Agama, untuk apa?

Awal Januari 2006, bersama dua orang teman, kami pergi melayat ke sebuah rumah duka di Bogor. Di pagi yang cerah itu, saya dikagetkan oleh berita kematian seseorang yang sangat berjasa dalam pekerjaanku. Dia adalah mantan sekretaris bos ketika saya pertama kali bekerja. Waktu itu kami bekerja di sebuah proyek bantuan luar negeri yang berkecimpung di bidang pengembangan perguruan tinggi di Indonesia.

Saya merasa berhutang budi dan materi kepada beliau, karena dukungan dan kebaikannya selama kami sama-sama satu kantor. Dengan dialah pertama kali saya mengenal dunia kerja. Banyak hal-hal positif yang saya dapatkan dari beliau, terutama mengenai profesionalisme dan visi dalam bekerja. Walau hubungan kami merenggang pada akhir-akhir saya keluar dari proyek tersebut, namun ikatan bathin dengan beliau tetap utuh. Perselisihan kami waktu itu lebih diakibatkan oleh status proyek yang diujung tanduk. Bukan perselisihan pribadi.

Perjalanan ke Bogor kami habiskan dengan mengingat-ingat kembali sosok beliau. Seorang wanita mandiri, pintar, tegas, berjiwa sosial tinggi dan cuek pada masalah kesehatan. Sampai akhir hayatnya, beliau memilih melajang tapi mengurusi sekian banyak keponakan. Kerja kerasnya semua diabdikan untuk keluarganya. Luar biasa! Di rumah duka, saya menatap wajahnya yang halus dan tenang. Tak terbayang betapa kanker leher rahim stadium lanjut telah merenggut wanita ‘perkasa’ itu. Keluarganya sibuk menyalakan lilin dan membakar hio di sekitar jasadnya. Tubuh kurusnya tidak berubah, seakan tak pernah merasakan sakit. Kami lalu berdoa disampingnya.

Setelah berdoa khusuk, keponakannya menceritakan bagaimana penyakit itu ditemukan enam bulan lalu, kemudian dioperasi, menjalani kemoterapi, sampai akhirnya menghadap Sang Khalik.

“Seminggu sebelum meninggal, Tante sudah tidak mau makan obat. Katanya, sudah tidak ada artinya. Kayaknya Tante sudah tahu kalau waktunya sudah tiba.”

Saya lalu merenung dan pertanyaan demi pertanyaan berkelebat dalam benakku:

“Apa yang dilakukan orang yang sudah tahu bahwa waktunya tidak lama lagi?”

Berdoa! Ya! Pasti.

”Bagaimana dia berdoa?”

Ya, sesuai dengan tata cara agama yang dianutnya.

”Bagaimana dengan orang tidak mengikatkan diri pada suatu tata cara agama?
Apakah dia juga berdoa?”

Tanda tanya itu terus menggangguku selama melayat di rumah duka itu. Sambil memandangi wajah almarhumah yang terlihat sangat damai, saya teringat pada obrolan kami di masa-masa dulu. Waktu itu kami diskusi mengenai KTP orang Indonesia yang harus mencantumkan agama.Pembicaraan lalu ngelantur pada berbagai hal mengenai agama. Beliau mengatakan begini :

”Keluarga saya itu benar-benar Indonesia Raya. Kami etnis Tionghoa, Kakak-kakak saya menikah dengan orang Sunda, keponakan menikah dengan orang Jawa, Sunda, Irian dan Timor. Agama pun begitu. Sebagian besar keluarga saya beragama Kong Hu Chu, lalu ada yang Kristen, Katholik dan Islam. Saya sendiri, di KTP saya Islam. Tidak tahu bagaimana ceritanya, pokoknya dulu itu pertama dapat KTP dari kelurahan, udah begitu. Setiap ganti KTP, agama saya pun ganti-ganti. Pernah jadi Budha, kadang jadi Kristen! Ketika diambil sumpah jadi PNS dulu, saya disumpah pake Alquran. Lalu saya belajar agama Katholik, tapi 3 kali saya gagal dibaptis. Setiap kali mau dibaptis, hari Sabtunya saya datang pada Romo dan bilang kalau saya belum siap. Romonya sih senyum-senyum aja, tapi lama-lama dia bosan juga kali. Udah capek-capek membimbing saya, tapi sayanya gak jelas…hahaha…”

Waktu itu saya bertanya:

”Apa yang membuat Ibu ragu dibaptis?”

Dengan tegas dia menjawab:

”Begini. Kalau saya memilih satu agama, berarti saya terikat dengan norma-norma dan aturan agama itu kan? Kalau saya melanggar, berarti saya dosa kan? Nah, mendingan saya tidak beragama. Jadi saya tidak terikat dengan ajaran tertentu. Soal percaya pada Tuhan sih, saya percaya. Dan saya yakin isi semua kitab suci pasti mengajarkan untuk melakukan yang baik dan menjauhi yang jahat kan? Lha, gak usah pake agama pun orang sebetulnya udah tahu mana yang baik dan yang buruk.”

Yup! Waktu itu saya tidak bisa berkata apa-apa, karena hati kecilku pun membenarkan pernyataannya. Di masa-masa pergolakan jiwa sebagai seorang pribadi yang merdeka, saya sempat tergoda untuk mengikuti paham seperti itu. Apalagi kalau melihat realita dimana ’agama’ seringkali dijadikan alat untuk menciptakan perbedaan dan permusuhan. Seringkali aku berpikir: buat apa beragama? Bukankah lebih baik ber-Tuhan saja?

Tapi pengalamanlah yang menyatakan pada saya bahwa agama memang kita perlukan. Untuk apa? Ya, untuk mempersiapkan kematian! Bayangkan ketika seseorang dalam keadaan lemah, sekarat! Dia pasti berdoa. Kepada siapa? Tuhan? Dewa? Okelah, pada Tuhan. Dan kita percaya bahwa hanya ada satu Tuhan Allah. Tapi, bagaimana dia berdoa? Siapa yang dia panggil untuk menemaninya menghadapai maut? Kepada siapa dia berserah diri? Kitab apa yang dibacanya? Surat mana yang dibisikkannya? Doa apa yang dipanjatkannya? Dan jika waktunya tiba, bagaimana dia akan dimakamkan? Diisembahyangkan? Dikremasikan?

Tentulah fungsi agama tidak sesederhana itu. Yang paling utama sebetulnya adalah kehidupan setelah kematian itu. Dengan siapa kelak kita akan berjumpa di alam sana?

Seorang teman pernah berkata:

”Hidup ini sebetulnya hanyalah contoh. Begitupun para nabi. Mereka hanyalah ‘model’. Yang menentukan kita masuk surga bukan nabinya atau agamanya, tapi bagaimana kita menjalani hidup di dunia ini. Dan ketika kita berbicara ’bagaimana’ itulah, kita perlu yang namanya tata cara itu.”

Aku setuju dengan pernyataan di atas.

So, jangan pernah ragu untuk beragama. Apapun pilihan Anda…-)

—————–
March 14, 2010

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in Catatan Hati. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *