Reuni Terakhir

Di tahun 90-an, hobby berat saya adalah menulis fiksi. Topiknya macam-macam, dan idenya muncul dari berbagai kisah teman-teman. Note dibawah ini tergolong cerpen pesanan. Seorang teman mencurahkan isi hatinya ke saya dan minta dituliskan dalam bentuk fiksi yang akan diberikan pada suaminya di hari ulang tahun pernikahan mereka. Namanya fiksi, tidak semua adegan dan kejadian dibawah ini benar terjadi. Apalagi nama-nama tokohnya, asli karangan saya. Intinya, saya hanya ingin mengangkat karakter si cowok dan si cewek dan menyajikannya dalam bentuk roman picisan. Bagi yang suka baca fiksi ala ABG atau setengah dewasa, semoga terhibur….-)

————————

Pukul lima sore kurang tiga menit. Aku sedang berkemas-kemas hendak pulang ketika ponselku berbunyi. Sambil merapikan alat tulis yang berserakan di atas meja, tangan kananku meraih ponsel di sudut kanan meja dan memencet tombol hijaunya.

“Hallo……”

Ternyata Riris. Temanku waktu SMA dulu. Riris memberitahu sedang merancang acara reuni bersama teman-teman SMA kami dulu. Acaranya sudah disusun bagus, tinggal menentukan tanggal dan menyebarkan undangan. Aku diminta ikut menyebarkan undangan. Dengan setengah hati aku menyetujui.

Pikiranku sebetulnya lagi kacau. Sudah seminggu aku dan Mas Rama tidak teguran. Dan ini bukan yang pertama kali. Sudah yang kesekian puluh kali sejak pernikahan kami lima tahun lalu. Kehadiran Salsa, putri kecilku pun tak mampu meredam pertengkaran yang sering muncul. Bahkan keributan kami yang terakhir pun hanya karena masalah sepele. Hari Minggu pagi saya mengajak Mas Rama jalan pagi sambil membawa Salsa keliling komplek. Rasanya iri melihat pasangan lain begitu kompak dan mesra jalan pagi di hari libur. Tapi saat seperti itu justru sangat dimanfaatkan Mas Rama untuk istirahat, tidur! Katanya sudah bekerja seminggu, waktu luang harus dimanfaatkan untuk istirahat. Toh untuk menjaga kebersamaan tidak harus keluar rumah. Memang betul, tapi kan tidak ada salahnya sekali-sekali juga keluar.

Tapi Rama tetaplah laki-laki super santai yang dulu justru membuat saya tergila-gila padanya. Dan aku? Entahlah! Yang kutahu sejak dulu aku hanya ingin seorang suami yang pengertian, tanggung jawab dan sabar. Dulu aku merasa Rama memiliki hampir semua kriteria yang kuinginkan. Tapi kenapa setelah menikah, yang ada hanyalah cekcok terus? Gaya hidup Mas Rama tidak pernah berubah. Dia tetap cool, santai, sederhana dan nggak neko-neko. Tapi saya merasa itu sudah tidak cocok dengan kondisi sekarang. Di jaman penuh persaingan sekarang ini, orang dituntut harus fight, semangat dan ambisi (bukan ambisius lho!).

Inilah pokok permasalahan kami terus. Mas Rama menuduh saya yang berubah, dan saya merasa bahwa dialah yang tidak bisa melihat kenyataan. Di tengah-tengah kondisi beginilah, Riris membawa berita yang sebetulnya sangat mengasikkan itu. Reuni! Sebuah ajang pertemuan dengan teman-teman lama yang pasti penuh dengan cerita heboh. Aku tersenyum membayangkan Ika, si primadona kami dulu. Lalu Melky, sang playboy dan langganan skors dari guru akibat kenakalannya.

Pasti Meisyi juga ada, Conrad, Coki, Lulu, Frista, Cyntia, dan banyak teman lain yang pasti akan menambah koleksi cerita. Yang jelas pasti ada Merwan! Dan istrinya Mia. Ah! Merwan! Bertemu laki-laki itu disaat aku berantem dengan Mas Rama sungguh tidak bijak. Akan banyak perbandingan-perbandingan yang muncul dalam benakku nanti yang akan menjatuhkan nilai Mas Rama. Kenangan bersama Merwan pun pasti akan membuatku semakin terhanyut dan yakin bahwa Merwan jauuuhhhh……lebih oke dari pada Mas Rama. Tapi, apa aku harus mundur? Bodoh! Itu namanya tidak berani menghadapi kenyataan!

———————

Mas Rama sedang mengikatkan tali sepatunya ketika aku mencoba memulai percakapan. Sudah lebih seminggu tidak bertegur sapa, rasanya seperti hidup dengan orang asing saja.

“Mas….”

“Ya…….” Seperti biasa, Mas Rama menjawab seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.

“Minggu depan kami mau reuni lagi”.

“Hmmm….. Lalu?” Kini dia berdiri merapikan kemejanya.

“Cuma mau beritahu saja kok. Kita pergi kan?”

“Kita? Yang reuni kan sekolahmu.”

“Ya, iya. Tapi masa saya harus pergi sendiri?”

“Memangnya kenapa? Dulu juga pergi sendiri kan?”

“Itu kan karena Mas lagi keluar kota”.

“Anggap saja saya ke luar kota lagi.”

“Lho, kok begitu sih Mas. Apa kita mau begini terus?” Aku mulai tak sabar.

“Begini bagaimana. Kita nggak ada apa-apa kan? Kita baik-baik saja kok”.

Aku tak berniat menjawab apapun. Setiap kali saya mulai mengajak berbicara, respon Mas Rama selalu begitu. Seakan tidak ada apa-apa. Seperti menghindar dari masalah. Sementara saya ingin setiap masalah harus dibicarakan dan diselesaikan secepatnya. Pembicaraan kami pagi itu membuatku sadar bahwa diantara kami telah terjadi permasalahan berat. Saya merasa ada masalah, sementara Mas Rama merasa tidak ada apa-apa. Bagi saya ini suatu masalah besar. Artinya kami berdua melihat sesuatu dengan kaca mata yang berbeda. Saya memutuskan untuk kembali ke rumah Ibu dulu. Setelah menitipkan surat pada si Mbok, saya mengemasi barang-barang yang diperlukan dan membawa Salsa ke rumah Ibu.

Seminggu di rumah Ibu, tak sekalipun Rama menelepon apalagi menjenguk. Apa dia tidak kangen pada Salsa? Keterlaluan! Rasa kecewa semakin menumpuk dan menimbulkan pikiran yang tidak-tidak. Untung ada Ibu yang selalu menenangkan hati saya. Salsa pun kelihatan senang-senang saja. Walau belum mengerti apa-apa, sebetulnya aku kuatir bocah cilik itu merindukan papanya.

————————

Dengan perasaan tak menentu aku berangkat ke tempat reuni. Sepanjang perjalanan saya gelisah, sibuk membayangkan reaksi teman-teman karena saya datang sendirian. Aku ingat peristiwa lima tahun lalu, ketika kami mengadakan reuni dan saya datang sendiri karena Mas Rama harus ke Kalimantan. Padahal waktu itu saya masih pengantin baru. Teman-teman habis menggodai saya, tak terkecuali Merwan yang waktu itu belum juga menikah. Rasa bahagia yang masih meliputi perasaanku saat itu mampu mengabaikan godaan teman-teman termasuk Merwan. Yang ada di benakku saat itu hanyalah Rama. Ya, Rama! Dan saat ini juga begitu. Tapi dengan kesan yang sebaliknya.

Ruangan tempat pertemuan sudah ramai. Dari jauh aku melihat Riris, Lulu, Meisyi, Cynthia tengah heboh bercanda ria. Pasangan mereka juga asik bercengkerama di meja seberang. Dengan sedikit ragu aku melangkah menuju mereka.

“Hai, Cha. Apa kabar?” Riris menarikku bergabung ke kelompoknya.
Aku menyalami mereka satu per satu.

“Kok sendirian?” tanya Lulu sambil menyodorkan pipinya.

“Mana putrimu, kok nggak dibawa sekalian?” Cynthia mengacak rambutku asal-asalan.

“Makin oke saja ibu kita yang satu ini”. Meisyi menjabat tanganku sambil memeluk erat.

“Maaf, aku agak telat. Macet.” Ucapku basa-basi.

“Dan berita dari Rama?” Riris nggak akan diam sebelum mendapatkan jawaban yang diinginkannya.

“Mmm…., kebetulan lagi ada kerjaan. Nggak bisa ikut. Dia titip salam buat kalian.”

“Aaa….. alasan! Masa tiap kita reuni kamu ngelajang terus. Nggak lucu dong, sudah punya buntut satu lagi.” Lulu ikut-ikutan menggoda. Mereka pada tertawa melihatku salah tingkah.

“Iya deh. Nanti aku bilangin sama Mas Rama.” Jawabku asal-asalan.
Sambil bercanda-canda kami menikmati makanan kecil yang tersedia di meja. Tiba-tiba Riris menyolek pinggangku sambil berbisik:

“Lihat siapa yang datang……mantan….”

Aku mengikuti pandangan Riris. Dari pintu masuk terlihat Merwan menggandeng mesra istrinya yang sedang hamil delapan bulan. Jantungku tiba-tiba berpacu dengan sangat kencang. Aku pasti tidak bisa menyembunyikan sikapku yang salah tingkah.

“Wah, yang begini nih yang membuat hati para wanita cemburu”.

Lulu menggoda Merwan yang memeluk istrinya dengan mesra. Beban di perut Mia seakan-akan dipikul berdua dengan Merwan. Hatiku nelangsa melihat sikap Merwan memperlakukan Mia. Merwan memang sangat romantis dan senang memanjakan wanita. Mungkin sikap itulah yang membuatku selalu mengingat dia di saat aku berantem dengan Rama.

“Hallo Ocha, apa kabar? Mana Rama mu?” tiba-tiba Merwan sudah berdiri di hadapanku. Tangan kanannya terjulur ke arahku sedangkan tangan kirinya erat menggandeng Mia.

“Eh, mm…. baik. Sudah berapa bulan nih?” sahutku menyambut tangan mereka berdua dan mengecup pipi Mia.

“Sudah delapan bulan, Cha. Sebentar lagi aku akan jadi Ayah. Tapi, kok pertanyaanku nggak dijawab? Mana suamimu?” Merwan mendesak.

“Lagi ada urusan penting.”

Merwan menatapku tajam. Sorot matanya mengatakan bahwa jawabanku tidak meyakinkannya. Untung Lulu datang bergabung. Aku ‘melarikan diri’ dari tatapan Merwan yang curiga. Dia tahu saya. Dia pasti bisa membaca mataku, bahwa ada yang tidak beres antara aku dan Rama.

Kami larut dalam pembicaraan mengenai anak-anak, kehamilan, suami, pembantu, baby sitter, sampai urusan tetek bengek rumah tangga, sementara Merwan bergabung dengan para suami. Sekali-sekali aku melihat Merwan memperhatikan Mia, melambaikan tangan pada istrinya, mengambilkan minum dan menemani ke kamar kecil. Entah apa lagi yang dilakukan Merwan, yang jelas aku tak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Mas Rama. Kenanganku bersama Merwan kembali membuncah membuatku ingin menangis. Candaan teman-teman tak mampu membuatku rileks.

“Cha, kamu kok tegang terus sih dari tadi. Sudahlah, kita percaya kok Mas Rama lagi sibuk, nggak usah terlalu dipikirkan. Toh acara ini kan reuni kita, bukan reuni Mas Rama”.

Riris selalu bisa membaca pikiranku. Aku tersenyum pahit mendengar ocehannya. Dihadapanku Mia terlihat sangat bahagia. Andai saja Merwan….

“Hei, nampaknya ada kejutan lagi tuh!”

Lulu melonjak sambil menunjuk ke pintu masuk. Serentak kami semua menoleh. Dan….. !!!! Mas Rama muncul di pintu. Aku terperangah melihatnya. Dia melambai pada semua orang dan langsung menuju kelompok para suami. Mereka bersalaman akrab seperti sahabat lama yang sudah lama tidak ketemu. Padahal seingatku hanya sekali saya memperkenalkan Mas Rama dengan mereka, pada hari pernikahan kami! Aku masih belum percaya ketika kemudian Mas Rama menarik tangan Merwan menuju meja kami.

“Ini Mia, Mas.” Merwan memperkenalkan istrinya pada suamiku. Mereka bersalaman akrab.

“Lho, katanya ada urusan penting. Sepenting apa sih sampai tega melepas Ocha jalan sendiri ke reuni?” sindir Riris sambil mencubit lengan Mas Rama.

“Kepentinganya sebetulnya dalam rangka acara ini juga”, jawab Mas Rama santai.

“Apa hubungannya lagi!?” semprot Lulu. Aku makin bingung.

“Sebentar lagi juga kalian akan tahu. Yang jelas saya datang kesini dengan persiapan yang sangat bagus.”

Tiba-tiba lampu di ruangan itu mati sebagian sehingga suasana jadi remang-remang. Dari pintu belakang kedengaran suara berisik dengan langkah-langkah orang masuk. Samar-samar terlihat kelompok band kesukaan saya. Mereka segera mengambil formasi di tengah ruangan yang memang agak kosong dan memainkan musik mereka. Belum sempat aku membuka mulut untuk bertanya ketika terdengar suara lembut Mas Rama.

“Lagu ini kupersembahkan bagi Rosa, atau Ocha, istri tercinta saya. Untuk mengenang lima tahun pernikahan kami. Segala cinta selalu hanya untuk dia……”

Air mataku jatuh bercucuran. Teman-teman bertepuk tangan menyalami saya dan Mas Rama. Aku tidak sanggup berkata apa-apa ketika Merwan mengulurkan tangannya.

“Kamu wanita paling bahagia, Ocha. Semoga pernikahanmu langgeng.”

Aku menggenggam tangan Merwan erat, seakan-akan ingin mencari kekuatan disana. Sentuhan lembut di pundakku membuatku sadar, dari tadi aku belum bertegur sapa dengan suamiku.

“Mas……”

“Sudahlah, tidak ada yang perlu dipertanyakan. Saya hanya ingin meyakinkanmu bahwa saya sangat mencintai kamu dan Salsa. Dan saya akan berusaha melakukan apa saja untuk kebahagiaan kalian berdua. Maafkan saya kalau selama ini kamu merasa kurang mendapat perhatian. Saya hanya ingin mengajak kamu menerima kondisi apapun dalam hidup ini. Dan saya yakin, kamu masih memiliki perasaan yang sama dengan saya.”

“Maafkan saya Mas……. Saya tidak tahu harus bagaimana.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kita berdua sama-sama memiliki kekurangan. Mudah-mudahan ini reuni terakhir keributan kita.”

Mas Rama menggoda saya. Dengan lembut dia mengecup pipi saya. Tanpa kami sadari, tinggal kami berdua yang masih duduk. Teman-teman sudah ‘turun’ semua melantai. Perlahan tapi pasti Mas Rama meraih pinggangku dan membawaku bergabung berdansa. Aku tak sempat merapikan wajahku yang pasti acak-acakan karena air mata.

“Bagaimana Mas merencanakan ini semua”, bisikku lembut sambil mengikuti irama musik.

“Tentu saja dengan bantuan Ibu. Idenya sih dari saya, tapi dukungan Ibu yang membuat saya sangat pe de.”

“Jadi?”

“Ya, jangan kamu kira selama kamu minggat itu aku nggak pernah ketemu Salsa. Setiap hari saya kesana, kalau kamu sudah berangkat ke kantor. Lalu saya dan Ibu berunding bagaimana memberikan kejutan buat kamu. Saya ingat rencana reuni kalian, lalu saya kontak Riris supaya waktunya bisa di match. Ternyata bisa.”

“Ya, ampun. Jadi Riris tahu……..”

“Merwan juga. Merwan banyak memberi masukan. Dan aku tahu apa yang diusulkan Merwan pasti kamu suka.”

“Bukan begitu Mas. Masalahnya kan Merwan pernah dekat aku.”

“Justru itu. Saya positive thinking kok. Malah senang punya teman yang pernah jadi mantan pacar istri. Kalau ada apa-apa dengan istri kan tinggal curhat …he..he…”

“Jadi dibelakang saya kalian berkoalisi ya?”

“Demi kebaikan bersama. Mudah-mudahan kamu bisa mengerti dan memaafkan saya.”

Saya menatap mata Mas Rama dalam-dalam. Ada keteduhan dan cinta yang dalam disana. Aku seperti menemukan kembali semangatku yang hilang. Tidak ada lagi Merwan yang romantis, yang penuh perhatian, dan yang lebih oke dari Mas Rama. Yang ada hanyalah kesabarannya, cintanya, kesederhanaannya, kejujurannya yang membuat saya ingin hidup selamanya dengannya.

************
March 5, 2010 at 3:19pm

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

2 Responses to Reuni Terakhir

  1. Mantap. Bahasa yang lembut dan puitis. Ibu memang penulis yang hebat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *