Mereka berubah, lalu bertumbuh, dan… menginspirasi!

Di salah satu sesi pelatihan soft skills staf di kantor, ketika membahas budaya organisasi yang ingin kita bangun melalui kebiasaan-kebiasaan rutin ketika melayani pengguna, beberapa staf (termasuk saya) berujar:
“Seperti di kantor sebelah itu lho…”

Lalu ketika membahas tentang sikap profesional security yang kita inginkan, terdengar lagi:
“Kayak satpam sebelah…”

Lalu saat mengevaluasi kinerja OB, terdengar lagi kalimat itu:
“Seperti OB kantor sebelah….”

Bahkan ketika ingin membuat seragam atau tampilan staf yang khas, atau merancang souvenir, kami kerap menjadikan ‘kantor sebelah’ sebagai acuan.

Kantor apa sih, kantor sebelah?

Kantor dengan dominasi warna oranye cerah itu terlihat eye catching ketika memasuki area gedung The Crystal of Konowledge, di kampus Universitas Indonesia, Depok. Begitu tiba di main entry gedung, kantor itulah yang pertama terlihat. Setiap pagi dan sore saya akan melewatinya, karena kantor tempatku bekerja berada di gedung yang sama dengan kantor itu. Saya selalu menyaksikan bagaimana mereka memulai rutinitasnya. Jam 07.30 mereka akan berkumpul membentuk lingkaran, lalu sharing hal-hal positif yang menginspirasi dan memotivasi karyawannya. Begitu ada nasabah, securitynya akan menyapa dengan ramah: ‘selamat pagi pak/bu, selamat datang. Ada yang bisa kami bantu?”
Jika diperlukan, mereka akan memandu setiap nasabah sesuai dengan keperluannya. Menjelaskan sekilas prosedur mengambil nomor antrian, menunjukkan dimana harus duduk menunggu nomor antrian dipanggil, dan seterusnya. Semuanya dilakukan dengan ramah dan sopan. Helpful. Di meja customer service atau teller, kita disapa dengan ramah, ditanya ‘apa kabar’, disuguhi permen supaya tidak bosan, dan dilayani dengan prima. Personal touch nya amat terasa. Sebagai seorang karyawan, saya paham betul bahwa tidak mudah menjadikan sebuah organisasi sampai ke level tersebut. Mengubah fisik gedung sangat mudah, tapi mengubah mindset dan perilaku karyawan bukanlah pekerjaan gampang. Saya yakin banyak hal yang perlu diubah, agar organisasi bertumbuh dengan baik. Termasuk kantor sebelah itu. Saya teringat ke masa-masa berkenalan dengan kantor itu ….

———————–
April 1991, saya bekerja sebagai karyawan proyek di Depok, tepatnya di kampus Universitas Indonesia (UI). Sebagai karyawan yang baru memiliki penghasilan, yang terpikirkan oleh saya adalah membuka tabungan. Hanya ada satu bank waktu itu di kampus. BNI 46. Menempati salah satu ruang sempit di pojok lantai dasar gedung rektorat UI, bank itu mirip kantor koperasi. Masih jelas saya ingat betapa bahagianya hati saat memegang buku tabungan berwarna biru itu. Bangga sekali. Seperti memiliki sebuah barang berharga yang lama diimpikan. Jadilah saya nasabah BNI 46. Tahun 1994, saya diterima jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Katanya, gaji PNS setiap bulan ditransfer langsung ke rekening pegawai. Bank nya ya itu. BNI 46.

Tak lama bank itu pindah ke gedung yang lebih besar, ke balai sidang. Kantornya luas, ditata dengan modern dan nyaman. Cukup layak disebut sebagai sebuah bank. Saya perhatikan, mereka berusaha membuat customer nyaman, walaupun tidak selalu berhasil. Saya pernah punya pengalaman kurang mengenakkan dengan layanan ATM nya. Di hari Minggu, saya antri di ATM bank tersebut bersama beberapa nasabah. Entah bagaimana, 4 ATM yang ada saat itu semuanya kosong. Tidak bisa tarik tunai. Ada beberapa nasabah yang kesal, termasuk saya, mengingat hari itu hari libur dan kita sangat mengandalkan ATM untuk tarik tunai. Kejadian yang sama terulang kembali di waktu berbeda dan lokasi ATM yang berbeda. ATM nya kosong! Tidak bisa tarik tunai. Seorang ibu yang sedang antri waktu itu sampai menangis karena katanya sedang sangat membutuhkan uang tunai untuk beli obat anaknya yang sakit. Terbayang kan kesalnya? Hal lain adalah soal penataan mesih ATM yang sangat tidak nyaman waktu itu. Antrian di mesin ATM waktu itu memungkinkan nasabah yang sedang antri di belakang kita dapat melihat kita memasukkan nomor PIN. Ini sangat tidak aman dan nyaman buat saya. Saya ingat betul, ke dua hal itu saya jadikan masukan di kotak saran BNI (waktu itu mereka menyediakan kotak saran). Entah kebetulan atau tidak, tidak lama setelah itu BNI di kampus merombak desain penempatan mesin ATM nya menjadi lebih nyaman untuk bertransaksi.

Tahun 2011 lalu, kantor tempat saya bekerja menempati sebuah gedung baru. Besar, indah, dengan desain yang unik. Di dalam gedung itu, ada beberapa kantor, restoran, termasuk bank. Ya, BNI 46. Bank itulah yang selalu kami sebut: ‘kantor sebelah’. Bank itulah yang sering kami jadikan referensi dalam hal pelayanan publik.

——————
Dua puluh tahun lebih sebagai nasabah BNI 46, walau tidak memiliki tabungan besar, saya merasa bank ini sebagai tempat paling aman buat menabung. Bank ini pula yang saya kenalkan pada anak-anak saya ketika mereka mulai memikirkan membuka tabungan dan bermain saham. Walau memiliki rekening di bank lain, tapi di formulir-formulir atau di kolom-kolom isian data apapun, saya selalu mencantumkan BNI 46 sebagai bank utama saya. Melalui pelayanannya sehari-hari saya dapat merasakan bagaimana mereka berubah, bertumbuh, dan menginspirasi.

———–
Depok, 09 Juli 2015
BNI

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in Catatan Hati. Bookmark the permalink.

26 Responses to Mereka berubah, lalu bertumbuh, dan… menginspirasi!

  1. Memang benar BNI merupakan bank yang cukup baik pertumbuhanya di Indonesia bahkan di luar negeri. Dengan sistemnya yang cukup baik dan fasilitas yang memadai serta bisa melakukan transaksi internasional membuatnya terus bertumbuh dan berkembang yang hingga saat ini kantornya masuk ke berbagai daerah pelosok di Indonesia bersama bank rakyat yaitu BRI. Memang kantor bank dan service selalu menjadi referensi untuk kantor kantor lain di Indonesia karena dari tampilan gedung, pelayan dan sistemnya menjadi contoh yang baik. Semoga bank BNI terus tumbuh dan berkembang menjadi bank yang menyentuh hati masyarakat Indonesia.
    Best all
    Angela S.

  2. Yuventius says:

    Sekarang BNI menjadi pilihan banyak orang di Indonesia apalagi saat bank ini masuk sampai kota kecamatan dan bahkan desa. Kehadiran bank memang selalu membuat orang atau lembaga bergeser terutama bagaimana melayani(service) orang lain seutuhnya. Bank menjadi panutan pelayanan karena selalu melayani masyarakat umum dari berbagai kalangan. Disanalah tempat semua orang benar benar terlayani sebagai manusia tanpa membedakan banyak saldo atau tidak. Itulah dampak lain kehadiran bank yang bisa membuat orang lain berubah, berpikir dan berinspirasi karena dari sisi pelayanan sangat menyentuh hati setiap nasabah. Sebenarnya masih ada panutan lain seperti penerbangan dan hotel bagaimana mereka melayani tamunya dengan ramah dan bersahaja cuma masalahnya sentuhan itu hanya untuk kelas kehidupan yang berbeda sehingga bank tetap menjadi yang terbaik sebagai panutan pelayanan setiap orang atau lembaga. Kita berharap bahwa kehadiran bank akan menjadi panutan setiap orang atau lembaga bagaimana melayani orang lain dengan baik sehingga kita juga tidak kehilangan budaya ramah di Indonesia yang ada sejak dahulu kala.
    Selamat untuk penulis dan bank BNI yang selalu setia untuk melayani.
    Yuventius

  3. akbar wiguna says:

    habat sekali memang bank bni ini 🙂 terimakasih postingan yang menarik sekali

  4. Marten says:

    Tulisanya banyak sekali yang bisa menjadi bahan refleksi untuk pembaca. Ini masukan yang berarti bagi saya, kebetulan aku juga belum siap benar bagaimana melayani klien klien saya dan membuat tim saya seperti pegawai bank. Coba deh, ini inspirasi dan saya harus memulai dengan senang hati. Great mba, aku salut. Sukses untuk anda dan keluarga.

  5. Robert Marco says:

    Bagus sekali mas tulisannya… Gaya bahasanya juga keren… pengen bisa nulis kaya gini… 🙂

    http://www.hstutorial.com

  6. diyan says:

    hi, great to find this site and this site so usefull for information

  7. nius says:

    waah page yang baik dan artikel yang bagus . Terimksih atas informasinya , atikel ini sngat bermanfat . di tunggu postigan yang berikutnya …salam

  8. Anna says:

    halo, cerita yang menarik. sukses selalu ya 🙂

  9. Marc says:

    Tulisanya banyak sekali yang bisa menjadi bahan refleksi untuk pembaca. Sangat menginspirasi
    http://pusatgrosirbonekalengkap.blogspot.com

  10. Saya jadi teringat tentang seseorang dosen di kampus Unila yg sangat menginspirasi sekali. Semoga dia baik2 saja. Tulisan kaka emang bagus2.. saya sering baca2 lho kak… lanjutkan kakak..

  11. Syaiful says:

    Wah sangat menginspirasi nih artikelnya

  12. box bayi says:

    terimakasih buat artikelnya mas sangat menginspirasi.

Leave a Reply to Marc Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *