Siregar

Bagi yang kuliah di UI Salemba sekitar tahun 1970an-1980an mungkin masih ingat Siregar (kalau belum bermasalah dengan faktor U, tentunya hehe). Beliau ini hidup menggelandang sendiri di kampus, berjalan mengitari kampus Salemba atau duduk-duduk di tempat-tempat favorit-nya, antara lain cafeteria yang terletak di dekat Dewan Mahasiswa ataupu di taman FE. Dulu beliau memelihara bebarapa ekor anjing. Tapi kemudian anjingnya dibunuh oleh Menwa kalau tidak salah karena sempat menyerang mahasiswa yang kebetulan melintas bunderan yang terletak di FMIPA. Kebetulan memang lintasan di situ kurang penerangan sehingga agak mencekam jika sepi. Saya sendiri selalu was-was kalau melewati jalan itu menuju ke depan kampus, takut kalau anjing-anjing tersebut

Banyak versi cerita mengenai Siregar. Namun yang saya percayai adalah cerita bahwa beliau ini mahasiswa FEUI yang pintar. Beliau termasuk rombongan dosen-dosen FEUI yang mendapat beasiswa dari Ford Foundation, kalau tidak salah, untuk melanjutkan sekolah di Amerika. Rombongan tersebut kebanyakan menjadi Menteri dan pejabat tinggi Negara. Namun Siregar tidak menyelesaikan sekolahnya karena masalah asmara, mengalami gangguan kejiwaan dan kehidupannya berakhir dengan menggelandang di sekitar kampus bergantung kepada belas kasihan bekas teman-temannya dan mahasiswa yang sering nongkrong di kampus.

Sebetulnya saya ingin sekali berkenalan dengan beliau pada saat saya kuliah, namun saya tidak pernah mendapat kesempatan pada saat itu, selain juga tidak punya keberanian. Namun akhirnya kesempatan itu datang setelah saya menyelesaikan kuliah dan bekerja di kampus. Kejadiannya mungkin sekitar tahun 1990an, pada saat kampus Salemba sudah sepi karena sebagian besar fakultas sudah pindah ke Depok. Pada saat itu, sering sore-sore saya dengan beberapa teman makan tahu goreng di . warung sebelah mesjid ARH (bagi yang sudah lupa, di deretan itu ada warung tegal yang cukup besar dan warung nasi padang yang sotonya sangat enak). Siregar sering mengunjungi warung tersebut dan pada saat-saat itulah terjadi pertemuan , yang kemudian tercipta pertemanan di antara kita.

Kita sering ngobrol-ngobrol, walaupun saya lupa apa topik pembicaraan kita ketika itu. Sebagian cerita tentang kuliah beliau di Amerika dan juga tentang keluhan kesehatan beliau. Setelah hubungan semakin dekat, beliaupun menunjukkan rahasia isi tas koper yang selalu dibawanya. Saya tidak mengerti ketika ditunjukkan isi koper tersebut, karena saya hanya melihat tanah liat yang sudah kering di dalamnya. Beliau juga sering meminta bantuan sedikit uang dari saya. Belakangan permintaan itu semakin sering. Beliau sering menunggu saya di sudut-sudut koridor yang saya lalui. Sayapun kemudian merasa terganggu, berusaha menghindar dan menjadi dingin ketika terpaksa bertemu. Begitulah yang terjadi beberapa waktu sampai kemudian beliau menghilang dari kompleks Salemba. Ada yang bilang beliau menderita sakit dan diambil oleh keluarganya.

Pada saat in saya melihat betapa jahatnya saya. Pada saat orang membutuhkan pertolongan, saya malah berusaha menghindar dan bersembunyi. Pada saat melihat kecelakaan di jalan raya, misalnya, saya berusaha untuk cepat-cepat meninggalkan lokasi agar terhindar dari kewajiban menolong. Apalagi jika ada permintaan tolong yang datang terus menerus, seperti yang terjadi pada Siregar atau pengemis yang sama yang saya temui pada lokasi yang saya lalui

Saya jadi teringat sebuah film yang berjudul Things We Lost in the Fire, yang bagian dari film tersebut bercerita tentang seseorang yang tidak pernah berhenti ataupun putus asa untuk terus menjaga hubungan dengan teman masa kecilnya yang pencandu narkoba. Hanya dia yang bersedia berteman, sementara orang lain berupaya untuk menjauhi pecandu itu agar terhindar dari kemungkinan masalah-masalah yang terjadi, misalnya permintaan uang secara terus menerus. Dari film itu saya belajar bahwa Tuhan mungkin memang menciptakan orang-orang tertentu, yang selalu membutuhkan pertolongan, yang hidupnya tergantung dan menggelayuti orang lain, sebagai suatu kesempatan bagi orang lain untuk memberikan pertolongan dan berbuat kebaikan. Sayangnya saya justru lebih senang menghindar dan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Leave a Reply