Muhammad Sadad dan Lagu Sombong FEUI

Dulu, sekitar 50 tahun yang lalu, antara tahun 1970an -1980an, di FEUI ada lagu sombong yang membanding-bandingkan kuliah di FEUI dengan fakultas-fakultas lainnya. Kalau kuliah di tempat lain, sudah kuliahnya lama, paling-paling jadi dukun (FK), buka bengkel (FT), ngurus maling (FH), lurah (FISIP), ngurus orang gila (Psikologi), atau tidak ada masa depan (Sastra). Kalau kuliah di Ekonomi, paling sial jadi menteri.

Lagu itu sebetulnya lagu masa-masa perpeloncoan, di mana ada saat-saat mahasiswa baru seluruh UI berkumpul di Salemba atau Rawamangun dan masing-masing fakultas saling membangga-banggakan fakultasnya masing-masing. Intinya, mahasiswa baru harus punya kebanggaan dengan fakultasnya masing-masing. Jadi bukan sombong beneran sih.

Masa itu memang merupakan masa-masa kejayaan FEUI di mana FEUI di bawah kepemimpinan Prof Widjojo Nitisastro, dipercaya oleh Presiden Soeharto untuk memperbaiki kondisi ekonomi. Pernyataan ‘paling sial jadi menteri’ merupakan pencerminan kondisi saat itu di mana ada serombongan dosen-dosen FEUI yang mengisi seluruh jabatan menteri di bidang ekonomi. Jadi pada saat pembentukan kabinet sepertinya presiden Soeharto selalu berkonsultasi dengan Prof Widjojo.

Mahasiswa FEUi pada saat itu terbiasa melihat menteri-menteri dan pejabat tinggi negara lainnya berkeliaran di kampus ketika mereka mengajar. Dan itu membanggakan. Mungkin kalau sekarang mirip-mirip dengan kebanggaan mahasiswa sekarang ketika mengikuti kuliah umum Sri Mulyani. Tapi dulu itu sering terjadi. Bukan sekali-sekali.

Menariknya, “paling sial jadi menteri” ternyata bukan sekedar hiperbola. Bambang Brodjonegoro pernah mengalaminya ketika ia mengikuti pemilihan Ketua Umum Iluni di tahun 2019. Ketika itu ia menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN). Dan ketika kalah dalam pemilihan itu, ia membuktikan bahwa memang paling sial ia menjadi menteri.

Dengan pembukaan panjang lebar ini, sebetulnya saya mau bercerita tentang Muhammad Sadad, yang saya anggap antitesis dari kesombongan lagu FEUI itu. Sadad pernah kuliah di FEUI tapi tidak menyelesaikannya. Ia sibuk berbisnis dan pada saat ini berhasil mengembangkan brand apparel Erigo. Jadi, ia berhasil membebaskan diri dari kutukan paling sial jadi menteri.

Sejak kuliah, Sadad memulai usaha kecil-kecilan. Menurut pengakuannya, sedari awal ia ingin menjadi pengusaha setelah melihat pengalaman buruk ayahnya yang bekerja di bank yang mengalami pengalaman buruk korban dari office politics. Ia memulai usahanya dengan menjadi calo tiket Maroon 5, entah yang tahun 2011 atau 2012. Modalnya sebesar Rp. 5 juta dipinjam dari adiknya yang mendapat uang dari orang tua mereka untuk membeli laptop. Dan ketika itu, ia memperoleh pengembalian dua kali lipat. Model bisnisnya adalah menitipkan pembelian tiket ke orang-orang yang dikenalnya, karena promotor biasanya membatasi pembelian tiket untuk mencegah percaloan. Lalu ia menjualnya melalui kaskus atau menawarkan kepada orang-orang yang mencari tiket melalui twitter.

Usaha percaloan tiket ini tidak berjalan lama. Sadad mengalami kerugian besar pada konser Super Junior. Begitu bersemangatnya ia untuk meraup keuntungan, ia mengerahkan 100 orang untuk memesan tiket. Entah bagaimana ia mendapatkan modalnya. Mungkin pinjam sana sini. Namun kemudian , promotor menambah jadwal konser 1 hari karena melihat banyak penggemar SuJu yang belum mendapatkan tiket.

Sadad langsung bangkrut. Dari pengalaman ini ia belajar bahwa bisnis percaloan bukan bisnis yang baik karena mengambil hak orang lain untuk menonton dan memaksa mereka untuk membayar lebih mahal. Ia kemudian banting setir. Kebetulan ada rekannya yang membantunya menjual tiket mengajaknya berbisnis pakaian. Sadad langsung mencobanya, walaupun ia tidak tahu sama sekali mengenai bisnis pakaian.

Sadad mengaku memang berani mencoba walaupun tidak memiliki pengetahuan yang cukup. Prinsipnya kalaupun mentor, dia mendapat pelajaran. Mungkin ibaratnya ia berani dicemplungin ke kolam renang walaupun tidak bisa berenang. Ia akan terpaksa belajar berenang supaya tidak tenggelam. Bagaimana kalau ternyata ia gagal dan akhirnya tenggelam? Nah kebetulan Ia punya lifesaver, yaitu orang tuanya.

Jadi, waktu itu ia sebetulnya belum jelas jenis pakaian apa yang akan dijual. Jadi coba-coba saja, dengan berfokus kepada kualitas bahan yang dipilihnya sendiri di Pasar Cipadu. Ternyata tidak ada pembeli yang tertarik. Kebetulan, brand yang digunakannya, Selected & Co, sudah didaftarkan oleh orang lain. Terpaksa Sadad harus mengganti brandnya sekaligus untuk memulai kembali dari nol.

Sadad belajar bahwa untuk menjalankan bisnis berbeda dengan menjadi calo tiket. Harus punya konsep. Pada Juni 2013 ia mulai menggunakan brand Erigo dengan fokus menjual pakaian batik dan tenun ikat kasual. Ia menjualnya melalui instragram dan untuk menarik perhatian, ia melakukan pemotretan sampai ke Singapore. Namun konsepnya ternyata tidak berhasil yang menyebabkan ia tidak mampu membayar hutangnya. Orang tuanya turun tangan untuk membantunya dengan menjual ruko mereka. Sadadpun juga terpaksa tidak dapat meneruskan kuliah karena dipusingkan dengan tagihan-tagihannya itu.

Pada 15 September 2014 Sadad memulai usahanya kembali dengan melakukan rebranding Erigo. Kali ini ia menjual pakaian street styles dan travelling dengan target pasar generasi milenial. Kali ini ia berhasil karena target pasarnya adalah pengguna aktif Instagram. Komunikasinya di Instagram semakin menarik perhatian karena ia menerapkan konsep yang berbeda dengan kebanyakan penjual di instagram. Ia tidak sekedar menayangkan produk-produknya. Sesuai dengan konsep pakaian yang dijualnya, yaitu travelling, pemotretan dilakukan di berbagai lokasi. Bahkan sampai ke Jepang.

Untuk meningkatkan penjualan, Erigo kemudian mengikuti berbagai pameran di pusat perbelanjaan atau bazar-bazar yang diadakan di berbagai kota. Usaha ini berhasil. Pada tahun 2015, mereka meraih penjualan tertinggi. Namun marjin keuntungannya lebih kecil, karena mereka harus membayar biaya transportasi dan akomodasi, selain sewa tempat. Selain itu, tidak semua pameran berhasil mendatangkan penjualan. Hal lain yang meningkatkan penjualan Erigo adalah kerjasama dengan Shopee di tahun 2017. Penjualan melalui Shopee juga terus meningkatkan penjualan Shopee.

Walaupun konsep bisnisnya sudah berhasil dan penjualan terus mengalami peningkatan, namun Sadad mengakui bahwa sebetulnya periode 2015-2018 merupakan periode perjuangan. Kelihatannya mereka terus dihantui oleh keterbatasan cash-flow karena mereka harus terus membiayai pertumbuhan. Mereka membutuhkan modal kerja yang semakin besar.

Puncak permasalahan terjadi di awal tahun 2019. Erigo menghadapi kesulitan, baik dari segi cash-flow maupun SDM. Lebih dari separuh timnya yang berjumlah 40 orang meninggalkan perusahaan dan menimbulkan permasalahan. Lalu instagram mereka juga di-hack. Dan pada akhirnya mereka mengalami kesulitan untuk membayar tagihan rekanan. Akibat permasalahan ini mereka harus pindah kantor, dari Kemang ke Parung. Selain itu, mobil Fortuner Sadad satu-satunya akan disita.

Momen penyitaan itu sangat diingat oleh Sadad. Di saat ia berbicara dengan rekanan yang akan menyita mobilnya di kantor, pada saat yang bersamaan istrinya mengirim hasil test-pack yang memberitakan kehamilannya. Sadad percaya bahwa ketika ia menghadapi kesulitan maka akan ada hal besar yang akan terjadi. Dari Parung mereka melakukan konsolidasi. Semua biaya dihemat, termasuk penggunaan agency untuk promosi. Semuanya dilakukan sendiri.

