Lelaki yang tak pernah mencinta….!*)

*)Ini adalah asli fiksi. Mungkin saja ada kesamaan nama tokoh, kasus, dan tempat…, untuk itu penulis mohon maaf.

——————————

Lelaki yang tak pernah mencinta.
Kalimat itu aku dapatkan dari seorang teman wanita, yang biasa mengirimiku email-email dengan aneka ragam subject. Pagi itu subjectnya : lelaki yang tak pernah mencinta. Sebelum membaca isi emailnya, aku sibuk menebak apa gerangan maksud kalimat tersebut. Tapi sebelum menemukan jawabannya, aku sudah mengambil keputusan bahwa ini pasti ada hubungannya dengan cintanya pada seorang laki-laki yang dipaksa kandas oleh orangtuanya karena perbedaan agama.

(Aneh! Agama koq bisa mengandaskan rasa. Bukankah kita lahir sebagai makhluk Tuhan, tanpa agama? Yang membuat kita memiliki agama kan orang tua. Mereka yang mengajari kita sholat, mengaji atau membaptiskan kita ke gereja, atau mengenalkan kita dengan pura dan wihara. Orangtua juga yang selalu bilang bahwa Tuhan itu hanya ada satu, esa, tunggal. Karena itu pula semua agama adalah sama, menyembah Tuhan yang satu, yang esa, yang tunggal, hanya caranya yang berbeda. Tapi kenapa juga ada orang tua yang marah, kecewa, bahkan sampai memutuskan hubungan darah dengan si anak apabila anaknya memilih menikahi perempuan atau laki-laki yang berbeda agama?)

Ternyata, isi email temanku itu tidak ada hubungannya dengan cintanya yang kandas. Ruri, nama temanku itu mengirimiku puisi berisi kata-kata indah yang kalau direnungkan dan dimaknai: laki-laki memang tidak pernah mencinta, laki-laki hanya ingin memenuhi egonya. Masa sih…? Karena hari itu kebetulan hari Ibu, dan aku si jomblo perawan tua yang dijuluki ‘Bunda’ di kantor, menerima email berisi puisi itu sebagai hadiah di hari Ibu.

(Kenapa hari Bapak tidak dirayakan semeriah hari Ibu? Karena setiap hari adalah hari mereka! Tapi perempuan selalu mengatakan bahwa itulah hebatnya perempuan, ada hari khusus untuk mereka, ada Ibu Pertiwi. Bapak Pertiwi kan tidak ada? Perempuan suka sekali dengan simbol-simbol seperti itu. Padahal tidak membawa manfaat apapun baginya. Dan perempuan juga suka lupa, bahwa di dunia ini bukan cuma perempuan yang bisa jadi ibu. Ada laki-laki, bahkan mungkin bencong. Karena tugas Ibu jaman sekarang ini bukan harus bisa hamil dan melahirkan anak kan? Banyak wanita tanpa pernah berperut buncit dan meraung-raung ngeden menjadi Ibu…… )

Ruri bilang, puisi itu dapat menjadi semacam penghibur diri, apabila mengingat-ingat tingkah pola suami atau pacar yang bikin gregetan. Dasar perempuan! Senang sekali mengada-ada atau mencari-cari istilah yang pas untuk pembenaran diri atau menghibur diri.

Hari Ibu boleh berlalu, email itupun terhapus sudah. Tapi pembuktian hipotesis Ruri bahwa laki-laki tak pernah mencinta, aku dapati pada Marni, Sinta, Juleika, Sundari, Tiarma dan adikku Tita. Marni yang polos cerita mengenai suaminya yang kini lebih suka menghabiskan waktunya di kantor atau di luar kantor bersama teman-temannya daripada berkumpul di rumah bersama anak-anaknya yang berumur 3 tahun dan 1 tahun. Capek. Pusing. Berisik. Kata-kata itu kerap keluar dari mulut suami Marni. Padahal dulu, setelah tiga tahun menikah dan Marni belum hamil juga, suaminya selalu bilang: “betapa indahnya rumah ini bila ada celoteh atau teriakan si kecil.”

Sinta lain lagi. Suaminya baru mendapatkan promosi menjadi manajer di perusahaannya. Akhir-akhir ini Sinta harus selalu stand by setiap kali suaminya mengajak menghadiri macam-macam pertemuan dengan klien atau rekan bisnisnya. Tempat pertemuannya pun macam-macam, kadang di hotel, kafe, restoran, mal atau di kantor. Yang bikin pusing, Sinta harus menyesuaikan diri dengan lokasi pertemuan, acara, dan orang-orang yang akan ditemui. Mulai dari busana, make up, sampai pada cara bicara harus disesuaikan. Semua harus Sinta lakukan demi memperlancar bisnis suami. Sinta yang tidak bisa berdandan, tidak suka pesta dan malas berbasa-basi, merasa tersiksa dan tertekan karena harus merelakan waktunya bersama anak-anaknya direbut oleh baby sitter dan pembantu.

(Kenapa sih untuk pertemuan-pertemuan bisnis para laki-laki harus bawa-bawa pasangan atau istri? Tidak ada hubungannya kan…? Hanya untuk menghabiskan biaya. Bosku di kantor bilang :”bukankah kalian para wanita – dia selalu menggunakan kata ‘wanita’ yang maknanya terkesan ‘nakal’ dari pada ‘perempuan’- suka dipamerkan?” Huh! Bukannya kebalik! Justru laki-laki itu yang suka memamerkan apa yang dimilikinya, termasuk pasangannya. Itu sebabnya pasangannya ‘dipaksa’ untuk tampil sesempurna mungkin bila bertemu dengan rekannya. Untuk urusan bisnis, bagi laki-laki, pacar atau istri itu tak beda dengan mobil atau jam tangan! ).

Lalu Juleika mengeluhkan suaminya yang ‘minder’ karena gaji dan jabatan Juleika lebih tinggi, namun tidak pernah berusaha untuk lebih baik dari istrinya. Padahal saya tidak pernah mempermasalahkan gaji atau jabatannya itu. Saya hanya butuh dukungannya saja. Lha, kalau jabatan dan gaji saya naik, masak harus ditolak? Bukannya seharusnya dia bersyukur punya istri seperti saya?

(Itu menurut Juleika. Bagi laki-laki, perempuan boleh maju, tapi tetap di belakang lelaki! Ditaruh mana gengsiku?)

Bagi Sundari, suaminya bukan cuma pemalas tapi juga bajingan! Sejak di PHK setahun lalu dari perusahaannya dengan sedikit uang pesangon, suaminya hanya menghabiskan hari-harinya dengan membaca koran dan nonton bola. Sambil menunggu uang pesangon ludes, Sundari harus bekerja keras berdagang sembako di lapak yang mereka beli di pasar. Setiap subuh Sundari sudah berangkat dari peraduannya, belanja sayuran ke pasar induk, sementara suaminya meringkuk di bawah selimut dengan suara ngorok yang membangunkan si kecil dan menangis mencari Ibunya. Tangisan sekeras apapun takkan mampu membangunkan laki-laki yang semalaman kenyang menetek di dada istrinya…. Sundari hanya bisa pasrah dan mengelus dada. Kualat kalau melawan suami. Nanti dikata perempuan apa aku ini. Begitu selalu Sundari.

Tiarma, gadis Batak yang terkenal galak dan tangguh itupun, ternyata tak seperkasa tampangnya menghadapi suami. Setiap pagi, di kantor, dia uring-uringan menceritakan ulah bobrok suaminya yang selalu pulang dengan mulut bau alkohol dan menjadikan bengkel ’S—-a’ sebagai tempat mangkal paling asik sedunia.

”Dasar Batak! Ketemu gitar dan catur saja bisa lupa anak istri. Apalagi ketemu tuak (minuman khas Batak, terbuat dari air pohon aren)! Dunia serasa dibawah keteknya!”

Umpat Tiarma di suatu pagi yang tidak terlalu cerah, tapi menjadi gerah gara-gara ocehannya yang tiada ujung.

”Kalau bukan karena menjaga nama baik keluarga, sudah lama aku tendang dia!”

Tiarma bekerja sebagai staf marketing di perusahaan asuransi. Bakat alamiahnya: pandai bicara dan meyakinkan orang. Cocok sekali dengan dunia marketing. Penghasilannya pun lumayan banyak karena dari setiap polis yang di acc, Tiarma dapat bonus. Apalagi kalau polis itu untuk perusahaan. Bonusnya lebih gede lagi. Sebagai anak pertama dari 5 bersaudara, Tiarma ingin dan harus menjadi panutan bagi adik-adiknya. Dalam pekerjaan dan berkeluarga. Maka sebobrok apapun suaminya, selalu ditutupi. Di kalangan keluarga, Tiarma dan suami dikenal sebagai pasangan harmonis dan akur. Hanya keluarga suaminya yang tahu bagaimana aslinya tabiat suami Tiarma. Tapi sebagai menantu, Tiarma justru harus membela keluarga besar suami. Maka jangan harap ada manfaatnya berkeluh kesah pada ipar atau mertua. Jawaban yang akan didengar, pasti:

”Memang dia sudah begitu dari dulu. Bukannya kamu juga sudah tahu?”

