LAS VEGAS: SIN CITY & 2 RUSA MASUK KAMPUNG :-))

*…. ini masih lanjutan status sebelumnya yaaa…:-) *

————————-

Dua hari menjelajah Los Angeles pasti kurang lah. Masih pengen ke tempat-tempat seru lainnya. Tapi tujuan utama kan menghadiri kongres, bukan buat jalan-jalan. Los Angeles – Las Vegas dapat ditempuh selama 4 jam perjalanan darat. Kami berangkat pukul 08.00 pagi setelah terlebih dahulu sarapan. Sarapan pagi itu di rumah Pak HS, si mba memasak ayam dan brokoli. Enak banget masakannya, apalagi brokolinya. Kami berdua melahap masakan si mba dengan tidak tahu diri…hahaha. Pak HS dan istrinya mengantar kami ke Las Vegas. Mereka juga mau main kesana. Ibu HS membawa penganan untuk dimakan di perjalanan, kue nastar buatan si mba. Lagi-lagi enak banget.

“Si mba memang jago masak. Kalau Christmas dia suka terima pesanan bikin kue disini,” jelas bu HS.

Sebelum meninggalkan rumah, kami bertemu dengan tukang kebun yang biasa membersihkan tanaman di sekitar rumah Pak HS. Tukang kebun ini asli Meksiko, usia hampir 60 tahun, tapi masih tegap, sehat, dan…sopan banget. Bu HS segera menyapa dia dalam bahasa Spanyol.

“Bapak ini tukang kebun kita Bu. Dia yang biasa membersihkan tanaman di sekitar sini, menebang pohon2 di belakang yang sudah saatnya ditebang, kasih pupuk, dst.”

“Tukang kebun disini keren banget ya Pak? Bawa mobil sendiri?” tanyaku karena si bapak itu bawa mobil (mirip mobil Fortuner), warna coklat, dan keren.

“Hahaha…. itu mobil isinya peralatan kerjanya Bu. Coba ya biar aku suruh dibuka”. Bu HS ngomong Spanyol ke tukang kebun, dan dia segera membuka bak mobil bagian belakang. Ternyata, separuh badan mobil itu isinya peralatan berkebun. Alat-alatnya kumpliiitttt dan keren-keren. Bukan main! Kami sempat foto dengan si tukang kebun (sayang fotonya lupa disimpan di HP siapa).

Setelah berpamitan ke bapak tukang kebun, kami berangkat. Mampir di pom bensin dulu untuk isi bensin. Isi bensin disini semuanya pakai elektronik, kagak ada yang ngisiin….hihihi.

Pom bensin
“Disini orang mau gak mau harus melek teknologi Bu, karena semua self service, gak ada transaksi uang tunai. Makanya gak bisa korupsi juga…hahahaha,” kata Pak HS.

“Makanya bule-bule, ekspatriat yang dinas di kedutaan2 kayak di Jakarta tuh, suka gak mau balik kesini lagi. Mereka senang banget tuh tinggal di Jakarta.”

“Ah…, masa sih Pak? Bukannya menderita mereka tinggal di kota yang semrawut gitu?”

“Bukaannnnn Bu. Ibu salah. Mereka itu suka tinggal di Jakarta. Tau kenapa? Karena di Jakarta dia bisa santai, banyak bala bantuan kan. Ada pembantu, ada baby sitter, ada sopir yang antar kemana-mana. Kalau disini, mana? Punya anak di US ini beban berat. Orangtuanya harus urus sendiri. Paling ada nanny yang bisa jaga sebentar, tapi anak itu harus diurus orangtua. Gak ada istilah diasuh pembantu. Orang pakai nanny itu kalau kondisi terpaksa saja. Sopir apalagi? Disini, cuma orang sekelas Bill Gate aja kali yang pakai sopir. Yang lain, nyetir sendiri. Kagak ada istilah kantor nyediain sopir buat bosnya. Coba di kita. Baru level middle manager aja sudah pakai sopir pribadi, hahaha.”

“Iya ya Pak. Trus disini kayaknya bapak-bapaknya gak malu ya momong anak. Dari kemarin saya perhatikan, dimana-mana bapak-bapaknya yang gendong.”

“O iyaaa… ibu lihat kemarin kan di Universal Studio tuh. Yang dorong kereta bayi, gendong bayi, pangku anak, itu bapaknya semua. Makanya bagi mereka ini, menikah itu gak gampang. Perlu komitmen kuat. Kalau dia laki-laki harus ngerti merawat bayi sejak lahir. Laki-laki yang gak siap, dia gak akan mau tuh nikah. Tinggal bersama aja istilahnya. Yaaa, semua pilihan ada baik buruknya sih.”

Los Angeles – Las Vegas melewati padang gurun. Sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan gurun dengan pohon-pohon kaktus yang besar-besar. Aku langsung teringat film-film country, apalagi kalau di mobil disetel lagu “Country roads….take me home…” aiiii….. asiknya Aku ingat, Oprah dan sohibnya Gayle pernah melakukan perjalanan keliling Amerika selama 2 minggu, naik mobil. Salah satu jalur yang mereka lewati ya jalur ini. Makanya ketika melewati jalur itu, aku mikir-mikir: ‘pernah nonton di film apa ya tempat ini?’

istirahat menuju LV

otw LV

Setengah perjalanan kami berhenti di tempat istiharat, sekedar ke toilet atau beli makanan dan minuman ringan. Tempat ini gaya country banget deh. Ketemu beberapa warga bertampang Indian disana.
istirahat menuju LV

“Di US ini orang Indian punya hak istimewa Bu, gak bayar pajak. Mereka cuma bayar pajak jika dia punya usaha.”

“Oh? Baru tahu. Berarti mereka diistimewakan ya sebagai penduduk asli.”

“Ya. Kalau diterapkan di Indonesia ribet ya Bu. Siapa coba yang dianggap penduduk asli Indonesia? Melayu? Jawa? Sunda? Batak? Betawi? Hahaha….. “

Pukul 12.30 waktu setempat kami memasuki kota Las Vegas. Kota ini terletak di daerah gurun, sehingga terkesan gersang dan panas. Tapi begitu ke pusat kotanya, yang terasa adalah aroma metropolitannya. Las Vegas terkenal dengan casinonya, kota hiburan, dijuluki ‘sin city’ atau ‘adult city’. Dari julukannya bisa ditebaklah maksudnya: pusat hiburan untuk orang dewasa. Las Vegas ini merupakan kota judi dan pusat hiburan terbesar. Tapi lucunya, Las Vegas juga adalah kota yang memiliki jumlah gereja terbanyak per kapita dibanding kota-kota lain di US…hahahaha. Jadi, maksudnya mungkin begini. Kota ini kan banyak menyediakan fasilitas yang berpotensi bikin dosa. Nah, supaya imbang, disediakan juga banyak rumah ibadah. Jadi habis bikin dosa, bisa langsung ke gereja mohon pengampunan dosa….hahahaha

Tapi, jangan salah dulu. Bukan berarti kota ini isinya untuk hura-hura saja. Buktinya banyak kongres-kongres ilmiah diselenggarakan disini. Termasuk kongres yang akan kami hadiri: American Library Association (ALA).

“Di US ini, cuma ada dua kota yang boleh buka casino, salah satunya Las Vegas”, jelas Pak HS. (kota satunya lagi saya lupa).

Kami memasuki pusat kota Las Vegas. Woww…gedung-gedung terkenal kini terpampang di depan mata. MGM, Caesar Palace, Hotel Ballys, miniatur2 ciri khas seluruh dunia juga ada: menara Eiffel, patung Sphinx, Piramida, menara Liberty, menara Pisa, dst.

“Ibu, hotel ibu, Flamingo … itu tuh,” tunjuk Pak HS.

“Tapi kita kesana nanti saja ya. Kita makan dulu sekalian mau nunjukin pusat belanja barang-barang bermerek dengan harga miring. Jadi kalau ibu-ibu besok mau kesana, sudah tahu arahnya kemana.”

Asiiiikkkkk……
Kami dibawa ke pusat perbelanjaan barang-barang bermerek dunia. Banyak outlet dari merek-merek terkenal dengan harga miring. Katanya sih barang-barang disini adalah barang-barang ekspor yang di reject karena ada cacat. Cacatnya ini misalnya ada benangnya yang lepas, ada kancing yang pecah, ada jahitan yang kurang rapi. Aku sampai bingung, apanya yang cacat? Ini barang dagangan semuanya bagus-bagus dan…harganyaaa…..? Semiring-miringnya harga di US, tetap aja bikin kantong awak bokek Bayangin aja ada baju seharga 18 juta? Ada pakaian dalam perempuan berharga puluhan juta. Wueh! Aku cuma bisa pegang-pegang sajalah. Untung penjaga tokonya baik-baik. Gak ngelarang kita pegang-pegang dagangannya yang mahal-mahal itu. Pak HS ngeborong banyak dari toko Adidas yang sedang sale besar-besaran. Tapi harus aku akui, kualitas barang-barang yang dijual disini top. Apalagi alas kaki. Entah ya, sejak dari rumah Pak HS aku perhatikan, alas kaki (sandal, sepatu) di US ini bagus-bagus. Kuat, dan enak dipakai. Biar high hills, tapi gak bikin kaki pegal. Untuk urusan ini kami memang sudah dibisikin bos dari Depok, bahwa di Amerika itu sepatu bagus-bagus banget. Gak rugi beli mahal. Maunya sih pengen borong semua deh. Tapi kantong tak mendukung. Ada FO khusus untuk anak-anak. Waaahhh.. kalau bawa Naara kesini, bisa histeris dia. Banyak pincesssss… dan miki mus yang keren-keren…

Setelah puas keluar masuk toko dan pegang-pegang barang-barang terkenal itu…hihihi, kami ke toko Vitamin World. Ini memang sudah menjadi tujuan utama kami. Banyak pesanan dari Depok untuk beli vitamin disini. Saya beli vitamin khusus kesehatan lever dan ester C dosis tinggi. Semuanya terbuat dari herbal. Bos nitip dibelikan vitamin untuk tulang yang pernah dibelinya disana tahun sebelumnya. Kebanyakan vitamin yang dijual disini katanya belum masuk ke Indonesia. Jadi kalau kita mau, beli online, tapi biaya pengirimannya yang mahal. Lumayan sih harganya, tapi karena sudah diniatkan, ya belilah.

Menjelang sore kami diantar ke hotel Flamingo. Benar. Hotelnya gede banget, ramai gak ketulungan. Gedung ini tidak hanya untuk hotel ternyata, tapi juga untuk mall dan office. Lantai dasar ramai banget, apalagi karena banyak casino. Pak HS membantu kami check in, karena antrian panjang sekali. Beliau pakai jalur express check in. Beliau juga langsung mengurus proses check out kami, jadi kalau kami check out nanti, gak perlu lapor lagi. Kamar kami ada di lantai 19. Kami antar barang2 dulu ke kamar, lalu turun kembali karena Pak HS dan istrinya mengajak kami ke hotel mereka, tidak jauh dari hotel kami. Mereka juga nginap di Las Vegas selama 2 malam. Kami ikut ke hotel mereka, minum sebentar dan pamit.

“Terima kasih banyak ya Pak, Bu, atas bantuannya. Kami gak tahu harus bilang apa, tak terkatakan rasa terima kasih kami untuk keluarga Bapak.”

“Sama-sama Bu. Kami senang bisa bantu ibu-ibu. O ya, kalau ada apa-apa, jangan segan-segan hubungi kami ya. Kami akan disini 2 hari ini. Silakan kesini kalau ada yang perlu dibantu. Atau kontak kami di nomor ini….”.

Ya Tuhan, entah harus bilang apa pada mereka. Ada rasa sedih ketika kami meninggalkan mereka. Kami jalan kaki ke hotel Flamingo. Ini pertama kali kami jalan sendiri selama di US ini. Kami sangat menikmati jalan kaki. Lalu lintas cukup padat tapi tertib. Satu hal yang saya catat, orang2 bule ini sangat menghargai pejalan kaki. Kami beberapa kali salah menyeberang, tapi dengan baiknya semua pengendara memberi tanda (dengan tangannya): ‘silakan…..’ Bahkan dari jarak 50 meter, mereka sudah memelankan mobilnya begitu melihat di depan ada yang menyeberang.

Kamar kami cukup mewah untuk ukuran kami berdua. Memang agak mahal, sekitar 1,2 juta per malam. Kami langsung selonjoran di tempat tidur, setel tipi, mandi dan nyeduh kopi. Sayangnya, kami ternyata tidak dapat breakfast, dan…. no free wifi! Alamak! Sudah semahal ini tapi gak ada sarapan dan wifi? Bahkan air mineral juga gak ada. Mungkin karena boleh langsung minum dari kran, tapi kita kan gak biasa ya. Geli rasanya minum langsung dari kran. Untung ada pemanas air. Setelah mandi, saya mencoba baca-baca info tentang kongres yang akan kami hadiri besok. Tadi di lantai dasar, sudah ada standing poster tentang kongres tersebut. Katanya ada shuttle bus khusus ke venue. Tapi kami belum tahu dimana busnya ngetem. Tiba-tiba temanku yang sedang mandi di kamar mandi keluar dari kamar mandi sambil teriak:

“Mba… mba… sini deh. Kayaknya something wrong nih.”

“Ada apa?” aku beranjak ke kamar mandi.

“Mba, kayaknya ada kamera perekam deh di kamar mandi. Lihat nih…” Dia menunjuk ke kaca lebar yang ada di kamar mandi. Di pojok kiri bawah, samar-samar terlihat ada bulatan kecil (kayak di pintu hotel itu lho, jadi kalau ada tamu kita bisa intip dulu dari dalam siapa yang datang).

“Hah? Masa sih? Jadi kita sudah direkam-rekam dong selama mandi. Ampuunnnn…” Langsung kebayang deh yang aneh-aneh. O iya, ini kan kota dosa ya. Jangan-jangan semua kamar dipasangain CCTV, trus nanti foto-foto kita muncul di youtube deh….aaaiiii…!

“Eh, tapi tunggu dulu Mba. Ini koq ada kabel tipis ya? Ini kemana nyambungnya ya?” Kami jadi kayak detektif Conan deh. Mengamati kemana arahnya kabel itu nyambung. Dan….

“Lho, ini koq bisa touch screen ya? Eits… lho… koq jadi tipi? Wkwkwkkwk…. Ini bukan kamera perekam. Ini tipi touch screen…wkwkkwkwk”

Kami ngakak-ngakak sampai sakit perut. Astaga nagaaaa….! Udah jelek aja tadi pikirannya. Jadi, sodara-sodara. Di kamar mandi itu ada cermin besar, kurang lebih 1 x 1,5 m. Sekilas, itu cermin biasa saja. Itu sebabnya waktu aku mandi, gak ngeh kalau ada sesuatu disitu. Ternyata di bagian bawah kiri cermin, ada semacam tombol yang bisa disentuh untuk nyetel tipi. Saking halusnya, gak kelihatan itu tombol. Jadi ketika kita sentuh, langsung keluar menu2 pilihan untuk tayangan tipi. Lalu 19 inchi dari cermin itu otomatis jadi layar tipi. Aiiyyaaaa….! Anjrit deh! Beginilah kisahnya rusa masuk kampung….wkwkwkwk

Besok paginya kami siap-siap mau ke venue kongres ALA di Las Vegas Convention Center. Keluar dari area hotel kami menuju jalan raya. Cari-cari dimanakah gerangan shuttle bus yang dimaksud. Melihat ramainya lalu lintas dan ketatnya aturan berlalu lintas di kota ini, rasanya gak mungkin deh bus itu ngetem sembarangan. Pasti di tempat yang aman. Hampir 15 menit kami kebingungan. Gak ada orang yang bisa ditanya pula. Tiba-tiba kami melihat di seberang yang telah kami lewati tadi ada beberapa bus besar sedang berhenti. Lalu ada beberapa orang yang menuju bus itu pakai name tag! Aha! Itu dia! Itu pasti peserta kongres ALA. Kami segera berlari kea rah bus itu. Dan, betul! Itu adalah bus khusus untuk peserta kongres ALA yang nginap di Flamingo dan hotel terdekat. Kami segera naik, dan disapa sopirnya dengan ceria:

“Good morning…. How are you today…. ” * ramah-ramah ya mereka ini *
Saking senangnya ketemu bus ini, aku langsung duduk di depan, persis belakang sopir. Sopir melihat ke arahku sambil tersenyum. Beberapa saat aku sadar, ini seat khusus untuk penyandang cacat. Alamak. Aku beranjak sambil bilang:

“Oh, sorry….”

Sopirnya bilang:

“It’s oke. No problem, madam. Hope no disable today “

Tapi aku gak enak hati ah. Ketahuan awak dari negara antah berantah yang gak tau aturan…hahaha.

Setiap 15 menit, bus beranjak. Jarak hotel ke venue kurang lebih 20 menit. Kami tiba di venue tepat waktu. LVCC ini besar sekali. Ada 2 hall, yaitu hall North dan South. Suhu udara saat itu puaanasss poll: 42 derajat! Kita bisa merasakan panasnya udara bahkan ketika angin berembus. Panas menerpa kulit. Herannya bule-bule itu santai saja berjalan tanpa pelindung (payung atau topi). Beberapa orang malah sengaja duduk di bangku-bangku trotoar yang terkena panas, menikmati panasnya. Aku dan temanku yang dari negara bersuhu panas ini malah gak tahan. Sok takut jelek…. kemana-mana pake penutup kepala… hihihi.

exihibitions gate
Kami menuju tempat registrasi untuk international participant. O ya, kongres hari itu sudah masuk hari ke 2. Kemarinnya adalah pembukaan dan workshop-workshop. Di meja resgistrasi kami dilayani dengan baik. Bagian paling sulit disini adalah ketika minta tanda tangan dan stempel….hahaha. You know lah ya, kita itu kalau melakukan perjalanan dinas kan, dokumennya segambreng. Ada SPPD rangkap 2 yang harus ditanda tangan dan distempel. Harus ada kuitansi pakai materai sebagai bukti pembayaran biaya resgistrasi. Hal-hal kayak gini biasanya gak ada di negeri mereka booo…! Buat mereka, cukup bukti bayar secara online dan name tag! Itu sudah mengatakan banyak hal. Jadi waktu kami mendapat goodie bag dan name tag, aku menjelaskan ke panitia:

“Sorry, I need your signature for our document. Can you help…? “

“Oh, of course. What can I do for you?”

“Hmmm…. so…. please sign here… here… here… and here….” aku menunjuk kolom2 SPPD yang harus dia tanda tangan.

“This document as evidence for our travel to attend ALA Conggress ”

“I see….”

“And… you have to sign twice!” * soalnya kami kan dua orang *

“Hahaha… no problem! Every country have their regulations. Its doesn’t matter!”

Dia menandatangani semua dokumen yang aku sodorkan.

“It’s better if you have stamp…” Aku merayu lagi.

“Oh my God! So sorry, madam. We have no stamp. So sorry!”

“Oke, no problem. You are very helpful. Thank you.” jawabku berterimakasih.

“You’re welcome! Have a nice day!”

Urusan registrasi selesai. Kami segera menuju area exhibition. Area ini persis disamping meja registrasi. Luas banget. Ada 2300 an booth! Bayangkan! Booth2 ini terdiri dari berbagai macam produk yang berkaitan dengan dunia perpustakaan. Pokoknya kalau mau lihat trend-trend terbaru di bidang teknologi atau properti yang berkaitan dengan perpustakaan, disinilah tempatnya. Vendor-vendor online journal, para penerbit terkenal, perusahaan properti library, pernak pernik dunia pembelajaran, contoh2 mobile library, book drop model baru, MKiosK terbaru, smart book dispenser terbaru, software2 bidang perpustakaan, semua kumplit disana. Capek ngelilinginya. Dan kalau mau, kita bisa bawa koper, lalu bawa banyak souvenir dari tiap booth. Ada games2 dan kuis-kuis dengan hadiah-hadiah menarik. Kami ikut kuis yang diadakan penerbit online database dan dapat kaos. Di tempat lain dapat pulpen, stabilo lucu-lucu, permen, stress ball, goodie bag berbagai bentuk. Ada temu pengarang tiap hari, dan kita akan dapat bukunya gratis. Uuuggghhhh…! Pulang-pulang ke hotel, bawaan bisa satu koper tiap hari.
peserta seminar
Selain exhibitions, ada kelas-kelas seminar. Nah, ini yang bikin aku kagum dan geleng-geleng kepala. Selama kongres ini, ada 270 an kelas yang dibuka setiap hari untuk seminar (ada 3 hari seminar). Setiap kelas akan diisi oleh 4 sesi setiap hari. Setiap sesi diisi oleh minimal 3 pembicara (karena panel). Berarti selama kongres, ada 270x3x4x3, atau 9720 judul paper yang dipresentasikan! Sembilan ribu tujuh ratus dua puluh paper! Gilaaaaaa……! Di Indonesia, kalau mau bikin acara seminar, cari topik yang mau diseminarkan saja setengah mati. Dan yang apply untuk call for paper, susah sekali mencapai angka 100. Tahukah masalahnya dimana? Ide! Ya, ide! Kita selalu miskin disini. Mentok di ide. Padahal di sekeliling kita banyak ide-ide menarik yang bisa diangkat jadi tulisan. Saya perhatikan, paper-paper mereka itu biasa-biasa saja, tapi unik dan menarik. Misalnya, ada yang khusus membahas signage perpustakaan. Kalau di kita, ada yang membahas kayak gitu pasti ada yang komentar:

“Ini apaan sih? Rambu aja dibahas. Gak ilmiah banget deh!”

Lalu ada yang membahas soal ciri-ciri bangunan perpustakaan era digital. Bahkan ada yang fokus pada kursi atau sofa baca. Ada yang membahas musik di library. Dan banyak lagi ide-ide yang menurut kita sepele, tapi mereka bahas dengan menarik. Umumnya ide-ide menarik ini muncul dari pustakawan sekolah dan perpustakaan umum. Di Indonesia, justru kelompok pustakawan umum dan sekolah inilah yang kurang bunyi. Paling pustakawan perguruan tinggi yang lumayan dikenal. Karena kami dari perguruan tinggi, kami pilih kelas-kelas yang membahas content tentang perpustakaan perguruan tinggi. Supaya dapat banyak ilmu, setiap sesi kami pilih kelas yang berbeda. Sesi pagi, temanku ikut kelas tentang repositori, aku ikut kelas yang membahas reference service. Sesi berikutnya temanku ikut kelas yang membahas open acceess, aku ikut kelas yang membahas ‘developing information literacy programme’. Begitu seterusnya. Ada materi-materi yang peminatnya luber sampai duduk di lantai. Kelas IL sampai duduk di karpet karena topik ini memang gak ada matinye bagi pustakawan.

Hari pertama ikut seminar rasanya sudah tepar. Kepala penuh dengan informasi dan ide-ide yang mulai berseliweran. Las Vegas masih menyengat dan menggoda untuk ditelusuri, tapi hari itu kami putuskan back to hotel and take a rest. Zzzzz….karena masih ada 3 hari lagi acara yang mau diikuti, dan…. cerita inipun akan disambung besok saja. 🙂

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in My Journey. Bookmark the permalink.

9 Responses to LAS VEGAS: SIN CITY & 2 RUSA MASUK KAMPUNG :-))

  1. Hahaha gak nyangka ya para bule betah juga di jakarta kota banjir. artikelnya menarik banget buat di baca. mampir di blogku jg ya resep masakan tumis sawi putih hehe kali aja suka

  2. Ikutan nyimak ya, menarik tulisannya

Leave a Reply to masakandapurku Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *