Perjanjian Perkawinan

Written by disriani.latifah on October 1, 2014 – 9:48 pm -

PERJANJIAN PERKAWINAN*
Dasar Hukum :
– Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
– Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;
– Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Perjanjian pra nikah (prenuptial agreement) atau yang disebut perjanjian perkawinan merupakan suatu perjanjian yang dibuat di antara calon suami-istri sebelum perkawinan berlansung yang pada dasarnya berisi tentang pembagian harta kekayaan diantara suami istri tersebut kelak. Pembagian meliputi: apa saja yang menjadi milik bersama suami dan istri, apa saja yang menjadi milik masing-masing suami atau istri, apa saja yang menjadi tanggung jawab suami dan isteri, atau dapat juga berkaitan dengan harta bawaan yaitu harta yang dibawa calon suami-istri ke dalam perkawinan agar bisa membedakan yang mana harta calon istri dan yang mana harta calon suami.

Perjanjian perkawinan berlaku semenjak saat perkawinan dilangsungkan, dan tidak boleh diubah sepanjang perkawinan. Apabila tidak ada perjanjian perkawinan sebelumnya, maka semua harta yang diperoleh selama dalam perkawinan adalah menjadi harta bersama suami istri dan seluruhnya akan menjadi harta gono gini dalam hal terjadinya perceraian atau kematian.

Tidak adanya harta bersama dalam perkawinan ini bertujuan (terutama bagi pasangan yang menjalankan usaha sendiri) untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dalam dunia usaha yang terkadang tidak menentu, melindungi pasangan dari kewajiban/ utang yang mungkin timbul. Contoh: dalam hal terjadi pailit maka harta pasangan tidak bisa ikut disita untuk membayar utang pasangan yang pailit.

Persyaratan pembuatan perjanjian perkawinan adalah sbb:
1. Perjanjian perkawinan dibuat pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan (Pasal 29 UU No. 1 Tahun 1974).
2. Isi perjanjian tidak boleh bertentangan dengan undang-undang, agama, ketertiban umum dan kesusilaan (Pasal 29 UU No. 1 Tahun 1974).
3. Perjanjian perkawinan harus dibuat dengan akta notaris, maupun dengan perjanjian tertulis (Pasal 147 ayat (1) KUHPerdata, Pasal 29 UU No. 1 Tahun 1974) yang kemudian sebelum atau pada saat perkawinan berlansung harus didaftarkan oleh calon suami-istri dan selanjutnya disahkan oleh Pengawas Pencatat Perkawinan. Merujuk pada Pasal 2 PP No. 9 Tahun 1975, maka bagi mereka yang beragama Islam, pengesahan tersebut dilakukan oleh Pegawai Pencatat sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk, sedangkan bagi mereka yang beragama selain Islam, maka pengesahan tersebut dilakukan oleh Pegawai Pencatat Perkawinan pada Kantor Catatan Sipil.

Persyaratan dan dokumen yang diperlukan dalam pembuatan akta perjanjian perkawinan:
1. Para pihak (calon suami-istri) sudah berusia setidak-tidaknya 21 tahun dan cakap dalam membuat perjanjian (Pasal 1330 jo Pasal 330 KUHPerdata).
2. Fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP) calon suami-istri.

Salam,

Disriani Latifah Soroinda
Disriyanti Laila Nasution

*Penjelasan singkat ini merupakan penjelasan dasar yang sering kami berikan, selaku notaris apabila ada yang menanyakan apa sebenarnya yang dimaksud dengan perjanjian perkawinan


Posted in CatatanCatatanTentangHukum, Notaris | 2 Comments »

2 Comments to “Perjanjian Perkawinan”

  1. Farah Fauziah Says:

    Dear Bpk/Ibu,

    kami mau bertanya bagaimana jika perjanjian pra nikah dibuat dalam pernikahan rujuk?

    jadi calon suami dan calon istri sebelum sudah menikah dan cerai talak 1, sudah hampir 2 tahun, dan sekarang akan rujuk nikah kembali namun ingin menggunakan perjanjian pra nikah.

    terima kasih.

    salam.

  2. sewa bus pariwisata medan Says:

    Mbak Desriani, ini makalah atau bahan kuliah ya mbak.
    Izin copas dikit untuk bahan..
    Terima kasih

Leave a Comment