Korupsi: dapatkah Perguruan Tinggi melindungi lulusannya?

Pada saat terjadi krisis ekonomi di Amerika Serikat tahun 2008, sekolah-sekolah bisnis mendapat sorotan dari masyarakat karena dianggap turut bertanggung jawab, karena sebagian besar pekerja Wall Street adalah lulusan sekolah bisnis. Perilaku spekulatif dan merugikan pihak lain yang mereka tunjukkan untuk mengejar laba dan bonus sebesar-besarnya dianggap tidak terlepas dari hasil pendidikan yang diperoleh di sekolah bisnis.


Wall Street memang merupakan tempat kerja idaman bagi mahasiswa sekolah bisnis karena menjanjikan pendapatan tertinggi yang dapat diperoleh oleh seorang lulusan. Kecepatan memperoleh pekerjaan dengan gaji pertama yang tinggi merupakan faktor penting bagi sekolah bisnis, sehingga mereka memiliki dasar untuk membebankan uang sekolah yang mahal.


Menghadapi tekanan publik, sekolah bisnis melakukan perubahan kurikulum, antara lain dengan menghidupkan kembali mata kuliah Etika Bisnis dan lebih menyeimbangkan antara pendekatan analisis kuantitatif dan kualitatif.


Perubahan seperti ini tampaknya yang diinginkan oleh Marzuki Alie ketika memberikan pernyataan kontroversial bahwa kebanyakan koruptor merupakan lulusan perguruan tinggi (PT). Pernyataan Marzuki Alie memancing kritik dan somasi dari para alumni, terutama karena ia menyebutkan beberapa nama PT terkemuka, tanpa didukung oleh data yang akurat. Akibatnya, isu yang lebih penting yaitu mengenai peran PT dalam mencegah korupsi luput dari perhatian. Menurut Marzuki Alie, jika PT dapat menghasilkan lulusan yang berakhlak mulia, maka mereka dapat menjadi pimpinan yang memberikan keteladanan untuk tidak melakukan korupsi.


Harapan Marzuki Alie mengingatkan kepada Dennis A. Gioia, professor dari Pennsylvania State University. Setelah menyelesaikan pendidikan MBA di tahun 1972, ia diterima bekerja di perusahaan impiannya, yaitu Ford Motor Company. Sebagai generasi tahun 1960an, ia aktif terlibat dalam demonstrasi anti perang Vietnam dan berbagai gerakan protes lainnya. Ia tumbuh menjadi orang yang sangat berprinsip . dan siap untuk mengubah dunia. Ia juga kritis terhadap perusahaan yang dianggapnya hanya mengejar laba. Ia bercita-cita untuk mengubah Ford dari dalam.


Tak lama kemudian, Gioia terbenam dalam keasyikan bekerja, menaklukkan satu tantangan ke tantangan lain, dan berlomba dengan pegawai baru lainnya untuk mendapat pengakuan sebagai “bintang yang cemerlang”. Iapun dengan cepat dipromosikan menjadi Field Recall Coordinator yang mengumpulkan informasi terkait dengan kemungkinan terjadinya masalah pada kendaraan dan memberikan rekomendasi untuk menarik kembali mobil-mobil yang bermasalah. Jabatan ini penting karena keputusannya dapat mempengaruhi keselamatan orang banyak.


Awalnya Gioia sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Ia mempertimbangkan banyak aspek, yang sampai membuatnya susah tidur. Namun, dengan berjalannya waktu, ia semakin trampil dalam pengambilan keputusan, dengan hanya memperhatikan beberapa faktor kunci. Kebetulan ketika itu perusahaan menghadapi tekanan persaingan dari Jepang yang mengakibatkan penurunan produksi dan pengurangan pekerja secara signifikan. Dengan demikian pertimbangan kelangsungan hidup perusahaan menjadi dominan, termasuk ketika ia merekomendasikan Ford Pinto, salah satu dari sedikit andalan perusahaan, untuk tidak perlu ditarik kembali. Padahal telah jatuh beberapa korban yang terbakar karena adanya kesalahan dalam disain dan penekanan biaya produksi. Kasus Ford Pinto pada akhirnya meledak menjadi isu nasional. Gioia, setelah keluar dari perusahaan, mengakui keputusannya merupakan keputusan yang tidak etis. Namun semasa ia bekerja di perusahaan ia tidak memiliki sedikit keraguan. Paket sistem, organisasi ,lingkungan kerja, dan budaya perusahaan berhasil mengubah Gioia menjadi orang yang berbeda, tanpa disadarinya.


Pengalaman Gioia memberikan ilustrasi betapa tidak mudah bahkan bagi orang yang memiliki prinsip yang kuat untuk tidak terpengaruh oleh nilai-nilai yang berlaku di organisasi tempat ia bekerja, terlebih sebagai pegawai baru yang masih nembutuhkan pengakuan.


Lalu, dapatkah PT melindungi lulusannya untuk tidak melakukan korupsi? Pada dasarnya tidak ada PT yang menyiapkan lulusannya untuk menjadi koruptor. Mereka hanya ingin memenuhi kebutuhan masyarakat atas SDM yang handal untuk mendukung perekonomian dan ekspektasi mahasiswa (dan orang tuanya) untuk memperoleh gelar dan ketrampilan yang menjadi kunci untuk memasuki lapangan kerja atau usaha dan meningkatkan karir. Fokus pembelajaran pada PT mengarah kepada peningkatan pengetahuan dan ketrampilan yang membantu lulusannya untuk bersaing di dunia kerja sehingga dapat memperoleh posisi dan pendapatan yang tinggi.


Berbagai literatur mengenai korupsi mengidentifikasi paling tidak terdapat tiga pemain yang yang membentuk jaringan dalam korupsi, yaitu: birokrat (birokrasi) politisi (partai politik) dan pengusaha/eksekutif (perusahaan). Kasus korupsi Wisma Atlet adalah salah satu contoh kasus korupsi yang terlihat yang melibatkan tiga pemain tersebut. Memang, tidak semua pemain terlibat korupsi namun tidak ada data yang valid dan akurat yang dapat membedakan antara pemain yang korup dan tidak korup. Sementara itu, Kompas 16 Mei 2012 mensinyalir mental korupsi sudah merata. Artinya, semakin sulit untuk mencari pemain yang tidak korup. Dalam lingkungan korup seperti ini, PT secara tidak langsung dan tanpa disadari memang mempersiapkan lulusannya untuk bekerja dan menjadi bagian dari jaringan korupsi.


Apa yang dapat dilakukan oleh PT untuk melindungi lulusannya tidak melakukan korupsi? Ada beberapa PT yang mulai mengupayakan perubahan, antara lain dengan memberikan mata kuliah Anti Korupsi untuk seluruh mahasiswanya. Namun satu mata kuliah mungkin tidak memberikan pengaruh yang besar. PT dapat melakukan perubahan yang lebih signifikan. Satu langkah perubahan adalah mengubah misinya dari menghasilkan lulusan sebagai tenaga kerja yang handal menjadi agen perubahan yang dapat membuat dunia yang lebih baik, yang dalam konteks Indonesia adalah dunia yang bebas dari korupsi.


Dengan perubahan misi, PT dapat mengubah kurikulum dan materi pembelajarannya yang lebih kontekstual. Kurikulum tersebut diharapkan memberikan pengetahuan yang memadai kepada mahasiswa mengenai lingkungan kerja dan usaha yang korup yang akan mereka hadapi. Selain itu, kurikulum diharapkan juga membekali mahasiswanya ketrampilan untuk mengatasi tekanan dan godaan untuk melakukan korupsi. Ketrampilan ini dapat diperoleh, menurut Biksuni Thubten Chodron (Kompas 16 Mei 2012), jika PT dapat membebaskan mahasiswa dari konsumerisme, yaitu membebaskan mahasiswa dari mengejar gaji yang tinggi, pujian dan persetujuan, reputasi dan citra, dan kenikmatan hidup. Untuk itu, kurikulum PT juga sebaiknya mengurangi tekanan kepada mahasiswa untuk menyelesaikan kuliah secepatnya sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk belajar langsung dari berbagai lapisan masyarakat, dan berdialog dengan diri sendiri.


Selanjutnya, proses pembelajaran tidak terbatas interaksi di dalam kelas, tetapi juga melalui keteladanan yang ditunjukkan tidak hanya dari pengajarnya ,tetapi juga dari pimpinan, gedung dan fasilitas, sistem dan tata kelola PT yang secara keseluruhan menunjukkan kebebasan dari empat aspek konsumerisme dan ketulusan untuk menjadikan dunia yang lebih baik.


Pada akhirnya, PT perlu untuk terus menjaga hubungan dengan dan antara para lulusannya, agar dapat saling menjaga untuk tetap bertahan dari konsumerisme dan korupsi.

One Response

  1. kidi
    kidi at |

    Saya sangat prihatin dengan kondisi bangsa ini yang semakin tidak tahu mau dibawa kemana negara ini, biaya pendidikan semakin tinggi…..
    Mahasiswa berlomba bagaimana caranya mendapatkan kelulusan pada setiap Mata kuliahnya, ada yang memang murni pinter dan sungguh-sungguh belajar tapi ada bahkan banyak juga yang sekedar lulus karena dia tahu nantinya kalau lulus dan mau jadi PNS harus bayar….terutama untuk CPNS yang tarifnya 150 s/d 200 jt adalah harga yang dipatok bila dari S1. dan ini semua bermula setelah otonomi pasca reformasi yang berujung pada otonomi, otonomi adalah bentuk melegalkan negara ini terhadap KKN Nggak percaya, renungkanlah hai sobat…..

    Reply

Leave a Reply