Tertolong oleh tulisan ini: ‘BNI’.

Tahun 2010 lalu, tepatnya di bulan Oktober, saya mendapat tugas dari kantor mengikuti short course di Nanyang Technological University (NTU), Singapore. Nama programnya ‘The Professional Internship Programme for International Librarians’ atau disingkat PIPIL. Program ini diikuti oleh 8 orang pustakawan professional dari berbagai perguruan tinggi dari 6 negara (Thailand, Malaysia, Philippina, Brunei Darussalam, dan China). Saya sendiri mewakili Indonesia. PIPIL rutin diselenggarakan oleh NTU setiap tahun, namun baru tahun 2010 ada peserta dari Indonesia. Saya bisa menjadi peserta karena Universitas Indonesia, tempat saya bekerja, adalah salah satu anggota AUNILO (Asean University Network Inter-Library Online). Selama sebulan, kami diberi kuliah-kuliah singkat tentang berbagai hal menyangkut manajemen perpustakaan perguruan tinggi modern, lalu melihat bagaimana NTU mengaplikasikan manajemen tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Mulai dari proses seleksi dan pengadaan koleksi, pengelolaan e-resources, penerapan IT, service excellent, perencanaan anggaran, user education, information literacy, management building, promotion, dan banyak hal menarik lainnya seputar pengelolaan informasi dan pengetahuan. Kami juga diajak melihat beberapa perpustakaan modern di Singapore sebagai bahan perbandingan. Dilibatkan juga di kegiatan-kegiatan kampus, seperti exhibition, user education programme, communication session, yang rutin diadakan Perpustakaan NTU.

Selama di Singapore, saya tinggal di guest house NTU, yang letaknya berada di lingkungan asrama mahasiswa. Peserta dari Thailand dan Malaysia juga tinggal di guest house tersebut tapi di hall berbeda. Peserta dari Philipina memilih tinggal di rumah saudara, teman dari China tinggal di rumah temannya, sedangkan peserta dari Brunei tingal di hotel di daerah Orchard. Buat saya, ini adalah pengalaman pertama tinggal lama di negeri orang. Perjalanan ke luar negeri yang pernah saya lakukan selalu dalam rangka dinas, dan tidak lebih dari seminggu. Kali ini, lumayan lama. Sebulan.

Persiapan saya sebelum berangkat sudah cukup matang. Biaya penginapan sudah dibayar 2 minggu sebelum berangkat. Tiket pulang pergi juga sudah di-booked. Praktis hanya biaya hidup disana yang harus saya pikirkan. Sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), bekal biaya hidup selama sebulan di Singapore tidaklah terlalu besar. Jadi harus pintar-pintar berhemat. Sementara saya ingin mengeksplor tempat-tempat wisata yang ada disana selama mengikuti short course, karena di hari Sabtu dan Minggu kami libur. Saya putuskan membawa bekal tambahan (makanan) sehari-hari secukupnya karena kuatir harga makanan di Singapore terlalu mahal. Beberapa bungkus mie instan, kopi sachet, susu bubuk, oatmeal, dan beberapa jenis makanan ringan, saya bawa.

Hingga minggu ke dua, kegiatan berjalan lancar. Setiap hari Senin sampai Jumat kami beraktivitas di kampus hingga pukul 5 sore. Sedangkan Sabtu dan Minggu kami merencanakan perjalanan ke tempat-tempat wisata yang ada di Singapore. Teman yang dari Brunei, yang menginap di hotel selalu menawarkan untuk tinggal bersamanya di saat week end. Tentu saja saya senang menyambut ajakannya. Bosan tinggal di guest house terus.

Tak terasa sudah masuk akhir minggu ke tiga. Persediaan mulai menipis. Uang tunai tinggal beberapa dolar. Tidak diduga, ternyata yang paling menguras kantong adalah biaya komunikasi. Biaya telepon ke Indonesia cukup mahal. Saya tidak mungkin tidak menelepon keluarga selama sebulan. Kemudian biaya jalan-jalan. Ongkos masuk ke Universal Studio tidak pernah ada di anggaran saya. Faktanya kami pergi kesana 2 kali. Belum lagi kalau week end, entah kenapa lidah ini selalu ingin dimanjakan. Maka pergilah kami ke restoran yang menyajikan makanan enak-enak. Lalu kalau sedang jalan-jalan, selalu ingin jajan. Ketemu toko souvenir lucu-lucu, tak tahan untuk tidak beli. Ada saja alasan untuk merogoh dompet. Lupa kalau harus berhemat…hehehe. Jadilah dompet kering. Kantong menipis. Alamak! Bagaimana ini? Masih ada 8 hari lagi sebelum program usai. Saya mulai pusing. Kemana harus pinjam uang? Masa pinjam ke teman peserta? Kan beda negara. Bagaimana nanti mengembalikannya? Lagipula, malu! Kartu kredit? Saya punya, tapi limitnya kecil. Tabungan? Ada. Tapi bagaimana cara mengambilnya? ATM nya dimana? Bingung. Malu pula cerita ke teman peserta course. Bukan apa-apa, ini soal gengsi, menyangkut nama baik negara…hahaha. Saya tak sudi mereka pikir negara Indonesia itu miskin sampai-sampai ada warganya yang terlantar sedang tugas di negara lain…:-) Ini kan salah saya. Salah dalam perencanaan anggaran.

Saya putuskan untuk bertahan dengan dana yang ada. Kalau perlu puasa deh. Kuhitung-hitung, dengan uang di dompet waktu itu, masih cukup untuk makan sampai program usai. Tapi saya tak akan bisa beli oleh-oleh untuk anak saya. Ya ampun! Teganya. Masa sebulan di Singapore tak bawa apa-apa buat anak-anak di rumah? Barang sebatang coklat kek! Aduh! Keterlaluan. Galau deh. Di tengah kegalauan itu, saya bermaksud mengunjungi saudara yang tinggal di daerah Lakeside. Sebelumnya saya sudah pernah berkunjung kesana. Kalau sangat terpaksa, saya akan pinjam dulu uangnya. Saya berangkat dari asrama dengan tujuan tidak jelas. Naik MRT ke arah Orchard. Melewati Lakeside, aku ragu turun. Di tengah perjalanan, ada sms masuk dari teman sekantor di Indonesia. Ada hadiah (dalam bentuk uang tunai) yang baru ditransfer ke rekening saya. Itu hadiah saya sebagai pustakawan berprestasi UI tahun 2010. Aduh, senang banget dengarnya. Aku jingkrak-jingkrak deh. Terbayang, andai uang itu bisa saya ambil sekarang. Andai ini di Depok, dengan cepat aku bisa lari ke ATM. Tapi ini di Singapore. Rasanya complicated sekali, dalam kondisi tidak punya uang, dan ada uang di rekening kita, tapi tak bisa diambil. Sial!

Aku turun dari MRT dengan pikiran tak menentu, antara senang dan galau. Aku bermaksud jalan-jalan saja dulu. Melepaskan kepenatan pikiran. Menikmati hilir mudik orang-orang yang lewat. Aku berjalan tak tentu arah. Ikut saja arus orang. Tibalah di sebuah jalan yang di sisinya ada gedung bertingkat, lumayan tinggi dan besar. Mataku tiba-tiba melotot pada tulisan dan warna biru yang ada di lantai dasar gedung itu. Aku lupa nama jalannya, tidak tahu nama gedungnya, tapi tulisan itu adalah: BNI! Ya Tuhan! Benarkah? Ada kantor BNI disini? Oh my God! Apakah aku bermimpi? Nyatakah ini?
Mendadak aku ketawa ngakak sendirian, merentangkan ke dua tangan dengan lepas (bodoh amat deh orang bilang aku gila….hahaha), dan berlari ke depan gedung itu. Kuamati dengan seksama. Betul! Ini kantor BNI 46. Tidak salah lagi. Aiiiiii….. senangnya!

Senja itu aku kembali ke guest house dengan perasaan lega. Seakan ada beban berat di pundakku yang barusan luruh. Masalahku mendadak selesai. Aku tak perlu pusing lagi. Tak perlu puasa. Besok aku bisa ambil uang di BNI. Iya, di BNI di Singapore. Bisa beli oleh-oleh. Bisa makan enak sebelum kembali ke Indonesia…hahaha. Malam menjelang tidur, aku masih tak percaya betapa mudahnya menyelesaikan beban pikiran yang selama 2 hari itu menderaku. Hanya dengan melihat tulisan ‘BNI’ itu, masalahku selesai.
Besoknya, di kampus aku cerita ke teman-teman peserta PIPIL. Mereka ketawa-ketawa menyadari betapa polosnya aku. Saking polosnya, sampai tidak tahu kalau BNI punya cabang di luar negeri. Hah!

————
Depok, 11 Juli 2015

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in My Journey. Bookmark the permalink.

16 Responses to Tertolong oleh tulisan ini: ‘BNI’.

  1. Ibu Clara pandai menyusun cerita ya, karena beberapa minggu lalu aku memberik comment pada cerita kunjungan ke Los Angeles(Lenteng Agung) sekarang kunjungan ke Singapura yang menurut versi saya bahwa Singapura itu artinya Singa yang berpura pura atau pura pura menjadi Singa….. Negara kecil yang memiliki perekonomian kuat di Asia bersama Hongkong dan Jepang. Kembali ke ceritanya. Kalau ceritanya berhenti pada saat ibu Clara belum menemukan kata BNI lalu tulisan ini di publikasikan maka saya juga pasti siap membantu untuk mengirimkan sedikit,, hahahahaa agar kita tidak dipermalukan dengan peserta lain dari negara negara tetangga yang iktu sebagai peserta. Tapi karena sudah diatas dengan 3 hurus yaitu BNI, bahkan sempat juga akhirnya membeli oleh oleh buat keluarganya. Mana oleh oleh buat saya ya? Hahahaaa… selamat atas bantuan dari sang empuNya hidup ini yang selalu memberi yang terbaik untuk kehidupan sekalipun dalam kesulitan.
    Salam
    Angela S

  2. Fadhly says:

    Hahaha… Menarik ceritanya

  3. akbar wiguna says:

    cerita yang hebat 🙂 saya dukung kamu angela saya yakin kamu akan jadi orang hebat 🙂 kuncinya yakin lah 🙂

  4. Marten says:

    Menarik untuk dibaca dan disimak isi dari cerita yang hampir saja saya sendiri konyol ketika bacaanya belum selesai. Hebat sekali cerita ini, membawa orang kedalam situasi yang sama. Trims mba, sudah bagi cerita di blog ini. Kagum dan bangga atas ceritanya.

  5. Makasih Mbak Clara saya kebetulan punya hobby traveling cuman masih dalam negeri saja, nah dalam waktu dekat untuk pertama kalinya saya ke Eropa, jujur agak bingung juga mau bawa cash berapa atau mengandalkan kartu kredit saja, hanya saja dari cerita teman2 CC tidak selalu bisa di gunakan terutama di toko kecil atau sekelas minimarket klo disini ya dan juga makanan2 kaki lima, nah pas lagi cari2 info malah di kasih tahu klo di beberapa negara BNI buka cabang plus cerita mbak Clara ini sementara dana saya eksodus ke BNI dulu hi hi.

  6. Nesa says:

    haha seru sekali ceritanya. menolong banget ya ada cabang Bank di Indonesia ini di Singapura :)) tapi apakah hanya BNI saja yang ada kantornya di Singapura?

  7. Ibu Clara,senang membaca nya BNI bisa membantu permasalahan saat diSingapore.BNI selain di Singapore,juga ada di Hongkong,New York,Tokyo, dan London.tidak lama lagi juga akan buka cabang di Korea.mudah-mudahan bisa terus ketemu BNI cabang luar negeri di trip selanjutnya ya bu.😊😊😊#customerservicebni

  8. Syaiful says:

    Terimakasih informasinya sangat menginspirasi

Leave a Reply to Nesa Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *