Dicari: Profesi-profesi Terpinggirkan!

Sebelum memulai note ini, perlu disepakati bersama bahwa yang disebut profesi adalah pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus. Keahlian khusus ini diperoleh melalui pendidikan formal plus non formal (pelatihan). Sebuah profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik profesi, serta proses sertifikasi dan lisensi khusus di bidang profesi tersebut. Profesi adalah pekerjaan, namun tidak semua pekerjaan adalah profesi. Seseorang yang memiliki suatu profesi tertentu, disebut profesional dan karena itu mereka dituntut bekerja secara profesional dan seyogyanya juga dibayar secara profesional.

—————–

Semester genap ini para siswa SMU sedang bersiap-siap menyelesaikan pendidikannya di tingkat menengah atas dan sebagian dari mereka akan segera menuju ke pendidikan yang lebih tinggi. Selain konsentrasi menghadapi ujian nasional dan ujian akhir sekolah, para siswa juga fokus pada pemilihan jurusan atau bidang studi yang mereka minati jika ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi. Bagi sebagian orang (termasuk orang tua), pemilihan jurusan ini sering menjadi masalah besar apalagi kalau ada perbedaan harapan antara orangtua dan anak. Misalnya, orangtua ingin anaknya memilih jurusan kedokteran sedangkan si anak kepincut sekali dengan ilmu susastra. Atau si anak sudah sejak kecil ingin menjadi tukang insinyur tapi orangtua sangat mendambakan anaknya menjadi pengacara dan untuk itu seharusnya memilih jurusan hukum.

Beruntunglah generasi sekarang ini karena banyak sekali informasi yang mudah diperoleh tentang masa depan berbagai lulusan dari jurusan-jurusan yang ada di pendidikan tinggi sehingga memudahkan siswa menentukan pilihan. Di jaman saya dulu, rasanya sebagian besar siswa memilih jurusan tanpa pertimbangan matang yang merujuk pada prospek jurusan. Ada yang memilih jurusan teknik hanya karena ajakan temannya (padahal setelah kuliah bareng, pertemanan malah jadi renggang dan akhirnya motivasi belajar pun raib karena sang motivator kini berubah menjadi musuh). Ada yang masuk di jurusan hukum karena ada omnya yang berprofesi sebagai pengacara (padahal setelah duduk di bangku kuliah ternyata omnya berlaih profesi menjadi selebirtis….). Bahkan ada yang asal pilih jurusan saja, yang penting diterima di perguruan tinggi dan menyandang status keren sebagai ’MAHASISWA’….-)

Saya mengalami dua kali kesalahan dalam pemilihan jurusan ini. Waktu SMA saya memilih jurusan IPA karena saat itu kesannya lebih keren. Ada semacam ’pengakuan’ bahwa siswa-sisiwi yang memilih jurusan IPA lebih pintar dari siswa yang memilih jurusan IPS dan Bahasa. Walau bisa mengikuti pelajaran dan prestasi saya tidak jelek-jelek amat di IPA, saya akhirnya menyadari bahwa seharusnya saya memilih jurusan IPS kalau ingin lebih optimal. Saya cinta mati pada Matematika dan Biologi, tapi benci sekali dengan Fisika dan Kimia! Padahal menurut saya ke empat bidang studi itu merupakan paket khas IPA.

Lalu ketika lulus SMA saya memilih Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik tanpa tahu sama sekali apa saja yang akan dipelajari di fakultas tersebut dan mau jadi apa setelah lulus. Waktu mengisi formulir ujian masuk perguruan tinggi, saya tinggal di tempat kos kakak kelas di Medan. Di tempat kos ini ada mahasiswi FISIP. Ketika sedang menghitamkan bulatan-bulatan itu, kakak mahasiswi FISIP ini bilang:

”Ambil FISIP aja dek…!” tanpa ada penjelasan apapun.

Hebatnya, saya manut saja. Jadilah saya memilih FISIP. Keputusan memilih FISIP ini juga karena saat itu di USU belum ada Fakultas Psikologi (bidang yang saya idamkan) sementara untuk kuliah di Jawa rasanya berat sekali dari sisi finansial. Di tahun ke dua perkuliahan saya menyadari bahwa saya lebih cocok di fakultas hukum. Beruntung di semester-semester berikutnya akhirnya saya tertarik juga dengan ilmu politik.

Pengalaman ini sering saya jadikan referensi kalau mendapat pertanyaan dari keponakan-keponakan atau anak-anak SMU yang sedang bingung dengan pilihan jurusan yang akan mereka ambil. Dan, referensi saya makin bertambah setelah menekuni pekerjaan sebagai pustakawan. Maka, setiap kali mendapat pertanyaan ini:

”Tante, Namboru, Nantulang, Inanguda….enaknya ambil jurusan apa ya? Bingung nih…”

Jawaban standar saya adalah begini:

“Tergantung tujuanmu apa. Yang jelas tidak ada jurusan yang enak…-)
Tapi kalau mau memilih jurusan atas dasar petimbangan lowongan kerja di kemudian hari, maka pilihlah jurusan-jurusan yang peminatnya langka tapi lulusannya sangat dibutuhkan di negeri ini. Contohnya: sosiolog, arkeolog, dan pustawakan!”

Keponakan-keponakan biasanya langsung ngakak kalau saya jawab begitu. Saya seringkali ‘dituduh’ kampanye terselubung akan profesi saya. Biasanya mereka merespon begini:

“Huuuu….gak keren amat dah!”

Lalu saya jawab lagi:

“Nah, kalau tujuanmu untuk keren-kerenan, pilih jurusan Pasar Baru – Blok M, pakai tank top plus rok jeans di atas lutut, naik bus way tapi gak usah duduk walaupun tempat duduknya tersedia, dan jangan lupa, bersikaplah seakan-akan tidak ada yang menatapmu di bus itu, walau dalam hati kamu setengah mati pengen dipelototin karena kamu memang sedang ingin mencari perhatian. Orang akan bilang kamu ‘cool’. Keren tuh…-)” *begitulah cara saya membuat anak-anak ABG sekarang berhenti bertanya asal-asalan…*

——————-

Pemilihan jurusan bagi siswa yang akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi sesungguhnya perlu dipersiapkan dengan matang karena berkaitan dengan masa depan si anak atau profesi apa yang kelak akan digelutinya. Tidak hanya orangtua, pihak sekolah juga sepatutnya peduli pada hal ini sehingga siswa tidak akan terjebak pada bidang-bidang yang asing dan tidak mereka minati. Tapi, di atas semua itu, yang paling penting sebetulnya adalah memberi pemahaman pada anak didik tentang berbagai profesi ataupun jenis pekerjaan yang kelak akan mereka geluti. Lalu memberi wawasan tentang istilah profesi ‘keren’ atau ‘tidak keren’.

Misalnya, kenapa ada kesan bahwa menjadi dokter keren sementara menjadi perawat benda-benda purbakala di museum ’gak banget deh’? Padahal seorang perawat benda-benda purbakala harus mengenali, mempelajari dan memahami setiap benda yang dirawatnya, mengetahui sejarahnya, kegunaannya, dan hal-hal lain yang kebanyakan tidak kasat mata, dan untuk itu dibutuhkan waktu yang sangat lama.

Atau kenapa menjadi seorang ’arsiparis’ atau ’pustakawan’ terkesan kuno dibanding menjadi seorang dosen atau peneliti? Padahal para dosen dan peneliti sangat tergantung kepada pustakawan dan arsiparis dalam hal literatur terbaru.

Masyarakat kita cenderung menilai sebuah profesi dari nilai nominal dan kepopuleran profesi tersebut. Menjadi dokter, dianggap sebagai jaminan masa depan. Bukan sebagai cara membantu orang-orang yang sakit. Menjadi pengacara dianggap sebagai jalan menuju popularitas dan bayaran mahal, bukan sebagai jalan untuk membela dan mengedukasi masyarakat soal hak-hak hukumnya. Maka tak heran, kalau kita bertanya pada anak-anak ‚mau jadi apa kelak’ jawaban yang muncul rata-rata:

“Mau jadi dokter!“

“Mau jadi pilot!“

“Mau jadi artis!“

“Mau jadi Presiden!“ (padahal tidak ada sekolah untuk jadi Presiden, dan Presiden itu bukan pekerjaan, bukan pula jabatan, apalagi status, tapi pengabdian…)

Pola berpikir seperti ini memang sulit dirubah karena sudah berakar di masyarakat kita. Anak-anak bahkan mengadopsi pola pikir seperti itu dari orangtuanya. Seringkali orangtua bilang begini ke anaknya:

”Coba kamu jadi dokter atau jadi insinyur, Bapak/Ibu pasti bangga sekali.”

*Maksudnya, kalau bukan jadi dokter atau insinyur apakah orangtua akan kecewa? Bagaimana kalau kelak anaknya menjadi seorang penemu sebuah teori marketing terbaru dan mendapat hadiah sekelas Nobel, dan teori itu dibangunnya atas dasar pengalamannya sebagai loper koran selama berpuluh tahun?*

Anggapan-anggapan keliru tentang profesi ’keren’ dan ’tidak keren’ ini tanpa kita sadari terus menempel dan mengkristal dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita hanya terpaku pada profesi tertentu dan cenderung mengabaikan (bahkan tidak mau tahu) bahwa ada profesi-profesi mulia lainnya yang patut ditekuni. Karena itu pula banyak kelompok profesi yang merasa terpinggirkan. Apresiasi yang kurang seringkali diukur dari rendahnya penghasilan atau minimnya pengakuan terhadap profesi tersebut.

Para perawat, sering merasa kalah pamor dengan dokter. Apoteker sering merasa diperlakukan tidak adil. Mereka bekerja di belakang layar, dan biasanya hanya muncul kalau bertemu masalah. Kesalahan membaca resep (padahal tulisan dokternya yang aneh) atau terlalu lama meracik obat, apotekerlah yang menuai kecaman, sedangkan yang mendapatkan ucapan terima kasih adalah dokter atau perawat yang secara langsung ‘bersentuhan’ dengan pasien.

Atau koki di restoran. Bila pelanggan menikmati masakan yang lezat, maka pramusaji atau malah kasir yang mendapatkan ucapan terima kasih dan tip. Tapi coba kalau garamnya kebanyakan, atau rasa masakannya hambar, sang koki yang pertama kena damprat! Hal-hal seperti ini, tanpa kita sadari sebetulnya membentuk sebuah pemahaman yang keliru bagi diri kita sendiri. Kita jadi sering salah menilai dan keliru menafsirkan. Dan daftar di atas akan semakin panjang jika kita bicara macam-macam profesi.

Sekedar rujukan, menurut Resumagic.com yang dimuat di website mereka (http://www.resumagic.com/21stcenturyjobs.html) beberapa jenis pekerjaan yang dianggap paling baik (artinya paling dibutuhkan) di abad 21 adalah :

With more and more jobs being exported overseas and the workplace becoming fiercely competitive, it is important to pick a career that will be in high demand in the future and afford you the lifestyle you want without creating credit and debt problems). The following fields are associated with very healthy industries which are expected to continue growing at a faster than average rate:

Healthcare: Administration, Nursing, Physical Health, Dentistry, Mental Health

Technology: Biotechnology, Engineering, Information Technology

Business and Professional Services: Financial Services (Banking, Securities, Accounting, Insurance), Human Resources, Law, Communications, Public Relations, Sales and Marketing, Food Services

Public Service: Social Services, Education, State and Local Government.

Tapiii…..ada lanjutannya nih, ada yang namanya Emerging Careers.
Although mostly unheard of today, the following careers are expected to be in high demand in the years to come:

information broker
job developer
leisure consultant
bionic electron technician
computational linquist
fiber optic technician
fusion engineer
image consultant
myotherapist
relocation counselor
retirement counselor
robot technician
space mechanic
underwater archaeologist

Sekedar menegaskan, information broker itu sama dengan pustakawan atau information specialist.

Kalau dipikir-pikir, daftar emerging careers diatas termasuk profesi-profesi tidak populer kan?
—————–
March 26, 2010 at 3:30pm

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

5 Responses to Dicari: Profesi-profesi Terpinggirkan!

  1. ya… saya juga demikian,
    saat sma saya memilih jurusan IPA, waktu memang saya hobi dengan matematika, tapi saya tidak suka dengan biologi, Akhirnya saya telan juga buat belajar biologi, Nyatanya nilai yang paling rendah adalah nilai biologi. ” salah jurusan” itulah kesimpulan yang saya akui hanya di kepala saya.
    Memang kebanyakan siswa sering kali mendapat kebingungan saat memilih jurusan, Pertimbangan yang diambil karena “keren” adalah sangat salah, mudah-mudahan dengan adanya tulisan di atas dapat menjadi pertimbangan para siswa lainnya, Salam kenal dan salam sukses, terimakasih

    • Kalarensi Naibaho says:

      Untuk anak-anak SMU memang penting sekali mencari banyak informasi tentang berbagai profesi, supaya tidak terjebak pada stigma ‘jurusan keren’. Faktanya, jurusan-jurusan keren itu banyak sekali peminatnya, otomatis banyak pula saingannya. Kenapa tidak melirik pada profesi lain, yang walaupun tidak keren, tapi unik dan pasti dibutuhkan di masa depan. Profesi pustakawan salah satunya. Jarang sekali melihat ada lulusan jurusan ini yang nganggur.

  2. Marischa Yunetri Parapat says:

    terimakasih ibu atas informasi nya, yang semakin membuat tekad saya kuat untuk memilih jurusan arkeolog. sebentar lagi saya akan melihat apakah di SNMPTN nnt saya lulus di arkeolog, ttp keluarga saya sangat menentang dgn alasan Arkeolog bkn jaminan buat pekerjaan dan di masa depan. Pergumulan itulah yg msh sering saya pertimbangkan kembali. Namun, saya ingin bertanya kpd ibu, apakah benar pernyataan2 org tentang arkeolog itu bkn jaminan? dan apakah pilihan saya dlm memilih arkeolog sdh tepat? Terimakasih atas perhatiannya ibu.

    • Kalarensi Naibaho says:

      Menurutku, semua jurusan punya kelebihan. Persoalannya adalah jurusan2 populer lain itu banyak sekali peminatnya. Artinya saingannya juga di dunia kerja akan sangat banyak. Profesi2 yang saya tuliskan diatas adalah yang peminatnya jarang (karena dianggap tidak keren) padahal di lapangan sangat dibutuhkan. Satu hal yang pasti dalam memilih jurusan adalah: minat! Jangan memilih jurusan karena keinginan orang lain, tapi karena keinginan kita sendiri.

  3. akbar wiguna says:

    wah artikel yang sangat bagus heheh 🙂 saya setuju jika seluruh jurusan memiliki kelebihan masing masing 🙂 yang penting kita nyaman dengan jurusan tersebut heheh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *