Negeri Para Dewa

Negeri Para Dewa

Pamulang, 11 November 2018

Oleh: Muhammad Fadlan

 

Hari itu ku dengar berita duka, satu sukma terpisah dari raga

Ratusan nyawa terkurung jua dalam segara

Isak tangis manusia mengundang  bela sungkawa setiap rasa

Negeriku dirundung duka

Bencana dimana-mana, menelan setiap yang bernyawa

Mengejar yang berlari, mencari yang bersembunyi

Meluluhlantakkan bumi ibu pertiwi

 

Oh negeriku dirundung duka

Seorang pahlawan devisa harus menemui ajal karena membela kehormatannya

Dianiaya sekawanan pemuda hingga diperkosa

Eksekusinya tanpa notifikasi ke keluarga, juga negara

 

Para dewa sepertinya enggan mengudar rasa

Kehadirannya yang secara tiba-tiba tampaknya terpaksa

Didepan awak media berbicara seakan membela

Entah itu fakta atau hanya sebatas retorika

Atau sedikit pesta untuk menghiasi sandiwara

Tampaknya membela satu nyawa anak bangsa hanya sia-sia

 

Negeri para dewa

Kedunguan penguasa menyebabkan duka dan bencana

Kicauan mereka menyolot perpecahan kapan saja dimana saja

Keberadaannya memuakkan setiap wajah yang memandang

Memusnahkan kebahagiaan yang tertanam

Demagogi dijadikannya narasi hari-hari

Tiada yang lain, kecuali materi dan materi yang ada di dalam hati

 

Negeri para dewa

Siapa saja bisa menjadi dewa

Yang kaya kapan saja dapat menjadi raja

Yang punya kuasa dimana saja bisa menguras harta

 

Jangan heran,

Mengapa yang tak bisa memegang kuasa

Yang bekerja selalu dihina, yang tak punya semakin sengsara

Di negeri para dewa

Hanya dewa yang boleh bahagia karena mereka yang kuasa

Hanya dewa yang boleh kaya karena dewa yang menguasai harta

 

Ohh saudaraku yang berselimut duka

Tak pantas kau hinakan dirimu, mengemis keadilan di negeri dewa, siapapun engkau

Kalaupun kau korbankan nyawa, keadilan tak akan datang jua

Kebesaran hatimu yang tulus lebih mulia daripada para dewa yang durjana

Tenanglah, suatu saat akan tiba masa

Dimana para dewa hina, semua topengnya terbuka