Fuih! Mengeluh mengenai perilaku suami ke keluarganya sama saja dengan membangunkan ular yang lagi ngorok!

Marni, Sinta, Juleika, Sundari dan Tiarma, adalah perempuan-perempuan yang menurutku memang harus menerima resiko seperti itu.
Satu-satunya komentar yang terlontar dari mulutku mendengar cerita mereka adalah:

”Siapa suruh menikah dengan laki-laki?”

Tiarma dengan sontak menjawab:

”Emang! Makanya menikah saja dengan perempuan! Sono….jadi lesbi lu!”

Marni lebih bijak.

“Makanya, hati-hati kalau memilih pasangan kelak. Jangan tertipu!”

(Lho, jadi mereka merasa dirinya tertipu ya? Menurut aku sih tidak. Keadaan yang mereka hadapi itu kan bukan sesuatu yang direncanakan. Semuanya terjadi seperti udara yang bergerak terus, tapi tidak kelihatan. Mereka saja yang keliru menafsirkan pernikahan itu sebagai suatu era menjelang kebahagiaan. Padahal ……?)

Suami Marni, Sinta, Juleika, Sundari dan Tiarma tidak pernah sampai membuatku percaya bahwa laki-laki tidak pernah mencinta. Tita lah yang membuatku mulai bertanya, jangan-jangan Tuhan bukan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam? Lagipula, kenapa harus percaya pada cerita itu sih? Memangnya siapa yang sudah pernah ketemu dan bicara dengan Tuhan bahwa dulu Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam?

Tita, adikku itu, menikah dengan laki-laki pilihannya. Gerald. Nama yang bagus sebetulnya. Tapi sejak Tita datang ke rumahku, membopong bayinya yang masih merah, dengan mata sembab dan dahi biru, menyebut nama Gerald saja perutku mual! Maka aku selalu menyebutnya si Bangsat! Ya, si Bangsat itu tidak layak menyandang nama Gerald, karena Gerald artinya ‘anugerah Tuhan’. Tuhan pasti tidak pernah menganugerahkan manusia seperti si Bangsat itu pada umatnya. Si Bangsat itu pastilah anugerah setan. Tapi bukankah semua manusia di bumi ini ciptaan Tuhan? Berarti ada Tuhan lain lagi, Tuhan yang jahat! Atau ada planet lain lagi atau bumi lain yang memiliki Tuhan juga. Dan si Bangsat itu pasti berasal dari sana.

Ketika Tita memberitahukan mau menikah dengan si Bangsat itu, semua keluarga menolak. Alasan mereka tidak jelas, hanya karena faktor tidak suka saja. Aku mendukung adikku. Bahkan sangat mendukung. Alasanku jelas: si Bangsat itu selalu sopan, baik dan ramah, serta tidak banyak omong. Maka, menikahlah mereka. Aku turut berdoa semoga pernikahannya langgeng, awet, dikaruniai anak perempuan dan laki-laki, dan menjadi keluarga panutan. Yang dipersatukan oleh Tuhan jangan sampai dipisahkan oleh manusia. Hanya kematian yang dapat memisahkan mereka berdua.

Tapi sekarang, aku akan memisahkan mereka! Kalau Tuhan tidak mau memisahkan umatnya yang tersiksa dari umatnya yang menyiksa, itu artinya Tuhan tidak dapat membuat keputusan tepat karena Tuhan tidak mau pilih kasih. Tapi aku bisa! Aku harus memisahkan mereka. Dengan atau tanpa kematian! Alasanku jelas, penderitaan Tita…………..

Tita : sebetulnya sejak pacaran dia sudah sering melakukan kekerasan….

Aku : Koq bisa? Belum memiliki saja sudah berani menganiaya…?

Tita : Tapi saya berharap bahwa setelah menikah, dia akan berubah. Itu sebabnya saya mau menikah dengannya. Ternyata tidak! Malah setelah menikah dia semakin menjadi-jadi.

Aku : Lha, iyalah! Justru setelah menikah dia merasa sudah memiliki kamu seutuhnya, dan bebas melakukan apapun pada miliknya. Kamu pikir berubah itu mudah? Mana ada orang yang mau disuruh berubah kalau dia merasa nyaman dengan dirinya?

Tita : Bahkan ketika aku hamil pun, dia sering menendang perut saya dan menjambak rambut saya. Kepala saya sering dijedotin ke tembok.

Aku : Dan kamu diam saja?

(Perempuan sering merasa bahwa kalau dia hamil akan membuat suami bahagia dan memanjakannya. Perempuan lupa, kehamilan perempuan bagi sebagian besar laki-laki hanyalah sebagai bukti bagi dunia, bahwa dia tidak mandul..!!!)

Tita : Kalau dilawan, dia akan menjadi-jadi. Tapi didiamkan pun dia tambah marah. Dianggap tidak kita perdulikan.

Aku : Dibunuh saja!

Tita : Pernah terpikir memang, tapi itu kan dosa. Sebetulnya dia itu ketakutan juga. Takut saya racun. Kalau minta dibuatkan makan, dia suka tanya :”makanannya dipakein racun gak?” Aku bilang :”iya”. Tapi tetap saja dimakan.

Aku : Karena dia tahu kamu gak akan berani melakukan itu! Gak usah pakai racun. Kalau dia lewat di gang, suruh aja orang teriak: “maling….!” Pasti dihabisin dia…

Tita : Hush! Dosa!

Aku : Dia mukulin kamu itu bukan dosa? Ngomong-ngomong, kalau marah, penyebabnya apa?

Tita : (terdiam lama…..) Dia itu selalu marah pas tengah malam. Jadi pas orang sudah nyenyak semua, tetangga tidur dan akupun ngantuk minta ampun. Jadi aku gak pernah bisa minta tolong, karena kalau marah, dia tutup semua pintu, aku diseret ke kamar atau ke kamar mandi dan dipukuli. Satu lagi, kalau lagi gak punya duit! Dia tidak bisa nafas tanpa dompet tebal. Dia bahkan pernah ingin menjualku ke temannya untuk mengisi dompetnya itu!

Aku : Dasar pengecut! Bajingan! Iblis! Tak punya nyali!

(Tapi kenapa harus tengah malam? Pasti tidak jauh dari urusan selangkangan kan….! Pasti si Bangsat itu selalu minta dilayani setiap hari, sementara Tita tidak bisa ….. Tita kerja dari pagi sampai malam. Berangkat jam enam pagi, pulang jam delapan malam. Mana kuat bercinta setiap malam? Sementara si Bangsat itu hanya menghabiskan waktunya untuk tidur dan mendandani akuariumnya itu…..).

Tita : Aku merasa merdeka sekali kalau dia sedang ke daerah. Bebas. Aman. Anehnya dia tidak pernah tahan berlama-lama di daerah. Katanya selalu rindu padaku, pada anaknya. Padahal aku benci sekali pada dia. Anak inipun dimakinya ketika lahir hanya karena yang dia miliki vagina, bukan penis!

Aku : Dia bukan rindu padamu. Dia rindu pada t—–u, pada v——u, pada semua bagian tubuhmu yang membuat dia nikmat dan merem. Kamu saja yang bego! Terlena! Bagi dia anak itu hanya sebagai simbol kejantanan dia. Tidak lebih! Anak perempuan tidak menunjukkan bahwa Bapaknya jantan. Karena, seandainya perempuan dengan perempuan menikah dan hamil, maka hanya akan melahirkan anak perempuan. Yang punya kromoson Y cuma laki-laki. Perempuan tidak! Makanya kalau laki-laki tidak punya anak laki-laki, merasa tidak jantan. Sudah! Tinggalkan saja si Bangsat itu……

(Tapi aneh juga, ada suami yang menceraikan istrinya karena setelah beranak sampai sebelas pun, anak laki-laki tak kunjung tiba. Pasti laki-lakinya bego, dan perempuannya dungu…!!!)

Tita : Bagaimana dengan anak ini? Keluarga? Nanti bikin malu…….

Aku : Malu pada siapa? Seharusnya kamu malu pada diri sendiri, kenapa mau diperlakukan begitu! Kamu kan bukan orang bodoh, Tita! Otakmu encer, IP cum laude, pekerjaanmu terhormat! Keluarganya yang harus menanggung malu! Kenapa menjadi janda memalukan, sementara duda tidak…???!!!!

Tita : Kamu belum ngalamin sih……..

Aku : Apa, jadi istri? Cinta? Bersetubuh? Huh! Persetan! Kalau semua kenikmatan itu hanya mendatangkan derita panjang, buat apa??? Kamu bekerja keras untuk menghidupi dirimu dan dia. Kamu memberinya makan enak, supaya produksi spermanya lancar dan kamu harus pula menampung sperma itu setiap malam? Apa kamu sudah gila? Kenapa tidak jadi pelacur saja? Ada duitnya….

Tita : Pelacur buat suami masih lebih baik.

Aku : Suami? Kamu tahu artinya suami? Bukankah yang dikatakan para imam bahwa para suami bertanggung jawab akan istrinya? Suami harus menghidupi istri?

(Aku sering tidak habis pikir. Dalam buku atau ajaran apapun selalu kutemukan kata-kata manis bahwa seorang suami harus melindungi istri, menafkahi istri. Kenyataannya, sebagian besar suami hanya meniduri istri!)

Tita : Setidaknya anak ini punya Bapak.

Aku : Seorang anak pasti punya Bapak dan punya Ibu. Tapi tidak harus memiliki Bapak dan Ibu. Anakmu pasti lebih suka tidak memiliki seorang bangsat menjadi Bapaknya. Tinggalkan si Bangsat itu, dan jangan pernah kembali padanya…!

Tita : Dia pasti akan mencariku terus…….. dia akan membunuhku, kalau ketemu. Itu sering dikatakannya. Dan sekali aku kembali, maka neraka akan selamanya bersamaku.

Aku : Kalau begitu jangan pernah kembali! Percayalah, kamu tidak akan ditemukan. Karena aku yang akan lebih dulu membunuhnya!

Tita : Terserah kamu lah…. Aku hanya ingin numpang di sini…

(Tita pasti tidak menyangka kalau saya tidak bercanda dengan ucapanku. Tiga hari kemudian, si Bangsat itu datang ke rumah dan seperti sudah kuduga, dia memainkan perannya sebagai serigala berbulu domba. Si Bangsat itu meminta maaf atas segala kesalahan yang dilakukannya pada adikku dan berjanji tidak akan mengulanginya. Dia bahkan rela mencium kakiku – posisi yang pas untuk menancapkan pisau itu di punggungnya – sebelum dia mengerang dan jatuh…..)

Di penjara, kutemukan banyak lagi Marni, Sinta, Juleika, Sundari, Tiarma dan Tita. Pada malam terakhir masa tahananku, aku bermimpi melihat si Bangsat itu merangkak-rangkak di telapak kaki Tita. Aku ingin itu jadi kenyataan…

———————————–

Depok, 16 Juni 2005

*Cerpen ini pernah kukirim ke majalah wanita dan ditolak dengan catatan kecil: terlalu ‘keras’ dan ‘vulgar’. Lucunya, seorang tokoh senior pernah mencari penulis untuk sebuah project penulisan fiksi dengan misi tertentu. Dari 17 pelamar, penulis cerpen ini terpilih untuk project tersebut, setelah tokoh tersebut membaca cerpen ini. Tawaran itu aku tolak karena misinya tidak sesuai dengan hati nuraniku….*

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

7 Responses to Lelaki yang tak pernah mencinta….!*)

  1. Terimakasih untuk artikel ini. Sekedar berbagi pengetahuan asuransi, berikut adalah definisi dari asuransi mobil comprehensive : Komprehensif (Comprehensive) : Jaminan ganti rugi atau biaya perbaikan atas kehilangan/kerusakan sebagian maupun keseluruhan pada kendaraan yang secara langsung disebabkan oleh tabrakan, benturan, terbalik, tergelincir, terperosok, perbuatan jahat, pencurian, kebakaran, atau kecelakaan lalu lintas lainnya. (mengacu pada PSAKBI).
    Yuk Kunjungi
    Asuransi Mobil, Garda Oto
    Asuransi Mobil, Garda Oto

  2. Alur cerita yang bagus. Terimakasih

  3. ditunggu kelanjutan ceritanya gan 🙂

  4. Syaiful says:

    ceritanya menarik nih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *