“PERTOLONGAN PERTAMA PADA KEBERANGKATAN” (KE AMERIKA)

Ini lanjutan dari note kemarin ya. Itu lho, yang judulnya : “Mau ke Amerika, di kedutaannya saja sudah nyasar!”

—————-

Setelah mengantongi visa dan dokumen-dokumen lain, kami mulai mencari tiket. Menimbang-nimbang penerbangan yang akan digunakan ke negeri paman sam itu. Buat saya pribadi, yang paling mencemaskan adalah lamanya penerbangan. Hampir 23 jam! Alamak! Gak kebayang gimana rasanya berada di pesawat selama 1 hari 1 malam. Kupastikan aku akan bosan, bête, stress, pegal, dan sakit. Teman-teman kasih pilihan:

“Kalau mau ada jeda istirahatnya, lewat Bangkok. Bisa istirahat kurang lebih 6 jam”.

“Jalur paling aman tuh lewat Tokyo.”

“Lebih asik lewat Dubai”.

Waduh. Bingung. Saya dan teman yang mau berangkat ke US ini belum pernah bepergian dengan penerbangan jauh. Negara yang pernah kami kunjungi masih sebatas Asia saja. Penerbangan terlama yang pernah aku alami baru ke Philipina dan Vietnam. Saya paling bosan di pesawat. Duduk lebih dari 2 jam adalah siksaan besar buat saya.

Kami masih berkutat dengan pembelian tiket, sambil mulai mencari-cari penginapan. Kongres American Library Association (ALA) 2014 ini diselenggarakan di Las Vegas. Di pagenya ALA cukup jelas nama-nama dan alamat hotel yang direkomendasikan panitia dan dekat dengan venue. Kami mulai pilih-pilih penginapan.

“Pilih yang paling dekat ke venue, supaya gak perlu pake transport lagi”.

“Pilih hotel yang aman, biar mahal tapi terjamin lah”.

“Pilih yang ada breakfastnya, ngirit biaya makan di luar”.

“Pilih yang ada wifinya, biar lancar komunikasi”.

Aduuuhhhh… banyak banget persyaratan kami berdua. Maklum, emak-emak. Hitung-hitungannya rumiiitttt.
Sudah tinggal 3 minggu keberangkatan, tapi tiket pun belum dapat. Kami masih berkutat memilih jalur tercepat dan teraman. Apalagi saat itu sedang ramai berita hilangnya pesawat Malaysia Airlines.
“Jangan yang lewat segitiga Bermuda.”

Di tengah-tengah kerumitan, tiba-tiba ada bantuan tak terduga. Seorang kolega yang sudah bermukim di US sejak 1997 menawarkan bantuan. Beliau ini alumni FE UI dan sempat mengajar di FE UI juga. Istrinya juga alumni FE UI. Beliau menawarkan mencari tiket paling murah, dengan jalur melalui Tokyo (jalur yang biasa dia gunakan). Pesawatnya ANA Airlines, dan UA (United Airlines). Setelah kami rundingkan, kami oke dengan pilihan jalur itu. Tidak hanya itu. Beliau juga menawarkan agar kami mampir ke Los Angeles dulu, nginap di rumahnya selama 3 hari, lalu ke Las Vegas.

“Tapi, acara di Las Vegas kan mulai tanggal 26 Pak?”

“Gak apa-apa. Kalian berangkat dari Jakarta tgl 24 pagi. Jalurnya Jakarta-Tokyo- Los Angeles. Nanti saya jemput di bandara LA. Kita punya waktu 2 hari eksplore Los Angeles. Setelah itu saya akan antar kalian ke Las Vegas. LA-LV itu cuma 3-4 jam koq naik mobil.”

“Hah? Serius Pak?”

“Ya, serius lah. Masa main-main. Ke Las Vegas telat sehari gak apa-apa. Tanggal 26 itu kan cuma pembukaan dan workshop-workshop. Ibu ikut workshop gak?”

“Enggak Pak. Kami pilih paket exhibitions saja.”

“Ya sudah. Pas itu.”

“Tapi kami belum booking penginapan di Las Vegas Pak.”

“Ya sudah. Saya booking kan dulu ya. Saya akan telpon panitianya. Kalau bisa dapat hotel yang langsung di venue, bagus. Tapi kalau gak, at least yang dekat venue. Berapa rate untuk hotel?”

Kami memberitahu rate sesuai peraturan pemerintah.
Besoknya kami dapat kabar, hotel di tempat venue sudah full booked. Kami dapat di Hotel Flamingo.

“Ini hotel bagus koq Bu. Keren. Mahal sedikit gak apa-apa ya. Ini daerah pusat hiburan Las Vegas. Dekat dengan Caesar Palace. Itu lho, tempat artis2 sering konser tuh.” *langsung kebayang konsernya Celine Dion, Michael Jackson, Britney Spears, Whitney Houstan, yang pernah digelar di tempat ini.*
Begitulah. Semuanya beres dalam waktu singkat dan dengan cara yang tidak diduga-duga. Kami berdua kegirangan gak ketulungan menerima tawaran menginap di Los Angeles dulu. Kalau cuma kami berdua, palingan kami ngendon saja di Las Vegas selama 8 hari. Aktivitas juga paling seputar hotel dan venue kongres.

Seminggu sebelum keberangkatan, saya jatuh sakit. Sakit beneran. Saya merasa lelah, pusing, dan tidak nyaman. Saya ke dokter. Periksa darah, semuanya baik-baik saja. Kata dokter: ‘kayaknya asam lambung’. Aku tidak yakin. Aku kepikiran membatalkan keberangkatan. Aku takut kalau sakit di perjalanan, jadi urusan temanku. Aku takut gak bisa pulang lagi, gak ketemu Naara lagi. Aduh! Hiks…hiks…makin kupikirkan, makin menjadi-jadi sakitnya. Makin lemas tubuhku. Aku coba kontak si bapak yang booking tiket, mungkinkah mengubah nama yang berangkat jika aku berhalangan.

“Tidak bisa, Bu. Karena tiket ibu promo. Yang bisa adalah cancel. Nanti akan dikembalikan biayanya, tapi gak full”.

Temanku juga cemas dengan kondisiku. Teman-teman menghibur:
“Sudahlah, mba itu terlalu mikir kali, makanya jadi berasa sakit.”

“Enjoy aja mba, kesana kan cuma ngikutin kongres kan. Gak kerja. Biasanya kita kalau pergi-pergi, bebannya berat, banyak yang harus diurus. Ini kan cuma sebagai participant doang. Anggap aja mau jalan-jalan.”

Aku meyakinkan diri bahwa aku baik-baik saja.

Di pagi hari keberangkatan, aku gak mau membangunkan Naara. Aku memeluknya dan berucap doa agar Tuhan menjaganya. Waktu memeluk itulah, airmataku bercucuran. Sebelum berlalu dari kamar, aku pandangi Naara yang sedang terlelap. Ya Tuhan! Aku akan sangat merindukan dia. Sebagai emak-emak pekerja, aku cukup sering dinas ke luar kota. Angel dulu pernah aku tinggal selama 2 minggu ke Philipina, tapi waktu itu usianya sudah 4 tahun. Aku bahkan pernah meninggalkan rumah selama sebulan untuk training di Singapore. Anak-anak sudah gede waktu itu. Kali ini, aku harus meninggalkan Naara selama 10 malam saja, tapi rasanya seperti mau pergi setahun. Aku memang paling gampang mewek kalau sudah menyangkut anak-anak kecil, sodara!

Kami tiba di bandara pukul 04 pagi. Penerbangan kami pukul 06. Di lift menuju boarding kami bertemu dengan wanita muda yang tergesa-gesa bawa koper besar.

“Mau kemana Bu?” sapanya.

“Los Angeles.”

“Naik ANA juga?”

“Iya. Kalau mba?”

“Ya, saya mau pulang ke New York. Naik ANA juga”.

“Oh. Tapi ke Tokyo dulu ya?”

“Iya. Semoga gak kena random check in nih”.

“Apa tuh mba?” aku kepo deh.

“Ibu langsung kan? Maksudnya nanti dari Narita langsung lanjut ke LA kan?”

“Katanya sih gitu mba…”

“Nah, disitu suka kena random check in Bu. Jadi nanti diacak siapa yang kena. Kalau kita kena, harus check out dulu di Narita, baru check ini lagi. Aku selalu kena tuh. Sebel.”

“Waduh, gitu ya. Tapi kami waktunya mepet banget lho mba. Nanti di Narita cuma ada waktu 50 menit ke penerbangan berikutnya. Kalau kena random check ini bisa ketinggalan pesawat dong.” Ujarku.

“Semoga saja ibu gak kena Bu.”

Wueh! Jadi nambah pikiran. Gimana kalau kena random check in? Ah, bodoh amat deh. Jalanin ajalah.

Pesawat ANA Airlines berangkat on time. Pertama masuk pesawat, kita langsung dibagikan handuk kecil hangat dan basah beraroma lemon untuk melap tangan. Aku gak cuma melap tangan, tapi juga buat wajah. Segar rasanya. Karena masih pagi dan sejak semalam gak bisa tidur (kebiasaan kalau mau pergi-pergi, selalu terbangun tiap 30 menit) begitu take off, langsung pules deh. Cuma bangun saat pramugari nawarin makanan. O ya, pramugarinya ANA Airlines ini manis-manis, lembut, helpful, halus, dan ramah. Dilayani mereka serasa dilayani dayang-dayang. Konon keramahan pramugari ANA beda tipis dengan Garuda. Tapi 2 kali naik ANA, kupastikan pramugari ANA jauh lebih ramah dan lembut. Makanan di pesawat lumayan enak, khas Jepang. Ditawarin wine juga. Habis sarapan, tidur lagi sampai jam makan siang. Dari rumah saya memang minum aspirin, sengaja biar ngantuk, biar gak bosan. Setelah makan siang, rasanya segar. Tidak terasa penerbangan sudah lebih 4 jam. Tinggal 2 jam lagi tiba di bandara Narita. Ah, ternyata tidak semembosankan yang saya bayangkan. Waktu 2 jam dihabiskan dengan nonton film. Tak terasa sudah tiba di Tokyo.

Bus Narita

Tidak banyak waktu yang kami punyai untuk melanjutkan perjalanan ke Los Angeles. Begitu keluar dari pesawat, kami mengikuti alur orang-orang yang melanjutkan perjalanan. Agak bingung di bandara ini karena signage nya pakai aksara Jepang semua. Schedule pesawat yang ada di layar tivi juga berbahasa Jepang, diselingi dengan bahasa Inggris. Para petugas di bandara inipun tidak terlalu fasih berbahasa Inggris. Waktu kami tanya kemana arah untuk penerbangan lanjutan dengan UA tujuan Los Angeles, si petugas cuma nunjuk-nunjuk layar tivi. Ya, sudah. Kita ikutin barisan orang-orang yang antri saja deh. Antriannya lumayan panjang dan lama. Kami agak kuatir karena waktu boarding dengan UA sangat mepet. Petugas meneriakkan:

“Chicago… Chicago….!”

Penumpang tujuan Chicago diprioritaskan dulu karena pesawatnya sudah mau take off. Di barisan kami, ada satu keluarga dengan 3 orang anak balita. Sejak turun dari pesawat dan naik bus bandara ke terminal kedatangan, keluarga ini ceriah sekali. Mereka nyanyi-nyanyi terus, suaranya juga bagus. Kita pun jadi terhibur. Disampingku ada seorang ibu muda menggendong anak balita. Dari wajahnya jelas sekali dia orang Indonesia. Kamipun bercakap-cakap sebentar. Ibu ini habis liburan dari Indonesia, mau kembali ke Honolulu. Dia sudah tinggal disana selama 10 tahun lebih. Menikah dengan bule.

Antrian Narita

Antrian masih bergerak lama. Ternyata, pemeriksaan disini sangat ketat. Sepatu dan kaos kaki sampai harus dibuka. Satu orang penumpang bisa diperiksa 3-4 kali melewati gate pemeriksaan itu. Belum lagi cairan-cairan yang ada di tas, dan ukuran tas yang boleh dibawa ke kabin. Di ketentuan penerbangan yang ada di tiket memang jelas tercantum bahwa setiap penumpang hanya boleh membawa hand bag ukuran tertentu ke kabin. Teman-teman yang sudah pengalaman ke Amerika dan Eropa sudah mengingatkan ini. Kalau bawa koper ke kabin, kopernya pasti dibuka dan diperiksa. Bikin lama. Aduh! Kapan kelarnya? Beruntung penerbangan ke Los Angeles mengalami delay selama 20 menit. Kami masih punya waktu untuk selonjoran. Saya menyempatkan diri melakukan streatching ringan sementara teman saya sholat di salah satu pojokan bandara. Tepat 20 menit setelah pengumuman delay, kami pun boarding. United Airlines ini sempat membuat kami ragu. Pasalnya, temanku nemu curcol seseorang di blog tentang pengalamannya yang kurang menyenangkan naik UA. Memang bukan pengalaman mengerikan sih, hanya persoalan keramahan saja. Tapi kalau soal professional, konon mereka sangat profesional. Katanya, kru-kru pesawat UA ini sangat handal dan terlatih mengatasi masalah jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di pesawat. Setelah diyakinkan teman yang pernah naik UA dan bapak yang membantu kami booking tiket, kami percaya. Jadilah kami naik UA dari Tokyo ke Los Angeles. Di pintu pesawat kami disambut kru dengan ramah:

“Welcome board…. “

Dalam hati aku bergumam: “Amerika! Aku datang!”

*masih nyambung besok yaa… smile emoticon *

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in My Journey. Bookmark the permalink.

One Response to “PERTOLONGAN PERTAMA PADA KEBERANGKATAN” (KE AMERIKA)

  1. Syaiful says:

    wah menginspirasi nih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *