AMAZING HOLLYWOOD

*Ini masih sambungan note kemarin-kemarin yaa…*
———————-
Keluarga Pak HS tinggal di US sejak tahun 1997. Awalnya, istrinya mendapat tawaran kerja di US dari perusahaannya. Padahal waktu itu baru punya baby berusia 1 bulan (putri, anak kedua di keluarga itu). Tapi tawaran itu sayang kalau dilewatkan. Mereka akhirnya mencari orang yang bisa merawat bayi dan bersedia diboyong ke Amerika. Mereka dapat seorang pengasuh bayi, mba M*n*e, asli Flores. Setelah dilatih selama sebulan di Jakarta, mereka cocok dengan mba ini, maka diboyonglah dia ke US. Sejak 1997, si mba ini baru sekali pulang ke Indonesia. Ijin tinggalnya di US selalu diperpanjang Pak HS. Kebetulan si mba ini sudah sebatang kara, jadi dia sudah lebih nyaman di US. Selama di US, otomatis kemampuan bahasa Inggrisnya juga bagus. Kami iri deh dengan mba ini. Dia lebih fasih ngomong Inggris dari kami…hahaha. Gadgetnya juga keren. Dia punya laptop iPad, punya iPhone, dan…. kata Pak HS, tabungannya selama bekerja di US sudah mencapai 1 Milyar rupiah! Selain kerja di rumah Pak HS, dia sering dapat job menjaga anak-anak balita di lingkungan itu. Seperti waktu kami disitu, pagi-pagi dia sudah berangkat naik sepeda.

“Kemarin di gereja ada ibu yang minta anaknya dijaga hari ini. So, I wanna go there…” katanya.

Malam pertama tidur di rumah Pak HS di Irvine, Los Angeles berlangsung dengan sangat nyaman. Sebetulnya masih jet lag. Maklum, perbedaan waktu Indonesia dan US kan hampir 12 jam. Pagi di Indonesia, malam di Los Angeles. Tapi mungkin karena lelah selama perjalanan, cepat juga ngantuk. Tidur pules deh kami. Aku terbangun sekitar jam 3 dini hari, lalu tidur lagi. Pukul 06 pagi, aku terbangun. Rada bingung. Ini dimana ya? Aku lihat temanku habis sholat.

“Eh, sudah azan ya?” tanyaku. Maklum di Depok, aku selalu dibangunkan azan, karena rumah dekat masjid.

“Hihihi… kita di Amerika mba… bukan di Depok. Mana ada azan?” kata temanku.

Hahahahhaa…. kami ngakak bareng-bareng. Segera mandi dan siap-siap. Pukul 07 lewat, si mba mengetok pintu kamar.

“Morning Bu… bapak wait for you. Ready to go pukul 08 kata bapak”.

“Oh, thanks mba…”

Pukul 08.00 kami turun ke bawah.

“Pagi Pak…”

“Pagi… pagi… gimana tidurnya? Enak?”

“Alhamdulillah Pak, kami tidur nyenyak”, jawab temanku.

“Kita jalan-jalan seputar komplek dulu ya Bu, sekalian cari sarapan. Di rumah ini gak ada sarapan. Sarapan kami cuma jus, silakan kalau ibu-ibu mau minum jus dulu”.

Di dapur memang penuh dengan buah dan sayuran. Tiap pagi si mbak bikin jus campuran macam-macam buah dan sayuran. Mereka jarang masak, nyaris gak pernah karena seharian aktivitas mereka di luar rumah. Rumah kayak tempat transit saja.

“Ibu kemana Pak?” tanyaku.

“Oh, sudah berangkat kerja. Ibu mah jam 6 sudah jalan Bu. Anak-anak juga. Nanti pulangnya jam 9 malam. Pokoknya di rumah ini cuma saya yang kerjanya santai. Ke kantor kalau dipanggil saja. Makanya saya bisa temanin ibu-ibu jalan-jalan…hahaha”. Wah, senang sekali kami dong.

Pagi itu kami jalan keliling perumahan. Udara terasa sangat bersih di lingkungan ini. Kami melewati warga yang sedang jogging, kebanyakan pasangan yang sudah berumur dan ibu-ibu. Hampir semuanya membawa binatang peliharaannya, anjing. Anjingnya cakep-cakep, dipakein baju lucu-lucu. Ada anak-anak muda yang naik sepeda juga. Sepanjang jalan, setiap ketemu warga, kami selalu disapa:

“Good morning…”.

“Hello…. Good morning.”

Karena teman saya pakai hijab, ada yang mencoba memberi salam (walau ucapannya jadi lucu):

“Assammm ikum…”

Terharu rasanya, di negeri yang katanya anti Muslim ini, ternyata warganya sangat ramah. Pak HS menjelaskan kehidupan di Los Angeles. Memang ya, enaknya kalau tinggal di rumah kenalan kalau berkelana ke negara lain adalah, kita bisa tahu kehidupan asli warga lokal. Coba kalau tinggal di hotel?

“Disini ada komunitas yang ngurus lingkungan juga Bu. Ya, kalau di Jakarta kayak RT/RW gitulah. Merekalah yang mengurus semua fasilitas yang ada di lingkungan ini. Tiap lingkungan disini ada taman, ada kolam renang, ada area untuk anak-anak, ada lapangan olahraga.”

Kami melewati sebuah danau yang sangat asri. Lalu ada petugas kebersihan menggunakan kendaraan kecil, sebesar becak tapi pendek, pakai mesin matic gitu, lalu memunguti segala kotoran yang ada di sepanjang jalan dengan sebuah alat pemungut yang dia pegang, termasuk kotoran binatang (jika ada).

danau di perumahan

area bermain anak
“Disini, setiap warga yang punya anjing atau kucing, kalau mereka mengajak keluar kayak tadi, mereka wajib bawa plastik untuk tempat kotoran, kalau piaraannya membuang kotoran di jalan. Tapi ada beberapa binatang yang pup tanpa diperhatikan majikannya, jadi si bapak tadilah yang membersihkan.”

Kami sarapan di sebuah kafe yang menjual macam-macam penganan. Banyak yang sudah sarapan disana, kebanyakan pasangan orangtua. Kuperhatikan, mereka rapi-rapi. Berdandan rapi walaupun hanya untuk sarapan. Kebanyakan orang Meksiko.

“Iya, lingkungan ini memang kebanyakan dari Selatan”, kata Pak HS.

Selesai sarapan, kami berkeliling lagi, melewati lapangan tennis.

“Ini area olahraga untuk warga. Lalu disebelah sana, yang ada pasir putihnya itu, untuk area berenang anak-anak. Disana kolam renang khusus orang dewasa. Semua fasilitas disini gratis untuk warga, dan akses ke semua fasilitas ini pakai kartu. Jadi yang tidak punya kartu gak bisa masuk.”

“Itu ada barang-barang apa Pak,” aku menunjuk arah kolam renang anak-anak.

“Ooo… itu barang-barang yang tertinggal. Nanti juga yang punya kalau pas kesitu akan ngambil. Disini, yang kayak gitu aman Bu. Gak akan ada yang ambil”.

Lalu kami melewati area yang banyak sampah daun-daun.

“Ini nanti akan ada yang bersihin, jam 10 an. Tapi disini bersihinnya pake alat penyedot gitu Bu, kayak vacumm cleaner itu lho. Kalau di kita kan pakai sapu lidi. Nah, disini dia pakai penyedot. Jadi petugasnya cuma nyedot dari satu tempat, daun-daun yang ada di sekitar 5-10 meter ntar langsung kesedot semua deh.”

“Kalau nebang pohon juga disini, gak kayak di kita Bu. Jadi kalau nebang, dia sudah langsung bawa alat lengkap. Habis ditebang, langsung diolah di tempat jadi serbuk. Jadi pulang-pulang bawa serbuk, bukan ranting atau batang pohon”.

“Ooooo…… “ mangap-mangap aja deh kami.

Setelah berkeliling perumahan, kami ketemu petugas pengangkut sampah. Wah, saya dan teman saya takjub banget deh dengan petugas sampah mereka. Mobilnya gede, dan cuma ada sopir. Si sopir gak perlu turun untuk ngangkut sampah dari rumah ke rumah. Jadi, tiap rumah dapat 3 kotak sampah sesuai jenis sampahnya. Tempat sampah ini ditempatkan di pinggir jalan dan sudah diset sedemikian rupa, sehingga ketika gerobak sampah datang, petugas hanya perlu mengepas posisi bak belakang truk sampahnya sejajar dengan posisi kotak sampah, lalu membuka bak belakang, dan…..itu kota sampah terangkat dari tempatnya, lalu menukik ke bak sampah untuk membuang isinya, dan kembali lagi ke tempat semula. Bak sampah di truk itu juga dibagi dalam 3 kotak besar sesuai jenis sampah tadi. Wah, keren bingit dah. Saya dan teman sampai ngakak-ngakak lihat adegan pengambilan sampah ini dari rumah ke rumah. Eh, dasar orang kampung ya?
Pukul 10 kami berangkat ke Universal Studio Hollywood. Pak HS memasukkan alamat tujuan di keypad mobilnya *aku selalu takjub ya lihat alat-alat kayak gini…hihihi* lalu kami jalan. Saya sangat excited nih. Sepanjang jalan Pak HS menjelaskan banyak hal.

“Disini kebanyakan jalan adalah high way”.

“High way itu apa sih Pak?”

“Ya, kayak jalan tol, tapi gak bayar. Jadi kalau disini, misalnya ya ada jalan tol baru. Kita bayar kan? Nah, begitu pembiayaan pembangunan jalan tol itu lunas, otomatis dia jadi high way, gratis. Kalau di Indonesia kan gak tuh. Asal namanya jalan tol…. bayar aja terus seumur hidup…hahahaha.”

“Oooo…. gitu! Berapa lama biasanya sebuah jalan tol berubah status jadi high way?”

“Paling lama 15 tahun. Makanya jalan tol yang di Jakarta itu, banyak tuh yang sudah berumur lebih dari 20 tahun kan, kalau disini sudah jadi high way tuh.”

Tiba di perempatan, mobilnya si bapak bunyi:

“Turn left…” Hihihi…. gue ngakak-ngakak aja deh kalau tuh mobil udah ngomong.

“Iya nih Bu. Mobil nih suka cerewet, kalau salah jalan nanti dia ngomel-ngomel”.
Hahahaha.
Melewati sebuah lahan kosong, kami dapat info menarik lagi.

“Nah, coba ibu lihat lahan kosong tuh. Ditanami kan?”

“Apa itu Pak? Lahan pertanian?”

“Bukan. Jadi disini, kalau ada lahan kosong, wajib hukumnya ditanami. Kalau tidak, pajaknya jadi 300%.”

“Oh?”

“Iya… jadi setiap warga yang punya lahan kosong, wajib menanami lahannya, biar hijau. Gak boleh gersang, kalau gak dia harus bayar pajak gede.”

Perjalanan sudah separuh, kami masuk di jalur high way menuju Hollywood.

“Ini kita masuk high way. Saya agak kencang ya Bu. Ibu perhatikan deh, jalur sebelah kanan, itu khusus jalur evakuasi. Di jalan tol di Jakarta juga ada. Tapi disini, semacet-macetnya jalan, tidak akan ada yang berani masuk jalur itu. Kalau di Jakarta, begitu macet dikit, pasti langsung masuk ke jalur itu. Kalau disini, enggak. Orang tuh tertib sekali soal ini. Termasuk buang sampah. Jadi gini, kalau misalnya mobil di depan kita ini saya lihat melanggar rambu atau buang sampah di jalan, saya akan telpon atau sms nomor polisi dan menyebutkan nomor mobil itu. Ntar di depan sana pasti dia langsung dicegat….hahahaha”.

“Ooo gitu ya Pak. Jadi sesama warga harus saling mengingatkan ya Pak.”

“Iya… gak bisa dong hanya mengandalkan polisi dan pemerintah. Itu yang harus dibangun, kepedulian masyarakat. Di kita, itu yang susah Bu.”

“Satu lagi Bu, disini yang sangat ketat adalah soal rokok. Orang boleh merokok jika itu di area pribadinya. Bahkan di rumah saja, kalau misalnya saya merokok, dan asapnya sampai tercium tetangga, saya bisa diadukan karena mengganggu kenyamanan orang lain. Jadi intinya, kita boleh melakukan sesuatu, sesuka-suka kita, jika itu di area pribadi kita. Tapi begitu di area publik, no! Itu sebabnya kayak di kantor Bu, para perokok itu ada tempat khusus yang ada penyedot asapnya. Kalau gak, ya gak bisa rokok. Saya berani bertaruh deh, selama ibu disini, gak akan ketemu orang merokok di area publik. Lihat saja nanti di Universal Studio. Biar itu luasnya satu kota, gak akan ada orang yang berani ngerokok”.

gate universal
Kami tiba di gerbang masuk Hollywood City, lalu menuju Universal Studio. Tiket masuk ke area ini kurang lebih 1,2 juta per orang. Dengan tiket seharga itu kita bisa masuk ke semua area permainan dan atraksi yang ada. Cari tempat parkir lumayan lama, sampai ketemu di lantai 5. Kami memutuskan untuk melihat beberapa pertunjukan saja, yakni: Sherk, Mummy the ride, Transformer, Water World, dan ikut studio tour. Waktu mau ikut Mummy the ride aku agak deg deg an sebetulnya. Pasalnya aku paling takut permainan2 yang membuat tubuh berputar, maju mundur, dst. Naik kora-kora saja di Ancol aku nyaris muntah.

“Gak koq Bu. Gak sampai berputar2 gitu, cuma maju mundur dikit,” kata Pak HS.

Jadilah kami ikutan. Astagaaaa….! Jantungku benar-benar mau copot dibuatnya. Keluar dari area ini, aku ampun-ampun:

“Gak lagi deh Pak. Gak mau lagi. Yang lain saja, gak pake yang gitu”. Pak HS ketawa-ketawa melihat kami berdua keringat dingin.

“Tapi ibu harus coba Transformer Bu. Rugi kalau gak coba. Ini versi terbaru, kata teman saya keren banget. Bener2 serasa main filmnya. Ayo Bu, kita makan dulu deh, biar ada energi untuk main Transformer.”

Kami makan dulu. Bingung mau pilih menu apa. Semua menu orang Amerika ini fast food yang aku gak suka. Untung ada salad buah dan sayur. Kami pesan jus juga.

“No sugar, please,” pintaku.

“Sorry…?” kata pelayan.

“No sugar, please…”

Dia melihatku dengan heran sambil menjawab:

“Oh, of course!”

“Bu, disini jus memang gak pake gula. Originil!” kata Pak HS.

Oooo…. pantesan si pelayan itu heran.
Habis makan, kami ngantri di lokasi Transformer. Antriannya di dalam ruangan yang berbelok-belok, jadi kita gak tahu sepanjang apa ini antrian. Cuma petugasnya inform kira-kira ngantri berapa lama. Kami ngantri kurang lebih 25 menit. Untungnya selama ngantri, kita bisa mengamati banyak mesin-mesin atau desain ruangan. Aku mengamati desain ruangan itu dan banyaknya kabel-kabel yang tertata rapi tapi rumiiiiittt banget. Ya, kayak studio film gitu. Ada layar tipi juga yang menjelaskan apa itu Transformer dan persyaratan mengikuti games ini. Gak boleh bagi penderita jantung, gak boleh bagi yang ada gangguan back pain, dst. Waduh! Gue takut deh. Kayaknya ngeri nih gamesnya.

“Aduh, Pak. Aku ngeri nih. Takutnya aku pingsan nanti,” aku bilang.

“Gak Bu. Aman koq. Malah asik. Percaya deh. Ayolah,” kata Pak HS.

transformer
Aku benar-benar keringat dingin. Tibalah giliran yang menggetarkan itu. Dan…benar! Permainannya keeereeeeeeennnnnnn banget! Serasa main di filmnya. Ini games 3 dimensi, kurang lebih 3-4 menit saja. Tapi saya gak tahan pas adegan kita terbang dan berada diatas gedung tinggi. Saya ngerti ini kamuflase saja, tapi begitu lihat kebawah, rasanya seperti fakta! Semua orang menjerit-jerit, dan aku nyaris ngompol! Ketika games itu selesai, aku seperti lepas dari sandera godzilla! Sumpah! Keren tapi bikin mabok! Setelah itu kami ikut permainan Water World.

“Ini paling asik Bu. Saya sudah 5 kali lihat ini. Gak pernah bosan. Setiap kesini saya pasti lihat ini,” kata Pak HS.

“Kayak tadi lagi gak Pak?”

“Oh, enggak. Ini atraksi. Tapi keren. Kayak di filmnya Kevin Costner itu lho. Kita nonton saja kayak di stadion.”

water world2
Antrian ke area ini banyak sekali. Ternyata stadionnya memang besar sekali. Soal antrian ini ya, aku perhatikan, mereka selalu mengutamakan anak-anak, penyandang cacat, orangtua, dan wanita. Dimana-mana begitu. Lalu ada parkir khusus kereta2 bayi. Pak HS betul. Water World keren banget. Rasanya saya pengen nonton berulang-ulang deh. Kayak nonton Water World langsung di depan mata. Gak pake layar. Seruuuuu…..

studio tour
Terakhir, kami ikut studio tour. Ini yang paling banyak kejutan. Jadi, kita naik kereta dengan beberapa gerbong. Setiap gerbong berisi kurang lebih 20 orang. Di setiap gerbong ada layar tipinya. Pemandu tour, Jimmy Fallon. Tournya adalah mengelilingi lokasi-lokasi syuting film-film Hollywood. Setiap ketemu satu lokasi, si pemandu akan menjelaskan ini lokasi apa, film apa yang pernah dibuat disini, lalu filmnya ditayangkan di tivi, dan….. kita langsung lihat bagaimana adegan-adegan itu dilakukan. Misalnya begitu tiba di lokasi dimana pernah ada adegan banjir disitu, tiba-tiba kiri kanan kita keluar air bah…banjir beneran, pohon bertumbangan, angin puting beliung, dan setelah itu reda. Begitu juga ketika masuk ke area yang ada gedung rusak, lalu pemandu mengatakan bahwa lokasi ini dipakai untuk syuting film2 kebakaran di parkiran gedung, tiba-tiba seluruh gedung terbakar, bau bensin dimana-mana, api melalap semua benda-benda sekelilingnya, sementara kami ada di tengah2 area itu, diatas kereta tour. Kami semua menjerit-jerit ketakutan. Ajaibnya, tak ada percikan apapun kena ke kita. Puncaknya adalah ketika kita masuk di lorong yang gelap, dan si pemandu siap memberikan kejutan. Rupanya kejuatannya adalah adegan di film Jurrasic Park dan King Kong! Oh my God! Itu dinosaurus serem-serem dan King Kong sak gede bumi mendadak nongol di depan kami dengan mulut menganga. Semua menjerit ketakutan, anak-anak yang duduk di depan saya menangis menjerit-jerit:

“Mommyyy… mommmmyyyy…..” dan aku gak habis pikir bagaimana binatang-binatang ini tiba-tiba ada disitu, hidup, mengaung seram dan siap menerkam kami. Adegan terakhir adalah ketika kereta kami dibanting satu dinosaurus besar dan mulutnya menganga siap menelan semua penumpang di kereta tour! Mata melotot di kegelapan, dan nyaris gak bisa nafas, ketika tiba-tiba semuanya senyap, diam, dan kami mendapati diri berada diatas kereta tour, aman, tanpa kurang sesuatu apapun, tapi nafas terengah-engah. Aku melihat sekeliling. Mana King Kong nya? Mana dinosaurusnya?

“Gila! Ini gimana sih Pak? Kita ini kan di out door, bagaimana bisa itu binatang2 tadi muncul sih Pak? Lalu banjir itu? Api itu?” tanyaku bertubi-tubi.

“Hahaha…. ibu gak usah bingung. Jangankan ibu, aku yang sudah 18 tahun disini dan sudah 6 kali kesini tetap saja bingung bagaimana mereka melakukan ini. Nikmati saja Bu. Itulah hebatnya teknologi mereka. Jadi semua area ini kayaknya ada layar 3 dimensinya Bu, gak kelihatan. Padahal kita kan kayak naik kereta di hutan ya? Hehehe…”

Sampai sekarang, aku gak habis pikir bagaimana adegan itu mereka buat. Sialan memang orang Amerika ini ya 🙂
fast and
Kereta tour juga melewati tempat dimana benda-benda yang dipakai di film-film tertentu, seperti mobil yang dipakai di film ‘Fast and Furious’ dan properti2 yang dipakai di film-film terkenal lainnya.

Kami pulang dari Universal Studio sudah lewat pukul 6 sore, tapi cuaca masih terang benderang. Sampai pukul 8 malam pun masih terang, baru pukul 9 mulai gelap. Malam itu kami tidur dengan lelap. Bayangan dinosaurus masih terus menghantuiku hingga besok paginya.

ATT_1403920342710_foto
Hari kedua kami dibawa ke lokasi walk fame Hollywood stars. Iiihhh… gak nyangka ya bisa sampai kesana. Banyak turis-turis dari Asia yang mengerubuti trotoar terkenal itu. Hari itu kebetulan hari peringatan meninggalnya Michael Jackson. Banyak turis dan warga yang meletakkan bunga dan menyalakan lilin di nama ‘Michael Jackson’. Ada para penghibur dengan kostum tokoh Zorro, Captain America, dll. Kita bisa foto dengan mereka tapi bayar Ada bus yang menawarkan jasa tour keliling rumah-rumah selebritis Hollywood. Kami ditunjukkan gedung yang biasa dipakai untuk menggelar acara Oscar dan pertunjukan lain-lain. Di sekitar area itu banyak toko-toko yang menjual souvenir khas Hollywood. Ada toko yang sedang sale, tiap item 5 dolar. Kami muter-muter disitu cukup lama. Menjelang siang kami ke St. Marina Bay. Sepanjang perjalanan banyak lihat mobil-mobil bagus.

“Heran ya, disini mobil keren-keren banget sih Pak. Mahal-mahal kayaknya nih.”

“Oh, enggak Bu. Disini mobil murah. Bisa dibilang harganya sepertiga dari harga di Indonesia. Makanya saya bisa punya mobil sampai 4…hahaha.”

“Masa?”

“Iya. Kalau di Indonesia harga mobil 1 M, disini paling 300 jutaan. Yang mahal disini minyak Bu. Makanya Amerika suka ribut dengan negara-negara Arab”.

Hahahhaa…. kami ngakak.

“Emang Amrik ini murni mengandalkan Timur Tengah soal minyak ya Pak?”

“Gak juga. Tapi kan pengaruh bangetlah ke harga minyak dunia. Sebetulnya sih sama-sama membutuhkan lah, cuma kalau sudah disusupi politik kan jadi susah Bu. Kita jadi gak tahu, ini beneran soal ekonomi atau politik. Yaaa, kayak di Indonesia sekarang lah. Orang banyak berharap pada Jokowi, tapi lihat saja ntar. Kalau Jokowi jadi Presiden pun, dia gak akan bisa tuh bener2 menjalankan niatnya memperbaiki negara karena ada partai di belakangnya. Partai itu kan butuh uang Bu. Dan siapapun kadernya yang duduk di pemerintahan pasti dijadikan alat untuk cari uang. Jokowinya bisa saja punya niat bagus, tapi yang dibelakangnya itu? Sama halnya dengan Prabowo. Dia bisa punya visi ingin bangun Indonesia, tapi tetap saja, dia kan punya partai juga. Makanya, siapapun yang jadi presiden, rakyatlah yang harus kuat. Harus kritis. Cerdas.”

* waktu kami ngomongin ini di Los Angeles, 2 minggu lagi Pilpres di Indonesia. Omongan Pak HS terbukti kayaknya deh, sekarang *

Di tengah perjalanan, ada mobil bagus, lupa namanya, tapi bentuknya mulus kayak kapsul. Bener2 kayak kapsul obat gitu.

“Pak, itu mobil lucu banget sih. Kagak ada pintunya apa? Koq mulus banget gak ada celah gitu?” aku penasaran.

“Oh, itu. Itu lagi ngetrend disini, masih mahal Bu. Kalau di rupiahkan kira2 1 M lah. Jadi pintunya ngebuka otomatis Bu. Nutup juga otomatis. Kita ngelihatnya kayak gak ada pintu ya? Gak ada gagang apapun. Keren tuh Bu.”

Kami tiba di St. Monica bay agak tengah hari. Lumayan panas, tapi tetap semangat menjelajah. Pak HS menjelaskan hal-hal unik lagi disini, khususnya tentang parkir. Jadi, di tiap 5 meter ada gagang, semacam pembatas parkir. Aku pikir itu rambu-rambu parkir, gak tahunya tempat menggesek kartu untuk bayar parkir. Kalau gak bawa kartu, bayar pakai koin. Koinnya dimasukkan ke lobang yang ada di gagang itu. Et dah! Kagak perlu ada tukang parkir ya?

Kami main-main di area ini sekitar 1 jam. Nyobain makanan tradisional orang Meksiko. Kayak cak we gitu deh, tapi ditaburi gula. Gurih. Di area pantai ini banyak anak-anak muda Amerika sedang berenang. Ada yang bikin acara-acara hiburan juga. Kontes-kontes mode gitu. Buat cowok-cowok, cuci mata banget nih kesini….hahahaha. Kami foto-foto disini berdua temanku. Tiba-tiba ada cowok berwajah Timur Tengah – Amerika menyapa:

“Assalammmualaikum…. may I help you?”

Karena dia lihat kami berdua ganti-gantian foto, dia menawarkan diri memotret kami berdua. Aduh, thank you so much deh. Dia nanya:

“Do you come from Malaysia?”

Oh ya, di area walk fame, si Captain America juga mengira kami dari Malaysia. Buat orang Amerika, wajah-wajah Melayu mungkin identik dengan Malaysia ya?

Setelah puas main-main disini kami pulang. Tiba di rumah pukul 08 malam dan langsung packing barang. Besok pagi siap meluncur ke Las Vegas, tujuan yang sebenarnya 🙂

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in My Journey. Bookmark the permalink.

5 Responses to AMAZING HOLLYWOOD

  1. Saya seperti kehilangan kesadaran saat membaca cerita ini karena kau juga terbawa masuk seolah olah juga aku bersama didalam aktifitas itu. Menarik ya, apa benar penulisnya yang kesana ya, atau cerita dibuat buat? Ini jadi penasaran ke sana tapi saya tahu how much is it? Tapi kalau punya niat untuk mencari fakta dari cerita ini pasti bisa. Ini sangat menarik dan takjub bagaimana perbedaan antara negeri kita dengan Amrika apalagi pulau Flores yang tadi jadi babysisternya asalnya dari sana. Hahahaa.. Perbedaan langit dan bumi dari aspek apa saja memang jauh sekali ketika menyimak cerita ini. Mba, tolong cerita lagi yang lain ya, biar ada inspirasi dan hiburan disela kerjaku. I love this story. Ada maknanya untuk berubah, inspirasi dan membangun konsep yang baru.
    Best all
    Angela S.
    http://www.komodomegatours.com

  2. Terperangkap dalam cerita dalam artikel anda karena begitu menariknya tidak sadar kalau waktu kerjaku telat. Heheee. Inspirasi sekali untuk masuk dunia cerita yang sangat menyentuh dengan penuh makna

  3. Syaiful says:

    artikel yang menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *