GOODBYE AMERIKA: AKU INGIN KEMBALI LAGI :-)

* bagian terakhir dari 7 tulisan tentang kunjungan ke ALA. Akhirnyaaaa… selesai juga stabernya ya….:-)) *

Sisa 3 hari di Las Vegas kami isi dengan menghadiri kongres ALA (American Library Association). Sedikit tentang ALA (dikutip dari www.ala.org) :
———————————
The American Library Association (ALA) is the oldest and largest library association in the world, providing association information, news, events, and advocacy resources for members, librarians, and library users.

Founded on October 6, 1876 during the Centennial Exposition in Philadelphia, the mission of ALA is to provide leadership for the development, promotion, and improvement of library and information services and the profession of librarianship in order to enhance learning and ensure access to information for all.
———————————
Setahuku pustakawan Indonesia tidak banyak yang ke ALA, lebih sering dan lebih banyak ke IFLA (International Federation of Library Association). Mungkin karena ALA ini spesifik untuk pustakawan Amerika, padahal mereka juga terbuka untuk international participant. ALA 2014 lalu, rekan dari UGM (Pak Ida Fajar) membawakan presentasi berkolaborasi dengan John Hickock serta rekan pustakawan dari Singapore (Tamara). Mereka mengangkat tema tentang fenomena digital native di negara-negara ASEAN. John, memang sudah lama memfokuskan diri pada research tentang pengembangan perpustakaan perguruan tinggi di negara ASEAN. Kami mengenal John sejak 2004, dan sering mampir ke UI jika sedang berada di Indonesia. Saya dan teman mengikuti presentasi mereka di hari kedua. Menarik sekali mendengar pembahasan mereka bagaimana user di negara-negara ASEAN menghadapi perubahan teknologi yang melanda dunia kepustakawanan. Pak Ida, dengan kocaknya (as usual…hehehe) bercerita tentang awal-awal diberlakukannya buku elektronik Diknas untuk anak-anak sekolah dan tentang penggunaan gadget di Indonesia.

“Emak-emak di Indonesia mencetak e-book itu untuk anaknya, lalu emak yang lain menggandakannya untuk anaknya juga. Begitulah e-book itu bekerja….”

Hahahaha…. semua audience tertawa.
Malaysia juga punya pengalaman yang sama soal e-book ini.

Di hari kedua ini kami ketemu dengan pustakawan JIS. Saat itu sedang ramai berita tentang pelecehan seksual yang menimpa siswa JIS. Pustakawan JIS ini bule, tapi dia langsung mengenali kami waktu ketemu.

“Hello…. Do you come from Indonesia?”

“Ya… and you?”

“Ouw…! I’m librarian from JIS.”

“Oh…”

Kami berbincang sebentar. Nanya siapa saja yang dari JIS. Dia bilang sendiri saja. Mungkin sekalian mudik nih si neng ya…

Sebelum kembali ke hotel, John menawarkan mengajak kami putar-putar Las Vegas. At least lihat yang khas LV. Tentu saja kami mau dong… kapan lagi dipandu bule mengitari Las Vegas? Sorenya John dan Pak Ida menjemput kami di lobby hotel. Sebelum jalan-jalan kami makan dulu. John mengajak kami makan di tempat langganannya. Masuk ke tempat ini harus pakai kartu dan harus jadi member. Sistemnya adalah, kita bayar 10 US$ dan boleh makan sepuasnya, sampai buncit, sampai gak bisa jalan….hahaha. Jadilah kami kesana. Makan sepuas-puasnya, dan ngantongi banyak apel dan pisang, serta madu sachet…hahaha. Sebetulnya gak boleh bawa makanan pulang, cuma mengingat mahalnya makanan di luar sono, kami berkonspirasi dengan Pak Ida untuk nyelipin buah ke dalam tas tanpa sepengetahuan pramusaji. John juga tau kami nyelipin apel tapi dia pura-pura gak tahu. Dia malah godain:

“Gak sekalian itu sendok garpu dibawa? Kalian kan nginap di terrible hotel? Hahaha….”

Jadi waktu kami ceritakan tentang ‘miskin’nya fasilitas di hotel kami yang mahal itu, John dan Pak Ida ngakak-ngakak. Soalnya, mereka nginap di hotel gak jauh dari hotel kami, tarifnya cuma 35 US $ per malam. Tapi ada breakfast, ada air mineral, dan free wifi. Itu sebabnya John bilang hotel kami ‘terrible hotel’.

Sepanjang acara makan kami ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari dunia kepustakawanan dan kehidupan di US. John cerita masa kecilnya yang suka diberi minum teh oleh ibunya, tapi dia tak pernah mau.

“Sejak kecil aku gak pernah suka teh. Gak ada rasanya. Aku baru tahu betapa enaknya teh dicampur susu ketika berkunjung ke Yogya. Teh tarik! Hahaha…”

John juga banyak nanya tentang pustakawan perguruan tinggi. Menurut John, perpustakaan perguruan tinggi itu harus kuat di layanan rujukannya. *betul sekali John… * Dia juga nanya tentang gedung baru Perpustakaan UI dan berjanji akan segera berkunjung ke Depok. (janjinya itu dibuktikannya di bulan Desember 2014 lalu. Tiba-tiba dia nongol di Depok).

Selesai makan, kami dibawa putar-putar kota Las Vegas, sambil dijelaskan info-info menarik. Di salah satu hotel, ada poster penyanyi muda yang katanya sedang naik daun di US. Penyanyi cewek dan saudaranya cowok (lupa siapa namanya, yang jelas belum mendunia). John bilang:

“Ini penyanyi yang sedang digandrungi disini. Suaranya bagus, dan… attitudenya baik. Gak kayak Lady Gaga, Madonna, Britney… yang suka pamer2 keseksian, padahal suaranya biasa-biasa saja.”

Aku agak kaget mendengarnya.

“Lho, bukannya kalian (orang US) suka yang gitu-gitu? Maksud saya, kayak Lady Gaga, Britney….”

“Oh, no! Ya jelaslah banyak anak-anak muda yang suka mereka, tapi itu bukan mewakili orang US kan? Mostly kami masih menyukai yang punya attitude baik. Sayangnya media lebih suka menyorot yang aneh-aneh ya.”

Kami memutari pusat Las Vegas. Banyak tempat-tempat hiburan terkenal dan hotel-hotel yang biasa diinapi para selebritis Hollywood. Kami melewati area out door untuk hiburan malam. Ada panggung dan orang nyanyi-nyanyi. Para penontonnya umumnya anak-anak muda, berpasang-pasangan, berpegangan tangan, berdiri saja di trotoar yang ada. Kalau melihat kerumunan kayak gini, aku selalu takjub lho dengan yang namanya ‘ketertiban massal’. Kog bisa ya orang ini tertib-tertib?

“Ya…faktor pendidikan lah,” kata John.

Lha, di negaraku seringkali yang rusuh itu di lingkungan pendidikan. Tawuran anak sekolah, perkelahian antar kampus. Apanya yang salah sih? Kurikulumnya kah? Nah, aku ingat waktu di LA. Putrinya Pak HS itu punya banyak sekali medali di kamarnya. Macam-macam penghargaan pernah diperolehnya sejak TK. Aku sempat tanya ke Bu HS.

“Putri ibu pintar banget kayaknya ya Bu, berbakat. Banyak medali di kamarnya.”

“Ah, biasa saja Bu. Disini memang anak-anak itu dikasih banyak penghargaan supaya rasa percaya dirinya tumbuh. Semangat.”

“Maksudnya? Medali-medali itu bohongan?”

“Bukan. Itu dia peroleh memang karena ikut macam-macam kegiatan. Cuma, disini, misalnya ya…. ada lomba renang 100 meter. Kan gak semua anak bisa menang kan? Ada yang cuma mampu berenang cepat mungkin di 50 meter. Atau 20 meter. Ya udah, dibuat juga lomba itu. Jadi yang gak menang di 100 meter, dia menang di 50 meter. Begitu juga putri saya. Ibu lihat kan, dia menang di main musik mandolin. Temannya yang lain menangnya di piano. Ada di gitar, dsb. Begitu Bu. Intinya, semua anak itu diberi penghargaan sesuai minat dan kemampuannya. Itu awal yang bagus buat anak-anak itu untuk memiliki rasa percaya diri. Jadi hampir semua anak-anak disini pasti punya banyak medali. Istilahnya, semua anak dihargai sesuai kapasitasnya. Dikembangkan sesuai minatnya.”

“Oooo….. gitu. Anak-anak pasti senang ya Bu kalau merasa dihargai.”

“Of course. Anak-anak itu kalau sudah merasa diterima, dihargai, maka akan mudah diarahkan. Mudah diatur. Dan ketika itu sudah jadi kebiasaan, ya…bagus.”

Tiga hari mengikuti seminar-seminar di ALA belum cukup rasanya. Banyak materi yang tidak bisa kami ikuti karena paralel. Ada beberapa catatan saya tentang trend yang sedang terjadi di US:
– Topik digital native masih seksi di kalangan pustakawan US
– Open access kayaknya sudah menjadi keharusan di kebanyakan
perpustakaan, apalagi di perguruan tinggi.
– Materi information literacy akan tetap menjadi salah satu prioritas pustakawan.
– Perpustakaan umum di US sedang menggalakkan dunia dongeng untuk menyeimbangkan gadget di kalangan anak-anak. Ada pustakawan2 yang fokus mengembangkan kemampuannya mendongeng. *ini mengingatkanku pada anak-anaknya Steve Job yang justru tidak diberi mainan gadget, tapi diajak berkebun *
– Aplikasi layanan reference yang open source sangat banyak: Join Me, Library
Chat, dst.
– Aplikasi PDA (Patron Driven Acquistion) sedang trend untuk model pengadaan
koleksi.

Dan….. * ini penting yak *

– Rata-rata orang US menggunakan gadget bermerek Apple. Cuma John yang
masih punya hp nokia jaduuullll… Hahahaha
– Orang Amerika modis-modis, warna pakaiannya didominasi warna-warna
pastel, soft. Hanya orang2 Negro yang berani pakai warna-warna cerah
photo booth

Hari terakhir di ALA Conference, kami mengikuti kegiatan setengah hari. Tak lupa kami foto-foto di booth yang disediakan panitia. Sisanya kami kembali ke factory outlet…hahaha. Temanku masih kebayang-bayang dengan tas dan sepatu yang disana. Kami kesana lagi deh. Naik taksi pulang pergi, sepanjang perjalanan kami melihat banyak banget mobil-mobil limousine. Memang selama di Las Vegas, limousine ini mendominasi jalanan. Keren-keren. Taksi pun banyak limousine, drivernya cewek-cewek lagi. Di halte-halte juga kita bisa melihat box untuk naruh majalah. Majalah apa? Majalah2 sejenis playboy lah. Cover2nya jeroan semua. Jadi kalau ada orang mau beli, dia tinggal jatuhkan koin ke lubang koin yang ada disitu, trus ambil majalahnya. Puas berbelanja, kami kembali ke hotel. Packing barang. Besok harus kembali ke Indonesia tercintah.

Pukul 05 pagi kami sudah check out. Ke bandara naik taksi.

“To McCarran Airport. Via paradise, please.”

Pak HS sudah ingetin kami bahwa kalau mau pulang nanti, bilang aja via paradise supaya sopirnya bawa dari jalur terdekat. Penerbangan kami pukul 08 pagi menuju San Fransisco. Kami tiba di McCarran pukul 05.30 lalu mencari-cari counter check in. Disini kami agak nyasar karena merasa penerbangan internasional, jadi kami pergi menuju jalur ‘international passanger’. Jalurnya koq jauh banget ya? Untung ada kru bandara yang melihat kami kebingungan lalu menghampiri. Kami jelaskan bahwa kami mau ke Jakarta, tapi ke San Francisco dulu lalu ke Tokyo.

“Ooo…. Check ini saja disana,” tunjuknya ke barisan ‘local passanger’

“Tapi itu kan untuk penerbangan lokal?”

“Oh, ya. Gak masalah. Anda kan penerbangan lokal dulu ke San Francisco…”

Oh, iya! Ampunnn deh. Kami segera bergegas menuju antrian. Antriannya panjang sekali. Wah… bisa terlambat nih. Belum lagi di imigrasinya.

“Eh, itu ada self check in. Kesitu aja yuk.”

Kami ke mesin self check ini. Pencet sana pencet sini…eh, koq gak mudeng ya? Tidak sesederhana menu di self check in nya Air Asia…hahaha. Seorang kru bandara menghampiri kami lagi.

“May I help you, Madam?”

Dia akhirnya membantu kami melakukan proses check in. Dalam 5 menit urusan check in kami beres. Tibalah di pemeriksaan imigrasi. Mulai lagi deg deg an deh. Tapi tidak semenakutkan waktu datang. Konon kalau mau pulang itu pemeriksaannya tidak seketat kedatangan. Mungkin dikiranya ‘wong dia mau pulang ke negaranya ini, ngapain dipersulit?’ hahahaha. Tapi saya keliru. Justru disini saya kena random check.

Begitu selesai dari meja pemeriksaan dokumen, kami harus melewai 2 pemeriksaan lain. Satu pemeriksaan tangan dan kedua pemeriksaan biasa (melewati gate). Di pemeriksaan tangan ini, gak semua penumpang kena. Aku kena.

“You!” kata petugas menunjuk saya.

“Show your hand!” katanya. Aku berikan semua dokumen yang kupegang.

“No…no. Your document is oke. I want to check your hand.” Astaga! Mau nyari apa nih di tangan gue?
Aku menyodorkan telapak tanganku, lalu petugas melakukan semacam scanning dengan alat yang dipegangnya dan menggosokkan alat itu ke telapan tanganku (mungkin untuk ngecek apakah ada chip diselipin di bawah permukaan kulit. Aku sering baca ini di novel-novel detektif dan lihat di film-film Hollywood).

“It’s oke. Thank you!”

Aku berlalu dengan lega dan masuk ke antrian gate. Disini gak ada masalah. Yang masalah adalah temanku. Sampai 3 kali dia disuruh bolak-balik, gatenya tetap saja bunyi. Akhirnya dia dibawa ke kotak pemeriksaan seluruh tubuh. Dia dimasukkan ke tabung scanning itu lalu alatnya mendeksi dimana logam yang bunyi itu berada. Aku melihatnya dari jauh dengan cemas. Karena temanku pakai hijab, maka yang memeriksa dia juga perempuan. Ibu-ibu setengah baya dan sangat ramah. Dia minta maaf dulu sebelum menggeledah temanku, dan temanku akhirnya ngomong:

“Mungkin peniti hijabku ini kali ya Bu yang bikin bunyi?” sambil menunjuk peniti yang dipakai mengancing hijabnya.

“Oooo… I see. Oke…oke…” kata si petugas lalu mempersilahkan temanku berlalu. Kami mengikuti alur orang-orang yang berjalan. Jauh banget ternyata. Dan begitu tiba di ujung lorong, tiba-tiba pintu otomatisnya membuka, dan kami masuk di gerbong kereta yang super keren. Et dah! Lorong tadi menuju kereta ini toh? Tak lama, keretanya berjalan. Kurang lebih 10 menit kami tiba di terminal keberangkatan. Gedungnya gede, sepi, dan penuh dengan toko-toko yang menjual barang-barang bermerek. Ada casino juga. Wueh! Pokoknya selagi di Las Vegas, dimana-mana pasti ada casino deh.

casino di bandara

Perjalanan Las Vegas – San Francisco ditempuh dalam 1 jam penerbangan. Di San Francisco tidak banyak waktu istirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Tokyo. Bandara ini ramai sekali. Banyak turis-turis Jepang dan China. Kebanyakan mereka berombongan, ada tour leadernya. Mereka keluar masuk toko dan membeli banyak banget souvenir dan belanjaan. Orang-orang kaya Jepang kayaknya sih.

Penerbangan San Francisco – Tokyo kami naik UA lagi. Disini pemeriksaan hand bagnya ketat. Karena tas kami sudah beranak pinak, untuk menghindari lamanya pemeriksaan, kami memaksa tas kecil masuk ke tas yang lebih besar. Begitu di pesawat, tasnya kita pisahin lagi…hihihi. Di pesawat aku mengucap harap:
“Terima kasih Tuhan atas kesempatan ini, jika boleh meminta lebih lagi… aku pengen ada kesempatan lagi ke Amerika…” hahahaha.

Perjalanan menuju Tokyo ditempuh lebih lama dari kedatangan, 11 jam 30 menit. Tapi karena ini perjalanan menuju rumah, semangat sekali dong. Apalagi begitu tiba di Narita, koq rasanya seperti sudah di Jakarta ya? Ketemu dengan orang-orang Indonesia yang akan ke Jakarta. Ketemu dengan seorang ibu, PNS, dan berprofesi sebagai peneliti. Beliau ini setiap 3 bulan ke US. Ya ampun, gak capek apa ya? Lamanya di pesawat itu lho.

Di Narita ini, salah satu kesulitan adalah keterbatasan krunya berbahasa Inggris. Jadi karena kursiku dan kursi temanku pisah jauh, maka kami minta biar diubah, jika bisa.

“We want to sit together. Is it possible? Can you check?”

Kagak ngerti dia. Tapi dia cerdas, dia ambil kertas dan pensil, lalu dia menggambar, apakah yang kami maksud sama dengan yang dia pahami. Aha! Ternyata dia ngerti tapi gak bisa ngomong….hahaha

Temanku juga sempat tertahan ketika mereka memeriksa paspornya. Mereka menganggap nama temanku tidak sesuai dengan yang di tiket. Padahal di paspor itu ada penjelasan tentang penambahan nama alias. Penambahan ini dibuat oleh kedutaan US sendiri waktu ngurus visa. Masalahnya kru2 ANA ini kurang fasih berbahasa Inggris. Temanku sudah berulang kali tanya:

“What’s the problem? May I help?”

Tapi mereka tetap saja ngomong Jepang. Akhirnya ada seseorang (mungkin manajernya) yang datang dan bilang masalahnya di nama yang di paspor. Temanku langsung jelasin dan menunjuk lembar penambahan nama dari US Embassy. Mereka baru paham dan mengucapkan permohonan maaf karena telah membuat temanku tidak nyaman. Ada-ada saja ya.

Penerbangan Tokyo-Jakarta sangat menyenangkan. Ketemu lagi dengan pramugari-pramugari ANA Airlines yang ayu-ayu dan ramah-ramah. Yang paling menyenangkan adalah karena sebentar lagi aku akan ketemu Naara. Aduuhhh… kangennya sama si kecilku yang lucu itu udah gak tertahankan. Tapi ….kalian tahu gak, begitu sampai di rumah, Naara gak mau sama saya. Dia menatapku dengan marah, kesal, benci. Mungkin dia merasa dibohongi emaknya. Berbagai cara aku bikin agar dia mau, dia menolak. Dia nempel terus sama papinya. Semalaman itu dia gak mau dekat-dekat samaku. Baru besoknya dia ‘pulih’. Tiba-tiba dia bilang:
“Ma…nyenye dong….”
Jiiahhhh…. Kirain dia udah lupa urusan itu…hahahaha

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in My Journey, Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to GOODBYE AMERIKA: AKU INGIN KEMBALI LAGI :-)

  1. hera says:

    mantep neng kalarensi..jadi pengen

  2. Syaiful says:

    artikel yang menarik nih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *