BEST SELLER

Sering dong dengar kata ‘best seller’. Bagi yang suka ke toko buku pasti akan akrab juga dengan tulisan ini: ‘BEST SELLER’ di rak buku-buku yang sedang dicari banyak orang dan penjualannya tinggi. Saya sendiri kalau ke toko buku, rak itulah yang pertama saya tuju. Jarang beli buku sih *soalnya setiap hari ketemu buku-buku baru di perpustakaan…☺*, tapi minimal saya tahu buku-buku yang sedang best seller apa. Biar gak dibilang kudet. Kan gak asik dong, masa pustakawan gak tahu buku-buku terbaru? ☺

Istilah ‘best seller’ dimaksudkan untuk mengatakan bahwa sebuah buku itu sedang laris, dicari banyak orang, telah dibaca banyak manusia, terbukti dari hasil penjualannya yang tinggi. Kalau di film disebut box office. Ada beberapa indikator yang dipakai untuk memasukkan sebuah buku kedalam kategori ‘best seller’. Misalnya hasil penjualan dalam seminggu minimal berapa ribu eksemplar. Setahuku kriteria inipun tidak sama di semua tempat. Dan…jumlah penjualan ini sifatnya harus nasional. Bisa saja sebuah buku misalnya laris manis di Medan, tapi gak laku di Bandung. Samalah kayak partai pemenang pemilu kali ya. Partai X bisa menang di sebuah propinsi, tapi dia baru disebut pemenang pemilu kalau secara nasional perolehan suaranya paling tinggi.

Para penulis (dan penerbit) tentu saja ingin sekali namanya mejeng di rak ‘best seller’. Bagi penerbit, tentunya akan mendatangkan keuntungan besar, dan bagi penulis akan mencapai popularitas dan profit yang menyenangkan. Penulis-penulis yang bukunya menjadi ‘best seller’ berpotensi menjadi selebriti. Bukunya difilmkan, diundang seminar atau talk show di banyak acara, diuber-uber para fans, diwawancara wartawan, dan seterusnya. Mungkin membayangkan hal-hal itulah, ada penulis yang pernah melakukan manipulasi untuk mendapatkan predikat ‘best seller’ ini. Jadi dia beli sendiri bukunya dari banyak toko dalam jumlah banyak, sehingga bukunya menjadi ‘best seller’. Ini tentu tidak beretiket dan tidak legal ya * jangan ditiru *.

Lalu bagaimana caranya menjadi penulis buku ‘best seller’? Saya juga mau sih, dan gak tahu juga caranya bagaimana.☺ Tapi dari pengamatan saya untuk buku-buku ‘best seller’, bisalah kita mengambil pelajaran. Coba deh, kita lihat ya, buku-buku yang pernah menjadi ‘best seller’. Misalnya buku HARRY POTTER karya J.K. Rowling; Laskar Pelangi karya Andrea Hirata; buku STEVE JOBS karya Walter Isaacson (Simon & Schuster); buku SHERLOCK HOLMES karya Sir Arthur Conan Doyle; dan masih banyak lagi. Kalau kita baca kisah atau perjuangan para penulis ini ya, puaannjaaaannnng. Kita mungkin mengenal mereka saat sudah terkenal saja, tapi sebelumnya….hhhhh. J.K. Rowling misalnya. Sebelum serial Harry Potter itu dikenal, sudah puluhan penerbit menolak Rowling. Ada yang bilang:

“Cerita apaan nih? Sihir? Arrrgghhh…. gak menarik!”

Pokoknya para penerbit yang menolak Rowling itu menilai naskah yang ditawarkannya tidak punya ‘masa depan’. Kebayang gak bagaimana penyesalan mereka ketika akhirnya Bloomsbury Press mau menerbitkan naskah Rowling itu dan akhirnya terkenal? O ya, Bloomsbury ini penerbit ke 13 yang ditawarkan Rowling lho. Nampaknya sindrom angka 13 tidak berlaku untuk Rowling ya?☺

Mengenai tema cerita, kalau menurutku ini benar-benar unpredictable deh. Kadang kisah-kisah yang kita pikir biasa-biasa saja, ternyata meledak di pasaran. Waktu baca Laskar Pelangi, saya membathin: “ini….serunya sama dengan pengalaman gue di kampung dulu”. Bedanya, aku gak nulis kan? Andrea nulis! ☺ Banyak buku-buku best seller lainnya adalah pengalaman pribadi si penulis sebetulnya. Sekarang ini, konon kabarnya yang jadi ‘best seller’ di negeri ini adalah buku-buku kuliner. Masak memasak! Isinya apa? Ya, resep masakan lah. Orang-orang yang hobby masak, utak atik resep lalu menamainya dengan nama aneh-aneh gitu, bisa jadi terkenal tuh. Padahal kita emak-emak nih tiap hari masak kan? Nah, apa bedanya dengan orang yang bukunya jadi best seller itu? Ya, itu. Mereka nulis, kita masak doang ☺

Banyak tema lain sebetulnya ya yang bisa ditulis dan siapa tahu jadi best seller. Siapa tahu pengalaman bapak-bapak menggosok batu akik sampai kinclong macam porselin bisa jadi booming. Atau kisah emak-emak yang terobsesi punya bentuk tubuh macam gitar Spanyol bisa jadi terkenal. Atau pengalaman nenek-nenek yang memelihara giginya dengan rajin ‘marnapuran’ * makan sirih * bisa jadi diminati banyak orang. Atau pengalaman bapak-bapak memasang pampers babynya. Atau pengalaman para jomblo menata hatinya yang porak poranda setelah ditolak gebetan, sampai akhirnya di suatu saat si gebetan yang balik naksir tingkat mahadewa. Banyak kan idenya? Kenapa gak mulai nulis? Ayo! ☺
—————
Depok: 2015-03-19

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

8 Responses to BEST SELLER

  1. Ernawati says:

    Setuju banget ka, tapi bisa dong masak sambil nulis tar juga ketularan JK Rowling Ka,.. Asal jangan masak sambil nulis, tar keasinan, he he, bagus opininya…thank ka

  2. Selalu membaca cerita dan tulisan anda. Tulisannya renyah dan gurih.. thanks ya…

  3. saya juga suka beberapa novel populer tetapi sejujurnya saya lebih suka komik

    • Kalarensi Naibaho says:

      Komik juga bahan bacaan bermutu. Banyak nilai-nilai dan pesan-pesan moril yang dapat disampaikan dengan mudah melalui komik. Happy reading ya! 🙂

  4. tidak di toko buku saja yang ada best sellernya kak 😀

  5. Syaiful says:

    waow terimakasih telah berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *