Use your widget sidebars in the admin Design tab to change this little blurb here. Add the text widget to the Blurb Sidebar!

Korupsi: dapatkah Perguruan Tinggi melindungi lulusannya?

Posted: July 27th, 2012 | Author: | Filed under: Uncategorized | 1 Comment »

Pada saat terjadi krisis ekonomi di Amerika Serikat tahun 2008, sekolah-sekolah bisnis mendapat sorotan dari masyarakat karena dianggap turut bertanggung jawab, karena sebagian besar pekerja Wall Street adalah lulusan sekolah bisnis. Perilaku spekulatif dan merugikan pihak lain yang mereka tunjukkan untuk mengejar laba dan bonus sebesar-besarnya dianggap tidak terlepas dari hasil pendidikan yang diperoleh di sekolah bisnis.
Wall Street memang merupakan tempat kerja idaman bagi mahasiswa sekolah bisnis karena menjanjikan pendapatan tertinggi yang dapat diperoleh oleh seorang lulusan. Kecepatan memperoleh pekerjaan dengan gaji pertama yang tinggi merupakan faktor penting bagi sekolah bisnis, sehingga mereka memiliki dasar untuk membebankan uang sekolah yang mahal.
Menghadapi tekanan publik, sekolah bisnis melakukan perubahan kurikulum, antara lain dengan menghidupkan kembali mata kuliah Etika Bisnis dan lebih menyeimbangkan antara pendekatan analisis kuantitatif dan kualitatif.
Perubahan seperti ini tampaknya yang diinginkan oleh Marzuki Alie ketika memberikan pernyataan kontroversial bahwa kebanyakan koruptor merupakan lulusan perguruan tinggi (PT). Pernyataan Marzuki Alie memancing kritik dan somasi dari para alumni, terutama karena ia menyebutkan beberapa nama PT terkemuka, tanpa didukung oleh data yang akurat. Akibatnya, isu yang lebih penting yaitu mengenai peran PT dalam mencegah korupsi luput dari perhatian. Menurut Marzuki Alie, jika PT dapat menghasilkan lulusan yang berakhlak mulia, maka mereka dapat menjadi pimpinan yang memberikan keteladanan untuk tidak melakukan korupsi.
Harapan Marzuki Alie mengingatkan kepada Dennis A. Gioia, professor dari Pennsylvania State University. Setelah menyelesaikan pendidikan MBA di tahun 1972, ia diterima bekerja di perusahaan impiannya, yaitu Ford Motor Company. Sebagai generasi tahun 1960an, ia aktif terlibat dalam demonstrasi anti perang Vietnam dan berbagai gerakan protes lainnya. Ia tumbuh menjadi orang yang sangat berprinsip . dan siap untuk mengubah dunia. Ia juga kritis terhadap perusahaan yang dianggapnya hanya mengejar laba. Ia bercita-cita untuk mengubah Ford dari dalam.
Tak lama kemudian, Gioia terbenam dalam keasyikan bekerja, menaklukkan satu tantangan ke tantangan lain, dan berlomba dengan pegawai baru lainnya untuk mendapat pengakuan sebagai “bintang yang cemerlang”. Iapun dengan cepat dipromosikan menjadi Field Recall Coordinator yang mengumpulkan informasi terkait dengan kemungkinan terjadinya masalah pada kendaraan dan memberikan rekomendasi untuk menarik kembali mobil-mobil yang bermasalah. Jabatan ini penting karena keputusannya dapat mempengaruhi keselamatan orang banyak.
Awalnya Gioia sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Ia mempertimbangkan banyak aspek, yang sampai membuatnya susah tidur. Namun, dengan berjalannya waktu, ia semakin trampil dalam pengambilan keputusan, dengan hanya memperhatikan beberapa faktor kunci. Kebetulan ketika itu perusahaan menghadapi tekanan persaingan dari Jepang yang mengakibatkan penurunan produksi dan pengurangan pekerja secara signifikan. Dengan demikian pertimbangan kelangsungan hidup perusahaan menjadi dominan, termasuk ketika ia merekomendasikan Ford Pinto, salah satu dari sedikit andalan perusahaan, untuk tidak perlu ditarik kembali. Padahal telah jatuh beberapa korban yang terbakar karena adanya kesalahan dalam disain dan penekanan biaya produksi. Kasus Ford Pinto pada akhirnya meledak menjadi isu nasional. Gioia, setelah keluar dari perusahaan, mengakui keputusannya merupakan keputusan yang tidak etis. Namun semasa ia bekerja di perusahaan ia tidak memiliki sedikit keraguan. Paket sistem, organisasi ,lingkungan kerja, dan budaya perusahaan berhasil mengubah Gioia menjadi orang yang berbeda, tanpa disadarinya.
Pengalaman Gioia memberikan ilustrasi betapa tidak mudah bahkan bagi orang yang memiliki prinsip yang kuat untuk tidak terpengaruh oleh nilai-nilai yang berlaku di organisasi tempat ia bekerja, terlebih sebagai pegawai baru yang masih nembutuhkan pengakuan.
Lalu, dapatkah PT melindungi lulusannya untuk tidak melakukan korupsi? Pada dasarnya tidak ada PT yang menyiapkan lulusannya untuk menjadi koruptor. Mereka hanya ingin memenuhi kebutuhan masyarakat atas SDM yang handal untuk mendukung perekonomian dan ekspektasi mahasiswa (dan orang tuanya) untuk memperoleh gelar dan ketrampilan yang menjadi kunci untuk memasuki lapangan kerja atau usaha dan meningkatkan karir. Fokus pembelajaran pada PT mengarah kepada peningkatan pengetahuan dan ketrampilan yang membantu lulusannya untuk bersaing di dunia kerja sehingga dapat memperoleh posisi dan pendapatan yang tinggi.
Berbagai literatur mengenai korupsi mengidentifikasi paling tidak terdapat tiga pemain yang yang membentuk jaringan dalam korupsi, yaitu: birokrat (birokrasi) politisi (partai politik) dan pengusaha/eksekutif (perusahaan). Kasus korupsi Wisma Atlet adalah salah satu contoh kasus korupsi yang terlihat yang melibatkan tiga pemain tersebut. Memang, tidak semua pemain terlibat korupsi namun tidak ada data yang valid dan akurat yang dapat membedakan antara pemain yang korup dan tidak korup. Sementara itu, Kompas 16 Mei 2012 mensinyalir mental korupsi sudah merata. Artinya, semakin sulit untuk mencari pemain yang tidak korup. Dalam lingkungan korup seperti ini, PT secara tidak langsung dan tanpa disadari memang mempersiapkan lulusannya untuk bekerja dan menjadi bagian dari jaringan korupsi.
Apa yang dapat dilakukan oleh PT untuk melindungi lulusannya tidak melakukan korupsi? Ada beberapa PT yang mulai mengupayakan perubahan, antara lain dengan memberikan mata kuliah Anti Korupsi untuk seluruh mahasiswanya. Namun satu mata kuliah mungkin tidak memberikan pengaruh yang besar. PT dapat melakukan perubahan yang lebih signifikan. Satu langkah perubahan adalah mengubah misinya dari menghasilkan lulusan sebagai tenaga kerja yang handal menjadi agen perubahan yang dapat membuat dunia yang lebih baik, yang dalam konteks Indonesia adalah dunia yang bebas dari korupsi.
Dengan perubahan misi, PT dapat mengubah kurikulum dan materi pembelajarannya yang lebih kontekstual. Kurikulum tersebut diharapkan memberikan pengetahuan yang memadai kepada mahasiswa mengenai lingkungan kerja dan usaha yang korup yang akan mereka hadapi. Selain itu, kurikulum diharapkan juga membekali mahasiswanya ketrampilan untuk mengatasi tekanan dan godaan untuk melakukan korupsi. Ketrampilan ini dapat diperoleh, menurut Biksuni Thubten Chodron (Kompas 16 Mei 2012), jika PT dapat membebaskan mahasiswa dari konsumerisme, yaitu membebaskan mahasiswa dari mengejar gaji yang tinggi, pujian dan persetujuan, reputasi dan citra, dan kenikmatan hidup. Untuk itu, kurikulum PT juga sebaiknya mengurangi tekanan kepada mahasiswa untuk menyelesaikan kuliah secepatnya sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk belajar langsung dari berbagai lapisan masyarakat, dan berdialog dengan diri sendiri.
Selanjutnya, proses pembelajaran tidak terbatas interaksi di dalam kelas, tetapi juga melalui keteladanan yang ditunjukkan tidak hanya dari pengajarnya ,tetapi juga dari pimpinan, gedung dan fasilitas, sistem dan tata kelola PT yang secara keseluruhan menunjukkan kebebasan dari empat aspek konsumerisme dan ketulusan untuk menjadikan dunia yang lebih baik.
Pada akhirnya, PT perlu untuk terus menjaga hubungan dengan dan antara para lulusannya, agar dapat saling menjaga untuk tetap bertahan dari konsumerisme dan korupsi.


Siregar

Posted: July 22nd, 2012 | Author: | Filed under: Uncategorized | No Comments »

Bagi yang kuliah di UI Salemba sekitar tahun 1970an-1980an mungkin masih ingat Siregar (kalau belum bermasalah dengan faktor U, tentunya hehe). Beliau ini hidup menggelandang sendiri di kampus, berjalan mengitari kampus Salemba atau duduk-duduk di tempat-tempat favorit-nya, antara lain cafeteria yang terletak di dekat Dewan Mahasiswa ataupu di taman FE. Dulu beliau memelihara bebarapa ekor anjing. Tapi kemudian anjingnya dibunuh oleh Menwa kalau tidak salah karena sempat menyerang mahasiswa yang kebetulan melintas bunderan yang terletak di FMIPA. Kebetulan memang lintasan di situ kurang penerangan sehingga agak mencekam jika sepi. Saya sendiri selalu was-was kalau melewati jalan itu menuju ke depan kampus, takut kalau anjing-anjing tersebut

Banyak versi cerita mengenai Siregar. Namun yang saya percayai adalah cerita bahwa beliau ini mahasiswa FEUI yang pintar. Beliau termasuk rombongan dosen-dosen FEUI yang mendapat beasiswa dari Ford Foundation, kalau tidak salah, untuk melanjutkan sekolah di Amerika. Rombongan tersebut kebanyakan menjadi Menteri dan pejabat tinggi Negara. Namun Siregar tidak menyelesaikan sekolahnya karena masalah asmara, mengalami gangguan kejiwaan dan kehidupannya berakhir dengan menggelandang di sekitar kampus bergantung kepada belas kasihan bekas teman-temannya dan mahasiswa yang sering nongkrong di kampus.

Sebetulnya saya ingin sekali berkenalan dengan beliau pada saat saya kuliah, namun saya tidak pernah mendapat kesempatan pada saat itu, selain juga tidak punya keberanian. Namun akhirnya kesempatan itu datang setelah saya menyelesaikan kuliah dan bekerja di kampus. Kejadiannya mungkin sekitar tahun 1990an, pada saat kampus Salemba sudah sepi karena sebagian besar fakultas sudah pindah ke Depok. Pada saat itu, sering sore-sore saya dengan beberapa teman makan tahu goreng di . warung sebelah mesjid ARH (bagi yang sudah lupa, di deretan itu ada warung tegal yang cukup besar dan warung nasi padang yang sotonya sangat enak). Siregar sering mengunjungi warung tersebut dan pada saat-saat itulah terjadi pertemuan , yang kemudian tercipta pertemanan di antara kita.

Kita sering ngobrol-ngobrol, walaupun saya lupa apa topik pembicaraan kita ketika itu. Sebagian cerita tentang kuliah beliau di Amerika dan juga tentang keluhan kesehatan beliau. Setelah hubungan semakin dekat, beliaupun menunjukkan rahasia isi tas koper yang selalu dibawanya. Saya tidak mengerti ketika ditunjukkan isi koper tersebut, karena saya hanya melihat tanah liat yang sudah kering di dalamnya. Beliau juga sering meminta bantuan sedikit uang dari saya. Belakangan permintaan itu semakin sering. Beliau sering menunggu saya di sudut-sudut koridor yang saya lalui. Sayapun kemudian merasa terganggu, berusaha menghindar dan menjadi dingin ketika terpaksa bertemu. Begitulah yang terjadi beberapa waktu sampai kemudian beliau menghilang dari kompleks Salemba. Ada yang bilang beliau menderita sakit dan diambil oleh keluarganya.

Pada saat in saya melihat betapa jahatnya saya. Pada saat orang membutuhkan pertolongan, saya malah berusaha menghindar dan bersembunyi. Pada saat melihat kecelakaan di jalan raya, misalnya, saya berusaha untuk cepat-cepat meninggalkan lokasi agar terhindar dari kewajiban menolong. Apalagi jika ada permintaan tolong yang datang terus menerus, seperti yang terjadi pada Siregar atau pengemis yang sama yang saya temui pada lokasi yang saya lalui

Saya jadi teringat sebuah film yang berjudul Things We Lost in the Fire, yang bagian dari film tersebut bercerita tentang seseorang yang tidak pernah berhenti ataupun putus asa untuk terus menjaga hubungan dengan teman masa kecilnya yang pencandu narkoba. Hanya dia yang bersedia berteman, sementara orang lain berupaya untuk menjauhi pecandu itu agar terhindar dari kemungkinan masalah-masalah yang terjadi, misalnya permintaan uang secara terus menerus. Dari film itu saya belajar bahwa Tuhan mungkin memang menciptakan orang-orang tertentu, yang selalu membutuhkan pertolongan, yang hidupnya tergantung dan menggelayuti orang lain, sebagai suatu kesempatan bagi orang lain untuk memberikan pertolongan dan berbuat kebaikan. Sayangnya saya justru lebih senang menghindar dan menyia-nyiakan kesempatan itu.