Serendipity ala dunia maya.

Sabtu kemarin (10 Oktober 2009) Metro TV menayangkan Oprah Show dengan salah satu bintang tamu, Mark Elliot Zuckerberg. Awal 2009 lalu, anak muda berusia 25 tahun ini mendapat penghargaan Young Global Leaders atas prestasinya mengembangkan jaringan sosial ‘Facebook’. Majalah Forbes bahkan mencatat bahwa Mark adalah salah satu milyarder termuda atas usaha sendiri, bukan karena mendapat warisan…..*banyak kan milyarder lain yang menjadi kaya karena warisan…hehehhe..*

Menurut Mark, facebook lahir atas bantuan teman Harvard-nya, Andrew McCollun dan teman sekamarnya Dustin Moskovitz dan Crish Hughes. Berawal dari keinginan mereka untuk tetap bisa menjalin kontak dengan teman-temannya yang berasal dari berbagai negara dan bagaimana masing-masing orang tersebut bisa tetap berhubungan dengan keluarganya di tempat yang jauh.

Di Oprah kemarin, cara Mark menceritakan kisah facebook ini membuatku terbayang betapa ide-ide besar itu sering lahir dari hal-hal sepele. Menurut Mark, mereka sering kumpul-kumpul, ngobrol-ngobrol dengan teman-teman satu kampus atau satu kost, lalu membahas macam-macam hal, ngalor-ngidul, sampai akhirnya timbul niat membuat jaringan sosial di dunia maya.

Aku membayangkan kehidupan mahasiswa yang tinggal di rumah kost atau asrama. Tiap hari mungkin membicarakan banyak hal, mulai dari perkuliahan, dosen-dosen, tugas-tugas mata kuliah, cewek yang sedang ditaksir, teman yang sedang jomblo, kiriman ortu yang sering telat, masa depan pertemanan mereka, dan kelak perpisahan yang akan menjelang…

“Hei, gimana ya kalau nanti kita sudah lulus? Masih bisa ketemu gak ya? Masih tahu kabar masing-masing gak ya?”

Lalu di sela-sela percakapan itulah mungkin muncul banyak ide.

Kisah facebook agak mirip dengan Google…*semoga kalian sudah baca ‘Kisah Sukses Google’ ya…*. Google juga berawal dari tugas mata kuliah mahasiswa Standford University (Larry Page dan Sergey Brin) yang kemudian berkembang menjadi search engine yang sangat terkenal di seantero dunia. Si paman Google ini berhasil ’meracuni’ otak banyak orang di dunia, bahwa kalau cari informasi di internet, pakai Google. Coba aja tanya teman suatu informasi, jawabnya mudah: ”Googling aja….”.

Walau motifnya berbeda, jauh sebelumnya kelahiran internet sebetulnya agak mirip dengan facebook, yaitu bagaimana membuat hubungan komunikasi dengan orang lain di tempat yang jauh. Secara sederhana, internet lahir atas dasar kebutuhan kalangan militer AS untuk bisa tetap berhubungan dengan para tentara mereka yang bertugas di medan perang. Facebook, bukan satu-satunya jaringan sosial yang dipakai banyak orang. Ada Friendster, Twitter, Myspace, dan banyak lagi, namun nampaknya Facebook lah yang paling populer. Katanya sih, sejak Obama menggunakan facebook sebagai salah satu media untuk kampanye pada waktu pemilihan Presiden AS beberapa bulan lalu. Entahlah, yang jelas banyak orang lebih dulu mengenal facebook daripada Obama…-)

Kehadiran teknologi komunikasi berupa jaringan sosial seperti facebook ini memang sangat mencengangkan. Bayangkan, tiba-tiba kita bisa berbincang dengan orang yang sudah puluhan tahun tidak bertemu dan tidak pernah kepikiran akan bertemu. Sekonyong-konyong kita diingatkan akan kisah-kisah konyol di masa lalu. Bertemu kembali dengan guru-guru yang mungkin dulu kita benci atau selalu kita rindui, bersua dengan teman yang pernah membuat hidup ini sangat indah, atau diingatkan kembali dengan penghianatan seorang sahabat yang rasanya sulit untuk dimaafkan. Adegan-adegan masa lalu yang malu untuk diingat, kini menjadi bahan diskusi seru di grup alumni. Setelah berpuluh tahun, kini tak malu-malu mengumbar kisah cinta monyet jaman dulu…-)

Facebook dan kawan-kawan menghadirkan masa lalu dihadapan kita secara utuh. Tidak hanya kisahnya, tapi juga orang-orangnya. Kini teman-teman atau saudara yang selama ini entah dimana, tiba-tiba muncul begitu saja di layar monitor. Hadir dengan beribu kisah dan perjalanan hidup yang kadang membuat kita takjub, senang, kaget, sedih, dan geli. Cobalah ingat, berapa teman yang Anda temukan di dunia maya. Apa saja kisah yang mereka hadirkan?

Serendipity Mark nampaknya kini juga menular luas ke seluruh pengguna facebook. Tanpa sengaja kita sering menemukan teman di list friend nya orang lain. Tanpa direncanakan kita mendapatkan info terbaru tentang teman yang selama ini tidak pernah kita bayangkan. Penemuan-penemuan ini menghasilkan reuni, copy darat, temu kangen, open house, bahkan mungkin arisan. Asik ya…-)

Kesenangan yang dihadirkan dunia maya sesungguhnya tetap punya resiko. Konon beberapa kasus sampai ke pengadilan hanya karena soal status di facebook, atau note yang diposting. Teknologi komunikasi memang membawa kebebasan mutlak bagi tiap pribadi untuk berucap apapun. Tiap orang bebas membuat statusnya, membaruinya berapa ratus kali dalam sehari, memberi komentar pada status atau foto orang lain. Namun berkomunikasi di dunia maya sesungguhnya lebih sulit daripada di dunia nyata. Kesalahan dalam menginterprestasikan suatu kata cenderung tinggi. Kesalahpahaman dalam mengartikan sebuah kalimat berpeluang besar terjadi jika tidak menggunakan pilihan kata yang tepat. Dan yang jelas, berkomunikasi di dunia maya tetap membutuhkan etika. Sama saja dengan di kehidupan nyata. Ketuk pintu sebelum masuk ke rumah orang, perkenalkan diri pada orang yang baru kenal, dan hindari kata-kata yang mengandung bias. Dijamin gak akan sampai berurusan dengan pengadilan….hihihi..

Bagi saya pribadi, facebook dkk membawa semangat baru dalam menjalin hubungan sosial. Menjadi selingan yang menyenangkan di sela-sela rutinitas yang seringkali membosankan. Menjadi media yang asik untuk berkomunikasi dengan sebanyak mungkin orang. Dan…menjadi ’sahabat’ seru untuk terpingkal-pingkal di depan monitor….-))

————-
Depok: October 11, 2009 at 2:01pm

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in Life is beautiful!. Bookmark the permalink.

5 Responses to Serendipity ala dunia maya.

  1. akbar wiguna says:

    terimakasih ini kisah yang meng inspiratif bagi saya 🙂

  2. Saat ini sepertinya pemerintah sudah membatasi kebebasan berkomunikasi di FB, terutama untuk isu-isu sensitif, karena bisa terjerat dengan undang-undang ITE, bagaimana menurut mbk:)

    • Kalarensi Naibaho says:

      Bagus-bagus saja sih, walau menurutku tidak efektif. Hal paling mendasar yang perlu dilakukan sebetulnya adalah mengedukasi.

  3. Syaiful says:

    inspiratif nih artikelnya

Leave a Reply to Kalarensi Naibaho Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *