LAS VEGAS: SIN CITY & 2 RUSA MASUK KAMPUNG :-))

*…. ini masih lanjutan status sebelumnya yaaa…:-) *

————————-

Dua hari menjelajah Los Angeles pasti kurang lah. Masih pengen ke tempat-tempat seru lainnya. Tapi tujuan utama kan menghadiri kongres, bukan buat jalan-jalan. Los Angeles – Las Vegas dapat ditempuh selama 4 jam perjalanan darat. Kami berangkat pukul 08.00 pagi setelah terlebih dahulu sarapan. Sarapan pagi itu di rumah Pak HS, si mba memasak ayam dan brokoli. Enak banget masakannya, apalagi brokolinya. Kami berdua melahap masakan si mba dengan tidak tahu diri…hahaha. Pak HS dan istrinya mengantar kami ke Las Vegas. Mereka juga mau main kesana. Ibu HS membawa penganan untuk dimakan di perjalanan, kue nastar buatan si mba. Lagi-lagi enak banget.

“Si mba memang jago masak. Kalau Christmas dia suka terima pesanan bikin kue disini,” jelas bu HS.

Sebelum meninggalkan rumah, kami bertemu dengan tukang kebun yang biasa membersihkan tanaman di sekitar rumah Pak HS. Tukang kebun ini asli Meksiko, usia hampir 60 tahun, tapi masih tegap, sehat, dan…sopan banget. Bu HS segera menyapa dia dalam bahasa Spanyol.

“Bapak ini tukang kebun kita Bu. Dia yang biasa membersihkan tanaman di sekitar sini, menebang pohon2 di belakang yang sudah saatnya ditebang, kasih pupuk, dst.”

“Tukang kebun disini keren banget ya Pak? Bawa mobil sendiri?” tanyaku karena si bapak itu bawa mobil (mirip mobil Fortuner), warna coklat, dan keren.

“Hahaha…. itu mobil isinya peralatan kerjanya Bu. Coba ya biar aku suruh dibuka”. Bu HS ngomong Spanyol ke tukang kebun, dan dia segera membuka bak mobil bagian belakang. Ternyata, separuh badan mobil itu isinya peralatan berkebun. Alat-alatnya kumpliiitttt dan keren-keren. Bukan main! Kami sempat foto dengan si tukang kebun (sayang fotonya lupa disimpan di HP siapa).

Setelah berpamitan ke bapak tukang kebun, kami berangkat. Mampir di pom bensin dulu untuk isi bensin. Isi bensin disini semuanya pakai elektronik, kagak ada yang ngisiin….hihihi.

Pom bensin
“Disini orang mau gak mau harus melek teknologi Bu, karena semua self service, gak ada transaksi uang tunai. Makanya gak bisa korupsi juga…hahahaha,” kata Pak HS.

“Makanya bule-bule, ekspatriat yang dinas di kedutaan2 kayak di Jakarta tuh, suka gak mau balik kesini lagi. Mereka senang banget tuh tinggal di Jakarta.”

“Ah…, masa sih Pak? Bukannya menderita mereka tinggal di kota yang semrawut gitu?”

“Bukaannnnn Bu. Ibu salah. Mereka itu suka tinggal di Jakarta. Tau kenapa? Karena di Jakarta dia bisa santai, banyak bala bantuan kan. Ada pembantu, ada baby sitter, ada sopir yang antar kemana-mana. Kalau disini, mana? Punya anak di US ini beban berat. Orangtuanya harus urus sendiri. Paling ada nanny yang bisa jaga sebentar, tapi anak itu harus diurus orangtua. Gak ada istilah diasuh pembantu. Orang pakai nanny itu kalau kondisi terpaksa saja. Sopir apalagi? Disini, cuma orang sekelas Bill Gate aja kali yang pakai sopir. Yang lain, nyetir sendiri. Kagak ada istilah kantor nyediain sopir buat bosnya. Coba di kita. Baru level middle manager aja sudah pakai sopir pribadi, hahaha.”

“Iya ya Pak. Trus disini kayaknya bapak-bapaknya gak malu ya momong anak. Dari kemarin saya perhatikan, dimana-mana bapak-bapaknya yang gendong.”

“O iyaaa… ibu lihat kemarin kan di Universal Studio tuh. Yang dorong kereta bayi, gendong bayi, pangku anak, itu bapaknya semua. Makanya bagi mereka ini, menikah itu gak gampang. Perlu komitmen kuat. Kalau dia laki-laki harus ngerti merawat bayi sejak lahir. Laki-laki yang gak siap, dia gak akan mau tuh nikah. Tinggal bersama aja istilahnya. Yaaa, semua pilihan ada baik buruknya sih.”

Los Angeles – Las Vegas melewati padang gurun. Sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan gurun dengan pohon-pohon kaktus yang besar-besar. Aku langsung teringat film-film country, apalagi kalau di mobil disetel lagu “Country roads….take me home…” aiiii….. asiknya Aku ingat, Oprah dan sohibnya Gayle pernah melakukan perjalanan keliling Amerika selama 2 minggu, naik mobil. Salah satu jalur yang mereka lewati ya jalur ini. Makanya ketika melewati jalur itu, aku mikir-mikir: ‘pernah nonton di film apa ya tempat ini?’

istirahat menuju LV

otw LV

Setengah perjalanan kami berhenti di tempat istiharat, sekedar ke toilet atau beli makanan dan minuman ringan. Tempat ini gaya country banget deh. Ketemu beberapa warga bertampang Indian disana.
istirahat menuju LV

“Di US ini orang Indian punya hak istimewa Bu, gak bayar pajak. Mereka cuma bayar pajak jika dia punya usaha.”

“Oh? Baru tahu. Berarti mereka diistimewakan ya sebagai penduduk asli.”

“Ya. Kalau diterapkan di Indonesia ribet ya Bu. Siapa coba yang dianggap penduduk asli Indonesia? Melayu? Jawa? Sunda? Batak? Betawi? Hahaha….. “

Pukul 12.30 waktu setempat kami memasuki kota Las Vegas. Kota ini terletak di daerah gurun, sehingga terkesan gersang dan panas. Tapi begitu ke pusat kotanya, yang terasa adalah aroma metropolitannya. Las Vegas terkenal dengan casinonya, kota hiburan, dijuluki ‘sin city’ atau ‘adult city’. Dari julukannya bisa ditebaklah maksudnya: pusat hiburan untuk orang dewasa. Las Vegas ini merupakan kota judi dan pusat hiburan terbesar. Tapi lucunya, Las Vegas juga adalah kota yang memiliki jumlah gereja terbanyak per kapita dibanding kota-kota lain di US…hahahaha. Jadi, maksudnya mungkin begini. Kota ini kan banyak menyediakan fasilitas yang berpotensi bikin dosa. Nah, supaya imbang, disediakan juga banyak rumah ibadah. Jadi habis bikin dosa, bisa langsung ke gereja mohon pengampunan dosa….hahahaha

Tapi, jangan salah dulu. Bukan berarti kota ini isinya untuk hura-hura saja. Buktinya banyak kongres-kongres ilmiah diselenggarakan disini. Termasuk kongres yang akan kami hadiri: American Library Association (ALA).

“Di US ini, cuma ada dua kota yang boleh buka casino, salah satunya Las Vegas”, jelas Pak HS. (kota satunya lagi saya lupa).

Kami memasuki pusat kota Las Vegas. Woww…gedung-gedung terkenal kini terpampang di depan mata. MGM, Caesar Palace, Hotel Ballys, miniatur2 ciri khas seluruh dunia juga ada: menara Eiffel, patung Sphinx, Piramida, menara Liberty, menara Pisa, dst.

“Ibu, hotel ibu, Flamingo … itu tuh,” tunjuk Pak HS.

“Tapi kita kesana nanti saja ya. Kita makan dulu sekalian mau nunjukin pusat belanja barang-barang bermerek dengan harga miring. Jadi kalau ibu-ibu besok mau kesana, sudah tahu arahnya kemana.”

Asiiiikkkkk……
Kami dibawa ke pusat perbelanjaan barang-barang bermerek dunia. Banyak outlet dari merek-merek terkenal dengan harga miring. Katanya sih barang-barang disini adalah barang-barang ekspor yang di reject karena ada cacat. Cacatnya ini misalnya ada benangnya yang lepas, ada kancing yang pecah, ada jahitan yang kurang rapi. Aku sampai bingung, apanya yang cacat? Ini barang dagangan semuanya bagus-bagus dan…harganyaaa…..? Semiring-miringnya harga di US, tetap aja bikin kantong awak bokek Bayangin aja ada baju seharga 18 juta? Ada pakaian dalam perempuan berharga puluhan juta. Wueh! Aku cuma bisa pegang-pegang sajalah. Untung penjaga tokonya baik-baik. Gak ngelarang kita pegang-pegang dagangannya yang mahal-mahal itu. Pak HS ngeborong banyak dari toko Adidas yang sedang sale besar-besaran. Tapi harus aku akui, kualitas barang-barang yang dijual disini top. Apalagi alas kaki. Entah ya, sejak dari rumah Pak HS aku perhatikan, alas kaki (sandal, sepatu) di US ini bagus-bagus. Kuat, dan enak dipakai. Biar high hills, tapi gak bikin kaki pegal. Untuk urusan ini kami memang sudah dibisikin bos dari Depok, bahwa di Amerika itu sepatu bagus-bagus banget. Gak rugi beli mahal. Maunya sih pengen borong semua deh. Tapi kantong tak mendukung. Ada FO khusus untuk anak-anak. Waaahhh.. kalau bawa Naara kesini, bisa histeris dia. Banyak pincesssss… dan miki mus yang keren-keren…

Setelah puas keluar masuk toko dan pegang-pegang barang-barang terkenal itu…hihihi, kami ke toko Vitamin World. Ini memang sudah menjadi tujuan utama kami. Banyak pesanan dari Depok untuk beli vitamin disini. Saya beli vitamin khusus kesehatan lever dan ester C dosis tinggi. Semuanya terbuat dari herbal. Bos nitip dibelikan vitamin untuk tulang yang pernah dibelinya disana tahun sebelumnya. Kebanyakan vitamin yang dijual disini katanya belum masuk ke Indonesia. Jadi kalau kita mau, beli online, tapi biaya pengirimannya yang mahal. Lumayan sih harganya, tapi karena sudah diniatkan, ya belilah.

Menjelang sore kami diantar ke hotel Flamingo. Benar. Hotelnya gede banget, ramai gak ketulungan. Gedung ini tidak hanya untuk hotel ternyata, tapi juga untuk mall dan office. Lantai dasar ramai banget, apalagi karena banyak casino. Pak HS membantu kami check in, karena antrian panjang sekali. Beliau pakai jalur express check in. Beliau juga langsung mengurus proses check out kami, jadi kalau kami check out nanti, gak perlu lapor lagi. Kamar kami ada di lantai 19. Kami antar barang2 dulu ke kamar, lalu turun kembali karena Pak HS dan istrinya mengajak kami ke hotel mereka, tidak jauh dari hotel kami. Mereka juga nginap di Las Vegas selama 2 malam. Kami ikut ke hotel mereka, minum sebentar dan pamit.

“Terima kasih banyak ya Pak, Bu, atas bantuannya. Kami gak tahu harus bilang apa, tak terkatakan rasa terima kasih kami untuk keluarga Bapak.”

“Sama-sama Bu. Kami senang bisa bantu ibu-ibu. O ya, kalau ada apa-apa, jangan segan-segan hubungi kami ya. Kami akan disini 2 hari ini. Silakan kesini kalau ada yang perlu dibantu. Atau kontak kami di nomor ini….”.

Ya Tuhan, entah harus bilang apa pada mereka. Ada rasa sedih ketika kami meninggalkan mereka. Kami jalan kaki ke hotel Flamingo. Ini pertama kali kami jalan sendiri selama di US ini. Kami sangat menikmati jalan kaki. Lalu lintas cukup padat tapi tertib. Satu hal yang saya catat, orang2 bule ini sangat menghargai pejalan kaki. Kami beberapa kali salah menyeberang, tapi dengan baiknya semua pengendara memberi tanda (dengan tangannya): ‘silakan…..’ Bahkan dari jarak 50 meter, mereka sudah memelankan mobilnya begitu melihat di depan ada yang menyeberang.

Kamar kami cukup mewah untuk ukuran kami berdua. Memang agak mahal, sekitar 1,2 juta per malam. Kami langsung selonjoran di tempat tidur, setel tipi, mandi dan nyeduh kopi. Sayangnya, kami ternyata tidak dapat breakfast, dan…. no free wifi! Alamak! Sudah semahal ini tapi gak ada sarapan dan wifi? Bahkan air mineral juga gak ada. Mungkin karena boleh langsung minum dari kran, tapi kita kan gak biasa ya. Geli rasanya minum langsung dari kran. Untung ada pemanas air. Setelah mandi, saya mencoba baca-baca info tentang kongres yang akan kami hadiri besok. Tadi di lantai dasar, sudah ada standing poster tentang kongres tersebut. Katanya ada shuttle bus khusus ke venue. Tapi kami belum tahu dimana busnya ngetem. Tiba-tiba temanku yang sedang mandi di kamar mandi keluar dari kamar mandi sambil teriak:

“Mba… mba… sini deh. Kayaknya something wrong nih.”

“Ada apa?” aku beranjak ke kamar mandi.

“Mba, kayaknya ada kamera perekam deh di kamar mandi. Lihat nih…” Dia menunjuk ke kaca lebar yang ada di kamar mandi. Di pojok kiri bawah, samar-samar terlihat ada bulatan kecil (kayak di pintu hotel itu lho, jadi kalau ada tamu kita bisa intip dulu dari dalam siapa yang datang).

“Hah? Masa sih? Jadi kita sudah direkam-rekam dong selama mandi. Ampuunnnn…” Langsung kebayang deh yang aneh-aneh. O iya, ini kan kota dosa ya. Jangan-jangan semua kamar dipasangain CCTV, trus nanti foto-foto kita muncul di youtube deh….aaaiiii…!

“Eh, tapi tunggu dulu Mba. Ini koq ada kabel tipis ya? Ini kemana nyambungnya ya?” Kami jadi kayak detektif Conan deh. Mengamati kemana arahnya kabel itu nyambung. Dan….

“Lho, ini koq bisa touch screen ya? Eits… lho… koq jadi tipi? Wkwkwkkwk…. Ini bukan kamera perekam. Ini tipi touch screen…wkwkkwkwk”

Kami ngakak-ngakak sampai sakit perut. Astaga nagaaaa….! Udah jelek aja tadi pikirannya. Jadi, sodara-sodara. Di kamar mandi itu ada cermin besar, kurang lebih 1 x 1,5 m. Sekilas, itu cermin biasa saja. Itu sebabnya waktu aku mandi, gak ngeh kalau ada sesuatu disitu. Ternyata di bagian bawah kiri cermin, ada semacam tombol yang bisa disentuh untuk nyetel tipi. Saking halusnya, gak kelihatan itu tombol. Jadi ketika kita sentuh, langsung keluar menu2 pilihan untuk tayangan tipi. Lalu 19 inchi dari cermin itu otomatis jadi layar tipi. Aiiyyaaaa….! Anjrit deh! Beginilah kisahnya rusa masuk kampung….wkwkwkwk

Besok paginya kami siap-siap mau ke venue kongres ALA di Las Vegas Convention Center. Keluar dari area hotel kami menuju jalan raya. Cari-cari dimanakah gerangan shuttle bus yang dimaksud. Melihat ramainya lalu lintas dan ketatnya aturan berlalu lintas di kota ini, rasanya gak mungkin deh bus itu ngetem sembarangan. Pasti di tempat yang aman. Hampir 15 menit kami kebingungan. Gak ada orang yang bisa ditanya pula. Tiba-tiba kami melihat di seberang yang telah kami lewati tadi ada beberapa bus besar sedang berhenti. Lalu ada beberapa orang yang menuju bus itu pakai name tag! Aha! Itu dia! Itu pasti peserta kongres ALA. Kami segera berlari kea rah bus itu. Dan, betul! Itu adalah bus khusus untuk peserta kongres ALA yang nginap di Flamingo dan hotel terdekat. Kami segera naik, dan disapa sopirnya dengan ceria:

“Good morning…. How are you today…. ” * ramah-ramah ya mereka ini *
Saking senangnya ketemu bus ini, aku langsung duduk di depan, persis belakang sopir. Sopir melihat ke arahku sambil tersenyum. Beberapa saat aku sadar, ini seat khusus untuk penyandang cacat. Alamak. Aku beranjak sambil bilang:

“Oh, sorry….”

Sopirnya bilang:

“It’s oke. No problem, madam. Hope no disable today “

Tapi aku gak enak hati ah. Ketahuan awak dari negara antah berantah yang gak tau aturan…hahaha.

Setiap 15 menit, bus beranjak. Jarak hotel ke venue kurang lebih 20 menit. Kami tiba di venue tepat waktu. LVCC ini besar sekali. Ada 2 hall, yaitu hall North dan South. Suhu udara saat itu puaanasss poll: 42 derajat! Kita bisa merasakan panasnya udara bahkan ketika angin berembus. Panas menerpa kulit. Herannya bule-bule itu santai saja berjalan tanpa pelindung (payung atau topi). Beberapa orang malah sengaja duduk di bangku-bangku trotoar yang terkena panas, menikmati panasnya. Aku dan temanku yang dari negara bersuhu panas ini malah gak tahan. Sok takut jelek…. kemana-mana pake penutup kepala… hihihi.

exihibitions gate
Kami menuju tempat registrasi untuk international participant. O ya, kongres hari itu sudah masuk hari ke 2. Kemarinnya adalah pembukaan dan workshop-workshop. Di meja resgistrasi kami dilayani dengan baik. Bagian paling sulit disini adalah ketika minta tanda tangan dan stempel….hahaha. You know lah ya, kita itu kalau melakukan perjalanan dinas kan, dokumennya segambreng. Ada SPPD rangkap 2 yang harus ditanda tangan dan distempel. Harus ada kuitansi pakai materai sebagai bukti pembayaran biaya resgistrasi. Hal-hal kayak gini biasanya gak ada di negeri mereka booo…! Buat mereka, cukup bukti bayar secara online dan name tag! Itu sudah mengatakan banyak hal. Jadi waktu kami mendapat goodie bag dan name tag, aku menjelaskan ke panitia:

“Sorry, I need your signature for our document. Can you help…? “

“Oh, of course. What can I do for you?”

“Hmmm…. so…. please sign here… here… here… and here….” aku menunjuk kolom2 SPPD yang harus dia tanda tangan.

“This document as evidence for our travel to attend ALA Conggress ”

“I see….”

“And… you have to sign twice!” * soalnya kami kan dua orang *

“Hahaha… no problem! Every country have their regulations. Its doesn’t matter!”

Dia menandatangani semua dokumen yang aku sodorkan.

“It’s better if you have stamp…” Aku merayu lagi.

“Oh my God! So sorry, madam. We have no stamp. So sorry!”

“Oke, no problem. You are very helpful. Thank you.” jawabku berterimakasih.

“You’re welcome! Have a nice day!”

Urusan registrasi selesai. Kami segera menuju area exhibition. Area ini persis disamping meja registrasi. Luas banget. Ada 2300 an booth! Bayangkan! Booth2 ini terdiri dari berbagai macam produk yang berkaitan dengan dunia perpustakaan. Pokoknya kalau mau lihat trend-trend terbaru di bidang teknologi atau properti yang berkaitan dengan perpustakaan, disinilah tempatnya. Vendor-vendor online journal, para penerbit terkenal, perusahaan properti library, pernak pernik dunia pembelajaran, contoh2 mobile library, book drop model baru, MKiosK terbaru, smart book dispenser terbaru, software2 bidang perpustakaan, semua kumplit disana. Capek ngelilinginya. Dan kalau mau, kita bisa bawa koper, lalu bawa banyak souvenir dari tiap booth. Ada games2 dan kuis-kuis dengan hadiah-hadiah menarik. Kami ikut kuis yang diadakan penerbit online database dan dapat kaos. Di tempat lain dapat pulpen, stabilo lucu-lucu, permen, stress ball, goodie bag berbagai bentuk. Ada temu pengarang tiap hari, dan kita akan dapat bukunya gratis. Uuuggghhhh…! Pulang-pulang ke hotel, bawaan bisa satu koper tiap hari.
peserta seminar
Selain exhibitions, ada kelas-kelas seminar. Nah, ini yang bikin aku kagum dan geleng-geleng kepala. Selama kongres ini, ada 270 an kelas yang dibuka setiap hari untuk seminar (ada 3 hari seminar). Setiap kelas akan diisi oleh 4 sesi setiap hari. Setiap sesi diisi oleh minimal 3 pembicara (karena panel). Berarti selama kongres, ada 270x3x4x3, atau 9720 judul paper yang dipresentasikan! Sembilan ribu tujuh ratus dua puluh paper! Gilaaaaaa……! Di Indonesia, kalau mau bikin acara seminar, cari topik yang mau diseminarkan saja setengah mati. Dan yang apply untuk call for paper, susah sekali mencapai angka 100. Tahukah masalahnya dimana? Ide! Ya, ide! Kita selalu miskin disini. Mentok di ide. Padahal di sekeliling kita banyak ide-ide menarik yang bisa diangkat jadi tulisan. Saya perhatikan, paper-paper mereka itu biasa-biasa saja, tapi unik dan menarik. Misalnya, ada yang khusus membahas signage perpustakaan. Kalau di kita, ada yang membahas kayak gitu pasti ada yang komentar:

“Ini apaan sih? Rambu aja dibahas. Gak ilmiah banget deh!”

Lalu ada yang membahas soal ciri-ciri bangunan perpustakaan era digital. Bahkan ada yang fokus pada kursi atau sofa baca. Ada yang membahas musik di library. Dan banyak lagi ide-ide yang menurut kita sepele, tapi mereka bahas dengan menarik. Umumnya ide-ide menarik ini muncul dari pustakawan sekolah dan perpustakaan umum. Di Indonesia, justru kelompok pustakawan umum dan sekolah inilah yang kurang bunyi. Paling pustakawan perguruan tinggi yang lumayan dikenal. Karena kami dari perguruan tinggi, kami pilih kelas-kelas yang membahas content tentang perpustakaan perguruan tinggi. Supaya dapat banyak ilmu, setiap sesi kami pilih kelas yang berbeda. Sesi pagi, temanku ikut kelas tentang repositori, aku ikut kelas yang membahas reference service. Sesi berikutnya temanku ikut kelas yang membahas open acceess, aku ikut kelas yang membahas ‘developing information literacy programme’. Begitu seterusnya. Ada materi-materi yang peminatnya luber sampai duduk di lantai. Kelas IL sampai duduk di karpet karena topik ini memang gak ada matinye bagi pustakawan.

Hari pertama ikut seminar rasanya sudah tepar. Kepala penuh dengan informasi dan ide-ide yang mulai berseliweran. Las Vegas masih menyengat dan menggoda untuk ditelusuri, tapi hari itu kami putuskan back to hotel and take a rest. Zzzzz….karena masih ada 3 hari lagi acara yang mau diikuti, dan…. cerita inipun akan disambung besok saja. 🙂

Posted in My Journey | 9 Comments

AMAZING HOLLYWOOD

*Ini masih sambungan note kemarin-kemarin yaa…*
———————-
Keluarga Pak HS tinggal di US sejak tahun 1997. Awalnya, istrinya mendapat tawaran kerja di US dari perusahaannya. Padahal waktu itu baru punya baby berusia 1 bulan (putri, anak kedua di keluarga itu). Tapi tawaran itu sayang kalau dilewatkan. Mereka akhirnya mencari orang yang bisa merawat bayi dan bersedia diboyong ke Amerika. Mereka dapat seorang pengasuh bayi, mba M*n*e, asli Flores. Setelah dilatih selama sebulan di Jakarta, mereka cocok dengan mba ini, maka diboyonglah dia ke US. Sejak 1997, si mba ini baru sekali pulang ke Indonesia. Ijin tinggalnya di US selalu diperpanjang Pak HS. Kebetulan si mba ini sudah sebatang kara, jadi dia sudah lebih nyaman di US. Selama di US, otomatis kemampuan bahasa Inggrisnya juga bagus. Kami iri deh dengan mba ini. Dia lebih fasih ngomong Inggris dari kami…hahaha. Gadgetnya juga keren. Dia punya laptop iPad, punya iPhone, dan…. kata Pak HS, tabungannya selama bekerja di US sudah mencapai 1 Milyar rupiah! Selain kerja di rumah Pak HS, dia sering dapat job menjaga anak-anak balita di lingkungan itu. Seperti waktu kami disitu, pagi-pagi dia sudah berangkat naik sepeda.

“Kemarin di gereja ada ibu yang minta anaknya dijaga hari ini. So, I wanna go there…” katanya.

Malam pertama tidur di rumah Pak HS di Irvine, Los Angeles berlangsung dengan sangat nyaman. Sebetulnya masih jet lag. Maklum, perbedaan waktu Indonesia dan US kan hampir 12 jam. Pagi di Indonesia, malam di Los Angeles. Tapi mungkin karena lelah selama perjalanan, cepat juga ngantuk. Tidur pules deh kami. Aku terbangun sekitar jam 3 dini hari, lalu tidur lagi. Pukul 06 pagi, aku terbangun. Rada bingung. Ini dimana ya? Aku lihat temanku habis sholat.

“Eh, sudah azan ya?” tanyaku. Maklum di Depok, aku selalu dibangunkan azan, karena rumah dekat masjid.

“Hihihi… kita di Amerika mba… bukan di Depok. Mana ada azan?” kata temanku.

Hahahahhaa…. kami ngakak bareng-bareng. Segera mandi dan siap-siap. Pukul 07 lewat, si mba mengetok pintu kamar.

“Morning Bu… bapak wait for you. Ready to go pukul 08 kata bapak”.

“Oh, thanks mba…”

Pukul 08.00 kami turun ke bawah.

“Pagi Pak…”

“Pagi… pagi… gimana tidurnya? Enak?”

“Alhamdulillah Pak, kami tidur nyenyak”, jawab temanku.

“Kita jalan-jalan seputar komplek dulu ya Bu, sekalian cari sarapan. Di rumah ini gak ada sarapan. Sarapan kami cuma jus, silakan kalau ibu-ibu mau minum jus dulu”.

Di dapur memang penuh dengan buah dan sayuran. Tiap pagi si mbak bikin jus campuran macam-macam buah dan sayuran. Mereka jarang masak, nyaris gak pernah karena seharian aktivitas mereka di luar rumah. Rumah kayak tempat transit saja.

“Ibu kemana Pak?” tanyaku.

“Oh, sudah berangkat kerja. Ibu mah jam 6 sudah jalan Bu. Anak-anak juga. Nanti pulangnya jam 9 malam. Pokoknya di rumah ini cuma saya yang kerjanya santai. Ke kantor kalau dipanggil saja. Makanya saya bisa temanin ibu-ibu jalan-jalan…hahaha”. Wah, senang sekali kami dong.

Pagi itu kami jalan keliling perumahan. Udara terasa sangat bersih di lingkungan ini. Kami melewati warga yang sedang jogging, kebanyakan pasangan yang sudah berumur dan ibu-ibu. Hampir semuanya membawa binatang peliharaannya, anjing. Anjingnya cakep-cakep, dipakein baju lucu-lucu. Ada anak-anak muda yang naik sepeda juga. Sepanjang jalan, setiap ketemu warga, kami selalu disapa:

“Good morning…”.

“Hello…. Good morning.”

Karena teman saya pakai hijab, ada yang mencoba memberi salam (walau ucapannya jadi lucu):

“Assammm ikum…”

Terharu rasanya, di negeri yang katanya anti Muslim ini, ternyata warganya sangat ramah. Pak HS menjelaskan kehidupan di Los Angeles. Memang ya, enaknya kalau tinggal di rumah kenalan kalau berkelana ke negara lain adalah, kita bisa tahu kehidupan asli warga lokal. Coba kalau tinggal di hotel?

“Disini ada komunitas yang ngurus lingkungan juga Bu. Ya, kalau di Jakarta kayak RT/RW gitulah. Merekalah yang mengurus semua fasilitas yang ada di lingkungan ini. Tiap lingkungan disini ada taman, ada kolam renang, ada area untuk anak-anak, ada lapangan olahraga.”

Kami melewati sebuah danau yang sangat asri. Lalu ada petugas kebersihan menggunakan kendaraan kecil, sebesar becak tapi pendek, pakai mesin matic gitu, lalu memunguti segala kotoran yang ada di sepanjang jalan dengan sebuah alat pemungut yang dia pegang, termasuk kotoran binatang (jika ada).

danau di perumahan

area bermain anak
“Disini, setiap warga yang punya anjing atau kucing, kalau mereka mengajak keluar kayak tadi, mereka wajib bawa plastik untuk tempat kotoran, kalau piaraannya membuang kotoran di jalan. Tapi ada beberapa binatang yang pup tanpa diperhatikan majikannya, jadi si bapak tadilah yang membersihkan.”

Kami sarapan di sebuah kafe yang menjual macam-macam penganan. Banyak yang sudah sarapan disana, kebanyakan pasangan orangtua. Kuperhatikan, mereka rapi-rapi. Berdandan rapi walaupun hanya untuk sarapan. Kebanyakan orang Meksiko.

“Iya, lingkungan ini memang kebanyakan dari Selatan”, kata Pak HS.

Selesai sarapan, kami berkeliling lagi, melewati lapangan tennis.

“Ini area olahraga untuk warga. Lalu disebelah sana, yang ada pasir putihnya itu, untuk area berenang anak-anak. Disana kolam renang khusus orang dewasa. Semua fasilitas disini gratis untuk warga, dan akses ke semua fasilitas ini pakai kartu. Jadi yang tidak punya kartu gak bisa masuk.”

“Itu ada barang-barang apa Pak,” aku menunjuk arah kolam renang anak-anak.

“Ooo… itu barang-barang yang tertinggal. Nanti juga yang punya kalau pas kesitu akan ngambil. Disini, yang kayak gitu aman Bu. Gak akan ada yang ambil”.

Lalu kami melewati area yang banyak sampah daun-daun.

“Ini nanti akan ada yang bersihin, jam 10 an. Tapi disini bersihinnya pake alat penyedot gitu Bu, kayak vacumm cleaner itu lho. Kalau di kita kan pakai sapu lidi. Nah, disini dia pakai penyedot. Jadi petugasnya cuma nyedot dari satu tempat, daun-daun yang ada di sekitar 5-10 meter ntar langsung kesedot semua deh.”

“Kalau nebang pohon juga disini, gak kayak di kita Bu. Jadi kalau nebang, dia sudah langsung bawa alat lengkap. Habis ditebang, langsung diolah di tempat jadi serbuk. Jadi pulang-pulang bawa serbuk, bukan ranting atau batang pohon”.

“Ooooo…… “ mangap-mangap aja deh kami.

Setelah berkeliling perumahan, kami ketemu petugas pengangkut sampah. Wah, saya dan teman saya takjub banget deh dengan petugas sampah mereka. Mobilnya gede, dan cuma ada sopir. Si sopir gak perlu turun untuk ngangkut sampah dari rumah ke rumah. Jadi, tiap rumah dapat 3 kotak sampah sesuai jenis sampahnya. Tempat sampah ini ditempatkan di pinggir jalan dan sudah diset sedemikian rupa, sehingga ketika gerobak sampah datang, petugas hanya perlu mengepas posisi bak belakang truk sampahnya sejajar dengan posisi kotak sampah, lalu membuka bak belakang, dan…..itu kota sampah terangkat dari tempatnya, lalu menukik ke bak sampah untuk membuang isinya, dan kembali lagi ke tempat semula. Bak sampah di truk itu juga dibagi dalam 3 kotak besar sesuai jenis sampah tadi. Wah, keren bingit dah. Saya dan teman sampai ngakak-ngakak lihat adegan pengambilan sampah ini dari rumah ke rumah. Eh, dasar orang kampung ya?
Pukul 10 kami berangkat ke Universal Studio Hollywood. Pak HS memasukkan alamat tujuan di keypad mobilnya *aku selalu takjub ya lihat alat-alat kayak gini…hihihi* lalu kami jalan. Saya sangat excited nih. Sepanjang jalan Pak HS menjelaskan banyak hal.

“Disini kebanyakan jalan adalah high way”.

“High way itu apa sih Pak?”

“Ya, kayak jalan tol, tapi gak bayar. Jadi kalau disini, misalnya ya ada jalan tol baru. Kita bayar kan? Nah, begitu pembiayaan pembangunan jalan tol itu lunas, otomatis dia jadi high way, gratis. Kalau di Indonesia kan gak tuh. Asal namanya jalan tol…. bayar aja terus seumur hidup…hahahaha.”

“Oooo…. gitu! Berapa lama biasanya sebuah jalan tol berubah status jadi high way?”

“Paling lama 15 tahun. Makanya jalan tol yang di Jakarta itu, banyak tuh yang sudah berumur lebih dari 20 tahun kan, kalau disini sudah jadi high way tuh.”

Tiba di perempatan, mobilnya si bapak bunyi:

“Turn left…” Hihihi…. gue ngakak-ngakak aja deh kalau tuh mobil udah ngomong.

“Iya nih Bu. Mobil nih suka cerewet, kalau salah jalan nanti dia ngomel-ngomel”.
Hahahaha.
Melewati sebuah lahan kosong, kami dapat info menarik lagi.

“Nah, coba ibu lihat lahan kosong tuh. Ditanami kan?”

“Apa itu Pak? Lahan pertanian?”

“Bukan. Jadi disini, kalau ada lahan kosong, wajib hukumnya ditanami. Kalau tidak, pajaknya jadi 300%.”

“Oh?”

“Iya… jadi setiap warga yang punya lahan kosong, wajib menanami lahannya, biar hijau. Gak boleh gersang, kalau gak dia harus bayar pajak gede.”

Perjalanan sudah separuh, kami masuk di jalur high way menuju Hollywood.

“Ini kita masuk high way. Saya agak kencang ya Bu. Ibu perhatikan deh, jalur sebelah kanan, itu khusus jalur evakuasi. Di jalan tol di Jakarta juga ada. Tapi disini, semacet-macetnya jalan, tidak akan ada yang berani masuk jalur itu. Kalau di Jakarta, begitu macet dikit, pasti langsung masuk ke jalur itu. Kalau disini, enggak. Orang tuh tertib sekali soal ini. Termasuk buang sampah. Jadi gini, kalau misalnya mobil di depan kita ini saya lihat melanggar rambu atau buang sampah di jalan, saya akan telpon atau sms nomor polisi dan menyebutkan nomor mobil itu. Ntar di depan sana pasti dia langsung dicegat….hahahaha”.

“Ooo gitu ya Pak. Jadi sesama warga harus saling mengingatkan ya Pak.”

“Iya… gak bisa dong hanya mengandalkan polisi dan pemerintah. Itu yang harus dibangun, kepedulian masyarakat. Di kita, itu yang susah Bu.”

“Satu lagi Bu, disini yang sangat ketat adalah soal rokok. Orang boleh merokok jika itu di area pribadinya. Bahkan di rumah saja, kalau misalnya saya merokok, dan asapnya sampai tercium tetangga, saya bisa diadukan karena mengganggu kenyamanan orang lain. Jadi intinya, kita boleh melakukan sesuatu, sesuka-suka kita, jika itu di area pribadi kita. Tapi begitu di area publik, no! Itu sebabnya kayak di kantor Bu, para perokok itu ada tempat khusus yang ada penyedot asapnya. Kalau gak, ya gak bisa rokok. Saya berani bertaruh deh, selama ibu disini, gak akan ketemu orang merokok di area publik. Lihat saja nanti di Universal Studio. Biar itu luasnya satu kota, gak akan ada orang yang berani ngerokok”.

gate universal
Kami tiba di gerbang masuk Hollywood City, lalu menuju Universal Studio. Tiket masuk ke area ini kurang lebih 1,2 juta per orang. Dengan tiket seharga itu kita bisa masuk ke semua area permainan dan atraksi yang ada. Cari tempat parkir lumayan lama, sampai ketemu di lantai 5. Kami memutuskan untuk melihat beberapa pertunjukan saja, yakni: Sherk, Mummy the ride, Transformer, Water World, dan ikut studio tour. Waktu mau ikut Mummy the ride aku agak deg deg an sebetulnya. Pasalnya aku paling takut permainan2 yang membuat tubuh berputar, maju mundur, dst. Naik kora-kora saja di Ancol aku nyaris muntah.

“Gak koq Bu. Gak sampai berputar2 gitu, cuma maju mundur dikit,” kata Pak HS.

Jadilah kami ikutan. Astagaaaa….! Jantungku benar-benar mau copot dibuatnya. Keluar dari area ini, aku ampun-ampun:

“Gak lagi deh Pak. Gak mau lagi. Yang lain saja, gak pake yang gitu”. Pak HS ketawa-ketawa melihat kami berdua keringat dingin.

“Tapi ibu harus coba Transformer Bu. Rugi kalau gak coba. Ini versi terbaru, kata teman saya keren banget. Bener2 serasa main filmnya. Ayo Bu, kita makan dulu deh, biar ada energi untuk main Transformer.”

Kami makan dulu. Bingung mau pilih menu apa. Semua menu orang Amerika ini fast food yang aku gak suka. Untung ada salad buah dan sayur. Kami pesan jus juga.

“No sugar, please,” pintaku.

“Sorry…?” kata pelayan.

“No sugar, please…”

Dia melihatku dengan heran sambil menjawab:

“Oh, of course!”

“Bu, disini jus memang gak pake gula. Originil!” kata Pak HS.

Oooo…. pantesan si pelayan itu heran.
Habis makan, kami ngantri di lokasi Transformer. Antriannya di dalam ruangan yang berbelok-belok, jadi kita gak tahu sepanjang apa ini antrian. Cuma petugasnya inform kira-kira ngantri berapa lama. Kami ngantri kurang lebih 25 menit. Untungnya selama ngantri, kita bisa mengamati banyak mesin-mesin atau desain ruangan. Aku mengamati desain ruangan itu dan banyaknya kabel-kabel yang tertata rapi tapi rumiiiiittt banget. Ya, kayak studio film gitu. Ada layar tipi juga yang menjelaskan apa itu Transformer dan persyaratan mengikuti games ini. Gak boleh bagi penderita jantung, gak boleh bagi yang ada gangguan back pain, dst. Waduh! Gue takut deh. Kayaknya ngeri nih gamesnya.

“Aduh, Pak. Aku ngeri nih. Takutnya aku pingsan nanti,” aku bilang.

“Gak Bu. Aman koq. Malah asik. Percaya deh. Ayolah,” kata Pak HS.

transformer
Aku benar-benar keringat dingin. Tibalah giliran yang menggetarkan itu. Dan…benar! Permainannya keeereeeeeeennnnnnn banget! Serasa main di filmnya. Ini games 3 dimensi, kurang lebih 3-4 menit saja. Tapi saya gak tahan pas adegan kita terbang dan berada diatas gedung tinggi. Saya ngerti ini kamuflase saja, tapi begitu lihat kebawah, rasanya seperti fakta! Semua orang menjerit-jerit, dan aku nyaris ngompol! Ketika games itu selesai, aku seperti lepas dari sandera godzilla! Sumpah! Keren tapi bikin mabok! Setelah itu kami ikut permainan Water World.

“Ini paling asik Bu. Saya sudah 5 kali lihat ini. Gak pernah bosan. Setiap kesini saya pasti lihat ini,” kata Pak HS.

“Kayak tadi lagi gak Pak?”

“Oh, enggak. Ini atraksi. Tapi keren. Kayak di filmnya Kevin Costner itu lho. Kita nonton saja kayak di stadion.”

water world2
Antrian ke area ini banyak sekali. Ternyata stadionnya memang besar sekali. Soal antrian ini ya, aku perhatikan, mereka selalu mengutamakan anak-anak, penyandang cacat, orangtua, dan wanita. Dimana-mana begitu. Lalu ada parkir khusus kereta2 bayi. Pak HS betul. Water World keren banget. Rasanya saya pengen nonton berulang-ulang deh. Kayak nonton Water World langsung di depan mata. Gak pake layar. Seruuuuu…..

studio tour
Terakhir, kami ikut studio tour. Ini yang paling banyak kejutan. Jadi, kita naik kereta dengan beberapa gerbong. Setiap gerbong berisi kurang lebih 20 orang. Di setiap gerbong ada layar tipinya. Pemandu tour, Jimmy Fallon. Tournya adalah mengelilingi lokasi-lokasi syuting film-film Hollywood. Setiap ketemu satu lokasi, si pemandu akan menjelaskan ini lokasi apa, film apa yang pernah dibuat disini, lalu filmnya ditayangkan di tivi, dan….. kita langsung lihat bagaimana adegan-adegan itu dilakukan. Misalnya begitu tiba di lokasi dimana pernah ada adegan banjir disitu, tiba-tiba kiri kanan kita keluar air bah…banjir beneran, pohon bertumbangan, angin puting beliung, dan setelah itu reda. Begitu juga ketika masuk ke area yang ada gedung rusak, lalu pemandu mengatakan bahwa lokasi ini dipakai untuk syuting film2 kebakaran di parkiran gedung, tiba-tiba seluruh gedung terbakar, bau bensin dimana-mana, api melalap semua benda-benda sekelilingnya, sementara kami ada di tengah2 area itu, diatas kereta tour. Kami semua menjerit-jerit ketakutan. Ajaibnya, tak ada percikan apapun kena ke kita. Puncaknya adalah ketika kita masuk di lorong yang gelap, dan si pemandu siap memberikan kejutan. Rupanya kejuatannya adalah adegan di film Jurrasic Park dan King Kong! Oh my God! Itu dinosaurus serem-serem dan King Kong sak gede bumi mendadak nongol di depan kami dengan mulut menganga. Semua menjerit ketakutan, anak-anak yang duduk di depan saya menangis menjerit-jerit:

“Mommyyy… mommmmyyyy…..” dan aku gak habis pikir bagaimana binatang-binatang ini tiba-tiba ada disitu, hidup, mengaung seram dan siap menerkam kami. Adegan terakhir adalah ketika kereta kami dibanting satu dinosaurus besar dan mulutnya menganga siap menelan semua penumpang di kereta tour! Mata melotot di kegelapan, dan nyaris gak bisa nafas, ketika tiba-tiba semuanya senyap, diam, dan kami mendapati diri berada diatas kereta tour, aman, tanpa kurang sesuatu apapun, tapi nafas terengah-engah. Aku melihat sekeliling. Mana King Kong nya? Mana dinosaurusnya?

“Gila! Ini gimana sih Pak? Kita ini kan di out door, bagaimana bisa itu binatang2 tadi muncul sih Pak? Lalu banjir itu? Api itu?” tanyaku bertubi-tubi.

“Hahaha…. ibu gak usah bingung. Jangankan ibu, aku yang sudah 18 tahun disini dan sudah 6 kali kesini tetap saja bingung bagaimana mereka melakukan ini. Nikmati saja Bu. Itulah hebatnya teknologi mereka. Jadi semua area ini kayaknya ada layar 3 dimensinya Bu, gak kelihatan. Padahal kita kan kayak naik kereta di hutan ya? Hehehe…”

Sampai sekarang, aku gak habis pikir bagaimana adegan itu mereka buat. Sialan memang orang Amerika ini ya 🙂
fast and
Kereta tour juga melewati tempat dimana benda-benda yang dipakai di film-film tertentu, seperti mobil yang dipakai di film ‘Fast and Furious’ dan properti2 yang dipakai di film-film terkenal lainnya.

Kami pulang dari Universal Studio sudah lewat pukul 6 sore, tapi cuaca masih terang benderang. Sampai pukul 8 malam pun masih terang, baru pukul 9 mulai gelap. Malam itu kami tidur dengan lelap. Bayangan dinosaurus masih terus menghantuiku hingga besok paginya.

ATT_1403920342710_foto
Hari kedua kami dibawa ke lokasi walk fame Hollywood stars. Iiihhh… gak nyangka ya bisa sampai kesana. Banyak turis-turis dari Asia yang mengerubuti trotoar terkenal itu. Hari itu kebetulan hari peringatan meninggalnya Michael Jackson. Banyak turis dan warga yang meletakkan bunga dan menyalakan lilin di nama ‘Michael Jackson’. Ada para penghibur dengan kostum tokoh Zorro, Captain America, dll. Kita bisa foto dengan mereka tapi bayar Ada bus yang menawarkan jasa tour keliling rumah-rumah selebritis Hollywood. Kami ditunjukkan gedung yang biasa dipakai untuk menggelar acara Oscar dan pertunjukan lain-lain. Di sekitar area itu banyak toko-toko yang menjual souvenir khas Hollywood. Ada toko yang sedang sale, tiap item 5 dolar. Kami muter-muter disitu cukup lama. Menjelang siang kami ke St. Marina Bay. Sepanjang perjalanan banyak lihat mobil-mobil bagus.

“Heran ya, disini mobil keren-keren banget sih Pak. Mahal-mahal kayaknya nih.”

“Oh, enggak Bu. Disini mobil murah. Bisa dibilang harganya sepertiga dari harga di Indonesia. Makanya saya bisa punya mobil sampai 4…hahaha.”

“Masa?”

“Iya. Kalau di Indonesia harga mobil 1 M, disini paling 300 jutaan. Yang mahal disini minyak Bu. Makanya Amerika suka ribut dengan negara-negara Arab”.

Hahahhaa…. kami ngakak.

“Emang Amrik ini murni mengandalkan Timur Tengah soal minyak ya Pak?”

“Gak juga. Tapi kan pengaruh bangetlah ke harga minyak dunia. Sebetulnya sih sama-sama membutuhkan lah, cuma kalau sudah disusupi politik kan jadi susah Bu. Kita jadi gak tahu, ini beneran soal ekonomi atau politik. Yaaa, kayak di Indonesia sekarang lah. Orang banyak berharap pada Jokowi, tapi lihat saja ntar. Kalau Jokowi jadi Presiden pun, dia gak akan bisa tuh bener2 menjalankan niatnya memperbaiki negara karena ada partai di belakangnya. Partai itu kan butuh uang Bu. Dan siapapun kadernya yang duduk di pemerintahan pasti dijadikan alat untuk cari uang. Jokowinya bisa saja punya niat bagus, tapi yang dibelakangnya itu? Sama halnya dengan Prabowo. Dia bisa punya visi ingin bangun Indonesia, tapi tetap saja, dia kan punya partai juga. Makanya, siapapun yang jadi presiden, rakyatlah yang harus kuat. Harus kritis. Cerdas.”

* waktu kami ngomongin ini di Los Angeles, 2 minggu lagi Pilpres di Indonesia. Omongan Pak HS terbukti kayaknya deh, sekarang *

Di tengah perjalanan, ada mobil bagus, lupa namanya, tapi bentuknya mulus kayak kapsul. Bener2 kayak kapsul obat gitu.

“Pak, itu mobil lucu banget sih. Kagak ada pintunya apa? Koq mulus banget gak ada celah gitu?” aku penasaran.

“Oh, itu. Itu lagi ngetrend disini, masih mahal Bu. Kalau di rupiahkan kira2 1 M lah. Jadi pintunya ngebuka otomatis Bu. Nutup juga otomatis. Kita ngelihatnya kayak gak ada pintu ya? Gak ada gagang apapun. Keren tuh Bu.”

Kami tiba di St. Monica bay agak tengah hari. Lumayan panas, tapi tetap semangat menjelajah. Pak HS menjelaskan hal-hal unik lagi disini, khususnya tentang parkir. Jadi, di tiap 5 meter ada gagang, semacam pembatas parkir. Aku pikir itu rambu-rambu parkir, gak tahunya tempat menggesek kartu untuk bayar parkir. Kalau gak bawa kartu, bayar pakai koin. Koinnya dimasukkan ke lobang yang ada di gagang itu. Et dah! Kagak perlu ada tukang parkir ya?

Kami main-main di area ini sekitar 1 jam. Nyobain makanan tradisional orang Meksiko. Kayak cak we gitu deh, tapi ditaburi gula. Gurih. Di area pantai ini banyak anak-anak muda Amerika sedang berenang. Ada yang bikin acara-acara hiburan juga. Kontes-kontes mode gitu. Buat cowok-cowok, cuci mata banget nih kesini….hahahaha. Kami foto-foto disini berdua temanku. Tiba-tiba ada cowok berwajah Timur Tengah – Amerika menyapa:

“Assalammmualaikum…. may I help you?”

Karena dia lihat kami berdua ganti-gantian foto, dia menawarkan diri memotret kami berdua. Aduh, thank you so much deh. Dia nanya:

“Do you come from Malaysia?”

Oh ya, di area walk fame, si Captain America juga mengira kami dari Malaysia. Buat orang Amerika, wajah-wajah Melayu mungkin identik dengan Malaysia ya?

Setelah puas main-main disini kami pulang. Tiba di rumah pukul 08 malam dan langsung packing barang. Besok pagi siap meluncur ke Las Vegas, tujuan yang sebenarnya 🙂

Posted in My Journey | 5 Comments

INI BENERAN LA (LOS ANGELES), BUKAN LENTENG AGUNG!

United Airlines (UA) merupakan maskapai penerbangan utama di Amerika. Mungkin kayak Garuda lah ya di Indonesia. Konon UA ini melayani hampir 700 an penerbangan setiap hari. Pesawatnya gede-gede. Ruang didalamnya besar, dengan kursi-kursi penumpang besar dan tinggi. Jarak antara tempat duduk dengan kabin juga tinggi. Mungkin menyesuaikan dengan postur-postur orang bule ya. Kami dapat seat di bagian tengah, dengan nomor seat di tengah juga. Jadi saya dan teman saya diapit oleh penumpang lain. Sejak naik pesawat sampai mendarat keesokan harinya, suasana di pesawat remang-remang saja. Walau di luar cuaca terang, di pesawat suasananya seperti malam terus. Entah ya, apakah ini disengaja supaya penumpang gampang tertidur (mengingat lamanya penerbangan), saya kurang tahu.

Pelayanan di pesawat cukup baik, walau boleh dibilang tidak ramah. Bener, pramugari-pramugari US itu tidak ramah, tapi profesional. Tapi, mereka terlihat gesit. Mereka juga tidak dandan. Rata-rata kru pesawatnya sudah tua, berisi * gemuk * taksiranku usia 40 an. Mungkin paling mudah 35 an. Rambut digerai begitu saja, bahkan ada yang cuma dikuncir kayak si mba di rumah. Uniformnya warna biru tua. Kru cowok terlihat lebih rapi, kayak pelayan di restoran. Soal layanan seperti ini memang sering dipersoalkan banyak orang ya, soal keramahan. Saya kebetulan bukan orang yang ramah, jadi kalau ke layanan publik, saya tidak terlalu mempersoalkan keramahan (dalam arti senyum) tapi lebih ke profesionalismenya. Sepanjang dilayani dengan baik dan sopan, buat saya senyum gak begitu penting. Buatku, senyum itu bonus saja. Tapi banyak juga yang lebih mengharapkan senyum lho. Gak apa2 kebutuhannya tidak terlayani dengan optimal, asal petugasnya rajin senyum, oke-oke saja tuh buat klien. Aku enggak ah. Gak apa-apa petugasnya gak pake senyum asal dia menjalankan tugasnya dengan profesional.

Nah, pramugari UA ini bukan orang-orang yang ramah, tapi profesional. Semua permintaan kita dilayani. Saya misalnya, selama penerbangan 4 kali minta:

“Hot water, please….”

Soalnya kalau di pesawat dalam waktu lama berpotensi membuat kulit dan kerongkongan kering. Sebaiknya minum air hangat. Herannya penumpang lain (apalagi yang bule-bule) selalu minta air es. Hal makanan, saya paling tidak suka makanan2 orang bule. Makanan siap saji itu gak ada rasanya di lidahku. Kentucky lah, pizza lah, burger lah. Gak pernah bisa aku nikmati tuh. Tadinya sudah agak hopeless apakah bisa makan makanan di pesawat. Ternyata makanannya enak-enak. Mengenyangkan dan selalu disajikan dalam kondisi hangat (bahkan panas). Cuma buat teman-teman Muslim mungkin agak hati-hati karena tidak ada menu khusus ‘halal food’ seperti di ANA Airlines. Tapi mereka kasih pilihan menu yang gak pakai daging. Temanku mau gak mau pilih menu itu.

Penerbangan dengan UA ini kami jalani dengan asik-asik saja. Selain tidur, saya menikmati hiburan yang tersedia. Film2 nya asik, macam menu HBO dan Fox di tivi kabel Saya menonton sebuah film drama yang sangat menyentuh (lupa judulnya). Film Jepang. Kisah sebuah keluarga yang bapaknya dipenjara karena kesalahan yang tidak dilakukannya. Sediiiihhhh. Nah, kalau di pesawat, boleh deh nonton drama. Kalau di bioskop atau di rumah, ogah. Saya lebih suka film action…ciaaattt….. ciiiaaaatttt…!

Pesawat mendarat mulus di bandara Los Angeles sekitar pukul 10 pagi hari waktu US. Begitu keluar dari pesawat, aku melihat sekeliling dan meyakinkan diri bahwa ini benar-benar di LA (Los Angeles), bukan di LA (Lenteng Agung). Lega bercampur excited menginjakkan kaki di bumi (katanya) demokrasi ini. Kami mengikuti alur exit, sampai ketemu counter imigrasi. Melihat antrian yang sangat panjang, kami memutuskan ke toilet dulu. Cuci muka, gosok gigi, ganti baju, pokoknya bersih-bersih. Keasikan kami di toilet, begitu keluar, ternyata antrian sudah hampir habis. Astaga! Kami buru-buru dorong troli menuju antrian. Counter dibagi 2 jenis antrian. Satu untuk warga Amerika, dan satu lagi untuk visitor. Kami masuk di jalur visitor. Di depan kami tinggal 5 antrian. Di counter sebelah ada bapak-bapak (orang Jepang) yang okumennya ditolak dan dibawa masuk ke ruang khusus imigrasi. Aku langsung kebayang deh peristiwa2 yang pernah kubaca tentang orang-orang yang gak lolos meja imigrasi ini. Aku mulai grogi, deg deg an. Pemeriksaan di counter imigrasi ini merupakan titik ‘kritis’ bagi visitor suatu negara, apalagi US. Apapun bisa terjadi. Tibalah giliranku. Aku menyerahkan paspor.

“Good morning, madam….” sapa petugas sambil memeriksa pasporku.

* O ya, walau tampangnya sangar-sangar, tapi mereka tetap menyapa dengan sopan, walau tanpa senyum…hihihi *

Sambil memeriksa dokumenku dan layar komputernya, si petugas (cowok) menanyaiku:

“Is this the first time to you to visit US?”

“Yes, sir”.

Lalu seperti pertanyaan di kedutaan waktu ngurus visa, dia tanya2 tujuan ke Amerika apa, berapa lama disini, dimana akan tinggal. Setelah itu dia menyerahkan dokumenku dan berucap:

“Have a nice day, madam. Enjoy Los Angeles.”

Legaaaaaa……! Sementara itu temanku sedang di counter sebelah. Dari jarak 5 meter aku melihat si petugas (cewek) memeriksa dokumennya dan menanyainya. Aku agak deg deg an nih, soalnya temanku kan pakai hijab. Aku kuatir dipersulit. Tapi syukurlah, tak lama setelah ditanya-tanya kayak aku, dia lolos. Kami melanjutkan perjalanan menuju tempat kedatangan. Lorong-lorong di bandara ini panjang-panjang, sepi. Kalian tahu gak, aku ini kebanyakan nonton film Hollywood, hihihi. Jadi aku suka membayang-bayangkan kejadian-kejadian yang ada di film selama di US. Film-film Hollywood itu kan settingannya beragam. Ada di bandara, ada di penjara, di rumah sakit, dst.

lorong bandara

Keluar dari area imigrasi menuju tempat kedatangan, kami mencari-cari pak HS, yang akan menjemput kami. Tidak ada. Padahal di email disebutkan bahwa dia akan tiba tepat waktu. Kami pikir, mungkin belum nyampe. Jadi kami selonjoran dulu, buka-buka HP. Hampir 30 menit tidak ada tanda-tanda sosoknya muncul. Mulai galau.

“Jangan-jangan kita salah tempat nih nunggunya”.

“Tapi ini memang ruang kedatangan. Kan bapak ini bilang ‘pokoknya begitu keluar dari pemeriksaan imigrasi, ibu tunggu di ruang tunggu itu saja. Saya akan ada disitu’…”

Saya mencoba melihat-lihat ke area sekitar. Di lantai atas ada ruang tunggu juga. Jangan-jangan si bapak ada di atas ya? 30 menit berlalu. 1 jam. Waduh. Something wrong nih. Saya coba telpon, gak nyambung. Saya coba email, belum ada jawaban. Kami putuskan tetap menunggu. 1,5 jam. Mulai capek, lapar.

“Kita tunggu 30 menit lagi. Kalau tidak datang, kita naik taksi saja ke alamat yang diberikan si bapak.”

Tak sampai 30 menit, si bapak muncul.

“Maaaaaffffff…… saya terlambat banget ya. Ada kecelakaan di high way, jadi semua kendaraan terhalang hampir 2 jam sampai polisi selesai mengevakuasi.”

“Oooo…. gak apa-apa Pak. Kami nyaris naik taksi tadi”.

“Oh? Untung ibu masih sabar ya. Di rumah kan gak ada orang juga. Istri saya sedang di sekolahan anak saya yang sedang wisuda. Kita langsung kesana ya Bu?”

bandara LA

Kami membawa koper ke tempat parkir dan segera naik ke mobil. Si bapak mensetting dulu tujuan kami di alat yang dia pencet-pencet. Kepo ku kumat deh.

“Apaan tuh Pak?”

“Setting tujuan kita dulu Bu. Nanti dia akan arahkan kita ke tujuan.”

“Oooo… GPS gitu ya Pak.

“Ya, gitulah. Hidup disini kan semuanya serba teknologi…hehehe.”

Kami memulai perjalanan yang menyenangkan. Si bapak menjelaskan banyak hal selama perjalanan. Soal tarif parkir di Amerika. Soal peraturan lalu lintas. Kami tiba di sekolahan putrinya kurang lebih 40 menit dari bandara. Ternyata di University of California Irvine. Ini kompleks sekolahan, mulai dari playgroup, sampai universitas. Putrinya Pak HS ini baru lulus high school dan hari itu adalah hari wisudanya. Wah, kebetulan yang menyenangkan nih. Baru nyampe, langsung ke pesta wisuda

Kami nyampe di hall tempat wisuda. Rupanya acara sudah berlangsung separuh. Kami mengambil tempat duduk yang masih kosong. Terdengar suara guru2nya memanggil nama-nama siswa satu per satu, lalu siswa tersebut maju, lalu kepala sekolahnya melakukan prosesi wisuda gitu lah. Bagian paling heboh adalah setiap kali nama siswa dipanggil, keluarganya akan tepuk tangan sambil teriakin nama siswanya. Ada yang tiup terompet segala dan nyanyi-nyanyi gitu. Wueh! Kayak anak-anak alay juga nih. Lalu setelah semua dipanggil, terakhir adalah adegan semua siswa melempar topi wisudanya ke atas disertai teriakan heboh. Hehehe… seru juga deh.

wisuda

Selesai acara, kami baru bertemu dengan istri Pak HS dan putrinya. Kami salaman dan ngobrol sebentar, kemudian Pak HS ngajak kami makan dulu sementara si ibu kembali ke kantor dan putrinya langsung pergi dengan teman-temannya. Makan di resto Thailand cukup menyenangkan buat perut yang sudah keroncongan. Tak terasa badan sudah capek banget. Kami langsung ke rumah Pak HS di daerah Irvine. Rumahnya berada di komplek yang sangat nyaman. Bagi emak-emak sepertiku, ini lingkungan perumahan impian banget deh. Asri, bersih, nyaman. Rumah Pak HS berada di hook dan….pakai pagar sendiri….hahahaha. Si bapak bilang:

“Iya… disini rumah-rumah gak pake pagar karena aman. Cuma kita sudah terbiasa ya di Indonesia pakai pagar, jadi aku aja yang pakai pagar…hahaha”

Rumah2 di lingkungan ini tipenya sama. Tidak ada yang menonjol, semua seragam bentuknya. Dan…. semuanya serba elektronik. Mulai dari garasi yang secara otomatis terbuka begitu mobil berada di jarak 2 meter, pintu rumah juga begitu. Semua serba otomatis. Kami diberi kamar di lantai 2, di kamar putrinya. Diberi akses wifi gratis. Karena sudah capek banget, kami langsung mandi, dan istirahat. Malam hari ngobrol sebentar dengan si ibu yang baru pulang dari kantor. Malam itu aku sempatkan skype an ke Depok. Begitu wajah Naara muncul di layar HP ku, dia langsung jerit-jerit:

“Mama… mama… cini dong… aku mau bobo. Aku mau nyenye * maksudnya nenen, karena waktu dia masih minum ASI * “ sambil nangis-nangis.

Aduuuhhhh…. aku jadi mewek dan menyudahi skype an. Gak tahan dengar tangisnya. Aku bbm in Angel:

“An, mami gak tahan lihat Naara nangis. Gak usah skype an lagi ya….”

Kata Angel:

“Ya sudaaaahhh… Tuh kan, yang mewek siapa. Naara nya mah bentar aja nangis, setelah itu juga udah main.”

Sebelum tidur, Pak HS mendiskusikan agenda kami esok harinya. Karena gak ngerti, kami berdua sebetulnya oke oke saja mau diajak kemana. Namanya juga numpang…hihihi.
“Ada beberapa tempat wisata di California ini, Bu. Ada Disney, California Adventure, Universal Studio, St. Monica Bay, dan banyak. Kalau Disney mungkin cocok untuk anak-anak.”

“Aduh….terserah bapak saja deh. Kita ikut saja.”

“Kalau mau, besok kita ke Universal Studio Hollywood saja ya?”

“Itu kayak yang di Singapore itu ya Pak?”

“Yaa…. jauh lebih bagus inilah Bu. Besok deh, ibu pasti suka. Ada games terbaru yang super keren. Transformer Ride. Ini versi terbaru, baru 3 bulan di launch. Saya pun belum pernah main. Besok deh ya Bu.”

“Oh, baik Pak”.

“Ada studio tour nya juga. Ibu pasti surprise deh nanti. Bisa dicontoh nanti untuk program library tour di Perpustakaan UI…hahaha”

“Siippp deh Pak. Gak sabar nunggu besok ”

Tidur malam itu semangat bingit deh. Semangat membayangkan jalan-jalan besok….hahahaha

*Nahhh…. Cerita jalan-jalannya besok lagi deh *

Posted in My Journey | 8 Comments

“PERTOLONGAN PERTAMA PADA KEBERANGKATAN” (KE AMERIKA)

Ini lanjutan dari note kemarin ya. Itu lho, yang judulnya : “Mau ke Amerika, di kedutaannya saja sudah nyasar!”

—————-

Setelah mengantongi visa dan dokumen-dokumen lain, kami mulai mencari tiket. Menimbang-nimbang penerbangan yang akan digunakan ke negeri paman sam itu. Buat saya pribadi, yang paling mencemaskan adalah lamanya penerbangan. Hampir 23 jam! Alamak! Gak kebayang gimana rasanya berada di pesawat selama 1 hari 1 malam. Kupastikan aku akan bosan, bête, stress, pegal, dan sakit. Teman-teman kasih pilihan:

“Kalau mau ada jeda istirahatnya, lewat Bangkok. Bisa istirahat kurang lebih 6 jam”.

“Jalur paling aman tuh lewat Tokyo.”

“Lebih asik lewat Dubai”.

Waduh. Bingung. Saya dan teman yang mau berangkat ke US ini belum pernah bepergian dengan penerbangan jauh. Negara yang pernah kami kunjungi masih sebatas Asia saja. Penerbangan terlama yang pernah aku alami baru ke Philipina dan Vietnam. Saya paling bosan di pesawat. Duduk lebih dari 2 jam adalah siksaan besar buat saya.

Kami masih berkutat dengan pembelian tiket, sambil mulai mencari-cari penginapan. Kongres American Library Association (ALA) 2014 ini diselenggarakan di Las Vegas. Di pagenya ALA cukup jelas nama-nama dan alamat hotel yang direkomendasikan panitia dan dekat dengan venue. Kami mulai pilih-pilih penginapan.

“Pilih yang paling dekat ke venue, supaya gak perlu pake transport lagi”.

“Pilih hotel yang aman, biar mahal tapi terjamin lah”.

“Pilih yang ada breakfastnya, ngirit biaya makan di luar”.

“Pilih yang ada wifinya, biar lancar komunikasi”.

Aduuuhhhh… banyak banget persyaratan kami berdua. Maklum, emak-emak. Hitung-hitungannya rumiiitttt.
Sudah tinggal 3 minggu keberangkatan, tapi tiket pun belum dapat. Kami masih berkutat memilih jalur tercepat dan teraman. Apalagi saat itu sedang ramai berita hilangnya pesawat Malaysia Airlines.
“Jangan yang lewat segitiga Bermuda.”

Di tengah-tengah kerumitan, tiba-tiba ada bantuan tak terduga. Seorang kolega yang sudah bermukim di US sejak 1997 menawarkan bantuan. Beliau ini alumni FE UI dan sempat mengajar di FE UI juga. Istrinya juga alumni FE UI. Beliau menawarkan mencari tiket paling murah, dengan jalur melalui Tokyo (jalur yang biasa dia gunakan). Pesawatnya ANA Airlines, dan UA (United Airlines). Setelah kami rundingkan, kami oke dengan pilihan jalur itu. Tidak hanya itu. Beliau juga menawarkan agar kami mampir ke Los Angeles dulu, nginap di rumahnya selama 3 hari, lalu ke Las Vegas.

“Tapi, acara di Las Vegas kan mulai tanggal 26 Pak?”

“Gak apa-apa. Kalian berangkat dari Jakarta tgl 24 pagi. Jalurnya Jakarta-Tokyo- Los Angeles. Nanti saya jemput di bandara LA. Kita punya waktu 2 hari eksplore Los Angeles. Setelah itu saya akan antar kalian ke Las Vegas. LA-LV itu cuma 3-4 jam koq naik mobil.”

“Hah? Serius Pak?”

“Ya, serius lah. Masa main-main. Ke Las Vegas telat sehari gak apa-apa. Tanggal 26 itu kan cuma pembukaan dan workshop-workshop. Ibu ikut workshop gak?”

“Enggak Pak. Kami pilih paket exhibitions saja.”

“Ya sudah. Pas itu.”

“Tapi kami belum booking penginapan di Las Vegas Pak.”

“Ya sudah. Saya booking kan dulu ya. Saya akan telpon panitianya. Kalau bisa dapat hotel yang langsung di venue, bagus. Tapi kalau gak, at least yang dekat venue. Berapa rate untuk hotel?”

Kami memberitahu rate sesuai peraturan pemerintah.
Besoknya kami dapat kabar, hotel di tempat venue sudah full booked. Kami dapat di Hotel Flamingo.

“Ini hotel bagus koq Bu. Keren. Mahal sedikit gak apa-apa ya. Ini daerah pusat hiburan Las Vegas. Dekat dengan Caesar Palace. Itu lho, tempat artis2 sering konser tuh.” *langsung kebayang konsernya Celine Dion, Michael Jackson, Britney Spears, Whitney Houstan, yang pernah digelar di tempat ini.*
Begitulah. Semuanya beres dalam waktu singkat dan dengan cara yang tidak diduga-duga. Kami berdua kegirangan gak ketulungan menerima tawaran menginap di Los Angeles dulu. Kalau cuma kami berdua, palingan kami ngendon saja di Las Vegas selama 8 hari. Aktivitas juga paling seputar hotel dan venue kongres.

Seminggu sebelum keberangkatan, saya jatuh sakit. Sakit beneran. Saya merasa lelah, pusing, dan tidak nyaman. Saya ke dokter. Periksa darah, semuanya baik-baik saja. Kata dokter: ‘kayaknya asam lambung’. Aku tidak yakin. Aku kepikiran membatalkan keberangkatan. Aku takut kalau sakit di perjalanan, jadi urusan temanku. Aku takut gak bisa pulang lagi, gak ketemu Naara lagi. Aduh! Hiks…hiks…makin kupikirkan, makin menjadi-jadi sakitnya. Makin lemas tubuhku. Aku coba kontak si bapak yang booking tiket, mungkinkah mengubah nama yang berangkat jika aku berhalangan.

“Tidak bisa, Bu. Karena tiket ibu promo. Yang bisa adalah cancel. Nanti akan dikembalikan biayanya, tapi gak full”.

Temanku juga cemas dengan kondisiku. Teman-teman menghibur:
“Sudahlah, mba itu terlalu mikir kali, makanya jadi berasa sakit.”

“Enjoy aja mba, kesana kan cuma ngikutin kongres kan. Gak kerja. Biasanya kita kalau pergi-pergi, bebannya berat, banyak yang harus diurus. Ini kan cuma sebagai participant doang. Anggap aja mau jalan-jalan.”

Aku meyakinkan diri bahwa aku baik-baik saja.

Di pagi hari keberangkatan, aku gak mau membangunkan Naara. Aku memeluknya dan berucap doa agar Tuhan menjaganya. Waktu memeluk itulah, airmataku bercucuran. Sebelum berlalu dari kamar, aku pandangi Naara yang sedang terlelap. Ya Tuhan! Aku akan sangat merindukan dia. Sebagai emak-emak pekerja, aku cukup sering dinas ke luar kota. Angel dulu pernah aku tinggal selama 2 minggu ke Philipina, tapi waktu itu usianya sudah 4 tahun. Aku bahkan pernah meninggalkan rumah selama sebulan untuk training di Singapore. Anak-anak sudah gede waktu itu. Kali ini, aku harus meninggalkan Naara selama 10 malam saja, tapi rasanya seperti mau pergi setahun. Aku memang paling gampang mewek kalau sudah menyangkut anak-anak kecil, sodara!

Kami tiba di bandara pukul 04 pagi. Penerbangan kami pukul 06. Di lift menuju boarding kami bertemu dengan wanita muda yang tergesa-gesa bawa koper besar.

“Mau kemana Bu?” sapanya.

“Los Angeles.”

“Naik ANA juga?”

“Iya. Kalau mba?”

“Ya, saya mau pulang ke New York. Naik ANA juga”.

“Oh. Tapi ke Tokyo dulu ya?”

“Iya. Semoga gak kena random check in nih”.

“Apa tuh mba?” aku kepo deh.

“Ibu langsung kan? Maksudnya nanti dari Narita langsung lanjut ke LA kan?”

“Katanya sih gitu mba…”

“Nah, disitu suka kena random check in Bu. Jadi nanti diacak siapa yang kena. Kalau kita kena, harus check out dulu di Narita, baru check ini lagi. Aku selalu kena tuh. Sebel.”

“Waduh, gitu ya. Tapi kami waktunya mepet banget lho mba. Nanti di Narita cuma ada waktu 50 menit ke penerbangan berikutnya. Kalau kena random check ini bisa ketinggalan pesawat dong.” Ujarku.

“Semoga saja ibu gak kena Bu.”

Wueh! Jadi nambah pikiran. Gimana kalau kena random check in? Ah, bodoh amat deh. Jalanin ajalah.

Pesawat ANA Airlines berangkat on time. Pertama masuk pesawat, kita langsung dibagikan handuk kecil hangat dan basah beraroma lemon untuk melap tangan. Aku gak cuma melap tangan, tapi juga buat wajah. Segar rasanya. Karena masih pagi dan sejak semalam gak bisa tidur (kebiasaan kalau mau pergi-pergi, selalu terbangun tiap 30 menit) begitu take off, langsung pules deh. Cuma bangun saat pramugari nawarin makanan. O ya, pramugarinya ANA Airlines ini manis-manis, lembut, helpful, halus, dan ramah. Dilayani mereka serasa dilayani dayang-dayang. Konon keramahan pramugari ANA beda tipis dengan Garuda. Tapi 2 kali naik ANA, kupastikan pramugari ANA jauh lebih ramah dan lembut. Makanan di pesawat lumayan enak, khas Jepang. Ditawarin wine juga. Habis sarapan, tidur lagi sampai jam makan siang. Dari rumah saya memang minum aspirin, sengaja biar ngantuk, biar gak bosan. Setelah makan siang, rasanya segar. Tidak terasa penerbangan sudah lebih 4 jam. Tinggal 2 jam lagi tiba di bandara Narita. Ah, ternyata tidak semembosankan yang saya bayangkan. Waktu 2 jam dihabiskan dengan nonton film. Tak terasa sudah tiba di Tokyo.

Bus Narita

Tidak banyak waktu yang kami punyai untuk melanjutkan perjalanan ke Los Angeles. Begitu keluar dari pesawat, kami mengikuti alur orang-orang yang melanjutkan perjalanan. Agak bingung di bandara ini karena signage nya pakai aksara Jepang semua. Schedule pesawat yang ada di layar tivi juga berbahasa Jepang, diselingi dengan bahasa Inggris. Para petugas di bandara inipun tidak terlalu fasih berbahasa Inggris. Waktu kami tanya kemana arah untuk penerbangan lanjutan dengan UA tujuan Los Angeles, si petugas cuma nunjuk-nunjuk layar tivi. Ya, sudah. Kita ikutin barisan orang-orang yang antri saja deh. Antriannya lumayan panjang dan lama. Kami agak kuatir karena waktu boarding dengan UA sangat mepet. Petugas meneriakkan:

“Chicago… Chicago….!”

Penumpang tujuan Chicago diprioritaskan dulu karena pesawatnya sudah mau take off. Di barisan kami, ada satu keluarga dengan 3 orang anak balita. Sejak turun dari pesawat dan naik bus bandara ke terminal kedatangan, keluarga ini ceriah sekali. Mereka nyanyi-nyanyi terus, suaranya juga bagus. Kita pun jadi terhibur. Disampingku ada seorang ibu muda menggendong anak balita. Dari wajahnya jelas sekali dia orang Indonesia. Kamipun bercakap-cakap sebentar. Ibu ini habis liburan dari Indonesia, mau kembali ke Honolulu. Dia sudah tinggal disana selama 10 tahun lebih. Menikah dengan bule.

Antrian Narita

Antrian masih bergerak lama. Ternyata, pemeriksaan disini sangat ketat. Sepatu dan kaos kaki sampai harus dibuka. Satu orang penumpang bisa diperiksa 3-4 kali melewati gate pemeriksaan itu. Belum lagi cairan-cairan yang ada di tas, dan ukuran tas yang boleh dibawa ke kabin. Di ketentuan penerbangan yang ada di tiket memang jelas tercantum bahwa setiap penumpang hanya boleh membawa hand bag ukuran tertentu ke kabin. Teman-teman yang sudah pengalaman ke Amerika dan Eropa sudah mengingatkan ini. Kalau bawa koper ke kabin, kopernya pasti dibuka dan diperiksa. Bikin lama. Aduh! Kapan kelarnya? Beruntung penerbangan ke Los Angeles mengalami delay selama 20 menit. Kami masih punya waktu untuk selonjoran. Saya menyempatkan diri melakukan streatching ringan sementara teman saya sholat di salah satu pojokan bandara. Tepat 20 menit setelah pengumuman delay, kami pun boarding. United Airlines ini sempat membuat kami ragu. Pasalnya, temanku nemu curcol seseorang di blog tentang pengalamannya yang kurang menyenangkan naik UA. Memang bukan pengalaman mengerikan sih, hanya persoalan keramahan saja. Tapi kalau soal professional, konon mereka sangat profesional. Katanya, kru-kru pesawat UA ini sangat handal dan terlatih mengatasi masalah jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di pesawat. Setelah diyakinkan teman yang pernah naik UA dan bapak yang membantu kami booking tiket, kami percaya. Jadilah kami naik UA dari Tokyo ke Los Angeles. Di pintu pesawat kami disambut kru dengan ramah:

“Welcome board…. “

Dalam hati aku bergumam: “Amerika! Aku datang!”

*masih nyambung besok yaa… smile emoticon *

Posted in My Journey | 1 Comment

MAU KE AMERIKA, DI KEDUTAANNYA SAJA SUDAH NYASAR!

(Catatan perjalanan saya ke Amerika Juni 2014 lalu dalam rangka menghadiri kongres American Library Association (ALA) ‪#‎latepost‬ )
—————————

Tahun 2014 lalu, bolehlah dikatakan tahun yang lumayan sibuk buat kami pustakawan di UI. Banyak kegiatan-kegiatan yang kejar tayang. Di awal tahun, saya dan teman mencoba submit poster session ke International Federation of Library Association (IFLA). Judulnya: ‘Developing a Model of Library User Education for Digital Native’. Waktu submit abstraknya, saya sudah menduga peluang untuk diterima 70%, karena ‘digital native’ memang sedang digemari komunitas pustakawan saat ini. IFLA tahun 2014 lalu diselenggarakan di Lyon, Paris. Jujur saja, Paris nya itulah yang menarik buat saya. Terbayang-bayang ke kota mode itu, bernarsis ria di depan menara Eiffel. Tak sampai 2 bulan setelah submit, kami mendapat email balasan bahwa paper kami diterima. Yeeeeeeaaaaahhhhh…! Jingkrak-jingkrak deh. Eh, tapi dalam waktu yang bersamaan, ada juga undangan dari ALA untuk menghadiri kongres. Ke ALA diutus 2 orang, ke IFLA 2 orang. Tapi yang ke ALA ada masalah. Teman yang bisa berangkat 1 perempuan dan 1 laki-laki. Dan dua-duanya merasa kurang nyaman untuk berangkat berdua dengan perjalanan panjang. Saya ditawari. Seketika saya berpikir:

(Kalau ke Paris, kayaknya tidak sesulit ke Amerika. Visa Schengen itu relatif mudah diperoleh. Visa ke Amerika, katanya sulit didapat. Tapi, kalau saya ke Paris, bisa sekalian ke 6 negara (sudah kami rencanakan jauh-jauh hari). Sedangkan kalau ke Amerika, ya…cuma ke Amerika saja. Duh! Gimana ya…? *galau.com*)

Menyadari bahwa saya hanya bisa pergi-pergi ke luar negeri jika ditugaskan dari kantor, saya pilih ke Amerika saja, dengan harapan suatu saat nanti bisa keliling Eropa bersama keluarga, dan biaya sendiri. Amiiiinnnnn….

Mulailah kami mengurus dokumen-dokumen perjalanan. Dokumen paling penting tentu saja visa, dan untuk mendapatkan visa ini harus ada surat dari setneg dulu. Mengurus surat ijin dari setneg hampir sebulan (o ya, sekarang sudah tidak perlu surat dari setneg jika mau dinas ke luar negeri, syukurlah!). Setelah dapat ijin dari setneg, barulah apply visa. Untungnya apply ini cukup online saja. Pengalaman apply visa ini cukup menyenangkan. Tahapannya pun jelas dan sepanjang kita sudah menyiapkan dokumen yang diminta, tidak akan ada masalah. Sedikit agak bingung waktu membuat foto, khususnya bagi teman2 yang pakai hijab. Di ketentuan disebutkan tidak boleh pakai penutup kepala. Teman seperjalanan saya kebetulan pakai hijab. Awalnya dia foto gak pakai hijab, tapi dapat info dari teman-teman yang pakai hijab yang sudah pernah ngurus visa US, gak apa-apa koq pakai hijab. Cuma pas foto, kuping harus kelihatan. Jadilah, temanku itu foto lagi, pakai hijab. Hebatnya, para tukang foto pun sudah tahu lho, persyaratan2 foto untuk apply visa ke berbagai negara. Mereka sudah paham bahwa untuk negara tertentu, latar belakang foto harus putih, sedangkan untuk negara lain harus warna biru. Peraturan ini bahkan selalu mereka barui sesuai ketentuan dari kedubes terkait. Ckk…ck…ck….orang yang terjun di dunia bisnis itu memang harus proaktif ya?

Setelah apply, kita mendapatkan tanggal dan waktu wawancara di Kedubes US. Kami mulai cari-cari info dari teman-teman yang sudah pernah apply visa US. Info-info seperti ini penting untuk menambah bekal kita menghadapi wawancara. Kita semua tahu lah, sejak peristiwa 11 September 2001, tidak mudah masuk ke Amerika. Banyak visa yang ditolak dengan alasan yang kitapun tidak tahu. Sampai ada guyon bahwa mendapatkan visa US itu sama dengan sudah masuk ke separuh wilayah Amerika yang akan dikunjungi. * halah…! *

Hari wawancara pun tiba. Kami mendapat jadwal wawancara jam 09.00 tapi sudah harus di US Embassy paling lambat pukul 06.30 WIB. Saya naik kereta dari Depok pukul 05.00 pagi. Tiba stasiun Juanda pukul 06.00 kurang. Lalu naik bajaj ke US Embassy. Untung waktu kuliah dulu pernah ke US Embassy, dibawa pak dosen melihat-lihat perpustakaan mereka yang keren. Sampai di Embassy, ya ampunnn… sepagi itu barisan yang antri di luar gerbang sudah mengular. Jam berapa orang ini mulai antri ya? Jangan-jangan dari malam nginap disini? Saya perhatikan sebagian besar yang antri adalah saudara-saudara kita yang bermata sipit. Banyak yang bawa anak-anak. Baru ngeh kalau mau menjelang libur panjang sekolah. Mungkin mereka mau liburan. Disana ketemu juga dengan Mba Dyah, dosen Psikologi UI yang akan mengurus visa buat liburan bersama anaknya.

Antrian diatur dan dikawal oleh security yang berjaga. Di luar gerbang antrian diatur sedemikian rupa. Diingatkan lagi berkas-berkas apa saja yang perlu dibawa. Soal berkas ini ya, ada semacam ‘trauma’ bagi saya pribadi. Jadi kalau ngurus apa-apa, saya selalu bawa sekomplit mungkin berkas. Takut tiba-tiba diminta dokumen-dokumen pendukung. Di kita kan sering gitu. Suka mendadak ditanya berkas ini itu jika ngurus surat-surat, padahal di persyaratan tidak disebutkan dokumen tersebut. Jadi kubawalah segala dokumen-dokumen macam KK, KTP, Karpeg, NPWP, dll. Padahal Kedubes cuma perlu paspor dan surat registrasi online yang didalamnya ada tertulis jadwal wawancara kita. Itu saja!

Jam 6 lewat para staf Kedubes mulai berdatangan. Bule-bule yang bertugas disana satu per satu tiba. Ada yang datang pakai kendaraan pribadi, ada yang naik taksi. Begitu tiba, dengan ramah mereka menyapa kami yang antri:

“Good morning all….. “

Pukul 6.30 tepat gerbang dibuka. Satu per satu antrian masuk, berkasnya diperiksa dengan cermat oleh petugas. Masuk ke gerbang pertama untuk diperiksa barang bawaan (kayak di bandara), lalu tas dititip. Masuk ke gerbang kedua, diperiksa lagi, lalu ambil nomor antrian. Setelah nomor antrian diperoleh, kita disuruh pindah tempat duduk ke sisi yang berbeda. Setiap nomor antrian sudah tercantum nomor grupnya. Nomor grup-grup inilah nanti yang terus jadi acuan kita ketika dipanggil. Begitu seterusnya sampai selesai proses wawancara. Awalnya saya dan teman saya bisik-bisik:

“Ini pembagian grup, maksudnya apa ya?”

“Oooo…. Grup kita mungkin untuk tujuan bisnis ya. Kalau grup lain mungkin untuk holiday…” Sok tau!

Nah, ketika menunggu panggilan untuk diperiksa berkas inilah, saya dan teman saya nyasar. Ini masih ngantri di area terbuka, belum ke ruang wawancara. Jadi, ada pengeras suara (suara cewek bule) yang memanggil nomor-nomor antrian:

“Kyuw kosong dua empat….”

“Kyuw kosong dua lima….”

Setiap kali ada panggilan, kami berdua otomatis melihat tampilan yang muncul di layar yang tersedia disitu, dan di nomor antrian yang kami pegang. Di layar munculnya no: 024. Setelah lima kali panggilan, kami berdua bisik-bisik:

“Ini koq Q melulu ya, lha… kita O, kapan?”

Setelah beberapa saat kami baru sadar, yang dia maksud ‘kyuw’ itu adalah ‘antrian’ (queue)! Bukan huruf Q! Hahaha…. pasalnya si bule itu menggunakan bahasa Inggris untuk menyatakan ‘antrian’ tapi begitu nyebut nomor antrian, dia pakai bahasa Indonesia. Bingung kan? Kalau pakai bahasa Inggris kan harusnya dia bilang: ‘kyuw zero two four…’. Aduh, sakit perut kami berdua deh ketawa-ketawa. Ini, mau ke Amerika, di kedutaannya saja sudah nyasar? Wkwkwkwk….!

Setelah melewati pemeriksaan berkas, tibalah giliran ke ruang wawancara. Ada 2 tahapan yang harus dilalui di ruang ini. Perekaman sidik jari dan wawancara. Tempatnya agak sempit, penuh. Disinilah saya menyadari trik mereka membagi-bagi antrian kedalam beberapa grup. Tadinya aku pikir: ‘rumit banget sih orang ini mengatur antrian segini doang? Rempong!’. Belakangan aku membuktikan bahwa trik itu efektif mencegah penumpukan di satu titik (karena keterbatasan area). Menunggu proses perekaman sidik jari, kita bisa melihat dan mendengar barisan yang sedang diwawancarai. Tadinya aku pikir wawancara ini di ruang tertutup. Gak tahunya di ruang terbuka saja, berdiri di barisan dan ditanya-tanya. Gitu saja. Selama menunggu giliran wawancara, kurang lebih 30 menit, saya melihat ada 3 bule yang bertugas di bagian wawancara: 2 orang perempuan, 1 orang laki-laki. Saya perhatikan, yang laki-laki kayaknya agak galak. Di barisan dia ada beberapa orang yang ditolak visanya, termasuk seorang laki-laki muda yang ingin menemani Omanya melayat omnya yang meninggal di Amerika.

“Status Anda tidak kuat untuk mendapatkan visa saat ini.” Begitu kata si bule. Yang aku dengar dia tanya adalah:

“Apakah sudah berkeluarga? Kerja dimana?”

Aku menerka-nerka dalam hati: “mungkin kalau yang apply visa ini anak-anak muda yang belum punya ikatan keluarga (menikah), dikuatirkan tidak akan kembali ke Indonesia”.

Dalam hati aku berharap tidak dapat si bule cowok itu sebagai pewawancara. Tapi begitu nomor grup kami dipanggil, eh, koq pas di barisan dia. Ah, sudahlah! Ada 2 orang di depan saya yang terlebih dahulu dapat giliran. Pasangan suami istri. Visanya si bapak ditolak karena paspornya rusak. Kata si bapak:

“Paspor ini basah waktu saya pulang dari Thailand bulan lalu….”

“Oh, it’s oke. Tapi Anda harus ganti dulu paspornya baru visa Bapak kami keluarkan. Tidak ada masalah dengan dokumen Anda, hanya paspor Bapak yang perlu diganti. Sedangkan visa ibu oke.” Jawab si bule. Aku sempat intip paspor yang ditunjukkan si bule. Memang parah sih. Kayak habis kerendam cucian…tintanya sudah bleber semua.

“Next…!”

Tibalah giliranku. Karena tadi si bapak aku lihat maju berdua bareng istrinya (karena tujuannya sama), maka saya maju bareng temanku. Eh, si bule langsung negur:

“No! One by one….!”

Aku maju. Dia ambil tumpukan berkasku dari folder disampingnya, sambil dia bacakan namaku untuk verifikasi. Tangannya gesit sekali membuka lembaran dokumen. Tiba-tiba dia menjulurkan sebuah paspor ke celah loket dan bilang:

“Take it! It’s not needed!”

Aku kaget. Kok gak perlu? Aku raih paspornya, ternyata itu paspor orang lain, dan nampaknya paspor lama. Aku bilang:

“It’s not mine!”

Dia ambil kembali paspornya dan bilang:

“Oh. Sorry madam…”

Lalu dia mulai tanya-tanya:

“Apa tujuan Anda ke Amerika?”

“Mau menghadiri kongres American Library Association.”

“Apakah Anda akan pergi bersama teman?” Dia menunjuk teman saya yang di belakang?

“Ya. Kami berdua mendapat undangan.”

“Berapa lama disana? Siapa yang membiayai?”

“8 hari. Ini tugas dari kantor.”

“Anda kerja dimana?”

“Di Perpustakaan UI.”

“O ya, kalau di Indonesia…. Library itu apa namanya ya? Pustaka.. .perpustaka… “

“Perpustakaan…”

“Hmmm… so, kongres yang akan Anda hadiri ini tentang apa? What do you want to see there?”

“Kami ingin melihat perkembangan perpustakaan di US, trend terbaru di bidang teknologinya dan layanan.”

“Oooo.. I see. O ya, how many copies UI library collection?”

“Almost two billion, including e-resources.”

“Sudah berkeluarga. Berapa orang anak?”

“Empat!”

“Yang paling besar usia berapa? Yang paling kecil usia berapa?”

“Paling gede usia 18 tahun, paling kecil 2 tahun”.

“Hmmmm… oke, Madam! Visa Anda akan kami berikan. Have a nice trip. Next!”

“Thank you.”

Selesai deh. Tibalah giliran temanku. Eh, dia lebih gampang lagi. Karena tadi sudah ditanya dengan siapa aku pergi, maka ke dia wawancaranya lebih singkat:

“Berapa mahasiswa UI sekarang?”

Setelah itu nanya: ‘Anda akan pergi berdua?’ sambil nunjuk aku. Dan…

“Have a nice trip…!”

Aha! We got it!

Seminggu setelah itu, sesuai instruksi dan pilihan pengambilan visa, kami disuruh mengambil visa ke tempat yang ditentukan. Nyasarnya disini lebih parah lagi. Jadi, kedubes bilang pengambilan visa ini di RPX Casablanca, Jl.Prof. Dr. Satrio No.64B, ex “Gado2 Cemara”. Pergilah kami naik taksi. Muter-muter di daerah Casablanca sampai pusing, gak ada tuh kantor RPX. Tukang tambal ban, tukang warung, tukang ojek… semua gak kenal ex ‘gado-gado cemara’. Ada tukang warung yang bilang kalau dulu memang ada tukang gado-gado yang terkenal disini tapi sudah digusur oleh perumahan Casablanca itu. Pergilah kami ke area perumahan itu. Gak ada. Sambil muter-muter, kita juga kontak-kontak dengan teman-teman. Persoalannya gak ada yang tahu RPX ini apa. Kami juga gak tahu. Ternyata maksudnya FedEx! Ampppuuuunnnn… dije! Itu kantor FedEx sudah kami puterin 2 kali. Astaga! Dasar orang udik ya? Sopir taksi juga baru tahu kalau RPX itu maksudnya FedEx. Hadeuhhhh… cuma urusan visa saja sudah 2 kali nyasar, pegimane nanti di negaranya si Obama ya?

*to be continue deh…:-) *

Posted in My Journey | 10 Comments

BEST SELLER

Sering dong dengar kata ‘best seller’. Bagi yang suka ke toko buku pasti akan akrab juga dengan tulisan ini: ‘BEST SELLER’ di rak buku-buku yang sedang dicari banyak orang dan penjualannya tinggi. Saya sendiri kalau ke toko buku, rak itulah yang pertama saya tuju. Jarang beli buku sih *soalnya setiap hari ketemu buku-buku baru di perpustakaan…☺*, tapi minimal saya tahu buku-buku yang sedang best seller apa. Biar gak dibilang kudet. Kan gak asik dong, masa pustakawan gak tahu buku-buku terbaru? ☺

Istilah ‘best seller’ dimaksudkan untuk mengatakan bahwa sebuah buku itu sedang laris, dicari banyak orang, telah dibaca banyak manusia, terbukti dari hasil penjualannya yang tinggi. Kalau di film disebut box office. Ada beberapa indikator yang dipakai untuk memasukkan sebuah buku kedalam kategori ‘best seller’. Misalnya hasil penjualan dalam seminggu minimal berapa ribu eksemplar. Setahuku kriteria inipun tidak sama di semua tempat. Dan…jumlah penjualan ini sifatnya harus nasional. Bisa saja sebuah buku misalnya laris manis di Medan, tapi gak laku di Bandung. Samalah kayak partai pemenang pemilu kali ya. Partai X bisa menang di sebuah propinsi, tapi dia baru disebut pemenang pemilu kalau secara nasional perolehan suaranya paling tinggi.

Para penulis (dan penerbit) tentu saja ingin sekali namanya mejeng di rak ‘best seller’. Bagi penerbit, tentunya akan mendatangkan keuntungan besar, dan bagi penulis akan mencapai popularitas dan profit yang menyenangkan. Penulis-penulis yang bukunya menjadi ‘best seller’ berpotensi menjadi selebriti. Bukunya difilmkan, diundang seminar atau talk show di banyak acara, diuber-uber para fans, diwawancara wartawan, dan seterusnya. Mungkin membayangkan hal-hal itulah, ada penulis yang pernah melakukan manipulasi untuk mendapatkan predikat ‘best seller’ ini. Jadi dia beli sendiri bukunya dari banyak toko dalam jumlah banyak, sehingga bukunya menjadi ‘best seller’. Ini tentu tidak beretiket dan tidak legal ya * jangan ditiru *.

Lalu bagaimana caranya menjadi penulis buku ‘best seller’? Saya juga mau sih, dan gak tahu juga caranya bagaimana.☺ Tapi dari pengamatan saya untuk buku-buku ‘best seller’, bisalah kita mengambil pelajaran. Coba deh, kita lihat ya, buku-buku yang pernah menjadi ‘best seller’. Misalnya buku HARRY POTTER karya J.K. Rowling; Laskar Pelangi karya Andrea Hirata; buku STEVE JOBS karya Walter Isaacson (Simon & Schuster); buku SHERLOCK HOLMES karya Sir Arthur Conan Doyle; dan masih banyak lagi. Kalau kita baca kisah atau perjuangan para penulis ini ya, puaannjaaaannnng. Kita mungkin mengenal mereka saat sudah terkenal saja, tapi sebelumnya….hhhhh. J.K. Rowling misalnya. Sebelum serial Harry Potter itu dikenal, sudah puluhan penerbit menolak Rowling. Ada yang bilang:

“Cerita apaan nih? Sihir? Arrrgghhh…. gak menarik!”

Pokoknya para penerbit yang menolak Rowling itu menilai naskah yang ditawarkannya tidak punya ‘masa depan’. Kebayang gak bagaimana penyesalan mereka ketika akhirnya Bloomsbury Press mau menerbitkan naskah Rowling itu dan akhirnya terkenal? O ya, Bloomsbury ini penerbit ke 13 yang ditawarkan Rowling lho. Nampaknya sindrom angka 13 tidak berlaku untuk Rowling ya?☺

Mengenai tema cerita, kalau menurutku ini benar-benar unpredictable deh. Kadang kisah-kisah yang kita pikir biasa-biasa saja, ternyata meledak di pasaran. Waktu baca Laskar Pelangi, saya membathin: “ini….serunya sama dengan pengalaman gue di kampung dulu”. Bedanya, aku gak nulis kan? Andrea nulis! ☺ Banyak buku-buku best seller lainnya adalah pengalaman pribadi si penulis sebetulnya. Sekarang ini, konon kabarnya yang jadi ‘best seller’ di negeri ini adalah buku-buku kuliner. Masak memasak! Isinya apa? Ya, resep masakan lah. Orang-orang yang hobby masak, utak atik resep lalu menamainya dengan nama aneh-aneh gitu, bisa jadi terkenal tuh. Padahal kita emak-emak nih tiap hari masak kan? Nah, apa bedanya dengan orang yang bukunya jadi best seller itu? Ya, itu. Mereka nulis, kita masak doang ☺

Banyak tema lain sebetulnya ya yang bisa ditulis dan siapa tahu jadi best seller. Siapa tahu pengalaman bapak-bapak menggosok batu akik sampai kinclong macam porselin bisa jadi booming. Atau kisah emak-emak yang terobsesi punya bentuk tubuh macam gitar Spanyol bisa jadi terkenal. Atau pengalaman nenek-nenek yang memelihara giginya dengan rajin ‘marnapuran’ * makan sirih * bisa jadi diminati banyak orang. Atau pengalaman bapak-bapak memasang pampers babynya. Atau pengalaman para jomblo menata hatinya yang porak poranda setelah ditolak gebetan, sampai akhirnya di suatu saat si gebetan yang balik naksir tingkat mahadewa. Banyak kan idenya? Kenapa gak mulai nulis? Ayo! ☺
—————
Depok: 2015-03-19

Posted in Opini | 8 Comments

Pagar Ayu dan Pagar Bagus

Di acara-acara pernikahan atau hajatan sejenis di masyarakat Jawa, kita pasti akrab dengan judul diatas. Pagar ayu dan pagar bagus. Barisan penyambut tamu berparas ayu, cakep, berpenampilan bagus. Pokoknya enak dilihat. Saya pribadi tahu tentang pagar ayu dan pagar bagus ini setelah merantau ke Jawa ini. Di Samosir gak ada istilah ‘pagar ayu dan pagar bagus’. Yang ada adalah ‘parhobas’, alias seksi repot. Jadi kalau ke kondangan teman-teman disini, saya suka tuh lihat barisan penyambut tamunya. Cantik-cantik, geulis, ayu, dan… harum pastinya

Selama ini gak pernah kepikiran mempertanyakan makna pagar ayu dan pagar bagus ini. Gak tahu kalau ini mengandung ‘filosofi’. Ada alasan ilmiahnya. Ada latar belakang kenapa disebut pagar ayu dan pagar bagus. Baru tahu pada Sabtu kemarin (14 Maret 2015), di acara ‘Workshop Penulisan Ilmiah Bagi Pustakawan’ di Universitas Negeri Jakarta. Kehadiran saya disana diundang panitia untuk sharing pengalaman soal tulis menulis di bidang kepustakawanan. Pasalnya, banyak pustakawan fungsional yang kandas di level ‘Pustakawan Muda’ karena persoalan tulis menulis. Sementara untuk bisa terus naik ke level ‘Pustakawan Madya’ dan ‘Pustakawan Utama’ adalah harus memiliki ketrampilan menulis ilmiah. Saya pribadi masih berkutat di ‘Pustakawan Madya’ dan tidak mudah untuk mengumpulkan angka kredit di bidang ini, tapi saya tetap optimis dapat sampai ke level Utama (kalau di fungsional dosen, level utama ini mungkin setara dengan ‘profesor’ lah….uhuk…uhuk…) * kembali ke pagar ayu yaaa…. *

Pembuka acara workshop, ada sambutan dari Wakil Rektor I UNJ, Prof. Muchlis. Beliau alumni Filsafat UI (seangkatan dengan Rikard Bagun, editor senior di Kompas). Prof. Muchlis memberi sambutan yang luar biasa terkait tugas-tugas yang SEHARUSNYA dilakukan pustakawan. Beliau bercerita mulai dari kesulitannya menemukan koleksi-koleksi berharga yang seharusnya ada di perpustakaan di Indonesia, dan peran pustakawan yang masih sering dilecehkan di masyarakat kita.. hiks… *tissue…mana tissue:-((*

Salah satu kisah yang beliau ceritakan adalah soal pagar ayu dan pagar bagus. Filosofi tentang pagar ayu dan pagar bagus ditemukannya di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda (saya yakin ada di Perpustakaan Nasional juga nih). Konon, di jaman nenek moyang kita dulu, anak-anak muda (apalagi anak perempuan) tidak lazim beraktivitas di luar rumah. Kegiatan masyarakat hanya seputar urusan domestik dan secara adat memang tidak memungkinkan untuk kongkow-kongkow di luar rumah. Jangankan hang out, keluar rumah saja mungkin jarang. Lalu, bagaimana para anak muda ini bisa dikenal keberadaannya? Bagaimana mereka mencari jodoh? Salah satu cara memperkenalkan mereka pada khalayak ramai adalah dengan ‘memajang’nya di acara-acara pernikahan atau hajatan. Event seperti itu menjadi sarana bagi para orangtua yang punya anak gadis dan perjaka untuk ‘memamerkan’ pada orang banyak:

‘Ini lho….anak gadis saya sudah besar, sudah siap dipinang’.
Atau
‘Bapak/Ibu, lihat tuh…. putra saya sudah perjaka, sudah gede, sudah siap meminang’.

Nanti setelah acara selesai, biasanya ada orangtua yang langsung ketemu orangtua lainnya untuk urusan pinang meminang ini. Begitulah awalnya keberadaan pagar ayu dan pagar bagus ini. Tapi sekarang, menurut pengamatan Prof. Muchlis (pengamatan saya juga sih) filosofi ini melenceng jauh, karena kerap kita menemukan pagar ayu dan pagar bagus ini diisi oleh barisan emak-emak, bapak-bapak, bahkan nenek-nenek….hahahaha. Menurut Pak Muchlis, ini salah satu local wisdom yang mengalami pergeseran makna karena (mungkin) masyarakat tidak mengetahui yang sebenarnya. Dan… ketidaktahuan ini disebabkan sulitnya akses ke literatur tentang hal-hal tersebut.
Saya setuju dengan Prof. Muchlis!
————–
Depok: 2015-03-16

Posted in Life is beautiful! | 2 Comments

AH, TEORI!

Dulu ada iklan ‘Ah, teori!’. Iklan apa ya? Lupa. Kalau gak salah, iklan sampo anti ketombe deh. Entah iklan apalah itu ya. Tapi di keseharian kita kerap dengar ini kan? Misalnya, ketika kita mendengar ceramah para motivator:

“Hidup itu mudah, sodara-sodara! Jalani saja seperti air mengalir”.
*Benak kita spontan nyahut: ‘ah, teori! Faktanya, gue gak pernah melawan arus…hidup gue sengara beudddd…huhuhuhu*

“Bahagia itu pilihan. Jika ingin bahagia, ya bahagia saja. Bahagia itu tanpa syarat”.
*Ah, teori! Gombal! Mana mungkin bisa bahagia tanpa syarat? Gimana caranya bahagia jika di tanggal muda saja dompet udah tinggal gambar Pattimura…*

Atau ketika kita sedang mendengar bos kita pidato:

“Perpustakaan itu adalah jantungnya perguruan tinggi. Dan pustakawan adalah dokter jantungnya!”
*Di baris belakang para pustakawannya langsung pada ngikik: ‘Ah, teori! Anggaran untuk perpustakaan dicoret mulu, makanya jantungnya bocor…hihihi’ *

Atau ketika emak-emak ngasih kuliah di rumah:
“Anak-anak…. kalau lagi pegang gadget itu yaaa…. gak dengar apa-apa. Emaknya manggil-manggil dianggap kayak odong-odong lewat. Iiihhhhh……”.
*Si anak cengar-cengir: ‘Halah! Emak aja gitu. Budeg kalau lagi ngerumpi di bbm atau wa sama grupnya *

Begitulah kita sering dengar ‘Ah, teori!’ ini. Sebetulnya apa sih teori?
Hmmmm…. ntar ya, Googling dulu nih
Katanya sih:
“Secara umum, teori adalah sebuah sistem konsep abstrak yang mengindikasikan adanya hubungan diantara konsep-konsep tersebut yang membantu kita memahami sebuah fenomena. Sehingga bisa dikatakan bahwa suatu teori adalah suatu kerangka kerja konseptual untuk mengatur pengetahuan dan menyediakan suatu cetak biru untuk melakukan beberapa tindakan selanjutnya”.
Banyak ahli yang memberikan definisi tentang teori, diantaranya adalah:

JONATHAN H. TURNER: “Teori adalah sebuah proses mengembangkan ide-ide yang membantu kita menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu peristiwa terjadi”.

KERLINGER: “Teori adalah konsep-konsep yang berhubungan satu sama lainnya yang mengandung suatu pandangan sistematis dari suatu fenomena”.

FAWCETT: “Teori adalah suatu deskripsi fenomena tertentu, suatu penjelasan tentang hubungan antar fenomena atau ramalan tentang sebab akibat satu fenomena pada fenomena yang lain”.

Nah, ungkapan: ‘ah, teori!’ ini kerap kita tujukan untuk mengomentari sebuah pernyataan yang kita tahu tidak semudah mengucapkannya. Atau kita tujukan pada orang yang tidak konsisten antara apa yang dikatakan dan dilakukan. Teori, tidak selalu harus sesuatu yang wah, macam rumus Phytagoras itu, atau teori Darwin tentang evolusi. Kecuali mungkin yang disebut grand theory ya. Dalam keseharian, tanpa disadari mungkin kita menemukan banyak teori dalam kehidupan kita. Misalnya:

‘Orang yang selalu bangun pagi berpotensi tajir!’

‘Emak-emak yang fesbukan lebih dari 2 jam sehari umumnya menderita kelebihan berat badan”. *soalnya kalau fesbukan biasanya sambil ngemil *

‘Para kutu buku biasanya menikah dengan tukang optik’ *supaya bisa gratis pesan kaca mata…hihihi*

Menurut Prof. Muclis, Warek I Universitas Negeri Jakarta, setiap harinya ada 3000 teori baru di bidang ilmu sosial. Sedangkan di bidang ilmu eksakta ditemukan 10% dari 3000 (berapa, ayo? *ambil kalkulator * Yup! 300!) teori baru. Hmmm… banyak ya? Kalau sehari saja ada 3000 teori sosial, dalam seminggu berapa? Sebulan? Setahun? 3 tahun? 7 tahun? 10 tahun? Waaaahhhhh…. gak kebayang deh, teori-teori apa saja itu. Coba ya, mulai hari ini, amati dengan seksama sekeliling kita, kegiatan kita, lalu perhatikanlah kaitannya ke hal lain. Siapa tau jadi teori terkenal. *Ah, teori!*

(Ada tulisan menarik tentang teori dari Ismantoro Dwi Yuwono, bisa dicek di: http://tikusmerah.com/?p=898 )
—————-
Depok: 2015-03-18

Posted in Opini | Leave a comment

The power of….Inem!

Seorang teman sedang dirundung duka. Wajahnya kusut masai, kelopak mata cekung, kantung mata menggelambir bak jantung pisang, dan….rambutnya, persis rambut emak-emak habis ’disasak’ (dikonde) dan belum sempat sisiran setelah sasaknya dibongkar!
(O ya, emak-emak yang suka kondean atau ’sasakan’ sesungguhnya orang-orang yang rela berkorban demi penampilan, karena waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan rambut ke bentuk semula jauh lebih lama daripada waktu yang terpakai ketika sasakan atau kodean. Itu belum dihitung rasa sakitnya…iiiihhhhh…).

Kembali ke teman itu, apa pasal sih? Ibu muda berwajah manis ini tiba-tiba menjelma menjadi perempuan tak keru-keruan?

”Tampangmu itu….ouw… jelek banget…!” ujarku sembari nyengir.

”Kak, please dong…. jangan ngeledek terus. Aku lagi sengsara betul nih.”

”Kalau sengsara membawa nikmat, why not?” aku masih terus bercanda. Sebetulnya aku sedang berusaha mengembalikannya ke habitat aslinya: seorang ibu muda yang happy dan ceria… teman serasi ber haha hihi…kadang-kadang juga ber huhu….

”Bukan, Kak! Ini gak ada nikmatnya sama sekali.”

”Wow! Nampaknya ini serius. Tentang suamimu? Kenapa? Dia main judi? Minum? Atau…main hati? Tell me….!”

”Bukan, Kak! Ini tentang pembokat! Aku stress banget, Kak! Dalam 3 bulan ini udah 4 pembokat, gak ada yang betah. Ganti-ganti terus, gak ada yang cocok. Gak ada yang beres. Sekarang, di rumah gak ada pembokat sama sekali. Padahal aku harus kerja, suamiku harus kerja. Siapa yang jaga anak-anak?”

Ibu muda ini punya dua anak balita, umur 4 dan 1 tahun. Kebayang dong, bagaimana nestapanya hidupnya saat itu?

”Lalu, rencanamu apa? Aku kan bukan penyalur pembantu. Kalau kamu minta advis kemana harus cari pembantu, aku gak punya rekomendasi. Paling-paling aku rujuk ke penyalur, dan kamu sudah bolak-balik kayak setrikaan ngambil pembokat dari situ kan…”

”Itu dia, Kak. Suamiku bilang, aku perlu konsultasi dengan Kakak bagaimana cara membuat pembokat betah di rumah. Pembokat di rumah Kakak kan jarang yang bermasalah, paling keluar karena alasan menikah, dst. Kakak kasih apa? Gaji gede? Atau, apa Kak?”

Aku tertawa….

”Mau dengar jawaban jujur?“

“Of course, Kak! Please….”

“Pembantu di rumah saya tidak pernah bermasalah dan selalu betah, karena saya menempatkan mereka pada posisinya sebagai ‘pembantu’.”

“Please Kak, aku sedang tidak mood membahas bahasa ala sastrawan. To the point aja deh…”

”Belum jelas? Dengar. Bagi saya, pembantu adalah pembantu. Tugas mereka hanya untuk bantu-bantu, bukan mengerjakan segala sesuatunya. Ketika saya ada di rumah, semua pekerjaan menjadi tanggungjawab saya, apalagi menyangkut anak.”

”Yaaa….itu yang susah, Kak. Pulang dari kantor juga udah capek, mana mungkin bisa ambil alih pekerjaan lagi di rumah. Buat apa dong saya gaji pembantu kalau toh saya juga yang harus mengerjakan pekerjaan di rumah.”

”Kalau begitu, jangan minta pendapat saya. Bersiaplah menerima resiko gonta-ganti pasangan, eh, pembokat…..-)”

———————————–

Tiga bulan setelah itu, ibu muda itu masih berkutat dengan penderitaan yang sama, walau kadarnya menurun jauh. Dia memutuskan menggaji 2 orang pembantu, 1 orang khusus untuk urusan anak-anak, 1 orang lagi khusus untuk urusan pekerjaan dapur. Dia bilang, sebetulnya sekarang ini dia lebih rileks karena hampir semua urusan domestiknya ditangani ke 2 perempuan yang digajinya itu.

”Tapi, tetap aja sih Kak ada masalah. Tau sendiri kan, pekerjaan pembokat sekarang suka asal-asalan. Pakaian yang dicuci tidak sempurna bersih. Hasil setrikaannya hancur. Nyapu rumah, cuma bagian yang keliatan aja, yang di kolong-kolong mana pernah disentuh. Debu nempel dimana-mana… ugh…!”

”Kamu sendiri, ngapain? Cuma menyusui anakmu? Kenapa gak kamu titipkan saja (’maaf’) payudaramu itu ke pembokat kalau kamu ke luar rumah, biar sekalian kamu bebas…” ujarku.

”Ih, please Kak. Jangan memojokkan aku terus dong. Hayo ah, kita ngupi aja!”

Kami ngopi dan mulai ngobrol macam-macam. Tapiii….topiknya tetap aja ke soal pembokat tadi. Aku sudah menduga, teman ini gak mungkin bisa beralih topik, karena sesungguhnya benaknya sedang dipenuhi persoalan pembokat tadi.

”Kalau dipikir-pikir, dengan menggaji 2 orang pembantu dan menghitung berapa pengeluaran untuk mereka di rumah, lalu bandingkan dengan penghasilanmu sebulan plus biaya kehilangan waktu bersama anak-anakmu, impas gak sih? Atau malah nombok?”

”Jelas nombok banget, Kak. Itulah yang dibilang suamiku. Disuruhnya aku berhenti bekerja, mengurus anak-anak saja. Mana mau aku? Berpuluh tahun sekolah, bersusah-susah cari kerja, masak harus berhenti begitu saja? Biar gajinya gak seberapa, tapi kan aku juga perlu status sebagai karyawan Kak. Aku perlu eksis di dunia kerja, bukan semata-mata butuh uangnya…”

”Fine. Soal eksistensi itu aku setuju. Tapi tuntutanmu akan kinerja pembokatmu itu yang aku gak setuju. Kamu lupa, para pembantu itu juga sebetulnya memiliki keluhan yang sama akan majikannya. Mereka tidak pernah dilatih kan untuk pekerjaan-pekerjaan rumah? Mereka berangkat dari desa hanya dengan satu tujuan: cari uang! Jarang mereka berpikir bahwa untuk mendapatkan uang itu, mereka perlu ketrampilan. Kita, para pengguna tenaga mereka pun suka lupa bahwa orang-orang ini sesungguhnya perlu dilatih dulu sebelum bekerja di rumah kita. Beberapa lembaga penyalur melakukannya, tapi sebagian besar tidak.”

———————————-
Urusan ’pembantu’ atau ’pembokat’ seringkali menjadi masalah pokok dalam sebuah keluarga. Apalagi bagi keluarga dimana pasutri sama-sama bekerja. Bagi keluarga seperti ini, jasa pembantu sangat diandalkan. Rumah tangga bisa bubar jika si Inem tidak ada. Beberapa waktu yang lalu, di salah satu tayangan yang dipandu Helmi Yahya, ada pasangan yang ingin bercerai hanya karena ditinggal mudik pembantu! Pasangan ini tidak siap dengan pembagian tanggungjawab domestik, sehingga kewalahan ketika si Inem mudik. Persoalannya jadi merembet kemana-mana, padahal intinya cuma soal pembokat mudik. Menyedihkan ya…-(

Persoalan pembantu ini juga kebanyakan melahirkan cerita pilu bagi sebagian besar keluarga. Masih ingat video kebiadaban pembantu terhadap anak majikannya yang beredar di internet 4 bulan lalu? Si pembokat jelek itu, tanpa rasa kasihan sedikit pun menginjak-injak bocah kecil malang itu, menampar, menonjok, dam menjambaknya dengan kesetanan. Saya sempat menggigil menonton video itu….batin saya terguncang hebat membayangkan penderitaan si anak….-(

Beberapa kasus tak kalah mengerikan….anak-anak yang diculik, disiksa, ditelantarkan…-(
Sebaliknya, para pembokat yang menjadi korban kesombongan majikan pun tak terhitung jumlahnya. Tidak hanya korban penyiksaan secara fisik, bahkan perkosaan, sampai pembunuhan. Apalagi kalau sudah berbicara soal TKI atau TKW… wueeh…. gak habis-habisnya. Berapa orang TKI yang pulang dalam peti mati? Berapa orang TKW yang pulang dengan anak-anak hasil perkosaan?

Hubungan majikan dengan pembokat sebetulnya cukup menarik untuk dikaji. Bayangkan, di rumah kita, ada orang lain yang tadinya tidak kita kenal sama sekali, tidak tahu asal usulnya, tidak paham tabiatnya, tapi harus hidup seatap dengan kita dan berbagi tanggungjawab dengan kita dalam hal urusan yang sangat pribadi. Urusan rumah tangga, urusan pribadi kan? Coba pikir, mulai dari cucian (baju-baju sampai pakaian dalam), merapikan kamar tidur, menu masakan, bukankah itu sebetulnya urusan pribadi?

Yaaaa….keadaan memang sering menuntut kita untuk mengabaikan hal-hal itu. Kita harus pura-pura lupa bahwa seharusnya urusan-urusan pribadi itu sejatinya tanggungjawab kita. Kita terpaksa setuju bahwa kamar tidur kitapun kini terbuka untuk si Inem, karena tidak sempat merapikan. Kita jadi masa bodoh ketika bayi mungil kita lebih lelap di pangkuan si Inem daripada di pelukan kita.

Waktu ke tiga anak saya masih balita, saya pernah marah sekali dengan diri saya, kenapa saya harus menggunakan jasa pembantu. Kenapa di kantor saya tidak ada TPA? Kenapa rumah saya tidak dekat dengan rumah Opung anak-anak saya? Di saat itu, para pembokat ini, di mata saya, belagu banget….-(
Pernah saya ditawari tetangga pembantu. Baru datang dari kampung, masih culun banget. Ketika saya tanya-tanya, dia balik mengajukan pertanyaan:

”Ibu pake mesin cuci gak?” Wueh! Ini anak, sales mesin cuci atau apa sih?

”Ibu pulang kantor jam berapa? Suka lembur gak?” Beugh! Macam bos ku aja dia…

Aku gak mau buang-buang waktu dengan pembokat model beginian. Kebetulan, anakku juga ogah dengan dia. Entah kenapa, sampai sekarang ini, ke tiga anakku emoh diasuh oleh pembantu yang tampangnya kurang oke…hahahhahahha…

Sure! Aku gak pernah ngajarin begitu, tapi kalau ketemu si mbak yang kulitnya agak gelap, penampilan tidak bersih dan rapi, bau, anak-anakku gak mau….-))

Sepanjang yang saya ingat, sejauh ini belum pernah punya masalah serius dengan pembantu. Pernah satu kali terpaksa memulangkan seorang pembantu, karena sikapnya yang kasar dan ’maaf’ rada oon…. Keluar masuk kamar mandi cuma pake handuk (sebagai basahan) dan pakai bahasa ’koe’ sama suamiku. Berulang kali saya tegur, gak mempan. Hey, aku aja yang nyonya rumah gak pernah bergaya begituan dah…-)

Beberapa pembokat yang pernah bekerja di rumah masih terus menjalin hubungan baik. Setiap lebaran mereka masih mengantar makanan khas lebaran ke rumah. Kadang-kadang masih mampir ke rumah membawa anaknya. Sekali-sekali menelepon cuma menanyakan kabar anak-anak. Sebetulnya tidak perlu hal-hal aneh untuk mempertahankan hubungan baik dengan para pembantu. Yang jelas, setiap kali mendapat pembantu baru, saya selalu menekankan apa tugas utamanya, dan apa kebiasaan keluarga saya. Saya juga selalu menjelaskan sampai dimana si pembantu boleh ‘mencampuri’ urusan keluarga saya. Misalnya, saya belum pernah menyerahkan urusan merapikan tempat tidur saya menjadi tanggung jawab si Inem. Di mata saya, berlebihan sekali kalau seorang perempuan sampai harus menyerahkan urusan ini ke tangan orang lain dengan alasan tidak ada waktu….*sorry to say…*

Dari pengalaman panjang menggunakan jasa pembantu, daftar di bawah ini (menurut saya lho…) bisa jadi acuan apakah bagi keluarga Anda, si Inem ini punya power yang luar biasa di rumah Anda:

1. Jika anak Anda demam atau kurang sehat, dia memanggil-manggil mbak nya…

2. Jika anak Anda lebih suka atau lebih cepat lelap di pangkuan si Inem daripada di pelukan ibunya…

3. Jika anak Anda lebih memilih susu buatan si Inem daripada buatan Ibunya…(hey, jangan kira membuat susu buat bayi itu gak punya resep….)

4. Jika Anda harus membeli makanan di restoran atau di warung ketika si Inem mudik…

5. Jika keranjang cucian Anda tidak pernah kosong selama si Inem tidak di rumah…

6. Jika rumah mirip kapal pecah saat si Inem tidak ada…

7. Jika jam tidur Anda harus berkurang lebih dari 3 jam di saat si Inem mudik…. dan

8. Jika Anda tak sempat berkaca sehingga tidak tahu seperti apa tampang Anda hari itu, selama si Inem tidak di rumah…. -))

Kalau Anda merasa bahwa ketergantungan terhadap si Inem sebagai sesuatu yang wajar, no problemo…..go ahead…. hidup Anda kan, keputusan Anda.

Tapiii… kalau merasa bahwa power si Inem harus dikurangi, resep saya cuma satu: yakinkan diri bahwa di rumah Anda, si Inem hanyalah outsider…. dan tugas pokoknya adalah ’MEMBANTU’!

*Note ini kupersembahkan buat teman atau ibu-ibu lain yang masih memiliki masalah dengan si Inem. Aku tahu note itu tidak menghibur kalian sama sekali karena terkesan malah membela si Inem, tapi aku harus jujur bahwa bagiku, tidak ada pekerjaan rumah yang tidak dapat dipikul oleh seorang Ibu sejati….pissss…*

——————-
November 22, 2009 at 12:38pm

Posted in Catatan Hati | 5 Comments

Lelaki yang tak pernah mencinta….!*)

*)Ini adalah asli fiksi. Mungkin saja ada kesamaan nama tokoh, kasus, dan tempat…, untuk itu penulis mohon maaf.

——————————

Lelaki yang tak pernah mencinta.
Kalimat itu aku dapatkan dari seorang teman wanita, yang biasa mengirimiku email-email dengan aneka ragam subject. Pagi itu subjectnya : lelaki yang tak pernah mencinta. Sebelum membaca isi emailnya, aku sibuk menebak apa gerangan maksud kalimat tersebut. Tapi sebelum menemukan jawabannya, aku sudah mengambil keputusan bahwa ini pasti ada hubungannya dengan cintanya pada seorang laki-laki yang dipaksa kandas oleh orangtuanya karena perbedaan agama.

(Aneh! Agama koq bisa mengandaskan rasa. Bukankah kita lahir sebagai makhluk Tuhan, tanpa agama? Yang membuat kita memiliki agama kan orang tua. Mereka yang mengajari kita sholat, mengaji atau membaptiskan kita ke gereja, atau mengenalkan kita dengan pura dan wihara. Orangtua juga yang selalu bilang bahwa Tuhan itu hanya ada satu, esa, tunggal. Karena itu pula semua agama adalah sama, menyembah Tuhan yang satu, yang esa, yang tunggal, hanya caranya yang berbeda. Tapi kenapa juga ada orang tua yang marah, kecewa, bahkan sampai memutuskan hubungan darah dengan si anak apabila anaknya memilih menikahi perempuan atau laki-laki yang berbeda agama?)

Ternyata, isi email temanku itu tidak ada hubungannya dengan cintanya yang kandas. Ruri, nama temanku itu mengirimiku puisi berisi kata-kata indah yang kalau direnungkan dan dimaknai: laki-laki memang tidak pernah mencinta, laki-laki hanya ingin memenuhi egonya. Masa sih…? Karena hari itu kebetulan hari Ibu, dan aku si jomblo perawan tua yang dijuluki ‘Bunda’ di kantor, menerima email berisi puisi itu sebagai hadiah di hari Ibu.

(Kenapa hari Bapak tidak dirayakan semeriah hari Ibu? Karena setiap hari adalah hari mereka! Tapi perempuan selalu mengatakan bahwa itulah hebatnya perempuan, ada hari khusus untuk mereka, ada Ibu Pertiwi. Bapak Pertiwi kan tidak ada? Perempuan suka sekali dengan simbol-simbol seperti itu. Padahal tidak membawa manfaat apapun baginya. Dan perempuan juga suka lupa, bahwa di dunia ini bukan cuma perempuan yang bisa jadi ibu. Ada laki-laki, bahkan mungkin bencong. Karena tugas Ibu jaman sekarang ini bukan harus bisa hamil dan melahirkan anak kan? Banyak wanita tanpa pernah berperut buncit dan meraung-raung ngeden menjadi Ibu…… )

Ruri bilang, puisi itu dapat menjadi semacam penghibur diri, apabila mengingat-ingat tingkah pola suami atau pacar yang bikin gregetan. Dasar perempuan! Senang sekali mengada-ada atau mencari-cari istilah yang pas untuk pembenaran diri atau menghibur diri.

Hari Ibu boleh berlalu, email itupun terhapus sudah. Tapi pembuktian hipotesis Ruri bahwa laki-laki tak pernah mencinta, aku dapati pada Marni, Sinta, Juleika, Sundari, Tiarma dan adikku Tita. Marni yang polos cerita mengenai suaminya yang kini lebih suka menghabiskan waktunya di kantor atau di luar kantor bersama teman-temannya daripada berkumpul di rumah bersama anak-anaknya yang berumur 3 tahun dan 1 tahun. Capek. Pusing. Berisik. Kata-kata itu kerap keluar dari mulut suami Marni. Padahal dulu, setelah tiga tahun menikah dan Marni belum hamil juga, suaminya selalu bilang: “betapa indahnya rumah ini bila ada celoteh atau teriakan si kecil.”

Sinta lain lagi. Suaminya baru mendapatkan promosi menjadi manajer di perusahaannya. Akhir-akhir ini Sinta harus selalu stand by setiap kali suaminya mengajak menghadiri macam-macam pertemuan dengan klien atau rekan bisnisnya. Tempat pertemuannya pun macam-macam, kadang di hotel, kafe, restoran, mal atau di kantor. Yang bikin pusing, Sinta harus menyesuaikan diri dengan lokasi pertemuan, acara, dan orang-orang yang akan ditemui. Mulai dari busana, make up, sampai pada cara bicara harus disesuaikan. Semua harus Sinta lakukan demi memperlancar bisnis suami. Sinta yang tidak bisa berdandan, tidak suka pesta dan malas berbasa-basi, merasa tersiksa dan tertekan karena harus merelakan waktunya bersama anak-anaknya direbut oleh baby sitter dan pembantu.

(Kenapa sih untuk pertemuan-pertemuan bisnis para laki-laki harus bawa-bawa pasangan atau istri? Tidak ada hubungannya kan…? Hanya untuk menghabiskan biaya. Bosku di kantor bilang :”bukankah kalian para wanita – dia selalu menggunakan kata ‘wanita’ yang maknanya terkesan ‘nakal’ dari pada ‘perempuan’- suka dipamerkan?” Huh! Bukannya kebalik! Justru laki-laki itu yang suka memamerkan apa yang dimilikinya, termasuk pasangannya. Itu sebabnya pasangannya ‘dipaksa’ untuk tampil sesempurna mungkin bila bertemu dengan rekannya. Untuk urusan bisnis, bagi laki-laki, pacar atau istri itu tak beda dengan mobil atau jam tangan! ).

Lalu Juleika mengeluhkan suaminya yang ‘minder’ karena gaji dan jabatan Juleika lebih tinggi, namun tidak pernah berusaha untuk lebih baik dari istrinya. Padahal saya tidak pernah mempermasalahkan gaji atau jabatannya itu. Saya hanya butuh dukungannya saja. Lha, kalau jabatan dan gaji saya naik, masak harus ditolak? Bukannya seharusnya dia bersyukur punya istri seperti saya?

(Itu menurut Juleika. Bagi laki-laki, perempuan boleh maju, tapi tetap di belakang lelaki! Ditaruh mana gengsiku?)

Bagi Sundari, suaminya bukan cuma pemalas tapi juga bajingan! Sejak di PHK setahun lalu dari perusahaannya dengan sedikit uang pesangon, suaminya hanya menghabiskan hari-harinya dengan membaca koran dan nonton bola. Sambil menunggu uang pesangon ludes, Sundari harus bekerja keras berdagang sembako di lapak yang mereka beli di pasar. Setiap subuh Sundari sudah berangkat dari peraduannya, belanja sayuran ke pasar induk, sementara suaminya meringkuk di bawah selimut dengan suara ngorok yang membangunkan si kecil dan menangis mencari Ibunya. Tangisan sekeras apapun takkan mampu membangunkan laki-laki yang semalaman kenyang menetek di dada istrinya…. Sundari hanya bisa pasrah dan mengelus dada. Kualat kalau melawan suami. Nanti dikata perempuan apa aku ini. Begitu selalu Sundari.

Tiarma, gadis Batak yang terkenal galak dan tangguh itupun, ternyata tak seperkasa tampangnya menghadapi suami. Setiap pagi, di kantor, dia uring-uringan menceritakan ulah bobrok suaminya yang selalu pulang dengan mulut bau alkohol dan menjadikan bengkel ’S—-a’ sebagai tempat mangkal paling asik sedunia.

”Dasar Batak! Ketemu gitar dan catur saja bisa lupa anak istri. Apalagi ketemu tuak (minuman khas Batak, terbuat dari air pohon aren)! Dunia serasa dibawah keteknya!”

Umpat Tiarma di suatu pagi yang tidak terlalu cerah, tapi menjadi gerah gara-gara ocehannya yang tiada ujung.

”Kalau bukan karena menjaga nama baik keluarga, sudah lama aku tendang dia!”

Tiarma bekerja sebagai staf marketing di perusahaan asuransi. Bakat alamiahnya: pandai bicara dan meyakinkan orang. Cocok sekali dengan dunia marketing. Penghasilannya pun lumayan banyak karena dari setiap polis yang di acc, Tiarma dapat bonus. Apalagi kalau polis itu untuk perusahaan. Bonusnya lebih gede lagi. Sebagai anak pertama dari 5 bersaudara, Tiarma ingin dan harus menjadi panutan bagi adik-adiknya. Dalam pekerjaan dan berkeluarga. Maka sebobrok apapun suaminya, selalu ditutupi. Di kalangan keluarga, Tiarma dan suami dikenal sebagai pasangan harmonis dan akur. Hanya keluarga suaminya yang tahu bagaimana aslinya tabiat suami Tiarma. Tapi sebagai menantu, Tiarma justru harus membela keluarga besar suami. Maka jangan harap ada manfaatnya berkeluh kesah pada ipar atau mertua. Jawaban yang akan didengar, pasti:

”Memang dia sudah begitu dari dulu. Bukannya kamu juga sudah tahu?”

Fuih! Mengeluh mengenai perilaku suami ke keluarganya sama saja dengan membangunkan ular yang lagi ngorok!

Marni, Sinta, Juleika, Sundari dan Tiarma, adalah perempuan-perempuan yang menurutku memang harus menerima resiko seperti itu.
Satu-satunya komentar yang terlontar dari mulutku mendengar cerita mereka adalah:

”Siapa suruh menikah dengan laki-laki?”

Tiarma dengan sontak menjawab:

”Emang! Makanya menikah saja dengan perempuan! Sono….jadi lesbi lu!”

Marni lebih bijak.

“Makanya, hati-hati kalau memilih pasangan kelak. Jangan tertipu!”

(Lho, jadi mereka merasa dirinya tertipu ya? Menurut aku sih tidak. Keadaan yang mereka hadapi itu kan bukan sesuatu yang direncanakan. Semuanya terjadi seperti udara yang bergerak terus, tapi tidak kelihatan. Mereka saja yang keliru menafsirkan pernikahan itu sebagai suatu era menjelang kebahagiaan. Padahal ……?)

Suami Marni, Sinta, Juleika, Sundari dan Tiarma tidak pernah sampai membuatku percaya bahwa laki-laki tidak pernah mencinta. Tita lah yang membuatku mulai bertanya, jangan-jangan Tuhan bukan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam? Lagipula, kenapa harus percaya pada cerita itu sih? Memangnya siapa yang sudah pernah ketemu dan bicara dengan Tuhan bahwa dulu Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam?

Tita, adikku itu, menikah dengan laki-laki pilihannya. Gerald. Nama yang bagus sebetulnya. Tapi sejak Tita datang ke rumahku, membopong bayinya yang masih merah, dengan mata sembab dan dahi biru, menyebut nama Gerald saja perutku mual! Maka aku selalu menyebutnya si Bangsat! Ya, si Bangsat itu tidak layak menyandang nama Gerald, karena Gerald artinya ‘anugerah Tuhan’. Tuhan pasti tidak pernah menganugerahkan manusia seperti si Bangsat itu pada umatnya. Si Bangsat itu pastilah anugerah setan. Tapi bukankah semua manusia di bumi ini ciptaan Tuhan? Berarti ada Tuhan lain lagi, Tuhan yang jahat! Atau ada planet lain lagi atau bumi lain yang memiliki Tuhan juga. Dan si Bangsat itu pasti berasal dari sana.

Ketika Tita memberitahukan mau menikah dengan si Bangsat itu, semua keluarga menolak. Alasan mereka tidak jelas, hanya karena faktor tidak suka saja. Aku mendukung adikku. Bahkan sangat mendukung. Alasanku jelas: si Bangsat itu selalu sopan, baik dan ramah, serta tidak banyak omong. Maka, menikahlah mereka. Aku turut berdoa semoga pernikahannya langgeng, awet, dikaruniai anak perempuan dan laki-laki, dan menjadi keluarga panutan. Yang dipersatukan oleh Tuhan jangan sampai dipisahkan oleh manusia. Hanya kematian yang dapat memisahkan mereka berdua.

Tapi sekarang, aku akan memisahkan mereka! Kalau Tuhan tidak mau memisahkan umatnya yang tersiksa dari umatnya yang menyiksa, itu artinya Tuhan tidak dapat membuat keputusan tepat karena Tuhan tidak mau pilih kasih. Tapi aku bisa! Aku harus memisahkan mereka. Dengan atau tanpa kematian! Alasanku jelas, penderitaan Tita…………..

Tita : sebetulnya sejak pacaran dia sudah sering melakukan kekerasan….

Aku : Koq bisa? Belum memiliki saja sudah berani menganiaya…?

Tita : Tapi saya berharap bahwa setelah menikah, dia akan berubah. Itu sebabnya saya mau menikah dengannya. Ternyata tidak! Malah setelah menikah dia semakin menjadi-jadi.

Aku : Lha, iyalah! Justru setelah menikah dia merasa sudah memiliki kamu seutuhnya, dan bebas melakukan apapun pada miliknya. Kamu pikir berubah itu mudah? Mana ada orang yang mau disuruh berubah kalau dia merasa nyaman dengan dirinya?

Tita : Bahkan ketika aku hamil pun, dia sering menendang perut saya dan menjambak rambut saya. Kepala saya sering dijedotin ke tembok.

Aku : Dan kamu diam saja?

(Perempuan sering merasa bahwa kalau dia hamil akan membuat suami bahagia dan memanjakannya. Perempuan lupa, kehamilan perempuan bagi sebagian besar laki-laki hanyalah sebagai bukti bagi dunia, bahwa dia tidak mandul..!!!)

Tita : Kalau dilawan, dia akan menjadi-jadi. Tapi didiamkan pun dia tambah marah. Dianggap tidak kita perdulikan.

Aku : Dibunuh saja!

Tita : Pernah terpikir memang, tapi itu kan dosa. Sebetulnya dia itu ketakutan juga. Takut saya racun. Kalau minta dibuatkan makan, dia suka tanya :”makanannya dipakein racun gak?” Aku bilang :”iya”. Tapi tetap saja dimakan.

Aku : Karena dia tahu kamu gak akan berani melakukan itu! Gak usah pakai racun. Kalau dia lewat di gang, suruh aja orang teriak: “maling….!” Pasti dihabisin dia…

Tita : Hush! Dosa!

Aku : Dia mukulin kamu itu bukan dosa? Ngomong-ngomong, kalau marah, penyebabnya apa?

Tita : (terdiam lama…..) Dia itu selalu marah pas tengah malam. Jadi pas orang sudah nyenyak semua, tetangga tidur dan akupun ngantuk minta ampun. Jadi aku gak pernah bisa minta tolong, karena kalau marah, dia tutup semua pintu, aku diseret ke kamar atau ke kamar mandi dan dipukuli. Satu lagi, kalau lagi gak punya duit! Dia tidak bisa nafas tanpa dompet tebal. Dia bahkan pernah ingin menjualku ke temannya untuk mengisi dompetnya itu!

Aku : Dasar pengecut! Bajingan! Iblis! Tak punya nyali!

(Tapi kenapa harus tengah malam? Pasti tidak jauh dari urusan selangkangan kan….! Pasti si Bangsat itu selalu minta dilayani setiap hari, sementara Tita tidak bisa ….. Tita kerja dari pagi sampai malam. Berangkat jam enam pagi, pulang jam delapan malam. Mana kuat bercinta setiap malam? Sementara si Bangsat itu hanya menghabiskan waktunya untuk tidur dan mendandani akuariumnya itu…..).

Tita : Aku merasa merdeka sekali kalau dia sedang ke daerah. Bebas. Aman. Anehnya dia tidak pernah tahan berlama-lama di daerah. Katanya selalu rindu padaku, pada anaknya. Padahal aku benci sekali pada dia. Anak inipun dimakinya ketika lahir hanya karena yang dia miliki vagina, bukan penis!

Aku : Dia bukan rindu padamu. Dia rindu pada t—–u, pada v——u, pada semua bagian tubuhmu yang membuat dia nikmat dan merem. Kamu saja yang bego! Terlena! Bagi dia anak itu hanya sebagai simbol kejantanan dia. Tidak lebih! Anak perempuan tidak menunjukkan bahwa Bapaknya jantan. Karena, seandainya perempuan dengan perempuan menikah dan hamil, maka hanya akan melahirkan anak perempuan. Yang punya kromoson Y cuma laki-laki. Perempuan tidak! Makanya kalau laki-laki tidak punya anak laki-laki, merasa tidak jantan. Sudah! Tinggalkan saja si Bangsat itu……

(Tapi aneh juga, ada suami yang menceraikan istrinya karena setelah beranak sampai sebelas pun, anak laki-laki tak kunjung tiba. Pasti laki-lakinya bego, dan perempuannya dungu…!!!)

Tita : Bagaimana dengan anak ini? Keluarga? Nanti bikin malu…….

Aku : Malu pada siapa? Seharusnya kamu malu pada diri sendiri, kenapa mau diperlakukan begitu! Kamu kan bukan orang bodoh, Tita! Otakmu encer, IP cum laude, pekerjaanmu terhormat! Keluarganya yang harus menanggung malu! Kenapa menjadi janda memalukan, sementara duda tidak…???!!!!

Tita : Kamu belum ngalamin sih……..

Aku : Apa, jadi istri? Cinta? Bersetubuh? Huh! Persetan! Kalau semua kenikmatan itu hanya mendatangkan derita panjang, buat apa??? Kamu bekerja keras untuk menghidupi dirimu dan dia. Kamu memberinya makan enak, supaya produksi spermanya lancar dan kamu harus pula menampung sperma itu setiap malam? Apa kamu sudah gila? Kenapa tidak jadi pelacur saja? Ada duitnya….

Tita : Pelacur buat suami masih lebih baik.

Aku : Suami? Kamu tahu artinya suami? Bukankah yang dikatakan para imam bahwa para suami bertanggung jawab akan istrinya? Suami harus menghidupi istri?

(Aku sering tidak habis pikir. Dalam buku atau ajaran apapun selalu kutemukan kata-kata manis bahwa seorang suami harus melindungi istri, menafkahi istri. Kenyataannya, sebagian besar suami hanya meniduri istri!)

Tita : Setidaknya anak ini punya Bapak.

Aku : Seorang anak pasti punya Bapak dan punya Ibu. Tapi tidak harus memiliki Bapak dan Ibu. Anakmu pasti lebih suka tidak memiliki seorang bangsat menjadi Bapaknya. Tinggalkan si Bangsat itu, dan jangan pernah kembali padanya…!

Tita : Dia pasti akan mencariku terus…….. dia akan membunuhku, kalau ketemu. Itu sering dikatakannya. Dan sekali aku kembali, maka neraka akan selamanya bersamaku.

Aku : Kalau begitu jangan pernah kembali! Percayalah, kamu tidak akan ditemukan. Karena aku yang akan lebih dulu membunuhnya!

Tita : Terserah kamu lah…. Aku hanya ingin numpang di sini…

(Tita pasti tidak menyangka kalau saya tidak bercanda dengan ucapanku. Tiga hari kemudian, si Bangsat itu datang ke rumah dan seperti sudah kuduga, dia memainkan perannya sebagai serigala berbulu domba. Si Bangsat itu meminta maaf atas segala kesalahan yang dilakukannya pada adikku dan berjanji tidak akan mengulanginya. Dia bahkan rela mencium kakiku – posisi yang pas untuk menancapkan pisau itu di punggungnya – sebelum dia mengerang dan jatuh…..)

Di penjara, kutemukan banyak lagi Marni, Sinta, Juleika, Sundari, Tiarma dan Tita. Pada malam terakhir masa tahananku, aku bermimpi melihat si Bangsat itu merangkak-rangkak di telapak kaki Tita. Aku ingin itu jadi kenyataan…

———————————–

Depok, 16 Juni 2005

*Cerpen ini pernah kukirim ke majalah wanita dan ditolak dengan catatan kecil: terlalu ‘keras’ dan ‘vulgar’. Lucunya, seorang tokoh senior pernah mencari penulis untuk sebuah project penulisan fiksi dengan misi tertentu. Dari 17 pelamar, penulis cerpen ini terpilih untuk project tersebut, setelah tokoh tersebut membaca cerpen ini. Tawaran itu aku tolak karena misinya tidak sesuai dengan hati nuraniku….*

Posted in Cerpen | 7 Comments