Sadad berhasil membuktikan keyakinannya. Mereka bangkit kembali dengan hasil yang lebih baik. Di akhir 2019 mereka mencapai penjualan tertinggi untuk kategori pakaian pada harbolnas di shopee, mengalahkan Ramayana. Keberhasilan ini menjadi energi bagi mereka untuk bangkit kembali.

Sejak tahun 2020, segalanya semakin baik bagi Erigo. Penjualan di tahun 2020 sampai mencapai 10 kali lipat penjualan tahun 2019. Brand mereka semakin dikenal. Mereka sudah bisa menyiapkan Gedung kantor, gudang dan pabrik yang luas di daerah Legok Karawaci.

Di tahun 2021, Presiden Jokowi juga sempat mengenakan bomber jacket Erigo yang tentunya sangat mempengaruhi penjualan Erigo. Puncaknya adalah di tahun 2022, ketika Sadad melakukan pertaruhan besar dengan mengikuti New York Fashion Week (NYFW) dengan membawa serombongan selebritis, termasuk Raffi Ahmad. Erigo juga memasang iklan pada billboard di Times Square.

Saya tidak mengenal Erigo sebelumnya, sehingga penasaran juga mengapa orang membeli Erigo. Saya coba tanya-tanya ke mbah google, maka jawabannya adalah harganya yang murah. Sepertinya selama ini, Erigo mengorbankan marjinnya untuk dapat menjual murah. Dengan volume penjualan yang meningkat pesat saat ini, seharusnya Erigo sudah memperoleh skala ekonomis yang memadai, sepanjang mereka dapat mengelola proses pemesanan, persediaan dan cash-flownya.

Hal kedua dari keunggulan Erigo adalah marketingnya yang hebat. Foto-foto di instagramnya sangat bagus, mengingatkan saya kepada foto-foto United Colors of Beneton atau Esprit (mudah-mudahan ada yang tahu dengan brand-brand lama ini).

Namun, marketing ini tampaknya juga dapat menjadi masalah bagi Erigo. Sadad tampaknya sangat jor-joran di marketing sehingga pengeluaran untuk kegiatan marketing dapat menggerus marjin perusahaan dan bahkan bisa menimbulkan kesulitan cash-flow bagi perusahaan. Sebagai contoh New York Fashion Week. Saya membayangkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan Erigo untuk kegiatan ini. Pasti sangat besar. Hasilnyapun terlihat. Sadad dan Erigo menjadi viral dan menarik perhatian banyak orang. Namun yang saya khawatirkan adalah apakah hasil yang diperoleh sepadan? Apakah ada peningkatan penjualan yang signifikan setelah Erigo mengikuti NYFW? Jika tidak, maka dampak dari kegiatan NYFW ini hanya cash flow yang negatif.

Fokus terhadap marketing juga dikhawatirkan membuat perusahaan mengabaikan aspek lain dari manajemennya. Misalnya bagaimana pengelolaan persediaan di perusahaan. Berdasarkan cerita Sadad, Erigo membutuhkan lahan yang luas karena mereka memiliki persediaan yang semakin lama semakin besar. Pertanyaannya apakah memang mereka membutuhkan persediaan yang begitu besar yang berdampak pada kebutuhan modal kerja yang besar? Kalaupun harus memiliki persediaan yang besar, bagaimana mereka mengelolanya agar tidak terjadi kerusakan, kehilangan (pencurian) atau sulit dicari?

Sadad juga menceritakan bahwa pada saat ini Erigo mempekerjakan 600-700 karyawan di kantor. Saya membayangkan pekerjaan mereka adalah memproses pemesanan yang datang setiap menitnya dan mengelola persediaan yang banyak itu. Tanpa otomasi, Erigo membutuhkan semakin banyak pegawai yang akibatnya dapat menimbulkan inefisiensi ataupun masalah SDM lainnya.

Di lain pihak, Sadad juga menjelaskan bahwa di perusahaannya tidak ada desainer. Mereka menggunakan bagian R&D untuk melakukan desain. Desain dan riset adalah pekerjaan yang berbeda. Desain adalah pekerjaan kreatif. Menjadikan Erigo sebagai perusahaan perdagangan pakaian, sebagaimana yang dinyatakan Sadad, dikhawatirkan akan menyebabkan keunggulan Erigo tidak berkelanjutan. Sadad harus menjadikan Erigo perusahaan produsen pakaian jadi.

Kembali ke lagu sombong FEUI, walaupun Sadad tidak menyelesaikan kuliahnya, ia tetap belajar. Ia punya prinsip: “There is no failure. You either succeed or you learn something”. Sadad sudah belajar banyak dari jatuh bangun usahanya ini. Salut untuk Sadad yang tidak sombong dan terus belajar 😊😊

Leave a Reply