Profesor ‘keti’ dan Pendidikan Kita.

Meski tak bersinggungan langsung, note ini merupakan rangkaian dari note sebelumnya ’Dicari: Profesi-profesi terpinggirkan!’ karena keduanya terkait dengan isu pendidikan.
———————

”Nak, gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit. Raihlah ilmu sampai ke Cina. Kejarlah ilmu hingga ke negeri Paman Sam dan benua Eropa.” Begitu kata orangtua yang jamak kita dengar kepada anak-anaknya. Kalimat-kalimat itu dengan jelas menyiratkan harapan bahwa pendidikan akan dapat mengubah hidup seseorang sekaligus membawa kebanggaan dan berkah bagi keluarga.Tapi, benarkah pendidikan membuahkan semua harapan itu?”

———————-

Tahun 1991-1998 saya bekerja sebagai staf di salah satu unit dibawah Proyek Bank Dunia XXI yang menangani Pengembangan Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. Bekerja di unit ini memberi pengalaman dan wawasan baru bagi saya dalam banyak hal karena pimpinan dan staf di proyek ini terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan dan pola kerja yang sangat dinamis. Secara rutin ada konsultan dari bank dunia yang bekerja di kantor dan secara langsung mempengaruhi pola kerja saya pribadi.

John Ashford adalah salah satu konsultan yang melekat di benak saya. Profesor dari Inggris ini paling sering ada di kantor dalam periode yang lumayan lama. Saya masih ingat betul bagaimana gayanya bekerja. Sehari-hari beliau mengenakan hem lengan panjang berwarna biru muda (saya sempat berpikir bahwa mungkin Profesor yang satu ini tak kenal warna lain selain biru karena jarang sekali dia pakai kemeja warna lain). Kadang-kadang dia pakai dasi. Di kantor, dia selalu merapikan sendiri mejanya, membuat sendiri minumannya (walaupun ada office boy yang siap membantu), dan tidak pernah merepotkan staf lain dengan menyuruh ini itu.

Saya suka memperhatikan bagaimana dia bekerja di mejanya. Kalau ada alat tulis yang jatuh ke kolong mejanya, dia akan segera menyingkapkan dasinya ke belakang leher dan tanpa pikir panjang membungkuk (bahkan sampai tengkurap di lantai) mencari alat tulisnya yang menggelinding ke lantai. Jika hal yang sama terjadi pada salah seorang pimpinan di kantor saya, tanpa ragu-ragu si bos akan memanggil office boy atau salah seorang staf terdekat untuk mencari alat tulisnya yang jatuh ke lantai….-)

Sampai saat ini yang paling saya ingat dari profesor Inggris itu adalah caranya menegur staf yang suka main game. Dia akan mendekat ke meja staf tersebut, menyapa dan tersenyum tipis, lalu mengatur konfigurasi warna layar di komputer menjadi lebih redup sambil berkata:
“more comfortable…..”

Padahal maksudnya menyindir bahwa kalau mau main games itu mbok ya jangan sampai kelihatan orang lain….-)
O ya, selain sifat-sifat di atas Profesor yang satu ini juga bukan main pelitnya. Kami suka sebel kalau harus pergi-pergi dengannya tidak pakai mobil kantor. Tarif taksi pun ditawar….-(

Kemudian di bulan-bulan tertentu proyek juga akan didatangi oleh tim bank dunia untuk menilai kinerja semua proyek yang didanai mereka dan melihat langsung ke lapangan apakah dana itu betul-betul digunakan dengan optimal. Misalnya, dana pengadaan buku untuk perguruan tinggi di Indonesia. Tim ini tidak akan percaya begitu saja dengan laporan proyek bahwa dana itu sudah dibelikan buku dan sudah dikirimkan ke perguruan tinggi dimaksud. Mereka akan langsung ke perguruan tinggi di daerah dan melihat langsung apakah buku-buku itu ada di perpustakaan mereka atau tidak.

Ketua dan anggota tim bank dunia terdiri dari berbagai negara dan berganti tiap periode. Di tahun 1996-an ketua timnya adalah seorang perempuan, profesor dari Jepang (namanya lupa) dengan penampilan sangat eksentrik. Bayangkan saja, sehari-hari dia hanya mengenakan celana panjang (kadang-kadang jeans) plus baju bahan kaos atau rajutan model ketat, tanpa lengan! Mondar mandir di gedung DIKTI Senayan selalu dengan kostum minim seperti itu. Kami pernah geleng-geleng kepala karena dalam suatu pertemuan yang dihadiri para pejabat DIKTI di jaman itu, termasuk menteri, bulu keteknya berkeliaran dari sela-sela baju ketatnya itu. Di akhir pertemuan, peserta rapat yang duduk di dekat profesor itu bilang bahwa dia tidak berani minum tehnya karena curiga bulketnya si profesor beterbangan dan nyemplung di gelasnya….-))) *sejak itu kami menyebutnya ‘Profesor ‘keti’…-)*

Walau tidak nyaman dengan penampilan si profesor, tapi tidak ada yang berani protes. Yang protes malah dia. Katanya:

”Saya heran dengan orang Indonesia. Tinggal di negara tropis begini, kalian berpakaian tertutup, malah pakai jas setiap hari ke kantor? Dan karena jas itu kalian harus menyalakan pendingin udara sepanjang masa di ruangan. Benar-benar boros energi!”

Tidak hanya soal pakaian, perempuan Jepang ini juga sangat galak dan cerewet. Waktu timnya ke Indonesia, bertepatan dengan minggu dimana ada 3 hari libur agama. Jadi selama 1 minggu itu hanya ada 2 hari kerja (belum lagi masa itu ada yang namanya ‘harkitnas alias hari kejepit nasional’). Saya masih ingat betul ekspresi wajahnya ketika pimpinan proyek mengatakan bahwa mereka hanya bisa menerima tim di hari kerja. Matanya melotot dan semburan kemarahan pun menguap dari mulut mungilnya:

”Apa?! Jadi, kalian harus libur di hari-hari besar semua agama?! Kapan kalian bekerja?!!”

Aku hampir ngakak mendengarnya waktu itu. Dalam hati aku berbisik: “xixixi….belum tahu dia…. Indonesia Raya…-)”

Banyak hal yang diprotesnya, termasuk disiplin soal waktu. Maklum, kalau rapat jam 9, dia sudah stand by 15 menit sebelumnya sementara tuan rumah masih berkeliaran di jalanan dengan alasan ‘macet’. Namun dari banyak hal yang dikritiknya, yang paling mengena dan sangat kritis adalah soal pendidikan kita. Menurutnya, pendidikan di Indonesia tidak manusiawi. Terlalu banyak mata pelajaran yang tidak jelas untuk apa mempelajarinya dan metode pembelajarannya benar-benar membuat anak didik stress dan frustrasi karena selalu dibebani dengan banyak pe er dan minim mengeksplor alam dan seni budaya. Tingkat play group dan TK sudah dipaksa belajar huruf dan angka serta mengeja bahkan berhitung, padahal usia segitu seharusnya diisi dengan bermain dan belajar bersosialisasi. Kurikulum (apalagi di pendidikan tinggi) hanya fokus mengasah otak kanan dan mengabaikan otak kiri sehingga menghasilkan lulusan-lulusan pintar tapi kurang humanis (alias robot). Belum lagi model pembelajaran dengan teacher centered, bukan student centered. Model ini menempatkan guru sebagai tutor mutlak yang tugasnya menyuapi materi secara penuh, dan siswa menjadi anak didik yang hanya menerima suapan, mengingat dan menghafalnya, untuk nanti dijadikan bekal menghadapi ujian. Kemudian sistem evaluasi pendidikan kita juga dianggap hanya mengacu kepada nilai-nilai akademis semata dan mengabaikan unsur-unsur kognitif. Banyak banget ya protesnya tentang pendidikan kita?

Waktu mendengar ini dulu, dalam hati saya mengakui kebenaran si perempuan Jepang ini tapi berusaha tidak mempedulikan apalagi memikirkannya. Maklum, waktu itu saya adalah salah seorang produk perguruan tinggi di Indonesia yang sedang bangga-bangganya menyandang gelar sarjana dan menikmati indahnya bisa menghasilkan uang dengan gelar tersebut.

Di kemudian hari, sikap dan tata laku ke dua profesor ini sering saya banding-bandingkan dan saya hubungkan dengan pola pendidikan di negeri tercinta ini. Ya, saya pasti subjektif sekali dan tidak akurat jika hanya menggunakan 2 responden sebagai rujukan, tapi kalau merujuk pada pengertian pendidikan, saya yakin bahwa produk pendidikan itu akan terlihat di sikap dan tata laku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Dan karena pendidikan itu mengandung sebuah proses, seringkali butuh waktu lama untuk melihat hasilnya.

Pendidikan di negeri kita, apalagi selama masa orde baru lebih mementingkan pencapaian nilai-nilai akademis yang mengasah IQ. Kepandaian seorang siswa diukur dari nilai-nilai ujiannya, tanpa mempertimbangkan unsur personal seseorang (apalagi keunikan yang dimiliki siswa). Pola pendidikan seperti ini memaksa anak didik untuk fokus pada pemahaman (tepatnya penghafalan) materi tanpa perlu mengembangkan sikap-sikap kritis atau kreatifitas. Pendidik sendiri juga hanya berkutat dengan penyampaian materi kepada siswa dan mengabaikan hak-hak anak didik untuk memperoleh apresiasi.

Hal ini pernah saya alami ketika masih di SMP. Di salah satu ujian mata pelajaran menggambar (proyeksi) hanya ada satu siswa yang bisa menjawab dengan tepat. Yang lainnya salah! Pak Guru lalu menempel gambar yang benar itu di papan pengumuman sekolah dan mengatakan bahwa itulah gambar yang benar. Tapi, nama siswa yang menjawab dengan benar itu digunting….-(

Pak Guru tentu punya pertimbangan tersendiri melakukan itu, tapi dari sisi pendidikan, tindakannya itu tidak adil buat si anak didik karena jelas-jelas tidak mengapresiasi keunggulan si anak. Nilai akademis yang diperoleh si anak didik tidak sebanding dengan kepuasan dan kebanggaan yang seharusnya didapatkannya jika namanya tidak digunting dari kertas itu.

Kita bersyukur bahwa di periode sekarang ini metode pembelajaran di Indonesia mulai dibenahi. Pola belajar teacher centered mulai ditinggalkan, walau dalam aplikasinya masih sulit menerapkan pola student centered, apalagi di pendidikan tinggi. Pola student centered ini menempatkan guru/dosen sebagai fasilitator saja dan pemberi arahan. Materi pelajaran tidak diberikan secara utuh, tapi siswalah yang harus banyak aktif (karena itu disebut juga active learning). Pendidik biasanya hanya memberikan trigger atau pemicu lalu anak didik harus membahasnya dari berbagai sudut pandang dilengkapi dengan literatur-literatur akurat. Pola ini pula menuntut anak didik untuk aktif mencari sumber-sumber belajar dan harus banyak belajar mandiri, serta diskusi. *belajar mandiri ini sangat penting diasah sejak dini..*

Sekilas, pola ini sangat menguntungkan tenaga pendidik. Tapi tahukah kalian? Di lingkungan pendidikan tinggi hal ini justru menjadi tantangan tersendiri. Peran sebagai fasilitator tidak sepenuhnya disukai apalagi diterima oleh dosen. Sebagai seorang fasilitator si dosen hanya memfasilitasi. Dia tidak boleh memberikan suatu materi secara rinci dan detil tapi harus banyak memberi ’pancingan’ supaya anak didik teransang rasa ingin tahunya untuk berpikir kritis. Peran ini memberi kesan (sebetulnya hanya perasaan si dosen saja) bahwa dosen tidak tahu apa-apa, hanya memberi topik. Beberapa dosen (apalagi yang sudah senior – sorry to say-) bahkan menganggap peran fasilitator ini sebagai ’pemasungan’ bagi dirinya karena seakan-akan dilarang menunjukkan apa yang diketahuinya. Maklum, terlalu lama menempatkan diri sebagai orang yang tahu banyak hal….-)

Anak didik sendiri juga mengalami problem besar karena sudah terbiasa disuapi. Pengamatan di lapangan, beberapa mahasiswa yang berasal dari sekolah yang belum menerapkan pola student centered ini sangat kewalahan ketika di perguruan tinggi karena tidak terbiasa aktif mencari sumber-sumber belajar. Berhadapan dengan mahasiswa model begini, sebagian dosen melupakan perannya sebagai fasilitator dan akhirnya memberikan semua materi secara rinci. Ujung-ujungnya pola pembelajaran kembali ke jaman orba…-(

Tapi bicara tentang pendidikan tentu tidak bicara tentang sekolah formal saja kan. Pendidikan mencakup semua unsur kehidupan manusia. Sekolah tidak dapat kita jadikan tumpuan utama pendidikan. Apalagi di negeri ini kita masih dihadapkan dengan persoalan kompetensi guru. Tanpa bermaksud mencurigai kapabilitas para pahlawan tanpa tanda jasa ini, mayoritas pendidik masih membutuhkan peningkatan kemampuan untuk disebut sebagai pendidik. Kompetensi guru sesungguhnya menjadi kunci utama berhasilnya proses pembelajaran.

Lagi-lagi pengalaman di SMP membukakan mata saya betapa tidak mudahnya menjadi guru. Dalam satu diskusi tentang topik ini dengan teman di fesbuk ini yang merupakan teman SMP saya, Gokman Malau (yang tidak lain adalah satu-satunya siswa yang menjawab benar soal proyeksi yang saya ceritakan di atas *maaf menyebutkan namanya tanpa ijin*) kami membahas kompetensi guru-guru SMP kami dulu. Dalam salah satu ujian Bahasa Inggris, guru memberi soal begini:

Bandung is a part of: a. East Java b. West Java c. North Sumatera

Apa yang salah dari soal ini? Tidak ada! Tapi soal ini lebih tepat di pelajaran geografi, bukan Bahasa Inggris. Kalau mau dimasukkan menjadi soal Bahasa Inggris, seharusnya begini:

Bandung ….. a part of West Java: a. is b. are c. am

Menurut saya pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi melatih kita berpikir analitik, sistematis, dan kritis, dan itu harus diterapkan dalam setiap proses pembelajaran. Tapi karena proses pembelajaran ini juga tidak hanya terjadi di sekolah, maka penerapannya juga harus lebih dilatih di kehidupan sehari-hari, yaitu di rumah atau di lingkungan.

Sebagai seorang ibu, banyak pelajaran berharga yang saya peroleh dari anak-anak bagaimana orangtua seharusnya mendukung proses pembelajaran di sekolah agar lebih optimal. Saya pernah ’tersentak’ dengan suatu kejadian yang dialami putri saya, Angel. Waktu itu Angel ujian Sains. Salah satu soalnya begini:

Sebelum diminum, sebaiknya air dimasak supaya: a. Panas b. Matang c. Kumannya mati.

Angel memilih jawaban ’a’ dan disalahkan gurunya. Tidak terima jawabannya disalahkan, Angel membawa kertas ujiannya ke saya. Saya pun menyalahkannya, tapi terlebih dahulu menanyakan alasan dia memilih jawaban itu. Beginilah penjelasan Angel:

”Mami kan sering masak air kalau mau membuat kopi. Waktu aku tanya kenapa gak pake air dari dispenser saja, kata Mami, kalau mau nyeduh kopi airnya harus panas, supaya kopinya enak…”

Saya terdiam lama sebelum menguraikan duduk masalahnya. Tapiii…. dalam hati kecil saya harus mengakui bahwa kita memang tidak terbiasa mendidik anak-anak secara ilmiah. Berbeda dengan masyarakat di negara maju yang sehari-harinya terbiasa berkomunikasi dengan anak-anak secara ilmiah. Perhatikanlah komunikasi orangtua dan anaknya di film-film hollywood. Dalam menjelaskan suatu peristiwa, mereka berusaha memberikan fakta-fakta ilmiah yang tidak sederhana. Anak-anak akhirnya terbiasa dan terlatih berpikir ilmiah. Di masyarakat kita, nampaknya kita suka meremehkan kemampuan anak-anak menyerap informasi sehingga sering memberikan jawaban standar yang cenderung ke pembodohan. Coba ingat, bagaimana kita memberitahukan anak-anak supaya cuci tangan sebelum makan?

”Nak, tangannya dicuci dulu ya supaya bersih.” Kita tidak terbiasa mengatakan ini:

“Nak, tangannya dicuci dulu supaya kuman yang nempel disana tidak termakan ketika kamu makan, yang bisa menyebabkan kamu sakit.”

Atau

“Gunting kukumu dong, biar rapi.” Kita jarang mengatakan:

”Kukunya digunting dong, supaya tidak menjadi tempat bersarang kotoran.”

Kita terbiasa mendidik anak dengan benar, tapi tidak tepat apalagi ilmiah.

Saya akui, sulit menjadi orangtua yang ilmiah…hehehe..
Saya cukup kebal dengan ledekan anak-anak setiap kali mencoba berbicara secara ilmiah. Tidak hanya di rumah, di sekolah anak saya ada guru yang selalu mengharapkan saya tidak hadir kalau ada rapat orangtua murid. Pasalnya begini. Dalam suatu diskusi, guru tersebut mengatakan bahwa banyak murid yang tidak aktif di kelas sehingga proses pembelajaran sering menjadi terhambat. Saya lalu tanya, tidak aktif itu maksudnya apa. Tidak banyak bicarakah? Katanya, iya!

Lalu saya katakan:

”Tidak semua anak harus suka bicara kan? Kalau ada anak yang benar-benar pasif, guru harus menggali dan meng-upgrade dengan trik-trik khusus supaya aktif. Tapi tolong, jangan selalu artikan ’aktif’ dengan ’banyak bicara’. Bagi anak-anak yang cenderung pemalu atau pendiam, aktifkan mereka dengan cara lain, misalnya melalui tulisan. Pendiam dan pemalu bukan dosa kan…”

Saya mengatakan itu berdasarkan pengalaman. Tiga anak saya tergolong anak-anak pendiam, tidak banyak bicara, dan tidak pernah menjadi trouble maker *tidak seperti emaknya…-))*. Buat saya, itu karakter asli mereka dan tidak perlu diubah. Kalau karakter itu diubah, si anak tidak akan nyaman. Kalaupun mau diubah, tidak bisa seperti membalik telapan tangan dong…. Menghadapi tipe anak-anak seperti ini, saya mengoptimalkan bahasa tertulis, antara lain buku harian.

Menurut saya, seharusnya pendidik juga memiliki pemahaman akan karakter anak didik sehingga kelak menghasilkan lulusan yang tidak hanya pintar, tapi juga punya karakter dan identitas, serta humanis. Proses pendidikan tidak pula hanya mengandalkan kekuatan kurikulum atau silabus mata pelajaran/kuliah namun juga menyangkut penerapan dan pola pembelajaran.

Menuntut ilmu sampai ke negeri Cina atau ke benua Eropa tentu menjadi dambaan banyak orang, tapi buat saya komentarnya si Profesor ’keti’ itu lebih relevan untuk dicermati…-)

——————
March 28, 2010 at 11:33am

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

One Response to Profesor ‘keti’ dan Pendidikan Kita.

  1. Bagaimana cara melatih anak berfikir kritis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *