologi hukum fokusnya bukan pada aspek sosiologi-nya, tetapi aspek hukum-nya. Dan, kalau hanya paham setengah (halve) soal kerangka teoretik dan metodologi sosiologis, ya lebih baik tidak usah belajar sosiologi hukum. Ngecap teori saja tidak cukup. Metodologi wadjib! Keduanya itu satu paket. Jangan dipisah-pisah.

Kedua, Jangan sampai gagal paham. Yang jadi orientasi itu menjadi yuris yang baik, menjadi betere juristen. Yuris yang baik, dalam pemahaman saya, meminjam istilah Prof. Djokosoetono, adalah mereka yang geordend denken en geordend doordenken (berpikir tertib dan berpikir menembus secara tertib). Berpikir tertib sebagai yuris itu artinya taat asas dalam koridor ilmu hukum. Berpikir revolusioner untuk pembaruan dan kritik terhadap hukum sah-sah saja, sepanjang dilaksanakan dengan isi kepala yang taat asas.

Lantas, bagaimana bisa belajar sosiologi hukum malah membuat kita jadi taat asas dalam belajar ilmu hukum?

Jawabannya adalah: sosiologi hukum dapat menjadi rambu-rambu.

Ini pengalaman saya. Dengan belajar sosiologi, saya justru jadi paham kapan saya, yang juga seorang sarjana hukum ini, harus berbicara dalam kerangka issues-rules-analysis-conclusion (IRAC) dan kapan saya harus berbicara dalam koridor ilmiah, yakni issues-theory-methodology-analysis-conclusion (IT-MAC).

Saya lebih memahami bahwa menjadi sarjana hukum itu ada batasnya, yaitu batas-batas berupa asas-asas hukum. Jangan sampai sebagai sarjana hukum bertindak secara offside, seperti secara serampangan dan tidak ilmiah menyatakan suatu peraturan efektif atau tidak efektif dalam masyarakat tanpa bukti (evidence) dan pemahaman atas metodolog penelitian ilmiah (sosial). Dengan pemahaman itu, bisa jadi sarjana hukum dapat sadar bahwa itu bukan urusan ilmu hukum, tetapi itu urusan behavioral studies: urusannya sosiologi hukum, psikologi hukum, law & economics dan seterusnya.

Sarjana hukum itu IRAC dan IRAC adalah sarjana hukum. Ilmu pengetahuan lain itu memang bersifat pengayaan. Namun demikian, lain soal jika Anda memang gemar menjadi peneliti, berorientasi pada kebijakan publik, atau mungkin bersemangat dalam upaya pembaruan (sistem) hukum. Nah, kalau itu, mau tidak mau, anda butuh bantuan ilmu pengetahuan lain, salah satunya sosiologi.