FAQ: Apa Beda Sosiologi Hukum dan Antropologi Hukum?

Ini adalah pertanyaan yang paling sering muncul ketika berdiskusi dengan mahasiswa yang  mengambil mata kuliah Hukum & Masyarakat di FHUI.

Memang bisa jadi agak sulit dibedakan belakangan. Intinya apapun lah yang — mengutip salah seorang mahasiwa FHUI dalam sebuah survei — “ke-FISIP-FISIP-an.” Benar juga sih, Sosiologi dan Antropologi memang bernaung di PISIF.

Tapi memang sebegitunya sehingga tidak bisa dibedakan? Prof. Sulis sering berujar bahwa sekat antara antropologi dan sosiologi sebetulnya sudah kabur dalam bingkai academic movement yang bernama Kajian Sosio-legal, atau dalam bingkai lain yang sudah popular sebelumnya di Amrik tahun 60-an: Hukum & Masyarakat (H&M) .

Sedikit banyak kita akan menemukan perbedaan antara keduanya jika menilik pada sejarah masing-masing.

Sosiologi, menurut pendapat mayoritas, berkembang ketika masyarakat Eropa sedang dalam kondisi anomie (google sendiri apa ini kalau tidak tahu), ketika Eropa sedang berada pada masa puncak revolusi industri. Revolusi industri membuahkan perubahan sosial di kalangan masyarakat Eropa kala itu. Voila! Sosiologi pun muncul.

Namun demikian, kata sebagian yang lain, ketika Ibn Khaldun rampung menggarap Muqaddimah pada tahun 1377, ketika itu pulalah sebetulnya sosiologi muncul sebagai sebuah ilmu pengetahuan.

Sementara Antropologi (Sosial-Budaya) dulunya mengemuka sebagai sesuatu yang disebut etnografi (ethno + graphein). Berpijak pada akar katanya, dulunya lebih kurang lebih antropologi itu semacam catatan traveling orang Eropa yang jalan-jalan ke suatu daerah di luar Eropa yang menurut mereka eksotik.

Akumulasi dari kegemaran mencatat itu adalah magnum opus etnografi pada masa berikutnya yang membuat orang Eropa kadang mbatin dalam hati “oh, ternyata orang-orang eksotik ini cara hidupnya, bagaimana mereka membuat hukum, bagaimana mereka memidana si bersalah, dan seterusnya ternyata beda dengan diriku.

Jadi, dari sejarahnya, keduanya tampak berbeda. Bagaimana selain itu?

IMHO, karakteristik yang paling distingtif antara keduanya itu adalah soal penekanan yang luar biasa dalam sosiologi tentang Pranata atau Institusi atau Lembaga Sosial (social institution) yang membentuk, mengarahkan, atau membatasi perilaku manusia. Hukum (peraturan, konvensi, dan seterusnya) adalah salah satu dari Pranata atau Institusi atau Lembaga Sosial bersama Agama, Adat, Keluarga, dan lain sebagainya. Proses membentuk, mengarahkan, atau membatasi tadi sering disebut sebagai institutionalization.

soal institution dan institutionalization ini, entah kenapa, dulu saya lebih mudah memahaminya setelah menonton Shawshank Redemption yang ber-rating 9.3/10 itu. Pada sebuah adegan, yang menurut saya paling mengharukan dalam film itu, Brooks Hatlen akhirnya selesai sudah masa pemenjaraannya. Keluarlah ia dari penjara. Singkat cerita, Brooksy baper berat. Dia tampak sulit menjalani hidup yang sudah terlanjur ber-atmosfer lapas. Hidup Brooksy sudah demikian embedded dengan kehidupan lapas. Hidup seperti tiada artinya pasca-penjara. Lantas, Red, Heywood, dan Ernie — teman-teman Brooksy yang masih di penjara — terlibat pembicaraan di dekat tembok penjara sebagaimana yang ditranskripsi oleh IMDB berikut ini:

Red: These walls are funny. First you hate ’em, then you get used to ’em. Enough time passes, you get so you depend on them. That’s institutionalized.

Heywood: Shit. I could never get like that.

Ernie: Oh yeah? Say that when you been here as long as Brooks has.

Red: Goddamn right. They send you here for life, and that’s exactly what they take. The part that counts, anyway.

Itu singkat cerita tentang sosiologi.

Sementara itu, lagi-lagi IMHO, antropologi itu sangat menekankan pada bagaimana manusia memaknai (meaning) lingkungan sosial sekitarnya, termasuk memaknai Pranata atau Institusi atau Lembaga Sosial yang sudah disebutkan tadi. Unit analisisnya cenderung berpusat ke pemaknaan manusia. Masuk akal jika Antroplogi terdiri atas kata Anthropos (manusia) dan Logos (nalar).

Walaupun, sekali lagi, memang lama-lama agak kabur juga ya batas antara sosiologi dan antropologi. Karenanya mungkin, belakangan bendera yang dipakai bersama (termasuk bersama Ilmu Ekonomi, Psikologi, dan seterusnya) adalah academic movement multidisipliner seperti Kajian Hukum Empiris. Lihatlah Journal of Empirical Legal Studies yang kini dapat diakses secara gratis dalam lingkungan Universitas Indonesia.