Januari di Jakarta.

Januari, tiga tahun lalu…

Banjir besar melanda Jakarta. Kata Bapak, kami harus mengungsi. Berbekal buntelan berisi pakaian dan selimut, kami terpaksa tinggal di teras sebuah sekolahan di daerah Matraman. Bersama para pengungsi lain, berkumpul menghabiskan waktu. Ibu-ibu sibuk di dapur umum. Lalu ada orang-orang yang datang membawa makanan, obat-obatan dan selimut. Enak sekali ternyata tinggal di pengungsian! Setiap hari ada orang yang membawa makanan dan pakaian. Aku dan teman-teman berebut mi instan. Makanan kesukaanku!

Pada hari ke tiga, seorang laki-laki berpakaian jas mengunjungi kami. Kata Bapak, dia pejabat tinggi. Bapak itu memakai kaca mata hitam dan sepatu bootyang keren sekali dimataku. Tapi aku lebih suka sepatu bola yang ‘bergerigi’. Lalu bapak berbaju jas itu bertanya-tanya pada Ibu-Ibu :

”Bagaimana keadaannya? Apakah sehat-sehat saja?”

Banyak Ibu-ibu yang menangis:

”Kami menderita tinggal disini Pak… Anak-anak kami sakit!”

Memang ada anak yang sakit perut, muntah, panas dan mencret. Bukankah di rumah juga penyakit itu biasa kami alami? Aku bingung, kenapa Ibu-Ibu itu bilang begitu. Padahal kami anak-anak suka sekali tinggal di pengungsian. Coba kalau tinggal di rumah: aku harus kerja, mengamen atau dagang koran, makan dua kali sehari dan jarang sekali makan mi instan kesukaanku. Terlalu mahal!

Esok harinya, sebuah mobil televisi datang ke lokasi pengungsian. Seorang wanita menenteng-nenteng mikrofon dan seorang pria membawa kamera ukuran besar. Kami berhamburan menyongsong mereka. Si wanita lalu memanggil kami:

”Ayo , sini Dek…sini..dekat sama Kakak, biar masuk tivi…”

Tentu saja kami senang. Kapan lagi wajah kami nongol di tipi? Walau aku tak bisa nonton wajahku, karena di rumah tak ada tipi, tapi aku bisa cerita ke teman-teman di prapatan lampu merah. Sambil memberikan tanda, laki-laki yang membawa kamera mengangkat telunjuknya ke atas dan si wanita mulai menarik bibirnya sambil berkata:

”Selamat sore pemirsa……inilah liputan banjir…langsung dari lokasi…..”

Malam terakhir di pengungsian. Kata Bapak, besok kami sudah boleh kembali ke rumah. Aku mulai gelisah. Kembali ke rumah berarti kembali ke kehidupan nyata. Tidur beralas tikar plastik yang sudah sobek, di atas ubin lembab yang sudah lapuk, dengan penerangan listrik 5 watt. Pagi jualan koran di lampu merah, siang ngamen di prapatan dan malam mengumpulkan barang-barang bekas di terminal. Semuanya untuk biaya sekolah Ajeng, adikku yang kini duduk di kelas satu SD.

Kata Bapak, kami boleh miskin tapi minimal ngerti huruf dan angka. Biar gak ditipu orang. Apa iya? Buktinya, walau sempat sekolah hingga di kelas 3 SD, aku tetap saja dikerjain preman di terminal. Uang hasil ngamenku selalu diambil sebagian, tanpa alasan. Kata mereka, kalau mau aman aku harus kasih mereka uang tiap hari. Lebih aneh lagi, para premen dengan badan gede-gede itu tak pernah aku lihat bekerja. Sepanjang hari mereka cuma nongkrong sambil merokok dan minum-minum. Lalu orang-orang datang nyetor ke mereka. Bahkan para tukang bakso, mie ayam atau warung yang ada di sekitar terminal itu pada rajin nganterin dagangannya buat si preman.

”Enak banget ya jadi preman!” Kataku pada Bapak.

Tapi Bapak membentakku dengan kasar:

”Hush! Preman itu tak punya otak! Kerjanya cuma malak orang! Dosa! Mending miskin daripada jadi pendosa!”

Ah! Bapak selalu begitu. Mana mungkin preman gak punya otak? Buktinya, dia banyak duit, dan kelihatannya tidak pernah susah. Orang-orang pada takut sama dia. Hebat!

Januari, dua tahun lalu…

Banjir besar melanda Jakarta. Kata Bapak, banjir tahun ini tidak separah tahun kemarin. Tapi kami tetap harus mengungsi ke sekolahan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku menikmati kegembiraan yang langka di pengungsian. Berkumpul bersama teman-teman, mendapat jatah makanan tiga kali sehari, mendapat selimut dan obat-obatan, makan mi instan dan masuk tipi! Bedanya, pejabat yang datang kali ini seorang perempuan. Walau terlihat bersahaja, tapi kesan mewah tetap tak tersembunyikan dari pakaian dan dandanannya.

Tangisan Ibu-Ibu lebih heboh lagi dari tahun kemarin:

”Anak-anak kami tidak bisa sekolah. Rumah kami hancur. Perabotan tidak ada yang bisa digunakan lagi. Tolonglah kami Bu…uuu…uuuuu”.

Si Ibu cuma bisa mengangguk-angguk sambil mengelus-elus pundak bayi-bayi yang bergayut di gendongan Ibunya. Aku gak ngerti apa yang dikatakan Ibu-Ibu itu. Bukankah kami memang sudah tidak bersekolah? Hanya sedikit anak-anak di pengungsian itu yang masih berangkat ke sekolah. Lagipula, sekolah kan memang diliburkan karena terendam banjir juga! Apa Ibu-Ibu itu tak punya keluhan lain?

Malam terakhir di pengungsian. Kata Ibu banjir sudah mulai surut. Besok kami sudah boleh kembali ke rumah. Aku mulai gamang lagi. Kembali ke rumah berarti kembali ke kehidupan sesungguhnya. Bangun pagi. Menimba air. Berangkat ke perumahan terdekat untuk mencari barang-barang bekas. Sore baru pulang. Aku kini jadi pemulung. Kata Bapak, daripada dipalak oleh preman terus, mending jadi pemulung. Uangnya juga lumayan, apalagi kalau dapat barang-barang bekas dari perumahan orang kaya. Tapi jadi pemulung sering menyakitkan hati. Beberapa kali saya diusir satpam ketika sedang mengais-ngais tong sampah di balik pagar sebuah rumah mewah. Saya malah pernah dituduh mencuri! Masya Allah! Apakah mengambil sampah yang sudah dibuang itu termasuk tindakan pencurian? Tega sekali mereka…

Sambil berurai air mata, Ibu memijit kakiku yang kumal:

”Sudahlah Nak. Memang sudah nasib kita begini. Orang miskin kayak kita ini memang layak dituduh mencuri. Tapi Allah Maha Tahu, Nak. Asal kita sabar dan tawakal.”

“Apakah Allah juga tahu kalau kita tidak suka miskin?” tanyaku.

Ibu mencubit betisku:

”Hush! Pantang bicara begitu. Itu namanya menolak takdir! Tidak tahu bersyukur! Masih mending kita diberi hidup, bagaimana kalau tidak?”

Lho! Bukankah kalau kita tidak diberi hidup, kita tidak akan merasakan kemiskinan ini?

Januari, tahun lalu…

Banjir besar melanda Jakarta. Di rumah, sudah tidak ada barang yang perlu diselamatkan. Genangan banjir setiap tahun membuat semua perabotan yang sudah lapuk bertambah hancur. Tikar plastik buat alas tidur kini tak ubahnya seperti sabuk kelapa yang sudah dipakai menggososk pantat kuali selama berbulan-bulan. Bau pesing baju-baju kumal semakin menyengat paru-paru. Rasanya lebih hangat tidak mengenakan pakaian daripada harus membungkus badan dengan kain-kain kumal itu.

Hiburan tahunan itupun tiba. Berkumpul di tenda pengungsian. Tapi aku tak lagi merasakan kegembiraan. Ragaku tak sanggup menunggu tiba waktunya kembali ke rumah. Ke kehidupan nyata. Rombongan televisi swasta yang sibuk memotret-motret pengungsi tak sedikitpun menarik perhatianku lagi. Anganku melayang ke desa Eyang di lereng gunung, di Jawa Tengah. Tak ada banjir disana. Bahkan jika hujan turun, ada goa yang selalu hangat di dekat rumah Eyang. Aku ingat pernah berlebaran kesana. Ketika malam turun, kami menyalakan obor dan membuat api unggun di dalam goa. Suasananya hebat sekali. Sambil membakar singkong, Eyang bercerita tentang masa kecilnya yang indah di desa itu.

Malam terakhir di tempat pengungsian. Ajeng bilang besok kami mulai kerja lagi. Banjir sudah surut. Ajeng kini ikut denganku. Mencari barang-barang bekas dari perumahan yang satu ke perumahan yang lain. Ajeng sudah kenal huruf dan angka. Kata Bapak, sudah cukup! Minimal bisa baca. Ibu bilang, Ajeng tak perlu sekolah tinggi-tinggi. Yang penting jadi anak yang baik, cepat besar dan dapat laki yang punya pekerjaan bagus. Kalau bisa dapat yang punya lapak di pasar! Tapi bagaimana memompa tubuh Ajeng supaya segera mekar? Dari koran-koran bekas yang kubaca, postur seseorang sangat erat kaitannya dengan asupan gizi.

Januari, tahun ini…

Banjir melanda Jakarta. Hampir semua media cetak dan elektronik menjadikan berita ini sebagai berita utama. Ulasan penyebab banjir yang dari tahun ke tahun masih sama. Solusi mengatasi banjir yang dari tahun ke tahun masih belum berubah. Warga yang mengungsi. Bantuan yang disalurkan oleh LSM atau Yayasan Sosial. Penyakit yang menyerang. Kunjungan pejabat. Laporan langsung dari lokasi banjir oleh reporter televisi. Tidak ada yang berubah dengan berita banjir di Jakarta. Yang berubah adalah saya!

Dari rumah Eyang, di lereng gunung di Jawa Tengah, aku menyaksikan ‘tradisi Jakarta’ itu dengan nyaman. Eyang kini punya tipi empat belas inci, berwarna lagi! Hadiah lebaran dari Om ku yang kerja jadi TKI di Malaysia. Dua bulan lalu, aku memaksa Bapak mengirimku berlebaran ke desa Eyang. Sudah lama aku memutuskan tinggal bersama Eyang. Aku bosan menjalani ‘tradisi’ itu. Aku muak memikirkan betapa beruntungnya menjadi preman! Aku jenuh membayangkan betapa hebatnya memiliki lapak!

Bertani di desa lebih menjanjikan daripada memulung di Ibukota. Indahnya sawah di pagi hari. Merdunya lenguhan kerbau dan wanginya singkong bakar. Jauh lebih nyaman dari hiruk pikuk di terminal Kampung Melayu. Jauh lebih merdu dari konser dangdut di lapangan Monas. Di lereng bukit ini, akan kurajut masa depan yang lebih indah dari kemiskinan di Ibukota. Cukup sudah kata-kata Bapak bahwa lebih baik miskin dari pada jadi pendosa. Usailah nasehat Ibu bahwa tidak baik menolak takdir sebagai orang miskin! Tentu saja aku tidak mau jadi pendosa! Tapi aku juga tidak mau menyerah pada takdir. Minimal aku nyaman dalam kemiskinan. Tidak diuber-uber air bah! Biar kata Bapak aku tak punya masa depan di desa. Biar kata Ibu aku akan semakin bodoh tinggal di lereng bukit ini. Siapa bilang! Masa depan seperti apa yang ada di pinggir kali Ciliwung? Kebodohan apa yang lebih parah daripada tetap bertahan di Ibukota yang menyakitkan?!

Cuma satu yang selalu mengganggu pikiranku: Ajeng! Apakah dia masih tetap memulung? Apakah dia suka diganggu anak laki-laki di pintu gerbang perumahan itu? Ah! Andai dia mau kuajak ke lereng gunung ini. Dia tak perlu merasakan kegembiraan sesaat di tempat pengungsian itu. Tapi itu takkan lama. Tahun depan, Ajeng pasti menyusulku ke lereng gunung ini. Biar Bapak dan Ibu saja yang menikmati kebanggaan jadi warga Jakarta!

Januari, tiap tahun….di Jakarta!

Banjir besar. Pemukiman yang sudah biasa menjadi tumpahan air menjadi sorotan masyarakat. Wajah-wajah kumuh bermunculan di layar kaca, mengganti paras-paras molek selebriti yang memenuhi tayangan infotainment tiada henti.

Hampir semua stasiun televisi menerjunkan tim liputannya ke lapangan. Kameramen sibuk menjepret sudut-sudut kota yang tergenang air. Reporter yang melaporkan langsung dari lapangan heboh menyampaikan berita banjir. Di belakangnya, anak-anak ketawa-ketiwi, sambil memonyongkan mulut atau nyengir-nyengir ke arah kamera. Tentu saja mereka tahu bahwa kesempatan wajah mereka muncul di layar kaca hanya setahun sekali. Itupun dengan catatan: jika reporter datang ke tempat mereka! Laporan ini ditayangkan live setiap jam. Hari-hari pertama banjir, pemirsa masih antusias mengikuti beritanya, sambil bertanya:

”Daerah mana saja yang kena tahun ini? Ada gak saudaraku yang harus mengungsi?”

Tapi lama-lama, pemirsa jadi malas, muak dan sebal: kenapa banjir jadi budaya????

—————–
March 4, 2010 at 4:31pm

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

4 Responses to Januari di Jakarta.

  1. Feddy D. says:

    Miris juga melihat keadaan di Jakarta yang sering banjir, saya berharap semoga banjir di Jakarta tidak menjadi budaya, tulisan yang bagus, mantap (y)

  2. ini akibatnya kalau manusia main-main sama keseimbangan alam. anyway, good post, thanks sudah berbagi 😀

  3. Vira Bisami says:

    Kita berharap yang terbaik untuk Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *