Pengaruh Sistem Teknologi Mata Pencaharian pada Sistem Budaya

Di dalam strukturalisme dan pascastrukturalisme kebudayaan dipandang sebagai sebuah struktur. Hal ini secara eksplisit menyatakan bahwa dalam memandang sebuah kebudayaan kita tidak bisa melepaskan komponen-komponen lain yang berada di sekitar manusia sebagai individu yang terkait erat dengan lingkungan tempat mereka tinggal dan membentuk suatu kebudayaan sebagai identitas dari eksistensi mereka.

Dalam proses kebudayaan, manusia perlu adaptif terhadap lingkungannya, jika tidak mereka tidak akan bisa bertahan untuk hidup. Dalam usaha manusia melakukan adaptasi terhadap lingkunganya, mereka dituntut untuk menciptakan alat-alat (artefak) yang digunakan sebagai upaya dalam beradaptasi dengan lingkungannya untuk bertahan hidup. Perkembangan zaman ke arah modern telah banyak mengubah pola kehidupan sosial di dalam kebudayaan. Jika, zaman dahulu manusa beradaptasi dengan lingkungannya hanya untuk tujuan bertahan hidup, maka pada zaman modern manusia mulai menimbulkan sistem dan pola sosial baru di dalam kebudayaannya.

Adaptasi manusia dengan lingkungannya menimbulkan interaksi antara manusia terhadap lingkungannya. Dalam kasus ini berlaku determinasi lingkungan, artinya manusia terdefenisi dalam segala aspek kehidupannya nanti dalam usaha beradaptasi dengan lingkungannya. Sejalan dengan pemikiran Leslie White yang mengatakan bahwa kebudayaan juga merupakan extrasomatic, artinya bahwa faktor luar (dalam hal ini: lingkungan) memberi pengaruh di dalam individu dan pola sosial kehidupan manusia di dalam kebudayaannya.

Koentjaraningrat membagi masyarakat Indonesia ke dalam beberapa kelompok tipe sosial budaya yang erat kaitannya dengan lingkungan, artefak, dan mata pencarian.

  1. tipe sosial budaya berburu meramu,
  2. tipe sosial budaya perladangan (ladang bakar),
  3. tipe sosial budaya nelayan,
  4. tipe sosial budaya ternak,
  5. tipe sosial budaya pertanian irigasi,
  6. tipe sosial budaya jasa (termasuk di dalamnya perdagangan, transportasi).

Sistem teknologi mata pencarian berdasarkan tipe sosial budaya ini memiliki pengaruh terhadap sistem budaya lain seperti: kepercayaan/keyakinan, struktur/organisasi kemasyarakatan,  pengetahuan, pola pemukiman, kesenian dan bahasa dari masyarakat tertentu. Saya akan mengambil tipe sosial budaya nelayan pesisir untuk dijadikan contoh.

Pada masyarakat nelayan pesisir banyak terdapat artefak yang berkaitan dengan sistem teknologi mata pencariannya. Bermacam-macam model perahu, dari model sampan tanpa cadik, perahu bercadik, perahu berlayar dan bercadik, hingga perahu dengan kelengkapan motor sebagai tenaga penggeraknya. Kemudian masih ada macam-macam tipe jaring, pancing, dan alat-alat yang berguna untuk mengambil dan mengelola hasil laut yang digunakan sebagai alat unuk menjalankan strategi mereka dalam “menaklukan” alam di tempat mereka tinggal.

Di bidang kepercayaan/keyakinan masyarakat nelayan, spiritualitas mereka juga dipengaruhi oleh sistem teknologi mata pencarian yang dipengaruhi juga oleh lingkungan di tempat mereka bermukim. Sistem budaya keyakinan masyarakat nelayan sangat dipengaruhi oleh sistem mata pencariannya. Masyarakat nelayan banyak yang memiliki kepercayaan yang terkait dengan profesi mereka sebagai nelayan dan alam pesisir. Walaupun sebagian kawasan pesisir di Indonesia masyarakatnya sudah menganut agama-agama yang terdapat di Indonesia, tetapi secara spiritualitas masih ada kepercayaan-kepercayaan yang mereka yakini sebagai usaha mereka untuk “menaklukan” dan hidup berdampingan dengan alam dan lingkungan pesisir tempat mereka bermukim. Masyarakat nelayan masih melakukan ritual-ritual di pantai dan laut sebagai wujud aplikasi sistem budaya keyakinan/spiritualitas mereka sebagai masyarakat nelayan yang hidup di daerah pesisir pantai.

Di dalam sistem budaya organisasi kemasyarakatan, masyarakat nelayan yang bermukim di pesisir pantai juga dipengaruhi oleh mata pencarian mereka sebagai nelayan. Banyak terdapat paguyuban-paguyuban nelayan yang kegiatannya berkaitan dengan kelancaran mereka dalam melakukan mata pencarian mereka sebagai nelayan. Di dalam paguyuban tersebut mereka berbagi informasi, pengalaman, dan mungkin juga merancang mekanisme kerjasama antar nelayan dalam memudahkan mereka melakukan profesi mereka sebagai nelayan. Selain itu juga terdapat organisasi masyarakat berupa koperasi-koperasi nelayan yang sangat berguna dalam kelancaran segala macam proses pelaksaan kegiatan mereka sebagai nelayan di pesisir pantai.

Di dalam sistem budaya pengetahuan, masyarakat memiliki pengetahuan tentang daerah pesisir pantai, laut, angin, posisi bintang, dan awan yang lebih mendalam dibanding pengetahuan dari masyarawakat awam tentang hal-hal yang telah disebutkan. Pengetahuan ini sangat berguna bagi kelancaran dan keamanan mereka dalam melakukan profesi mereka sebagai nelayan. Tanpa menunggu kabar dari BMKG, dengan beberapa gejala alam yang mereka rasakan dan perhatikan dari angin, warna langit, bentuk awan, posisi bintang, dan riak ombak di laut mereka bisa mengambil kesimpulan waktu yang tepat, dan lokasi yang menguntungkan dan aman bagi mereka untuk pergi melaut. Kondisi alam dan lingkungan di tempat mereka bermukim telah memaksa mereka untuk memiliki pengetahuan yang lebih tentang beberapa hal yang telah saya sebutkan di atas, jika tidak demikian maka akan banyak di antara mereka akan mengalami kendala sebagai nelayan dan bermukim di daerah pesisir pantai.

Pola pemukiman masyarakat nelayan di pesisir pantai pun disesuaikan dengan profesi mereka sebagai nelayan. Rumah-rumah penduduk pesisir pantai yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan pada bagian depan dan belakang rumah itu akan memiliki pintu untuk akses masuk ke dalam rumah. Hal ini disebabkan karena kenyataan bahwa profesi kepala keluarga di rumah itu adalah seorang nelayan, jika yang bersangkutan baru pulang dari melaut dia bisa langsung masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang rumah yang langsung berhadapan dengan pantai. Setiap rumah pun biasanya memiliki satu tempat tertentu di dalam rumah tempat si nelayan merapikan jaring untuk menangkap ikan dan merapikan pancing, atau sekedar tempat untuk memperbaiki dan menyimpan bagian-bagian mesin kapal yang perlu dibenahi. Bagian dapur pun memiliki ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan rumah masyarakat yang tidak tinggal di pesisir pantai dan tidak memiliki mata pencarian sebagai nelayan. Dapur seperti ini dibuat dengan tujuan penempatan hasil tangkapan mereka di laut dan tempat sementara untuk perkakas yang dipakai melaut sebelum perkakas itu dibersihkan dan disimpan di tempat penyimpanannya. Hal ini saya perhatikan di tempat saya berasal, di pesisir pantai Pariaman, Kabupaten Padang-Pariaman, Sumatera Barat.

Bidang kesenian juga mendapat pengaruh dari sistem budaya mata pencarian nelayan di pesisir pantai ini. Banyak terdapat alat musik tiup tradisional yang terbat dari daun kelapa yang banyak terdapat di daerah pesisir pantai. Selain itu di dalam seni “saluang” yang merupakan penuturan kisah-kisah adat dan petatah petitih berisi nasihat yang dilantunkan oleh perempuan dan diiringi oleh suara tiupan alat musik “saluang” biasanya diselingi dengan latar belakang ombak dan gemerisik daun-daun pohon kelapa yang ditiup angin, serta deburan ombak di malam hari. Latar belakang “suara alam” ini tanpa terasa menjadi bagian penting di dalam kesenian ini, karena pada masa modern kesenian saluang ini juga mengalami proses modernisasi, sekarang banyak kesenian saluang yang direkam ke dalam bentuk CD dan kaset, namun “suara-suara alam” dari pesisir pantai juga tetap dimasukkan dengan efek-efek dari alat musik yang sudah modern. Tanpa bunyi deburan ombak, gemerisik daun pohon kelapa yang ditiup angin rasanya itu bukan kesenian saluang yang berasal dari daerah pesisir pantai Pariaman di Sumatera Barat.

Jika dibandingkan dengan masyarakat bukan nelayan yang tidak tinggal di daerah pesisir pantai, maka dari segi bahasa terdapat kosa kata yang lebih beragam yang berhubungan dengan laut, ikan, kapal, posisi bintang, bentuk awan, dan angin, serta perkakas mereka untuk melaut. Selain itu, bahasa lisan masyarakat pesisir biasanya terkenal dengan suara yang keras nyaris berteriak, hal ini merupakan adaptasi mereka dalam berkomunikasi secara lisan dengan alam pesisir pantai, karena terlalu banyak latar suara deburan ombak dan angin yang mengganggu percakapan jika mereka berkomunikasi dengan volume suara yang kecil.

Jadi dapat disimpulkan, sebagai suatu struktur, maka kebudayaan juga akan dipengaruhi oleh lingkungan tempat kebudayaan itu tumbuh dan berkembang. Selain itu, sistem budaya mata pencarian pun dapat memberikna pengaruh kepada sistem budaya lainnya.

Bibliografi

Hardesty, Donald R, dkk. 2008. Bahan Kuliah Teori Kebudayaan: Kebudayaan sebagai Sistem Adaptasi terhadap Lingkungannya. Program Pascasarjana KWE Universitas Indonesia.

Koentjaraningrat. 2004. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Djambatan.

Kuncaraningrat. 1984. Masyarakat Desa di Indonesia. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Strasser, Hermann and Susan C. Rendall. 1981. An Introdustion to Theories of Social Change. London: Routledge & Kegan Paul.

About Fajar Muhammad Nugraha, S.Hum.

======== ============= ================= ============= ========

Comments are closed.