Mereka bilang aku gila!

Pernah gila? … :))
Bagi yang belum pernah, syukurlah. Tapi lebih syukur lagi bagi yang sudah pernah, karena obrolan kita akan lebih menarik dengan pengalaman Anda….-))
So, jangan pindah channel dulu ya…

Banyak literatur yang berkisah tentang penyakit kegilaan, sebagian adalah kisah nyata. Dua buku yang pernah saya baca tentang penyakit kegilaan ini adalah: ‘Mereka Bilang Aku Gila’ dan ‘Aku Sadar Diriku Gila’.

Buku ‘Mereka Bilang Aku Gila’ ditulis oleh penderitanya sendiri, Ken Steele. Ken, dihampiri penyakit mental seperti skizofrenia sejak umur 14 tahun, yang membuatnya selalu dalam ketakutan. Ketiadaan dukungan keluarga membuatnya benar-benar gila dan harus terus berurusan dengan rumah sakit dan obat-obatan.

’Aku Sadar Diriku Gila’ ditulis oleh Dr. Kay Redfield Jamison seorang profesor ahli psikiatri di Fakultas Kedokteran John Hopkins University. Dia juga seorang psikiater, dan telah banyak menangani serta merawat pasien penderita penyakit mania-depresi. Selama menempuh kariernya, Kay juga mengalami depresi parah seperti yang diderita pasiennya. Sebelum baca buku ini, saya sempat berpraduga bahwa mungkin si penulis menjadi gila karena keseringan mengurusi orang ‘gila’…-))
Ternyata, tidak! Mania depresi yang diderita Kay sebenarnya berakar dari persoalan keluarga dan beban pekerjaan. Sama sekali tidak ada pengaruh dari pasien yang dirawatnya.

Kisah Ken lebih parah dari Kay. Bukan hanya karena dorongan untuk bunuh diri yang sering menyergap Ken, tapi juga ‘tudingan’ terhadapnya setiap kali ada musibah atau kematian di sekelilingnya. Selalu Ken lah yang dituding sebagai penyebabnya. Siapa yang menuding? Tidak ada! Hanya suara-suara yang terus menganggunya dari masa ke masa.

Kisah Ken dan Kay sebetulnya jamak ditemui di lingkungan masyarakat kita. Tentu saja kita harus mengesampingkan anggapan bahwa orang yang disebut gila itu selalu tampil dalam sosok mengerikan (pakaian kumal, rambut gimbal bagai benang teramat kusut, bau badan menyengat mirip makhluk yang baru tiba dari planet lain, nyengir mengerikan, dan sorot mata menakutkan). Untuk contoh jelasnya Anda boleh menemukan sosok-sosok ini di terminal-terminal atau di pinggir jalanan di kota Anda.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang gila bertebaran dimana-mana. Di rumah-rumah mewah dengan tampilan sangat meyakinkan (pakaian bermerek terkenal, parfum mewah, asupan gizi sempurna), di kantor-kantor, di kompleks warga terhormat, di lembaga pendidikan, di gedung wakil rakyat (paling banyak kali yeee….hehehe), bahkan di istana-istana kerajaan…-). Penyakit kegilaan ini direpresentasikan dalam berbagai perilaku ganjil. Mungkin kita tidak selalu menyadari bahwa perilaku seseorang itu termasuk tindakan ’gila’ karena bisa jadi suatu perilaku ganjil itu sudah menjadi sesuatu yang lumrah, saking seringnya dilakukan. Bahkan di lingkungan yang dihuni oleh mayoritas orang gila, yang waras lah yang masuk kelompok ’gila’…-))

Menurut para psikolog, tingkat kegilaan inipun amat beragam. Mulai dari yang tidak terlihat atau terasakan, sampai pada level yang benar-benar mengganggu. Bagi yang sangat ingin tahu, baca tuh buku-buku tentang penyakit kejiwaan…*banyak di perpustakaan dan di toko buku*.

Saya bukanlah psikolog, bukan pula pengamat kegilaan, dan belum pernah gila…-))
*kalau tergila-gila mungkin pernah, misalnya tergila-gila pada kopi…hehehehe*
Tapi saya punya kisah dengan kelompok atau orang-orang yang dalam masyarakat kita disebut ’gila’. Saya lebih memilih menyebut mereka ’unik’.

—————————-

Di kampung saya, di kota Pangururan – Samosir, tersebutlah satu keluarga yang masuk kelompok ’unik’ ini. Waktu anak-anak, kami mengenalnya dengan nama ’Si Bupati’ (bapaknya), ’Si Ngak-nguk’ (ibunya), dan ’Si Rusmi’ (putrinya). Setahu saya, gelar Bupati ini disematkan pada beliau karena dulu dia pernah bercita-cita jadi bupati tapi tidak kesampaian. Sedangkan nama ’Ngak-nguk’ diberikan pada si ibu karena beliau memang (maaf) berbibir sumbing sehingga kalau berbicara yang kedengaran hanya ’ngak-nguk’. Rusmi, tentu saja nama yang manis, bukan julukan.

Setiap hari keluarga ini selalu keluar dari rumahnya di desa Pahoda. Mereka berkeliling di kota kecil kami lengkap dengan properti masing-masing. Si bapak selalu tampil dengan topi bundar ala koboi Samosir yang sudah tidak jelas warnanya; kemeja plus celana panjang kumal; sarung bermotif kotak-kotak yang tentu saja sudah lusuh banget dan selalu disilangkan dari bahu sebelah kanan sampai pinggang sebelah kiri; buntelan berisi kain-kain (kami menyebutnya ’siguddalbolon’); dan tongkat kayu setinggi badannya.

Si Ibu biasanya mengenakan kemeja perempuan yang kancingnya kadang-kadang tidak tertutup rapi; bawahan kain sarung; tas kumal (kadang-kadang keranjang) yang tidak tahu isinya apa; dan ’gajut’ berisi sirih dan kawan-kawan yang biasa dikonsumsi orang tua di kampung. Putrinya, si Rusmi, kala itu selalu mengekor di belakang bapak ibunya. Rusmi ini bertubuh bongsor, sehingga walaupun waktu itu masih kanak-kanak, badannya sudah seperti anak gadis. Seingatku, si Rusmi ini suka mengemut sesuatu, entah itu makanan ataupun benda-benda yang tidak layak dimakan (misalnya plastik bungkus es mambo).

*aku suka bingung juga memikirkan bagaimana bisa anak yang besar di keluarga tidak normal ini tumbuh sehat dan berbadan subur, sementara anak-anak lain yang dirawat Bapak/Ibunya dengan asupan gizi 4 sehat 5 sempurna plus kasih sayang tiada tara tetap kurus kering dan sakit-sakitan. Jawaban paling sederhana tentu saja ini: kuasa Tuhan…-)*

Keluarga ’unik’ ini selalu pelesiran setiap hari mencari nafkah dengan cara mereka sendiri. Bisa dipastikan mereka bertiga tak pernah absen di acara-acara hajatan dan sejenisnya. Kehadiran mereka di satu tempat sering pula jadi hiburan tersendiri bagi anak-anak di kampung. Biasanya kalau mereka sudah muncul, anak-anak mulai berkerumun mengolok-olok dengan memanggil-manggil namanya. Yang paling sering diolok-olok adalah si Bapak (si Bupati). Seringkali si Bapak ini sampai marah sekali dan melempari yang mengolok-oloknya dengan batu. Kalau sudah begitu, anak-anak berlarian kocar-kacir mencari perlindungan, tapi tak pernah berhenti pula mengoloknya.

*Sebetulnya dalam kasus ini, yang lebih gila siapa ya? Si Bupati atau anak-anak itu…-))*

Di keluarga kami, keluarga ‘unik’ ini selalu mendapat perlakuan khusus. Menurut Bapakku, dari sudut marga -si Bupati ini marga Silalahi- kami masih punya hubungan keluarga dengan mereka (o ya, orang Batak mana sih yang tidak punya hubungan keluarga? Kalau dikait-kaitkan selalu saja ada hubungan darah…). Kami memanggil si Bupati ini dengan ‘Amangtua’ atau ‘Bapatua’. Bapak dan Omak tidak pernah mengijinkan kami memanggilnya ‘si Bupati’ sebagaimana anak-anak lain menyebutnya. Kalau mereka bertiga lewat dari depan rumah, kami wajib memanggilnya mampir, memberinya makan, dan….menyuruhnya mandi!

Waktu kecil dulu, aku merasakan betapa ‘tersiksanya’ jadi anak Bapakku karena harus mengurusi orang-orang ‘aneh’ ini. Aku ingat betul bagaimana aku dan Kak Murni ‘marsitugan-tuganan’ (apa ya bahasa Indonesianya ini…) untuk menyodorkan pinggan berisi nasi dan lauk sederhana itu kehadapan mereka bertiga, karena tidak tahan dengan baunya dan seringainya yang bagi kami kala itu menyeramkan. Apalagi kalau Bapak bilang:
“Salam Bapatuamu itu…!”
Aduh! Bapak….teganya…!

Si Bupati ini biasanya akan tertawa lebar dan mengatakan terima kasih kalau kami memberinya makan. Setelah itu dia akan mandi dengan sabun balok di sumur di belakang rumah kami, dan berganti baju dengan baju pemberian Bapak. Tidak heran, dia suka memproklamirkan perlakuan Bapak ini ke orang-orang kampung. Dia selalu memanggil Bapak dengan ‘Bapa’ dan dia pernah bilang:
“Bapakkon do na toho. Bapa do Jesus di portibion…’” Berlebihan banget ya?

Bapak dan Omak sendiri selalu mengajarkan kami bahwa orang-orang seperti mereka inilah yang harus mendapat perhatian khusus dari kita. Kami juga diyakinkan bahwa doa orang-orang seperti keluarga ‘unik’ itu lebih didengarkan Tuhan. Entahlah. Kadang-kadang aku pikir, Bapak dan Omak ini juga suka sok tau sih…xixixixi

Suatu waktu, aku pulang dari ’pasir’ (pantai) membawa seember piring yang habis kucuci dan berisi air. Berat nian tentunya. Di belakangku banyak anak-anak lain yang juga baru selesai mandi dari pantai tapi tidak membawa apa-apa. Dari jauh muncullah si Bupati ini. Dia sendirian. Seperti biasa, mulailah anak-anak mengolok-oloknya. Awalnya tidak diacuhkan si Bupati ini, tapi lama-lama dia terpancing juga. Dia marah betul dan dengan kalap mulai melempari anak-anak itu dengan batu segede-gede kepalan tangannya. Aku yang berada di tengah-tengah kerumunan itu benar-benar ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa. Ember bawaanku membuatku tidak mungkin berlari. Ketika si Bupati makin mendekat dan anak-anak yang mengoloknya berlarian, aku hampir melemparkan ember bawaanku…. tapi tiba-tiba dia tersenyum dan bilang begini:

”Boru ni Bapa, na sian pasir do ho?” (Putri Bapa, baru pulang dari pantai?) dan melewatiku begitu saja mengejar anak-anak lain. Ya Tuhan! Orang yang dianggap ’gila’ ini ternyata bisa berpikir waras….?

Kejadian ini tidak cuma sekali terjadi, dan tidak cuma dengan aku. Kami semua selalu dikenalinya sebagai ’boru ni Bapa’ (putri Bapa). Dan dia tidak pernah mau mengganggu kami.

Sejak itu, persepsiku berubah tentang orang-orang yang disebut ’gila’ ini. Secara kejiwaan mereka memang mengalami gangguan atau penyimpangan tapi aku yakin di alam bawah sadarnya ada sudut-sudut ’nomal’ yang bekerja dengan baik mengenali yang baik dan yang buruk. Ini kupastikan ketika suatu waktu ada gosip tentang si Rusmi yang katanya (maaf) disetubuhi bapaknya. Karena gosipnya lumayan heboh, Bapakku pergi ke rumahnya di Pahoda dengan beberapa orang saudara. Waktu itu si Bupati ini lagi sakit, dan ketika Bapak datang untuk mengkonfirmasi gosip itu, katanya si Bupati ini menitikkan air mata dan berucap:

”Bapa, memangnya aku gila memakan darah dagingku sendiri?”

Gosip itu akhirnya berlalu begitu saja. Dan ternyata, yang melakukan pelecehan itu memang bukan si Bupati, tapi justru orang-orang yang mengaku dirinya waras. Tapi derita Rusmi ini ternyata tak berhenti disitu saja.

Ketika mudik bulan lalu aku bertemu si Rusmi di pesta pernikahan Itoku (Bapak dan Ibunya sudah meninggal). Di tengah-tengah acara adat, aku lihat dia muncul dengan penampilan yang masih seperti dulu. Dari jauh, sambil memunguti botol air mineral yang berserakan di jalanan dia melambaikan tangan padaku dan berseru: ’halo kakak sayang…’ (begitulah kebiasaannya memanggil orang yang dianggapnya dekat dengannya). Aku sempat kaget juga, bagaimana mungkin dia mengenali aku yang sudah 30 tahun tidak pernah bertemu.

Aku meninggalkan acara adat yang sudah hampir usai, menghampiri si Rusmi di seberang jalan dan menanyakan kabarnya. Seperti biasa dia bercerita banyak hal yang tentu saja tidak nyambung dengan pertanyaanku. Dia berkisah tentang si Solaria (entah siapa ini maksudnya) yang sudah sakit 3 bulan dan tidak ada yang menjenguk. Ketika aku konfimasi ke orang-orang yang ada disitu tentang si Solaria ini, mereka bilang:

”Jangan kau dengar dia itu! Mana ada si Solaria di kampung ini. Itu hanya ada di khayalannya saja!”

Waktu aku minta foto bersama, Rusmi bilang:

“Ah! Janganlah Kak. Nanti jadi jelek kakak kalau foto dengan aku.”
Hahahaha…. tuh, dia gak gila kan?

——————–
Depok, February 7, 2010 at 10:28am

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in Catatan Hati. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *