MAU KE AMERIKA, DI KEDUTAANNYA SAJA SUDAH NYASAR!

(Catatan perjalanan saya ke Amerika Juni 2014 lalu dalam rangka menghadiri kongres American Library Association (ALA) ‪#‎latepost‬ )
—————————

Tahun 2014 lalu, bolehlah dikatakan tahun yang lumayan sibuk buat kami pustakawan di UI. Banyak kegiatan-kegiatan yang kejar tayang. Di awal tahun, saya dan teman mencoba submit poster session ke International Federation of Library Association (IFLA). Judulnya: ‘Developing a Model of Library User Education for Digital Native’. Waktu submit abstraknya, saya sudah menduga peluang untuk diterima 70%, karena ‘digital native’ memang sedang digemari komunitas pustakawan saat ini. IFLA tahun 2014 lalu diselenggarakan di Lyon, Paris. Jujur saja, Paris nya itulah yang menarik buat saya. Terbayang-bayang ke kota mode itu, bernarsis ria di depan menara Eiffel. Tak sampai 2 bulan setelah submit, kami mendapat email balasan bahwa paper kami diterima. Yeeeeeeaaaaahhhhh…! Jingkrak-jingkrak deh. Eh, tapi dalam waktu yang bersamaan, ada juga undangan dari ALA untuk menghadiri kongres. Ke ALA diutus 2 orang, ke IFLA 2 orang. Tapi yang ke ALA ada masalah. Teman yang bisa berangkat 1 perempuan dan 1 laki-laki. Dan dua-duanya merasa kurang nyaman untuk berangkat berdua dengan perjalanan panjang. Saya ditawari. Seketika saya berpikir:

(Kalau ke Paris, kayaknya tidak sesulit ke Amerika. Visa Schengen itu relatif mudah diperoleh. Visa ke Amerika, katanya sulit didapat. Tapi, kalau saya ke Paris, bisa sekalian ke 6 negara (sudah kami rencanakan jauh-jauh hari). Sedangkan kalau ke Amerika, ya…cuma ke Amerika saja. Duh! Gimana ya…? *galau.com*)

Menyadari bahwa saya hanya bisa pergi-pergi ke luar negeri jika ditugaskan dari kantor, saya pilih ke Amerika saja, dengan harapan suatu saat nanti bisa keliling Eropa bersama keluarga, dan biaya sendiri. Amiiiinnnnn….

Mulailah kami mengurus dokumen-dokumen perjalanan. Dokumen paling penting tentu saja visa, dan untuk mendapatkan visa ini harus ada surat dari setneg dulu. Mengurus surat ijin dari setneg hampir sebulan (o ya, sekarang sudah tidak perlu surat dari setneg jika mau dinas ke luar negeri, syukurlah!). Setelah dapat ijin dari setneg, barulah apply visa. Untungnya apply ini cukup online saja. Pengalaman apply visa ini cukup menyenangkan. Tahapannya pun jelas dan sepanjang kita sudah menyiapkan dokumen yang diminta, tidak akan ada masalah. Sedikit agak bingung waktu membuat foto, khususnya bagi teman2 yang pakai hijab. Di ketentuan disebutkan tidak boleh pakai penutup kepala. Teman seperjalanan saya kebetulan pakai hijab. Awalnya dia foto gak pakai hijab, tapi dapat info dari teman-teman yang pakai hijab yang sudah pernah ngurus visa US, gak apa-apa koq pakai hijab. Cuma pas foto, kuping harus kelihatan. Jadilah, temanku itu foto lagi, pakai hijab. Hebatnya, para tukang foto pun sudah tahu lho, persyaratan2 foto untuk apply visa ke berbagai negara. Mereka sudah paham bahwa untuk negara tertentu, latar belakang foto harus putih, sedangkan untuk negara lain harus warna biru. Peraturan ini bahkan selalu mereka barui sesuai ketentuan dari kedubes terkait. Ckk…ck…ck….orang yang terjun di dunia bisnis itu memang harus proaktif ya?

Setelah apply, kita mendapatkan tanggal dan waktu wawancara di Kedubes US. Kami mulai cari-cari info dari teman-teman yang sudah pernah apply visa US. Info-info seperti ini penting untuk menambah bekal kita menghadapi wawancara. Kita semua tahu lah, sejak peristiwa 11 September 2001, tidak mudah masuk ke Amerika. Banyak visa yang ditolak dengan alasan yang kitapun tidak tahu. Sampai ada guyon bahwa mendapatkan visa US itu sama dengan sudah masuk ke separuh wilayah Amerika yang akan dikunjungi. * halah…! *

Hari wawancara pun tiba. Kami mendapat jadwal wawancara jam 09.00 tapi sudah harus di US Embassy paling lambat pukul 06.30 WIB. Saya naik kereta dari Depok pukul 05.00 pagi. Tiba stasiun Juanda pukul 06.00 kurang. Lalu naik bajaj ke US Embassy. Untung waktu kuliah dulu pernah ke US Embassy, dibawa pak dosen melihat-lihat perpustakaan mereka yang keren. Sampai di Embassy, ya ampunnn… sepagi itu barisan yang antri di luar gerbang sudah mengular. Jam berapa orang ini mulai antri ya? Jangan-jangan dari malam nginap disini? Saya perhatikan sebagian besar yang antri adalah saudara-saudara kita yang bermata sipit. Banyak yang bawa anak-anak. Baru ngeh kalau mau menjelang libur panjang sekolah. Mungkin mereka mau liburan. Disana ketemu juga dengan Mba Dyah, dosen Psikologi UI yang akan mengurus visa buat liburan bersama anaknya.

Antrian diatur dan dikawal oleh security yang berjaga. Di luar gerbang antrian diatur sedemikian rupa. Diingatkan lagi berkas-berkas apa saja yang perlu dibawa. Soal berkas ini ya, ada semacam ‘trauma’ bagi saya pribadi. Jadi kalau ngurus apa-apa, saya selalu bawa sekomplit mungkin berkas. Takut tiba-tiba diminta dokumen-dokumen pendukung. Di kita kan sering gitu. Suka mendadak ditanya berkas ini itu jika ngurus surat-surat, padahal di persyaratan tidak disebutkan dokumen tersebut. Jadi kubawalah segala dokumen-dokumen macam KK, KTP, Karpeg, NPWP, dll. Padahal Kedubes cuma perlu paspor dan surat registrasi online yang didalamnya ada tertulis jadwal wawancara kita. Itu saja!

Jam 6 lewat para staf Kedubes mulai berdatangan. Bule-bule yang bertugas disana satu per satu tiba. Ada yang datang pakai kendaraan pribadi, ada yang naik taksi. Begitu tiba, dengan ramah mereka menyapa kami yang antri:

“Good morning all….. “

Pukul 6.30 tepat gerbang dibuka. Satu per satu antrian masuk, berkasnya diperiksa dengan cermat oleh petugas. Masuk ke gerbang pertama untuk diperiksa barang bawaan (kayak di bandara), lalu tas dititip. Masuk ke gerbang kedua, diperiksa lagi, lalu ambil nomor antrian. Setelah nomor antrian diperoleh, kita disuruh pindah tempat duduk ke sisi yang berbeda. Setiap nomor antrian sudah tercantum nomor grupnya. Nomor grup-grup inilah nanti yang terus jadi acuan kita ketika dipanggil. Begitu seterusnya sampai selesai proses wawancara. Awalnya saya dan teman saya bisik-bisik:

“Ini pembagian grup, maksudnya apa ya?”

“Oooo…. Grup kita mungkin untuk tujuan bisnis ya. Kalau grup lain mungkin untuk holiday…” Sok tau!

Nah, ketika menunggu panggilan untuk diperiksa berkas inilah, saya dan teman saya nyasar. Ini masih ngantri di area terbuka, belum ke ruang wawancara. Jadi, ada pengeras suara (suara cewek bule) yang memanggil nomor-nomor antrian:

“Kyuw kosong dua empat….”

“Kyuw kosong dua lima….”

Setiap kali ada panggilan, kami berdua otomatis melihat tampilan yang muncul di layar yang tersedia disitu, dan di nomor antrian yang kami pegang. Di layar munculnya no: 024. Setelah lima kali panggilan, kami berdua bisik-bisik:

“Ini koq Q melulu ya, lha… kita O, kapan?”

Setelah beberapa saat kami baru sadar, yang dia maksud ‘kyuw’ itu adalah ‘antrian’ (queue)! Bukan huruf Q! Hahaha…. pasalnya si bule itu menggunakan bahasa Inggris untuk menyatakan ‘antrian’ tapi begitu nyebut nomor antrian, dia pakai bahasa Indonesia. Bingung kan? Kalau pakai bahasa Inggris kan harusnya dia bilang: ‘kyuw zero two four…’. Aduh, sakit perut kami berdua deh ketawa-ketawa. Ini, mau ke Amerika, di kedutaannya saja sudah nyasar? Wkwkwkwk….!

Setelah melewati pemeriksaan berkas, tibalah giliran ke ruang wawancara. Ada 2 tahapan yang harus dilalui di ruang ini. Perekaman sidik jari dan wawancara. Tempatnya agak sempit, penuh. Disinilah saya menyadari trik mereka membagi-bagi antrian kedalam beberapa grup. Tadinya aku pikir: ‘rumit banget sih orang ini mengatur antrian segini doang? Rempong!’. Belakangan aku membuktikan bahwa trik itu efektif mencegah penumpukan di satu titik (karena keterbatasan area). Menunggu proses perekaman sidik jari, kita bisa melihat dan mendengar barisan yang sedang diwawancarai. Tadinya aku pikir wawancara ini di ruang tertutup. Gak tahunya di ruang terbuka saja, berdiri di barisan dan ditanya-tanya. Gitu saja. Selama menunggu giliran wawancara, kurang lebih 30 menit, saya melihat ada 3 bule yang bertugas di bagian wawancara: 2 orang perempuan, 1 orang laki-laki. Saya perhatikan, yang laki-laki kayaknya agak galak. Di barisan dia ada beberapa orang yang ditolak visanya, termasuk seorang laki-laki muda yang ingin menemani Omanya melayat omnya yang meninggal di Amerika.

“Status Anda tidak kuat untuk mendapatkan visa saat ini.” Begitu kata si bule. Yang aku dengar dia tanya adalah:

“Apakah sudah berkeluarga? Kerja dimana?”

Aku menerka-nerka dalam hati: “mungkin kalau yang apply visa ini anak-anak muda yang belum punya ikatan keluarga (menikah), dikuatirkan tidak akan kembali ke Indonesia”.

Dalam hati aku berharap tidak dapat si bule cowok itu sebagai pewawancara. Tapi begitu nomor grup kami dipanggil, eh, koq pas di barisan dia. Ah, sudahlah! Ada 2 orang di depan saya yang terlebih dahulu dapat giliran. Pasangan suami istri. Visanya si bapak ditolak karena paspornya rusak. Kata si bapak:

“Paspor ini basah waktu saya pulang dari Thailand bulan lalu….”

“Oh, it’s oke. Tapi Anda harus ganti dulu paspornya baru visa Bapak kami keluarkan. Tidak ada masalah dengan dokumen Anda, hanya paspor Bapak yang perlu diganti. Sedangkan visa ibu oke.” Jawab si bule. Aku sempat intip paspor yang ditunjukkan si bule. Memang parah sih. Kayak habis kerendam cucian…tintanya sudah bleber semua.

“Next…!”

Tibalah giliranku. Karena tadi si bapak aku lihat maju berdua bareng istrinya (karena tujuannya sama), maka saya maju bareng temanku. Eh, si bule langsung negur:

“No! One by one….!”

Aku maju. Dia ambil tumpukan berkasku dari folder disampingnya, sambil dia bacakan namaku untuk verifikasi. Tangannya gesit sekali membuka lembaran dokumen. Tiba-tiba dia menjulurkan sebuah paspor ke celah loket dan bilang:

“Take it! It’s not needed!”

Aku kaget. Kok gak perlu? Aku raih paspornya, ternyata itu paspor orang lain, dan nampaknya paspor lama. Aku bilang:

“It’s not mine!”

Dia ambil kembali paspornya dan bilang:

“Oh. Sorry madam…”

Lalu dia mulai tanya-tanya:

“Apa tujuan Anda ke Amerika?”

“Mau menghadiri kongres American Library Association.”

“Apakah Anda akan pergi bersama teman?” Dia menunjuk teman saya yang di belakang?

“Ya. Kami berdua mendapat undangan.”

“Berapa lama disana? Siapa yang membiayai?”

“8 hari. Ini tugas dari kantor.”

“Anda kerja dimana?”

“Di Perpustakaan UI.”

“O ya, kalau di Indonesia…. Library itu apa namanya ya? Pustaka.. .perpustaka… “

“Perpustakaan…”

“Hmmm… so, kongres yang akan Anda hadiri ini tentang apa? What do you want to see there?”

“Kami ingin melihat perkembangan perpustakaan di US, trend terbaru di bidang teknologinya dan layanan.”

“Oooo.. I see. O ya, how many copies UI library collection?”

“Almost two billion, including e-resources.”

“Sudah berkeluarga. Berapa orang anak?”

“Empat!”

“Yang paling besar usia berapa? Yang paling kecil usia berapa?”

“Paling gede usia 18 tahun, paling kecil 2 tahun”.

“Hmmmm… oke, Madam! Visa Anda akan kami berikan. Have a nice trip. Next!”

“Thank you.”

Selesai deh. Tibalah giliran temanku. Eh, dia lebih gampang lagi. Karena tadi sudah ditanya dengan siapa aku pergi, maka ke dia wawancaranya lebih singkat:

“Berapa mahasiswa UI sekarang?”

Setelah itu nanya: ‘Anda akan pergi berdua?’ sambil nunjuk aku. Dan…

“Have a nice trip…!”

Aha! We got it!

Seminggu setelah itu, sesuai instruksi dan pilihan pengambilan visa, kami disuruh mengambil visa ke tempat yang ditentukan. Nyasarnya disini lebih parah lagi. Jadi, kedubes bilang pengambilan visa ini di RPX Casablanca, Jl.Prof. Dr. Satrio No.64B, ex “Gado2 Cemara”. Pergilah kami naik taksi. Muter-muter di daerah Casablanca sampai pusing, gak ada tuh kantor RPX. Tukang tambal ban, tukang warung, tukang ojek… semua gak kenal ex ‘gado-gado cemara’. Ada tukang warung yang bilang kalau dulu memang ada tukang gado-gado yang terkenal disini tapi sudah digusur oleh perumahan Casablanca itu. Pergilah kami ke area perumahan itu. Gak ada. Sambil muter-muter, kita juga kontak-kontak dengan teman-teman. Persoalannya gak ada yang tahu RPX ini apa. Kami juga gak tahu. Ternyata maksudnya FedEx! Ampppuuuunnnn… dije! Itu kantor FedEx sudah kami puterin 2 kali. Astaga! Dasar orang udik ya? Sopir taksi juga baru tahu kalau RPX itu maksudnya FedEx. Hadeuhhhh… cuma urusan visa saja sudah 2 kali nyasar, pegimane nanti di negaranya si Obama ya?

*to be continue deh…:-) *

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in My Journey. Bookmark the permalink.

10 Responses to MAU KE AMERIKA, DI KEDUTAANNYA SAJA SUDAH NYASAR!

  1. Ceritanya kocak! Doain ya, saya juga lagi ngurus visa ke US 🙂

  2. Desi says:

    Bu, jadwal wawancara jm7 dan jm 9, harus sampai di depan kedubes jm6.30 ya?

  3. Ferri says:

    itu tanya jawab nya dengan bahasa indonesia atau english?

  4. Andika says:

    Hmmm, Jadi kepikiran, seandainya saya di posisi mbk waktu itu, Asli bisa lebih konyol nyasar juga wkwkwkw. tulisannya menghibur dan menginspirasi banget mbk clara
    http://berandasehat.com

  5. terimakasih buat artikelnya bu.

  6. Syaiful says:

    cerita yang menarik nih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *